www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

KLB OH KLB……

NURDIN Halid sudah berkuasa dua kali periode. Kuku kekuasaannnya pun begitu dalam. Pria asal Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), tersebut menancap hingga ke daerah-daerah dalam hal ini pengcab atau pengurus cabang dan klub Divisi III.
Wajar, kalau Nurdin begitu susah digantikan. Beberapa sosok yang coba menggoyangnya pun tak kuasa dan akhirnya hilang dengan sendirinya tergerus zaman. Bahkan, pada 2011 ini, tak ada yang menyangka dia tak bisa lagi duduk di kursi empuknya di Senayan, Jakarta.
Wajar karena kasus hukum yang membuat dia harus meringkuk di penjara pun juga tidak bisa melengserkan mantan manajer PSM Makassar tersebut. Tapi, seiring keberanian beberapa sosok yang sudah muak dengan segala tingkah polah Nurdin dan antek-anteknya, mosi tak percaya pun bergulir. Selain memakai pemilik suara, mereka juga memakai Liga Primer Indonesia (LPI) guna menggoyahkan Nurdin. Masyarakat pun memberikan simpati.
Hingga akhirnya, desakan Kongres Luar Biasa (KLB) pun sukses. Kongres tahunan yang seharusnya memilih Nurdin lagi menjadi ajang yang sebaliknya.
Para pemilik suara banyak yang menginginkan Nurdin diganti. Dia pun tak bisa maju dan digantikan oleh Djohar Arifin Husin.
Sayang, tak sama dengan Nurdin yang sudah lama merasakan manisnya kekuasaan, Djohar pun kembali digoyang. Isu dari boneka Jenggala, sebutan untuk pendukung LPI, hingga plin-plan membuat suara keras menyerukan profesor asal Medan tersebut lengser.
Tentu jalan yang ditempuh sama dengan cara menggulingkan Nurdin, yakni KLB. Pemilik suara pun kembali dikumpulkan.
Ini membuat sepak bola Indonesia pun kembali memanas. Ternyata, KLB memang lagi laris. Tinggal tunggu waktu, akankan Djohar mengikuti jejak Nurdin. Menarik kita simak hingga akhir. (*)
Read More

