www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Sony Rahmansyah, Bocah Solo yang Pernah Membuang Kesempatan Emas

Sony Rahmansyah
Tolak ke Italia karena Ingin Dekat Keluarga

 Proyek PSSI Primavera menjadi idaman semua pesepak bola muda di dekade 1990-an. Tapi, ada yang sudah masuk dan malah menolaknya.
--
POSTURNYA tak banyak berubah. Tak ada timbunan lemak di tubuhnya.

Padahal kini, usianya sudah tak muda lagi. Pada 2018, lelaki bernama Sony Dwi Kuncoro tersebut sudah menginjak 42 tahun.

Begitu juga aksinya di lapangan. Seolah mengingatkan di masa kejayaannya.

Sejak muda, Sony dikenal punya skill tinggi. Bermula dari sebuah klub anggota Persis Solo, bakatnya tercium Arseto Solo, sebuah klub profesional asal Kota  Bengawan.

''Saya masuk Diklat Arseto. Ada Indrianto (Nugroho) juga,'' jelas Sony saat ditemui di sebuah lapangan di ujung barat Solo pada Juli 2018.

 Bersama Indrianto pula, Sony mendapat panggilan mengikuti seleksi PSSI Primavera. Sebuah program prestisius untuk menempa bakat pesepak bola-pesepak bola Indonesia di Italia.

 ''Saya masuk dan menjadi gelandang bertahan. Ada Bima Sakti dan kami bergantian main,'' ujar Sony yang kini dikaruniai dua putra tersebut.

 Sayang, saat berangkat ke Negeri Pizza, julukan Italia, dia menolak. Sony memilih pulang ke kota kelahirannya.

 ''Saya terus bergabung dengan Arseto sampai klub tersebut bubar (1998). Barulah saya ke Persedikab Kabupaten Kediri,'' ujar Sony.

 Di klub yang saat itu berada di Divisi Utama itu dia juga hanya bertahan semusim. Sony ingin selalu dekat dengan keluarga.

 ''Di PSPS Pekanbaru juga begitu. Saya masuk tapi pilih pulang,'' ujarnya.

 Itu pula yang membuat Sony tak lagi serius menekuni sepak bola profesional. Dia memilih bekerja sebagai driver sebuah bank di Solo pada 2002.

Sejak saat itu sepak bola hanya sebagai penyaluran hobi. Hingga akhirnya dia memilih mundur dari pekerjaannya.

 ''Pesangonnya saya belikan rumah. Saya buka usaha di rumah juga,'' ucap Sony.

 Dibandingkan rekan-rekannya, dia juga tak punya keinginan terjun sebagai pelatih. Meski, jika mau, tak sedikit klub atau SSB yang dengan tangan terbuka akan menerima. (*
)
Read More

Ketika Para Mantan Bintang Lapangan Hijau Belajar TI (2)

Sekarang Sudah Bisa Kirim Email

Belajar di usia yang sudah tak muda lagi tak membuat mereka malu. Sebaliknya, para mantan bintang lapangan hijau tersebut serius melahap setiap materi.
--
ADA 12 meja di lantai 2 di Inzaghi Komputer di kawasan Sidosermo II. Semua meja ada laptop.

 Tapi, pada Selasa siang (6/2/2018) itu, hanya berdidi enam orang atau separo.

Tapi mereka yang tengah duduk di depan laptop tersebut bukan sembarang orang. Mereka adalah mantan bintang-bintang lapangan hijau.

Ada Bejo Sugiantoro, Mat Halil (keduanya legenda Persebaya), Fakhrudin (mantan bintang Arema), Nurul Huda (mantan pemain PSSI Primavera), Agung Prasetyo (mantan kiper Arema), dan Jefri Dwi Hadi (mantan Persik Kediri). Semuanya serius menatap laptop.

Arahan dari tutor serius didengar dan kemudian dipraktikan. Rupanya, pembahasan awal adalah microsoft word.

Meski terkenal di pecinta sepak bola dan pernah menerima bayaran mahal tapi itu bukan jaminan mereka mengetahui tentang hal mendasar dalam penulisan di laptop tersebut.  Hanya, Bejo dkk tak butuh waktu lama untuk memahami.

Setelah tahapan belajar Microsoft Word, mereka masuk ke masalah email. Dari semua peserta, hanya Jefri yang belum memiliki.

Ini karena mantan gelandang yang juga pernah membela Persiba Balikpapan tersebut baru saja bergabung. Oleh tutor, Jefri akhirnya dibuatkan alamat surat elektronik.

''Saya sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Mau nggak mau, jika ambil lisensi nanti, kami akan berhubungan dengan teknologi,'' ucap Jefri.

Dia berharap materi-materi yang akan diberikan nanti bisa berkaitan dengan sepak bola. Itu, ujarnya, akan penting dalam mengikuti perkembanan olahraga bola sepak itu. (*)
Read More

Ketika Para Mantan Bintang Lapangan Hijau Belajar TI (1)

Bejo dkk bersama siswa yang tengah PKL
Hidupkan Laptop pun Sempat Alami Kesulitan

Saat masih aktif sebagai pesepak bola, mereka selalu disanjung dan dipuja. Itu pula yang membuat mereka lupa belajar akan teknologi informasi (IT).
--
DERETAN sepeda motor banyak berjajar di sebuah samping minimarket di Sidosermo II, Surabaya, pada Selasa siang (6/2/2018). Ternyata, saat masuk memang ada beberapa orang.

Mereka tengah mengetik di depan sebuah laptop. Dari caranya, mereka masih belum terlalu mahir.

 Tapi, siapa sangka, mereka yang tengah memainkan jari-jarinya itu merupakan kumpulan para pesepak bola top. Bahkan, status nasional pun pernah disandang di antara mereja.

 ''Kami masih belajar. Kesempatan ini akan kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya,'' kata Agung Prasetyo, mantan kiper Deltras Sidoarjo, Persis Solo, dan Mitra Kukar itu.

 Di sampingnya ada Fakhrudin dan Jefri Dwi Hadi. Fakhrudin merupakan salah satu skuad Arema ketika Singo Edan juara Liga Indonesia. Begitu halnya dengan Jefri.

 Lelaki asal Blitar yang kini tinggal di Sidoarjo tersebut pernah mengantarkan Persik Kediri menjadi juara Liga Indonesia. Masuk timnas pernah dilakoni di era Peter Withe.

 ''Bejo lagi ngopi di luar. Kalau Uston luar kota ada keperluan,'' ujar Fakhrudin.

 Bejo dan Uston yang dimaksudkan dia adalah Bejo Sugiantoro dan Uston Nawawi. Keduanya merupakan legenda hidup Persebaya Surabaya.

 Tak lama berselang, Bejo masuk. Di dalam ruangan itu ada juga legenda Green Force, julukan Persebaya, lainnya, Mat Halil. Dia tengah mengetik program latihan yang disusun. Selain itu ada juga Nurul Huda, mantan penggawa Timnas Indonesia yang pernah digembleng di Italia dengan program Primavera.