Persisku Tak Bisa Bersatu

PERSIS Solo pernah berjaya di era 1950-an. Tim asal Kota Bengawan tersebut merupakan raja sepak bola di level amatir.
Trofi pemenang memenuhi rak di tim yang mempunyai logo lilin tersebut. Bahkan, dominasinya susah ditandingi dan juga mampum melahirkan pesepak bola –pesepak bola papan atas Indonesia. Salah satunya kiper Maladi yang juga pernah duduk sebagai petinggi di negeri ini.
Sayang, lambat laun, prestasi tersebut memudar. Bahkan, terlihat redup di era 1980-an saat Arseto menjadikan Kota Bengawan, julukan Solo, sebagai kandangnya. Persis pun harus rela tampil dari kampung ke kampung.
Saat kecil, saya memang lebih senang melihat Arseto. Penampilannya rancak saat berada di tangan Danurwindo. Tapi, saya pun tetap memperhatikan Laskar Sambernyawa, julukan Persis. Hanya, saya jarang menontonnya karena lawannya hanya tim-tim di sekitar Solo.
Nah, setelah Arseto bubar pada 1998, nafas Persis pun kembali terdengar. Harapan merajut prestasi seperti di era 1950-an pun bergelora.
Saya pun menjadi saksi dari awal kebangkitan Persis saat menapak masuk Divisi I. Mulai pertandingan dari kampung ke kampung di level Divisi II pun saya ikuti. Sayang, panggilan tugas pindah ke luar Solo, tak bisa membuat saya menuntaskannya hingga menjadi saksi Persis menembus Divisi I.
Hingga akhirnya, saya pun gembira plus bangga ketika Persis menembus Divisi Utama. Stadion Manahan, Solo, yang megah, kembali ke tuannya pun ke orang lain. Ya, stadion yang dibangun di era Orde Baru tersebut pernah dipakai kandang Persijatim Jakarta Timur dan Pelita. Karena di Solo, akhirnya ada embel-embel, Solo yakni Persijatim Solo FC dan Pelita Solo FC. Kini, Persijatim sudah menjadi Sriwijaya FC dan Pelita kembali ke nama aslinya Pelita Jaya yang menjadi milik keluarga Bakrie.
Sayang, di saar era kompetisi Indonesia Super League (ISL), Persis gagal lolos. Akibatnya, tim yang mempunyai kostum kebangaan merah-merah itu pun harus tetap berada di Divisi Utama.
Meski hanya di Divisi Utama, Persis pun harus tertatih-tatih. Untung, regulasi membuat Persis bertahan di kompetisi level 2 PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) tersebut.
Hanya, sekarang, keprihatinan saya kepada tim kampung halaman sangat dalam. Persis yang dulu solid, kini terpecah menjadi 2. Persis yang berlaga di naungan PSSI (baca PT LPIS) dan PT Liga Indonesia. Suporter mendukung yang berada di bawah PSSI, tapi klub anggota sebagai pemilik Persis memilih ke PT LI.
Memang, Persis yang bernaung di bawah PSSI dipimpin orang yang bukan dari Solo. Keputusannya sering kali tak melibatkan klub anggota (entahlah, mana yang benar). Hanya, saran saya, alangkah bijaknya, jika kedua kubu bisa duduk bersama. Lupakan perbedaan yang ada. Buang dan tending jauh politik dari sepak bola, begitu juga yang ada di Persis. Viva Sambernyawa. Cintaku ke Persis mengalahlan klub manapun di atas bumi ini. (*)
Read More

Kompetisiku Terbelah Dua

KOMPETISI sepak bola di Indonesia sudah uzur umurnya. Sejak zaman colonial Belanda, para pesepak bola tanah air sudah bertarung dalam kompetisi yang bentuknya antarkota (bond).
Bahkan, sepak bola juga menjadi alat perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Awalnya juga kompetisi Indonesia hanya perserikatan dan dalam level amatir.
Tapi, memasuki era 1970-an, sepak bola bayaran atau bekennya professional sudah masuk dengan nama Galatama (Liga Sepak Bola Utama). Para pengusaha berduit rela mengelurkan uangnya untuk membiayai klub. Akibatnya, di Indonesia ada dua model kompetisi, galatama dan perserikatan.
Meski ada dua, kompetisi dan sepak bola Indonesia tetap bias berjalan baik. Emas SEA Games 1987 dan 1991, serta semifinalis Asian Games 2006 bisa digapai.
Sayang, system dua model kompetisi ini hanya bertahan hingga 1993. Pada 1994, kompetisi di Indonesia memasuki system baru dengan nama, Liga Indonesia. Klub-klub amatir dan galatama berbaur menjadi satu dengan melahirkan Persib Bandung sebagai juara di musim pertama.
Setelah melakoni beberapa tahun dengan beberapa perubahan format kompetisi, system ini pun berubah lagi pada musim 2008-2009 dengan lahirnya Indonesia Super League (ISL). Hanya berjalan tiga musim, cobaan mulai menghadang.
Gonjang-ganjing menjelang pergantian ketua umum PSSI, lahirlah kompetisi tandingan dengan nama Indonesia Premier League (IPL) yang didanai pengusaha Arifin Panigoro. Dengan diikuti 20 klub, kompetisi ini dianggap brewk away league. Hanya, kompetisi ini tak berjalan hingga akhir alias hanya setengah musim.
Setelah PSSI berganti ketua umum dari Nurdin Halid ke Johar Arifin Husin, LPI pun menjadi kompetisi yang disahkan pada 2011. Sebaliknya, ISL menjadi tandingan. Tapi, kompetisi belum berlangsung, intrik-intrik tajam sudah mengiringi. Kedua kubu saling klaim sudah mendapat dukungan dari klub.
Kalau ini terus berlangsung, sepak bola Indonesia sampai kapan pun tetap akan terpuruk. (*)
Read More

LUKA SEMAKIN MENGANGA

21 November jadi tanggal yang susah dilupakan public sepak bola Indonesia. Untuk kali kesekian, Merah Putih dipermalukan Malaysia di final SEA Games 2011.Padahal, pertandingan tersebut dilaksanakan di kandang sendiri, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Beberapa hari sebelumnya, Indonesia juga diikat Malaysia dengan 0-1. Sementara, di laga final, Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, kalah melalui drama adu penalti. Kans memenangi pertarungan final atau meraih emas sebenarnya terbuka lebar.
Saat pertandingan belum ada lima menit, Stadion Utama Gelora Bung Karno sudah bergemuruh melalui gol tandukan Gunawan Dwi Cahyo. Sayang, setelah itu, pertandingan dikuasai Malaysia hingga mampu menyamakan kedudukan memanfaatkan kesalahan lini belakang dan tengah Indonesia yang tak terkoordinasi dengan baik.
Setelah Malaysia mampu menyamakan kedudukan, sebenarnya Indonesia kembali memegang kendali permainan. Bahkan, dua gol sempat bersarang ke gawang negeri jiran. Tapi, kedua gol Titus Bonai dan Ferdinand Sinaga tesebut dianulir karena keduanya dianggap sudah dalam posisi offside.
Dewi fortuna memang kurang berpihak ke Indonesia. Dalam adu tembakan 12 pas tersebut, Gunawan dan Ferdinand gagal menceploskan gol. Impian kembali meraih emas setelah 20 tahun terbang. Gelar juara umum di ajang SEA Games 2011 pun seakan hambar karena tanpa emas sepak bola.
Kekalahan ini juga membuat luka semakin menganga jika bersua Malaysia. Belum hilang ingatan kita betapa sakitnya menyaksikan Bambang Pamungkas dkk dihentikan langkahnya oleh Harimau Malaya, julukan timnas Malaysia.
Sampai-sampai masyarakat berpikir, kenapa kita susah mengalahkan Malaysia di partai-partai bergengsi. Jawabannya mungkin simple saja. Malaysia mempunyai system pembinaan yang jelas arah dan tujuannya. Sementara kita, tak pernah konsisten. Tergantung siapa yang punya kepentingan dia akan yang akan mengendalikan. Jika ini tak diubah, jangan harap kita bisa melewati Malaysia. (*)
Read More