 Setelah makan dengan menu pecel, Agung, Fakhrudin, Jefri, Bejo, Nurul, dan Halil naik ke lantai dua. Rupanya, mereka sudah siap menerima materi pelatihan dari pihak kursus komputer tersebut.

 Meski semuanya menyandang status bintang, mereka ternyata belum semuanya mahir menghidupan
laptop. Nurul dan Jefri sempat mengalami kesulitan. (*)
Read More

Mengunjungi Laboratorium Kondisi Fisik ISA

Beli Alat dari Bayaran SPP Siswa

Latihan persepak bola di lapangan.  Tapi juga dilaksanakan di indoor.
---
SEPULUH anak muda tengah melakukan pemanasan di rumah susun Pucang, Sidoarjo, Rabu (17/1/2018). Tak lama kemudian mereka yang rata rata tingginya 170 ke atas itu masuk ke sebuah ruangan.

Para pemain tersebut mengambil sendiri peralatan fitness.  Ada 12 peralatan.

Dari samping ruangan, muncul seorang lelaki.  Dia kemudian menginstruksikan para pemain untuk mulai memakai alat dan melakukan gerakan. 

"Ini untuk membantu mereka sebelum mengikuti seleksi di klub.  Otot mereka yang kami bentuk, " kata Imam Syafii, pemilik tempat tersebut. 

Tempat itu oleh Imam dinamai Laboratorium Kondisi Fisik.  Perlahan itu,ungkapnya,  hasil dari uang pendidikan siswa Indonesia Soccer  Academy. 

Latihan yang jelas Imam dikategorikan weight training itu difokuskan pembentukan otot. Alasannya, ujar dia,  jarang tersentuh oleh pelatih. 

Salah satu ilmu yang diterapkan Imam didapat saat mengikuti pelatihan  di Australia.  Sebagai bukti dia menunjukkan  lisensi yang diperoleh saat berada di Negeri Kanguru.

Ilmu tersebut menambah kekayaan ilmu Iman..  Sebab selain menjadi pendiri ISA, dia adalah doktor di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

'Kami berharap apa yang dilakukan ini banyak memberikan manfaat. " (*)
Read More

Acara Syukuran Pelatih Blitar United Gatot Mulbayadi

Makan Bersama setelah Jadi Lawan di Lapangan
Gatot Mulbayadi memberikan sambutan


Tangan dinginnya mampu membawa Blitar United juara Liga 3. Gatot pun merayakannya dengan mengundang rekan - rekannya yang didahului dengan sepak bola.
----
Langit di atas Stadion Jenggolo Sidoarjo mendung pada Sabtu sore (13/1/2018). Sedikit guyuran air dari langit membuat lapangan basah meski tak meninggalkan genangan.

 Beberapa orang bersepeda motor mulai memasuki stadion. Jarum jam terus bergerak dari pukul 14.30.

Mereka pun berpisah sendiri.  Ada yang ke bench bagian selatan dan ada yang ke bench bagian utara. 

Rupanya Sabtu sore itu, Stadion Jenggolo tengah dipakai menggelar pertandingan.  Orang Tua Sidoarjo atau yang disingkat Ortas akan meladeni PSAD Bhaskara Jaya. 

Pemain yang akan bertanding sudah umur. Mayoritas berusia di atas 40 tahun. 

Tapi di eranya kedua tim punya pemain-permain bintang.  Di Ortas ada mantan gelandang Gelora Dewata Nus Yadera dan bintang lini depan Barito Putera Joko Harianto.

Sedang di PSAD mempunyai sederet pemain yang pernah berkostum Persebaya.  Ada Ridwan di posisi penjaga gawang, Totok Sriyanto di belakang dan juga Marsaid di depan.

Meski Dilabeli uji coba tapi tidak ada atmosfer panas yang melingkupi dalam pertandingan yang dimenangkan Ortas dengan skor 5-2 itu.

 "Semua ini teman-teman saya.  Mereka datang karena memenuhi undangan saya," kata Gatot Mulbayadi yang sempat turun membela PSAD di laga uji coba tersebut.

 Itu, lanjutnya, bagian dari acara syukuran yang dilakukannya.  Gatot ingin merayakan keberhasilan membawa juara Blitar United di Liga 3 dengan teman-teman lama.

"Saya dulu juga pernah di PSAD.  Sekaligus menjadi ajang reuni," ungkap lelaki 61 tahun tersebut. 

 Untuk itu, acara tidak hanya dilaksanakan di Stadion Jenggolo. Gatot memboyong rekan rekannya di Ortas dan PSAD ke rumahnya.  Kebetulan rumahnya tidak jauh dari stadion yang kualitas lapangannya tidak kalah dengan stadion stadion terkenal di Indonesia tersebut.

Di rumah Gatot sudah disediakan beberapa nasi tumpang.  Penggawa Ortas dan PSAD dengan lahan menyantap.

"Ini menjadi ajang kami bertemu. Dulu di Batu dan sekarang bisa kumpul lagi di rumah Gatot,"ungkap Marsaid. (*)



Read More

Kamto, sang Senior dari Keluarga Sepak Bola di Surabaya

Kamto saat ditemui di Stadion Jenggolo
Masuk saat Para Bintang Hengkang ke Galatama

Di bulu tangkis ada keluarga Mainaky. Di sepak bola khususnya juga ada trah. Bahkan itu lebih dari satu.
--
SEBATANG rokok diambil. Bukan dari bungkus tapi dari kantong plastik kecil.

Tak lama  berselang, kepulan asap keluar dari mulutnya. Rokok menjadi teman lelaki yang bakal berusia 60 tahun pada Februari 2018 tersebut usai berlatih sepak bola di Stadion Jenggolo, Sidoarjo.

 ''Enak tadi main bolanya. Lapangannya juga bagus sekali,'' kata lelaki bernama Kamto tersebut.

 Di atas lapangan, sisa-sisa kemampuan di masa muda masih terlihat. Gerakan tanpa bolanya sering kali menipu lawan. Umpan-umpannya juga terukur yang memudahkan rekan-rekannya dalam mengolah bola.

 ''Di masa muda, saya pernah membela Persebaya. Di musim 1980,'' kenang Kamto.

 Menurutnya, ketika dia masuk, eksodus besar-besaran tengah terjadi di Green Force, julukan Persebaya. Ini tak lepas lahirnya Galatama (Liga Sepak Bola Utama) pada 1979.

 ''Pemain Persebaya banyak yang ke Niac Mitra. Tapi ada juga yang ke Indonesia Muda,'' ujar Kamto.

 Namun, saat dibelanya, Persebaya gagal mempertahankan status juara. Pada 1978/1978,  gelar juara perserikatan diraih Persija Jakarta. Setahun kemudian, saat Kamto di Persebaya, Persiraja Banda Aceh menjadi pemenang usai menundukkan Persipura Jayapura dengan skor 3-1.