GAGAL DATANG KE BRAZIL 2014

HARAPAN Indonesia lolos ke Piala Dunia 2014 Brazil sudah menguap. Kekalahan 2-3 dari Qatar membuat ratusan juta masyarakat di tanah air meradang. Ironisnya, kekalahan tersebut dialami di kandang sendiri, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Selasa (11/10).
Memang, sebelum pertandingan, kans lolos juga sangat tipis. Gara-garanya, Firman Utina dkk sudah menelan dua kali kekalahan yakni dari Iran dan Bahrain. Tapi, jika mampu mengalahkan Qatar, minimal anak asuh Wim Rijsbergen tersebut masih punya asa. Atau paling tidak membuat masyarakat Indonesia bisa dengan kepala tegak dan bangga dengan kumpulan sebelas pemain terbaiknya tersebut.
Sayang, harapan tinggal harapan. Untuk kali kesekian, kita hanya bisa menjadi penonton di ajang Piala Dunia. Mungkin yang lebih sakit daripada melihat pertandingan melawan Qatar adalah proses kekalahan itu sendiri.
Setelah kalah dari Bahrain, situasi di tim sangat panas. Komentar Wim yang menyalahkan anak asuhnya membuat para pemain kecewa. Sebagai pelatih, seharusnya dia ikut merasa bertanggung jawab bukan malah menyalahkan pemainnya.
Bambang Pamungkas dkk pun sempat mengancam keluar dari tim. Para penggawa Merah Putih pun membandingkan situasi tim di era Wim dan di era pelatih sebelumnyam Alfred Riedl.
Bagai pemain, Riedl, pelatih yang dilengsgerkan karena dianggap dikontrak Bakrie sehingga diputus di tengah jalan oleh PSSI di bawah ketua umum Djohar Arifin Husin, lebih manusiawi. Pelatih asal Austria ini bisa dekat dan memahami isi hati pemain.
Hasilnya, timnas Indonesia pun bisa lolos ke final Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara). Sayang, di final, yang memakai format home and away, Indonesia harus mengakui ketangguhan Malaysia.
Metode dan strategi yang dipakai Wim pun sempat bikin insan bola Indonesia bingung. Kekalahan dari Qatar menjadi buktinya. Tim yang diturunnya pun di luat dugaan.
Padahal, dugaan awal, meneer asal Belanda tersebut akan menampilkan formasi yang sama saat Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, menahan imbang tim tangguh Asia Arab Saudi di Malaysia di laga uji coba empat hari sebelumnya. Penampilan para pemain pun perlu mendapat acungan jempol. Tanpa lelah, Made Wirawan dkk membuat para pemain Arab Saudi frustrasi.
Tentu, dugaan awal, para pemain yang akan diturunkan melawan Arab Saudi yang akan ditampilkan saat menghadapi Qatar. Ternyata, semua itu hanya menjadi harapan.
Saat melawan Qatar, semua berubah. Made Wirawan dan Ferdinand Sinaga yang tampil bagus menghadapi Arab Saudi hanya jadi pemanas bangku cadangan. Purwaka yang spesialisnya bermain sebagai bek tengah dimainkan sebagai gelandang bertahan. Bambang Pamungkas yang sinarnya mulai redup secara mengejutkan malah dimainkan sebagai starter dan dipercaya sebagai kapten.
Hasilnya, permainan Indonesia sama sekali tak berkembang. Dua gol yang dihasilkan Christian Gonzalez pun bukan lahir dari sebuah skema. Sebaliknya, tiga gol yang tercipta ke gawang Indonesia yang dikawal Ferry Rotinsulu akibat kurang koordinasinya para pemain kalau tidak mau disebut sebagai sebuah kecerobohan.
Nasi pun sudah menjadi bubur. Indonesia sudah percaya diri menunjuk Wim. Hasilnya,lelaki yang menjadi bagian timnas Belanda yang lolos ke Piala Dunia 1974 dan 1978 itu gagal membawa Indonesia ke Piala Dunia Brazil 2014. Sekarang, kita hanya memilih, tetap memakai Wim atau tidak setelah melihat torehannya. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 12 Oktober 2011
Read More

Bejo Sugiantoro, Libero Terbaik Sepanjang Masa

Bejo Sugiantoro (sumber: sidiq)