 Masuknya Kamto ini kelak akan diikuti oleh adik-adiknya. Bahkan, salah satu adiknya Mustaqim menjadi bintang sepak bola, bukan hanya di Surabaya tapi juga nasional.

 Hanya, Kamto tidak pernah bergabung di Green Force bersama adik-adiknya. Selain Mustaqim, jejaknya juga diikuti oleh Hambali.

 Kiprah Kamto di Persebaya memang tak lama. Setahun kemudian, 1981, dia pindah ke Persiku Kudus.

 ''Saya diajak orang yang dulunya banyak membantu,'' lanjut Sukamto.

 Usai dari Kota Kretek, julukan Kudus, dia memutuskan pensiun. Kamto memilih konsentrasi di pekerjaannya di Dolog, sekarang Bulog, Jatim.

 Lama absen di sepak bola, dia mengakui, baru dua tahun terakhir kembali muncul di lapangan. Tapi, skill dan kualitas yang pernah dimiliki tetap terlihat. (*)
Read More

Andik Vermansyah, Megabintang yang Tetap Rendah Hati (2-Habis)

Andik (kiri) diwawancarai Ambari Taufik
Masih Berkeringat Tetap Mau Ladeni Wawancara

Namanya sudah sangat populer di sepak bola Indonesia. Tapi, dia tetap tak melupakan para senior.
--
USAI bermain satu babak, Andik Vermansyah mendekati Uston Nawawi. Dia ingin memberikan kesempatan kepada pemain lain yang tergabung dalam klub 81 Sidoarjo bermain.

Tidak ada keinginan baginya memaksa Uston, yang juga legenda hidup Persebaya, kembali memainkannya dalam laga uji coba melawan PSAD Kodam V Brawijaya, Jawa Timur, di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat pagi itu. Dia pun melepas kaos yang dipakai.

Andik pun berbaur dengan orang-orang yang ada di pinggir lapangan. Tak ada kesan bahwa dia merupakan megabintang sepak bola Indonesia saat ini.

Orang-orang yang belum disalaminya pun didekati. Pesepak bola yang terakhir membela klub Malaysia, Selangor, tersebut pun meladeni keinginan PSAD Kodam V untuk mengajaknya berfoto bersama.

Setelah itu, Andik pun duduk di belakang bench selatan. Di sana dia mendatangi mantan pemain yang juga pernah membela Timnas Indonesia Jefri Dwi Hadi.

Baginya, Jefri adalah seniornya di lapangan hijau. Meski, keduanya belum pernah satu tim di kancah sepak bola

Keduanya lama terlibat dalam perbincangan. Mulai dari sepak bola sekarang hingga bagaimana status Andik sekarang.

Saat keduanya berbincang, wartawan JTV Ambari Taufik datang. Dengan keramahannya, dia tetap mau meladeni keinginan wawancara.

''Yang bisa saya jawab saya jawab. Tapi kalau tidak gaka apa apa ya ,'' kata Andik kepada Ambari.

Tak terasa, waktu cepat berlalu. Saat babak kedua usai, Andik pun ikut berganti kaos polo. Dia menyeka keringatnya.

Namun, dia sempat kebingungan dengan jalan yang akan dilalui. Untung, sahabatnya yang mengajaknya datang ke Stadion Jenggolo, Aulia Ardi, segera keluar dari stadion. Andik yang berboncengan dengan rekannya pun mengikuti Aulia menuju ke utara. (*)


Read More

Andik Vermansyah, Megabintang yang Tetap Rendah Hati (1-Bersambung)

SKILL TINGGI: Andik Vermansyah (tiga dari kanan belakang)

Datang atas Undangan Sahabat saat di Persebaya

Status megabintang tak membuat seorang Andik Vermansyah. Dia tetap memenuhi ajakan rekannya bertanding dalam sebuah laga uji coba.
--
SEBUAH sepeda motor matik masuk di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat pagi. Pengemudinya memakai helm cokelat dan berkacama hitam.

Dia memboncengkan lelaki di belakang. Tidak ada yang aneh pada dirinya.

 Namun, mantan pemain nasional Indonesia, Uston Nawawi, yang tengah duduk di belakang bench mengatakan bahwa pengemudi motor matik itu adalah Andik Vermansyah. Sekilas memang sangat mirip.

 ''Iya itu Andik. Tapi lihat saja benarnya kalau helm dilepas,'' ujar Uston kepada beberapa orang yang di sekitarnya.

 Tak lama berselang, pengemudi itu melepaskan helm. Dugaan Uston tak keliru.

 Memang benar dia adalah Andik. Dia kemudian mendatangi orang-orang yang tengah beristirahat dan mengulurkan tangan.

 Kenapa Andik ada di Stadion Jenggolo? ''Saya diajak Aulia datang ke sini. Katanya diajak gabung dalam uji coba,'' ujar Andik.

 Aulia merupakan sahabat dekat dia. Mereka dekat setelah sama-sama bergabung di Persebaya Surabaya.

 Andik juga mengikuti pemanasan. Sebelumnya, rekan-rekannya  di tim yang dibela, 81, disalaminya satu persatu.

 Oleh Uston, yang kebetulan pelatih 81, dia dipasang sebagai gelandang. Dia ditandemkan dengan Aulia dalam laga melawan PSAD Kodam V Brawijaya tersebut.

 Meski hanya uji coba dan lawan yang dihadapi bukan selevel, Andik tetap bermain serius. Tak ada tawa atau canda darinya selama bermain 45 menit babak I.

 Pemain yang lahir dari kompetisi internal Persebaya tersebut beberapa kali menunjukan aksi individu yang menawan. Bahkan, sebuah umpan matangnya membuat 81 mampu menyamakan kedudukan setelah sempat tertinggal dari lawannya. (*)
Read More

Aris Budi Prasetyo, Mantan Palang Pintu Nasional yang Jadi Wakil Rakyat (2)

Habis Juara, Turun, Pindah Klub

FINAL Divisi Utama musim 1999/2000 melambungkan nama Aris Budi Prasetyo. Meski berposisi pemain belakang,
dia mampu menjadi pencetak gol pada menit ke-75.

Sayang, gol Aris gagal membawa PKT juara. Di final yang dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno,
Jakarta, itu, PKT kalah 2-3 dari PSM Makassar.

Satu gol tim asal Kalimantan Timur tersebut dicetak Fachri Husaini lima menit kemudian.Ketika itu, PKT ditangani pelatih asal Moldova Sergei Dubrovin.

Semusim kemudian, cerita lama seolah terulang. Sergei pindah ke Petrokimia Putra Gresik.

Pelatih yang pernah menangani Timnas Indonesia itu pun mengajak Aris.Arek Pasuruan ini pun tak kuasa menolak.

Kolaborasi Aris dan Sergei terbukti ampuh. Kebo Giras, julukan Petrokimia Putra Gresik, menjadi juara Liga Indonesia. Kesuksesan ini seolah membayar lunas kegagalan di PKT.

Namun, bersama Petrokimia Putra pula dia merasakan pahitnya degradasi. Aris pun memilih pindah ke Arema Malang, yang sama-sama bermain di Divisi I.

Di Arema, kemampuan Aris semakin terasah. Singo Edan, julukan Arema, dibawanya kembali ke level tertinggi hanya semusim. Bahkan, di ajang Copa Indonesia, dua kali tim asal Kota Pelajar tersebut mengangkat piala. Menariknya, pada edisi 2006, Aris terpilih sebagai pemain terbaik. (*/bersambung)





Read More

Aris Budi Prasetyo, Mantan Palang Pintu Nasional yang Jadi Wakil Rakyat (1)

Besar dari Internal Persebaya, Magang di Arema

Karir Aris Budi Prasetyo sebagai pesepak bola komplet. Dia pernah membawa klub
yang dibela menjadi juara dan juga menjadi pemain nasional.
--
SELAMA pertandingan, sosok lelaki dengan postur tinggi tersebut nyaris tak pernah
duduk di bench. Dia selalu memberikan arahan kepada timnya, Persekap Kota Pasuruan,
yang tengah berlaga di Kompetisi Liga Remaja 2017 Regional Jawa Timur.

Apalagi, saat berhadapan dengan Persikoba Batu Junior, pada Kamis (10/8/2017). Mulutnya
seakan tak pernah berhenti memberikan instruksi.

Apalagi, laga yang dilaksanakan di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, tersebut menentukan bagi
kedua tim. Persekab butuh menang sedangkan Persikoba hanya butuh imbang.

Raut wajah tegang terus memayungi pelatih Persekab bernama Aris Budi Prasetyo itu. Namun,
senyum dan kegembiraan itu berubah di babak II.

Ini karena anak asuhnya bisa mencetak gol dan akhirnya bisa memenangkan pertandingan dengan
skor 2-0. Hasil ini membuat Persekab menembus babak 16 besar Regional Jawa Timur.

Menjadi pelatih menjadi pilihan Aris. Ini setelah dia pada 2010 memutuskan pensiun sebagai
pesepak bola.

Cedera yang tak kenal kompromi membuat lelaki yang kini berusia 42 tahun tersebut gantung
sepatu. Keputusan itu membuat perjalanan manisnya sebagai bintang lapangan hijau ikut berakhir.

''Saya memulai karir sebagai pesepak bola secara serius di Surabaya dengan mengikuti kompetisi
internal Persebaya. Saya sempat masuk Persebaya Junior,'' ungkap Aris.

Bakatnya dengan ditunjang postur ideal sebagai pemain belakang, membuat Aris berani melamar ke
Arema Malang. Hanya, dia masuk dengan status pemain magang.

Namun, di Singo Edan, julukan Arema, membawa berkah. Kedekatannya dengan pelatih Gusnul Yakin membawa berkah baginya.

''Saat Gusnul ke PKT Bontang, saya diajak. Saya mau aja demi mengembangkan karir,'' jelas Aris.

Di klub yang didanai BUMN tersebut, kakak dari mantan pebola voli putri nasioal Dwi Sari itu bertahan lama. Lima musim Aris berkostum hijau-hijau PKT.

Capaian tertingginya bersama PKT adalah menembus final Liga Indonesia. Sayang, di final, PKT menyerah kepada PSM Makassar yang ketika itu bertabur bintang. (*/bersambung)

Read More

Dian Fachrudin, Anak Tuban yang Pernah Berseragam Garuda (2)


Hanya Bertahan Semusim di Klub yang Dibela
Dian dengan trofi Copa Indonesia

Masuk Timnas PSSI Senior membuat namanya jadi perbincangan. Beberapa klub mulai melirik.
--
UNTUK mendapat posisi inti di Persema Malang bukan hal yang mudah. Dian Fachrudin harus bersaing beberapa pemain senior.

Dengan ditempatkan di posisi stopper, lelaki yang kini berusia 34 tahun tersebut adu kemampuan dengan  dua palang pintu tangguh, Bayu Sutha dan FX Yanuar. Namun, pelatih Danurwindo ternyata lebih memilih Dian.

''Coach Danur lebih suka dengan gaya bermain saya. Saya tak tergesa-gesa membuang bola tapi mendorong bola ke pemain tengah,'' ungkapnya.

Dengan bermain reguler, bakatnya tercium oleh PSSI. Di bawah Peter Withe, namanya masuk dalam jajaran pemainyang dipanggil untuk persiapan Piala Asia 2007

''Sebelumnya, saya bermain di Merdeka Games di Malaysia. Saya main dalam beberapa pertandingan,'' ujarnya.

Sayang, dalam Piala Asia sendiri, Dian urung berlaga. Dalam persiapannya, sakit typus menyerang.

''Saya dicoret di detik-detik akhir. Masa pemulihannya tidak cukup ke Piala Asia,'' kenangnya.

Meski gagal, tapi namanya mulai diburu banyak klub. Kesempatan ini tak mau disia-siakan.

Dian memilih meninggalkan Persema Malang. Sriwjaya FC Palembang, Sumatera Selatan, menjadi tujuan.

''Saya masuk dalam tim Sriwijaya FC yang merasakan juara. Pelatihnya coach RD (Rahmad Darmawan),'' kenang Dian.

Di Laskar Wong Kito, julukan Sriwijaya FC, dia menjadi pemain multiposisi. Pemain yang dibesarkan di Esge Tuban tersebut bisa ditempatkan sebagai bek tengah, gelandang, ataupun bek kiri.

Namun, karena bisa bermain di berbagai posisi itu membuat Dian tak bisa bertahan lama. Adanya kesalahan komunikasi membuat dia memilih hengkang.

''Ada asisten yang menginformasikan ke pelatih RD bahwa saya tak mau bermain di posisi bek kiri,'' ungkap lelaki dengan postur jangkung ini.

Pelita Jaya menjadi pilihan. Baginya, ini seakan menjadi reuni. Alasannya, Dian pernah membela klub milik keluarga Bakrie tersebut saat masih berkandang di Cilegon, Banten. Hanya, namanya ketika itu, Pelita Krakatau Steel.

Di Pelita Jaya, dia hanya semusim. Pengembaraan Dian dilanjutkan ke beberapa klub seperti Persela Lamongan, Persih Tembilahan, dan Persis Solo.

''Setiap klub, saya hanya satu musim. Persida menjadi klub terakhir sebelum akhirnya pensiun,'' pungkas Dian. (*/habis)

Read More

Dian Fachrudin, Anak Tuban yang Pernah Berseragam Garuda (1)

Dian (tiga kanan belakang) berseragam Timnas Piala Asia 2007

Dua Kali Bertemu dengan Pelatih yang Sama 

Menjadi juara dan masuk tim nasional bukan sembarang pemain bisa. Namun, seorang Dian Fachrudin perkecualian.
--
POSTURNYA tingi menjulang. Bisa sekitar 180 sentimeter.   Badannya pun tak berotot. Sekilas, orang akan menyangkanya sebagai pebasket atau pemain bola.