HERRY Kiswanto selalu disebut sebagai libero terbaik Indonesia sepanjang masa. Bagi saya, hal tersebut tidak berlaku.
Saya masih menjagokan Bejo Sugiantoro. Dia merupakan tipikal pemain belakang modern yang bukan hanya bertugas menjaga lini belakang.
Bejo tak jarang sering terlihat membantu penyerang saat timnya butuh konstribusi dirinya. Apalagi, jika tim yang dibelakanya lagi dalam kondisi tertinggal.
Layaknya seorang pendekar, Bejo langsung naik dan susah dicegah. Tapi, dengan stamina yang dimiliki, dia pun cepat kembali ke posnya jika serangan gagal.
Wajar kalau dia selalu mendapat posisi inti di setiap tim yang dibelanya. Ya, karir Bejo dimulai dari klub kota kelahirannya, Persebaya Surabaya.
Sebenarnya, Bejo pun pernah mendapat kesempatan menimba ilmu di Italia melalui program PSSI Barreti pada 1997. Tapi, karena kerinduannya kepada keluarga di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, dia pun memilih pulang.
Tapi, itu tak membuat kemampuan dan bakatnya ikut redup. Sebaliknya, setelah balik ke Surabaya, dia pun langsung kembali dipercaya menjadi libero utama. Meski, saat itu, usianya masih sangat muda. Hasilnya, Persebaya pun dibawanya menjadi juara Liga Indonesia selama dua kali.
Sayang, karirnya di Persebaya yang begitu gemilang dan menjadi pujaan suporter seolah terhapus saat dia memutuskan hengkang ke PSPS Pekanbaru. Dia bersama rekan akrabnya di Persebaya, Uston Nawawi, sempat membuat kecewa suporter Persebaya.
Untung, itu hanya berlangsung semusim. Saat Persebaya kembali ke Divisi Utama pada 2002, dia pun pulang ke Green Force. Bejo pun kembali menunjukkan loyalitasnya saat tim yang dibelanya tersebut degradasi ke Divisi I pada 2006. Hanya setahun di level II itu, Bejo sukses memimpin rekan-rekannya kembali ke Divisi Utama.
Tapi, pada 2008, Bejo sudah cabut lagi dari tim yang bermarkas di Gelora 10 Nopember. Kabarnya, dia melakukan itu karena aksi solidaritasnya kepada rekan-rekannya yang hendak dirasionalisasi soal gaji.
Mitra Kutai Kartanegara menjadi tujuannya di putaran II. Nyaris saja Barisan Kuat dan Kekar, julukan Mitra Kukar, menembus level ISL. Setelah itu, Bejo merumput di Persidafon Dafonsoro. Tampaknya, tekadnya sudah bulat untuk tidak lagi membela Persebaya.
Sebagai pemain yang bersikap profesional, Bejo akan membela klub yang serius meminangnya. Kabarnya, di Persidafon, kontraknya menembus Rp 750 juta. Sayang, tim asal Papua tersebut gagal menembus ISL setelah kalah menyakitkan di babak playoff.
Tak perlu lama Bejo pun dapat klub baru. Delta Putra Sidoarjo (Deltras) menjadi pelabuhan karirnya pada musim 2010-2011. Dengan bayaran yang tertunggak berbulan, jiwa leader pemain kelahiran 2 April 1977 tersebut pantas diacungi jempol.
The Lobster, julukan Deltras, tetap bertahan di ISL dengan posisi bukan sebagai juru kunci. Dengan usia yang terus merambat, Bejo tetap belum mau pensiun. Artinya, kita masih punya kesempatan aksi libero terebaik Indonesia sepanjang masa itu. (*)


Data Diri:
Nama: Sugiantoro
Panggilan: Bejo
Lahir: Sidoarjo, 2 April 1977
Orang tua: Mulyadi/Rotin
Istri: Rachmawati
Karier
1994-2002: Persebaya
2003-2004: PSPS Pekanbaru
2004-2008: Persebaya
2008-2009: Mitra Kukar
2009-2010: Persidafon Dafonsoro
2010-2011: Deltras
1997-2004 : Timnas Indonesia