Padahal, kedua cabang olahraga itu bukan bidangnya. Sosok lelaki bernama Dian Fachrudin tersebut adalah seorang pesepak bola. Prestasinya pun tak boleh dipandang sebelah mata.

''Saya pernah membawa klub juara dan juga pernah masuk Timnas PSSI,'' kata Dian saat ditemui di Stadion Jenggolo pada Jumat (28/7/2017).

Kedua capaian tersebut menjadi puncak dari perjalanan panjang karirnya di lapangan hijau. Sejak usia belasan, Dian sudah bertekad menjadikan sepak bola bagian dari hidupnya.

 ''Sejak kecil saya bergabung di Esge Tuban. Lulus SMA, baru saya merantau dan langsung jauh,'' ungkap Dian.

Jauh? Ya, karena sejak usia 19 tahun, dia pergi ke Cilegon. Tujuannya menimba ilmu di Krakatau Steel. Cilegon merupakan kabupaten ujung barat Pulau Jawa.

 ''Saya ke sana karena ajakan Joko Driyono (mantan Sekjen PSSI) yang ketika itu masih menjadi manajer PS Krakatau Steel,'' tambah Dian.

 Dia terkoneksi dengan Joko karena istri lelaki yang sering disapa Jokdri tersebut tetangganya di Tuban. Begitu ada tawaran itu, pada 2003, Dian tak menampik.

 ''Bahkan, saat namanya jadi Pelita Krakatau Steel, saya menjadi pemain magang. Pelatihnya Danurwindo,'' kenang Dian.

 Sayang, setelah tak di Pelita KS, dia harus balik ke Tuban. Selama di rumah, Dian mendapat tawaran dari rekannya untuk bergabung dengan klub di Kota Malang.

 ''Bukannya Persema tapi klub internal kompetisi Persema. Dari situ, kemampuan saya terpantau dan bisa masuk ke Persema,'' ujar Dian.

 Ternyata, di Petir Biru, julukan Persema, dia kembali bertemu dengan Danurwindo. Ditangannya, Dian mendapat posisi inti.

 ''Danur (sapaan Danurwindo) cocok dengan cara main saya sebagai pemain belakang. Ini membuat saya jadi starter di Persema,'' ungkap Dian. (*/bersambung)

Read More

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (5)


Pilih Memulai Karir Pelatih dari Bawah

Usia  yang merambat tua membuat Jefri Dwi Hadi memilih pensiun sebagai pesepak bola. Hanya, dia belum bisa lepas dari olahraga yang telah melambungkan namanya itu.
--
Untuk ukuran pesepak bola, Jefri Dwi Hadi termasuk sukses. Gelar juara kasta tertinggi pernah diraih saat membela Persik Kediri.

Sebagai pemain nasional pun pernah diraskana di era pelatih Peter Withe dari Inggris. Ini membuat Jefri pun punya caps.

Hanya, semua itu belum jaminan di dunia yang kini ditekuni, pelatih. Lelaki 36 tahun tersebut masih dianggap hijau.

''Saya menangani klub internal Persida Sidoarjo. Ada tawaran yang akhirnya saya terima,'' kata Jefri.

 Meski masih minim pengalaman menjadi pelatih tapi sentuhannya cukup mumpuni. Banyak pesepak bola muda yang terasah bakatnya di tangan Jefri.

''Beberapa anak asuh saya main di Liga 2 dan banyak di Liga 3,'' ungkap Jefri.

Modal itulah yang membuat Uston Nawawi, salah satu legenda Persebaya Surabaya, mengajaknya menjadi asisten di klub Liga 3, Putra Jombang. Jefri tak menolak karena baginya Uston bukan orang asing. Keduanya sering bermain bersama dalam satu tim lokal Sidoarjo, 81.

Jefri berharap karirnya sebagai pelatih tidak terlalu jauh dengan ketika masih aktif sebagai pesepak bola. Untuk itu, dia memilih memulai dari bawah.

''Sekalian mau cari lisensi AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia). Mumpung masih muda,'' pungkasnya. (*/habis)
Read More

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (4)

Di Timnas Indonesia, posisinya nyaris tak tergoyahkan. Sayang, pergantian pelatih memberikan dampak besar baginya.
--
PERSIAPAN Indonesia menuju Piala Asia 2007 termasuk serius. Mereka ditangani oleh pelatih asal Inggris Peter Withe.

 ''Selain itu, kami juga menggelar pemusatan latihan di luar negeri. Tiongkok menjadi negara yang kami datangi,''kata Jefri Dwi Hadi

 Tujuannya untuk meraih hasil bagus dalam ajang pesta sepak bola negara-negara Asia tersebut. Apalagi, Indonesia menyandang status tuan rumah.

 Sayang, semuanya menjadi berantakan. Kegagalan Withe membuat Indonesia bersinar di Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) memberikan dampak besar.

 Lelaki yang pernah menjadi pemain klub Premier League Aston Villa tersebut terdepak. Sebagai gantinya masuk Ivan Venkov Kolev asal Bulgaria.

 ''Masuknya Kolev berpengaruh di tim. Dia memasukan pemain-pemain yang sesuai dengannya,'' terang Jefri.

 Ini membuat Jefri terdepak. Alasannya, stamina dan daya tahan lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut kurang dari kriteria yang ditetapkan Kolev.

 ''Saya kembali ke Persik Kediri lagi. Saat itu, Persik tengah membangun kekuatan,'' ujarnya.

 Beberapa pemain nasional seperti Mahyadi Panggabean, Saktiawan Sinaga, dan kiper Marcus Horison didatangkan dari PSMS Medan. Ada juga pemain asing Danilo Fernando dan Christian Gonzales.

 Sayang, di tengah jalan, tim bertabur bintang tersebut kesulitan dana. Hanya, Jefri tetap bertahan bersama Macan Putih.

 Usai dari Persik, Jefri sempat kembali ke Deltras. Petualangannya sempat merambah Persema Malang.

 ''Klub Kalimantan yang satu-satunya saya bela adalah Persiba. Namun, itu hanya setengah musim,'' jelas Jefri.

 Itu terjadi ketika kompetisi sepak bola Indonesia terpecah menjadi dua (dualisme). Persema yang berlaga di LPI membuat dia ke Beruang Madu, julukan Persiba.

 Sayang, dia tak mau memperpanjang kontraknya di sana. Dengan nilai kontrak yang turun, Jefri memilih balik ke Jawa.

 ''Semusim di Persik Kediri dan semusim di Deltras lagi,'' kenang Jefri.

Kompetisi yang vakum karena PSSI dibekukan FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) membuat Jefri akhirnya memilih pensiun sebagai pemain. (*/bersambung)











Juara PON Jadi Pintu Keluar Pindah


Mendapat panggilan dari PSSI Jatim dijawab dengan prestasi oleh Jefri Dwi Hadi. Selain itu, medali emas menjadi pintu pembuka baginya keluar dari Deltras.

--

PENAMPILAN gemilang di kompetisi membuat Jefri Dwi Hadi dapat panggilan. Bukan timnas tapi oleh PSSI Jawa Timur.


Dia direkrut masuk tim yang dipersiapkan ke Pekan Olahraga Nasional (PON). Tujuannya, Jatim bisa mempertahankan tradisi dalam ajang empat tahunan tersebut.


 ''Namun, dalam persiapan, saya sempat mengalami cedera. Saya pasrah kalau dicoret nantinya,'' ungkap Jefri.


Tapi, pelatih PON Jatim Mustaqim lebih memilih menunggu untuk sembuh. Dia yakin Jefri menjadi bagian dari ketangguhan lini tengahnya.


 ''Saya akhirnya sembuh dan bisa tampil di PON Palembang. Emas bisa diraih Jatim bersama Papua,'' kenang lelaki asal Blitar tersebut.


Hasil PON semakin melambungkan namanya. Apalagi, di tim tersebut ada nama Iwan Budiyanto, yang menjadi manajer Persik Kediri.


Jefri mendapat tawaran Iwan untuk bergabung dengan Macan Putih, julukan Persik. Sebenarnya, bukan hanya dia, beberapa penggawa PON Jatim mendapat tawaran serupa.


 ''Jadinya, saya pindah usai PON. Persik menjadi klub pertama yang saya bela selain Deltras,'' jelas Jefri.


 Di musim pertamanya, Jefri belum bisa memberikan banyak konstribusi bagi Persik. Nah, baru di musim 2006, dia mampu membuktikan bahwa Macan Putih tak salah merekrutnya.


 ''Pelatihnya Daniel Roekito. Saat itu, Persik menjadi tim bertabur bintang,'' jelas lelaki yang kini menjadi asisten Uston Nawawi, mantan bintang timnas Indonesia, di Putra Jombang, tim Liga 3.


Ketika itu, tim asal Kota Tahu itu diperkuat pemain asing dengan kualitas jempolan seperti Danilo Fernando asal Brasil dan Cristian Gonzalez asal Uruguay.


Dalam final yang dilaksanakan di Stadion Manahan, Solo, pada 30 Juli, Persik mengalahkan PSIS Semarang dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang disumbangkan Cristian Gonzales pada masa perpanjangan waktu, tepatnya menit ke-109.


Dalam partai pemungkas ini, Jefri tampil hingga menit ke-55. Setelah itu, posisinya digantikan Suswanto.


Hanya, beda dengan ketika Persik juara tiga tahun sebelumnya, Jefri tak memperoleh tawaran sebagai PNS. Dia hanya mendapat uang serta pegawai honorer.


 Namun, sukses membawa Persik juara memberikan berkah baginya. Jefri mendapat kepercayaan masuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia proyeksi Piala Asia 2007.


 ''Selain saya, ada juga Harianto Sapari dan Budi Sudarsono. Pelatihnya Peter Withe,'' jelas Jefri. (*/bersambung)




Read More

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (3)

Juara PON Jadi Pintu Keluar Pindah

Mendapat panggilan dari PSSI Jatim dijawab dengan prestasi oleh Jefri Dwi Hadi. Selain itu, medali emas menjadi pintu pembuka baginya keluar dari Deltras.
--
PENAMPILAN gemilang di kompetisi membuat Jefri Dwi Hadi dapat panggilan. Bukan timnas tapi oleh PSSI Jawa Timur.

Dia direkrut masuk tim yang dipersiapkan ke Pekan Olahraga Nasional (PON). Tujuannya, Jatim bisa mempertahankan tradisi dalam ajang empat tahunan tersebut.

 ''Namun, dalam persiapan, saya sempat mengalami cedera. Saya pasrah kalau dicoret nantinya,'' ungkap Jefri.

Tapi, pelatih PON Jatim Mustaqim lebih memilih menunggu untuk sembuh. Dia yakin Jefri menjadi bagian dari ketangguhan lini tengahnya.

 ''Saya akhirnya sembuh dan bisa tampil di PON Palembang. Emas bisa diraih Jatim bersama Papua,'' kenang lelaki asal Blitar tersebut.

Hasil PON semakin melambungkan namanya. Apalagi, di tim tersebut ada nama Iwan Budiyanto, yang menjadi manajer Persik Kediri.

Jefri mendapat tawaran Iwan untuk bergabung dengan Macan Putih, julukan Persik. Sebenarnya, bukan hanya dia, beberapa penggawa PON Jatim mendapat tawaran serupa.

 ''Jadinya, saya pindah usai PON. Persik menjadi klub pertama yang saya bela selain Deltras,'' jelas Jefri.

 Di musim pertamanya, Jefri belum bisa memberikan banyak konstribusi bagi Persik. Nah, baru di musim 2006, dia mampu membuktikan bahwa Macan Putih tak salah merekrutnya.

 ''Pelatihnya Daniel Roekito. Saat itu, Persik menjadi tim bertabur bintang,'' jelas lelaki yang kini menjadi asisten Uston Nawawi, mantan bintang timnas Indonesia, di Putra Jombang, tim Liga 3.

Ketika itu, tim asal Kota Tahu itu diperkuat pemain asing dengan kualitas jempolan seperti Danilo Fernando asal Brasil dan Cristian Gonzalez asal Uruguay.

Dalam final yang dilaksanakan di Stadion Manahan, Solo, pada 30 Juli, Persik mengalahkan PSIS Semarang dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang disumbangkan Cristian Gonzales pada masa perpanjangan waktu, tepatnya menit ke-109.

Dalam partai pemungkas ini, Jefri tampil hingga menit ke-55. Setelah itu, posisinya digantikan Suswanto.

Hanya, beda dengan ketika Persik juara tiga tahun sebelumnya, Jefri tak memperoleh tawaran sebagai PNS. Dia hanya mendapat uang serta pegawai honorer.

 Namun, sukses membawa Persik juara memberikan berkah baginya. Jefri mendapat kepercayaan masuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia proyeksi Piala Asia 2007.

 ''Selain saya, ada juga Harianto Sapari dan Budi Sudarsono. Pelatihnya Peter Withe,'' jelas Jefri. (*/bersambung)



Read More

-- Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (2)



Mampu Tembus Persaingan dengan Para Senior

Bakatnya yang menjanjikan membuat Jefri Dwi Hadi jadi buruan. Namun, klub seatap, Gelora Dewata, yang beruntung meminang.
--
NYALI Jefri Dwi Hadi diuji. Di usia masih belasan, dia harus pergi ke Bali.
 Namun, kepergiannya itu bukan berwisata. Dia harus ke Pulau Dewata, julukan Bali, karena direkrut tim Divisi Utama, Gelora Dewata.

 ''Ada beberapa pemain muda yang diambil Gelora Dewata. Jadi saya tetap ada teman di sana,'' kenang Jefri.

Meski berasal dari manajemen yang sama, tapi bukan hal yang mudah baginya untuk menembus skuad Gelora Dewata. Dia harus bersaing dengan para penggawa senior seperti Nus Yadera.

''Pelatih fair, yang bagus yang dipasang. Jadi saya semangat,'' ujar Jefri.

Lambat laun, dia bisa menembus kerasnya persaingan. Bahkan, posisinya sebagai gelandang tak tergantikan.

Ternyata, Gelora Dewata mulai ancang-ancang hengkang. Sidoarjo menjadi tujuan utama. Alasannya, Kota Udang, julukan Sidoarjo, punya stadion yang sangat layak yang baru saja dipakai menggelar pertandingan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Hanya, posisi pelatih masih dipegang Sinyo Hartono. Di tangan dia, bakat dan kemampuan Jefri semakin melesat.

Hanya, nama Gelora Dewata sudah berganti menjadi menjadi Gelora Putra Delta (GPD). Musim berganti, pada 2002, Sinyo Hartono hengkang ke Persebaya Surabaya.

Otomatis jabatannya digantikan. Yudi Suryata menjadi arsitek tim dan setelah itu Suharno masuk.

Namun, itu tak membuat peranan Jefri tergantikan. Dia tetap menjadi nyawa permainan The Lobster, julukan Deltras, nama baru pengganti GPD.

Pada 2003, kemampuannya terpantau PSSI Jatim. Mereka memanggilnya untuk persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON). (*/bersambung)



Read More

Jefri Dwi Hadi, Cicipi Timnas Usai Antar Klub Juara (1)

Ke Surabaya untuk Kembangkan Karir

Namanya lama berkibar di pentas sepak bola. Dia pun tercatat sebagai pemain yang pernah mengenakan kostum dengan logo Garuda di dada.
--
KAOS yang dikenakan hijau bergaris putih. Sekilas mirip dengan kostum Persebaya.

Untung bukan. Si pemakai kaos memang belum pernah bergabung dengan klub yang didukung Bonek tersebut.

Tak lama berselang, sebuah topi ala yang dipakai pelatih senior Sartono Anwar, yang kini menangani tim Liga 2 Madiun Putra, dikenakan. Dia bersama penulis dan mantan bintang timnas Indonesia Uston Nawawi pun bergegas masuk mobil.

Saat ini, Jefri Dwi Hadi, sosok yang memakai kaos hijau dan bertopi, memang tengah dekat dengan Uston. Ini karena keduanya tengah berkolaborasi menukangi tim Liga 3 Putra Jombang.

Baginya, menjadi pelatih juga menjadi pilihan usai memutuskan pensiun sebagai pemain. Klub terakhir yang dibelanya adalah Sidoarjo United di ajang Liga 2.

''Sambil belajar. Jadi pelatih di internal Askab Sidoarjo yang pertama,'' ujar Jefri.

Dia mengakui menjadi pelatih bukan hal yang mudah. Hanya, pengalamannya segudang sebagai pesepak bola ikut membantu.

Di pentas sepak bola nasional, nama Jefri cukup dikenal. Apalagi, dia sudah lama malang melintang.

Karir sepak bola di mulai dari kampung halamannya di Blitar, Jawa Timur. Namun, keinginan untuk maju membuat dia hijrah ke Surabaya.

''Saya bergabung dengan Putra Gelora. Setelah itu, sempat ke Persebaya Junior dan Pelajar Jatim,'' lanjut lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut.

Bakat Jefri di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, terendus klub di ajang kompetisi PSSI. Namun, Putra Gelora tak mau melepaskan begitu saja.
 Kebetulan, Putra Gelora berintuk di klub Divisi Utama, Gelora Dewata, Bali. Keduanya sama-sama milik tokoh sepak bola. H. M. Mislan. (*/bersambung)
Read More

Dedy Sutanto, Kiper Juara Persebaya yang Nyaris Pensiun Dini (3-Habis)

Dedy Sutanto (tengah) menjadi kiper utama Persebaya
Masih Cari Lisensi untuk Jadi Pelatih

Kecelakaan membuatnya harus absen lama. Untung, Persebaya masih mau menunggu dia pulih.
--
KARIR Dedy Sutanto bak roller coster.Usai merasakan manisnya menjadi bagian tim Persebaya juara Liga Indonesia, dia harus absen selama semusim.

Ini akibat kecelakaan yang dialami di dekat rumahnya di Bogangin, Surabaya. Dedy harus naik ke meja operasi.

''Saya harus melakukan penyembuhan. Usai operasi dan mulai membaik, saya lari-lari pelan di sekitar waduk di utara rumah,'' kenang Dedy.

Saat mulai fit, Dedy mengontak manajemen Persebaya. Ternyata, pihak Green Force, julukan Persebaya, masih mau menerimanya.

 ''Namun, saya jarang main. Ada Ngadiono yang selalu turun,'' ungkapnya.

Tapi dengan kembali masuk Persebaya, kepercayaan diri Dedy kembali bangkit. Niatnya sudah bulat untuk mencari pengalaman di klub selain Persebaya.

 ''Saya membela Semen Padang selama semusim. Ini pengalaman pertama bermain di luar Persebaya,'' ucap lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut.

Ternyata, setelah dari Bumi Andalas, julukan Sumatera Barat, Dedy berkelana ke berbagai klub. Barito Putra Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pernah diangkatnya promosi ke Indonesia Super League (ISL).

 ''Saya juga sempat ke Persikad Depok. Ke Deltras di kompetisi ISL juga pernah,'' lanjut Dedy.

 Perjalanannya sempat berlanjut ke PS Bangka, Bangka-Belitung, Perssu Sumenep di Pulau Madura.

Di PS Bangka, dia dilatih tetangganya yang pernah menangani di Persebaya Selection, Lulut Kistono.

Hingga pada 2013, Dedy kembali ke Persebaya. Hanya, ketika itu ada tambahan 1927 di belakangnya. Ini untuk membedakan Persebaya lainnya yang kurang mendapat dukungan dari Bonek.

Saat Persebaya diakui oleh PSSI dan bersiap kompetisi, Dedy sudah pensiun. Dia memutuskan terjun sebagai pelatih.

 ''Saya masih mau cari lisensi. Biar berguna di kemudian hari,'' pungkasnya. (*)

Read More

Dedy Sutanto, Kiper Juara Persebaya yang Nyaris Pensiun Dini (2)

Dedy Sutanto berdiri tengah bersama tim juara 2004
Dapat Tawaran Pindah, Kecelakaan sebelum Kompetisi

Menjadi bagian Persebaya saat juara membuat namanya ikut terangkat. Sebuah tawaran menjadi kiper inti tim Divisi Utama serius menghampiri.
--
SEBUAH ketukan dari dalam membuat Dedy Sutanto beranjak. Sambil membawa sebuah bungkusan kertas cokelat, dia masuk ke sebuah ruangan.

''Bapak, minta makan. Kegiatan sekarang saya lebih banyak di rumah membantu menjaga Bapak,'' ujar Dedy.

Dia kemudian melanjutkan kisahnya. Usai menjadi bagian Persebaya juara Liga Indonesia 2004, Dedy mendapat perintah membela Persebaya Selection yang berlaga di Piala Gubernur.

Selain Dedy ada beberapa pemain Persebaya yang diajak bergabung di Persebaya Selection.Posisi pelatih dipercayakan kepada Lulut Kistono dan Eduard Mangilomi.

Lawan yang dihadapi lumayan berat yakni tim-tim yang selevel dengan Persebaya. Salah satunya Persema Malang.

 ''Saat lawan Persema, main saya lagi enak. Banyak peluag Persema yang saya gagalkan jadi gol,'' ujar lelaki kelahiran 1981 tersebut.

Tapi, siapa sangka, pertandingan lawan Persema itu berlanjut hingga di luar lapangan. Manajemen Persema tertarik memboyong Dedy.

''Mereka mau ke mess Persebaya tapi saya tolak. Ke rumah saja di Bogangin,'' lanjut Dedy.

Persema pun mengirim wakilnya. Hanya, keinginan Dedy pindah tercium pihak manajemen.

 ''Mereka menginginkan saya bertahan,'' ujar Dedy.

Namun, sebelum kembali berkostum Persebaya, petaka menimpa. Dedy mengalami kecelakaan di dekat rumahnya.

 ''Saat hendak keluar gang, ada sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi. Saya langsung tak sadarkan diri  dan bangun sudah dibopong ke pinggir jalan,'' jelas kiper binaan klub internal, Sakti, itu. (*/bersambung)
Read More

Dedy Sutanto, Kiper Juara Persebaya yang Nyaris Pensiun Dini (1)

Dedy Sutanto di rumahnya di Bogangin
Bela Setengah Musim saat Juara

Namanya memang tak setenar kiper-kiper Persebaya Surabaya yang lain. Namun, dia pernah menjadi bagian sejarah saat tim legendaris itu juara.
--
YANG tak biasa atau belum pernah, mencari rumahnya butuh ketelitian. Sebaiknya, Anda harus bertanya.

Seperti yang dialami oleh penulis. Karena malam hari, rumah yang ditempati Dedy Sutanto tersebut terlewati. Untung, lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut menjemput setelah terlewat hampir 500 meter. Ya, sekarang Dedy lebih banyak tinggal di Bogangin I, Surabaya. Jalan masuk ke tempatnya tinggal tidak terlalu besar.

 ''Saya banyak di Bogangin. Saya menunggui ayah yang sakit,'' kata Dedy.

Dia tak bisa lama-lama meninggalkan ayahnya. Meski untuk itu, dia meninggalkan rumah yang sempat ditinggali bersama istri di kawasan Sidoarjo.

Selain itu, Bogangin punya sejarah bagi perjalanan hidupnya. Di rumah tersebut, dia berangkat ke lapangan untuk berlatih bersama Sakti.

''Saya mulai gabung klub Sakti sejak kelas 1 SMP. Saya juga tidak pindah ke klub-klub lain,'' terang Dedy.

Beruntung baginya, di Sakti, dia punya sosok Machrus Afif. Pelatihnya tersebut punya bekal pelatihan kiper yang mumpuni. Ini karena dia pernah mengawal gawang Persebaya Surabaya di era 1990-an.

Hanya, dia butuh lama untuk mendapat kesempatan emas. Pada 2003, sebuah panggilan telepon dari Machrus sempat mengejutkannya. Persebaya membutuhkan tenaganya.

 ''Saya terpantau pelatih Jacksen (F. Tiago) saat Persebaya menghadapi Sakti. Banyak peluang Persebaya mampu saya gagalkan,'' ungkap Dedy.

Awalnya, dia tak percaya. Alasannya, ujar Dedy, Green Force, julukan Persebaya, sudah mempunyai sosok Hendro Kartiko dan Hendra Prasetya.

''Saya kepanggil karena ada kiper yang mundur. Saya langsung aja siap bergabung,'' terang Dedy.

Meski tak pernah main, tapi namanya tercatat dalam tinta emas Persebaya. Dedy merupakan salah satu punggawa tim asal Kota Pahlawan, julukan Persebaya, saat menjadi juara di musim 2003/2004.

Dalam sebuah foto yang terpajang di rumahnya, Dedy berdiri di tengah. Rambutnya masih terurai sebahu. (*/bersambung)
Read More

Kashartadi, Si Kijang Solo yang Juara sebagai Pemain dan Pelatih (4)

Kashartadi dengan medali juara Sriwijaya FC
Duet Arseto Bawa Sriwijaya Berprestasi


Menginjak usia yang tak lagi muda, Kashartadi masih diperhitungkan. Dia dipercaya mengembangkan sepak bola di sebuah daerah di Sumatera Selatan
--
SEORANG lelaki baru saja masuk ke rumah Kashartadi. Penulis juga belum pernah melihatnya. Beda dengan saudara-saudara Kashartadi yang aktif di lapangan hijau.

''Dia dari Sumatera Selatan. Dia datang untuk mengunjungi saya,'' terang Kashartadi.

Baginya, Sumatera Selatan bukan provinsi yang asing baginya. Di akhir karirnya sebagai pemain dan memulai karir kepelatihan, daerah Musi Banyuasin menjadi pijakan awalnya.

 ''Saya dipasrahi untuk mengembangkan sepak bola di sana. Saya sempat mempunyai diklat,'' ungkap Kashartadi.

Hubungannya dengan sang kepala daerah cukup dekat. Ketika orang nomor satu di Banyuasin menjadi pimpinan Sulawesi Selatan, Kashartadi kecipratan.

Namanya masuk  di jajaran pelatih Sriwijaya FC yang dibeli dari Persijatim. Hanya, Kashartadi tidak langsung sebagai pelatih kepala.

''Saya menjadi asisten pelatih. Saya di bawah (Ivan) Kolev,'' terangnya.
 Namun, kesempatan menjadi pelatih kepala akhirnya datang. Kashartadi menjadi nakhoda di musim 2011-2012.

Dia dibantu oleh seniornya di Arseto, Hartono Ruslan. Duet ini terbukti manjur.

''Sriwijaya mampu menjadi juara. Sebuah prestasi yang diluar dugaan saya,'' terang Kashartadi yang kemudian mengambali medali juara.

 Sayang, di tahun kedua, Kashartadi dan Hartono harus meninggalkan Sriwijaya FC. Masalah finansial menjadi pertimbangan utama.

 Dengan status pelatih juara, tak susah baginya mendapatkan tim. Persikabo Kabupaten Bogor, Cilegon United, dan kini Kalteng Putra ditanganinya.

 ''Saya belum bisa kembali ke level atas karena saya masih Lisence B. Semoga segara dapat A,'' pungkasnya. (*/tamat)






Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com