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 5 Oktober 2011
Read More

KAMALUDDIN, Bawa Persbul dari Divisi III hingga Divisi Utama

PSSI Garuda I memang sudah bubar. Proyeksi pembentukan pemain muda untuk tim nasional tersebut usai setelah SEA Games 2005. Meski itu banyak dianggap gagal, banyak pemain nasional yang lahir dari proyek tersebut.
Bahkan, beberapa di antaranya masih eksis di pentas sepak bola Indonesia hingga sekarang. Memang, mereka bukan lagi pemain, tetapi sudah alih profesi sebagai pelatih. Salah satunya Kamaluddin.
Lelaki kelahiran 1966 tersebut pernah bergabung di tim yang pernah ditangani arsitek tim asal Brazil Barbatana itu. ”Saya masuk PSSI Garuda setelah membela timnas junior pada 1982. Setelah itu, saya direkrut PSSI Garuda hingga 1986,” jelas Kamaluddin saat ditemui di Surabaya pada Kamis (29/9).
Tanpa menunggu lama, Kamaluddin langsung bergabung dengan tim elite Pelita Jaya. Namun, sebelum ke klub milik keluarga Bakrie tersebut, dia nyaris berkostum Niac Mitra. ”Saya sudah mau tampil di Piala Liga. Tapi, Pelita tertarik dan saya pun gagal tampil di Surabaya dengan kostum Niac,” kenangnya.
Di Pelita, lelaki yang saat masih aktif sebagai pemain berposisi bek tersebut bertahan lama, hampir sepuluh tahun. Setelah itu, dia membela Barito Putra Banjarmasin dan terakhir di Persipal Palu.
”Setelah pensiun sebagai pemain di Persipal, saya pun sempat menjadi asisten pelatih, kemudian pelatih di sana dari 2001–2005,” tambah Kamaluddin.
Hanya, Kamaluddin pernah meninggalkan aktivitas lapangan saat diterima bekerja di sebuah bank swasta. Pekerjaannya itu dilakonya hampir tiga tahun. ”Saya pun sudah dapat posisi yang baik,” lanjutnya.
Namun, panggilan kembali ke lapangan hijau tak kuasa dilawannya. Apalagi, dia mendapat tawaran menantang untuk menangani Persbul. ”Saya memulainya benar-benar dari dasar. Materi pemain pun pemain lokal serta tambahan beberapa pemain dari Palu,” lanjutnya.
Berkat kerja keras dan kecerdikannya, kesebelasan dari Provinsi Sulawesi Tengah itu perlahan namun pasti terus menuai prestasi. Kamaluddin hanya butuh semusim untuk bisa naik level. ”Jadi, mulai promosi ke Divisi II hingga sekarang ke Divisi Utama. Dukungan Bupati Amran Batalipu juga sangat besar,” tambah Kamaluddin.
Namun, pada musim 2011–2012 ini, dia mengaku susah untuk terus melanjutkan suksesnya alias promosi ke level 1 atau Indonesia Super League (ISL). Alasannya, persaingan di Divisi Utama sangat ketat. ”Bisa jadi rekor saya akan terhenti. Meski, saya tetap akan berusaha mengangkat prestasi Persbul,” ucapnya. (*)


Data Diri
KERJA KERAS: Kamaluddin (sumber: sidiq)
Karir

Kelahiran: Palu 1966
Pemain
1981: PSSI Junior
1982–1986: PSSI Garuda
1986–1995: Pelita Jaya
1995–1996: Barito Putra
1997–2005: Persipal Palu

Pelatih:
2001–2005: Persipal Palu
2008–...: Persbul Buol
Prestasi Pelatih:
2008–2009: Promosi ke Divisi II
2009–2010: Promosi ke Divisi I
2010–2011: Promosi ke Divisi Utama


*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos pada 2 Oktober 2011
Read More

KLB Akankan Datang (Lagi)

GEMA Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI nyaring terdengar lagi. Tuntutannya pun hampir sama dengan KLB-KLB sebelumnya, menggantikan posisi ketua umum.
Padahal, Djohar Arifin Husin, ketua umum PSSI sekarang, belum ada setengah tahun memimpin organisasi sepak bola di Indonesia tersebut. Dia menggantikan posisi Nurdin Halid setelah melalui proses KLB yang mengalami tiga kali perpindahan tempat. Mulai dari Denpasar (Bali), Pekanbaru (Riau), hingga akhirnya di Solo (Jawa Tengah).
Muaranya pun hampir sama, kekecewaan para pemilik suara kepada ketua umum. Jika dulu Nurdin dianggap gagal mengangkat prestasi sepak bola Indonesia, kini Djohar dianggap tidak konsisten dan hanya jadi boneka dari kelompok tertentu.
Saat ini, PSSI memaksakan kompetisi di level tertinggi atau yang dulu dengan nama Indonesia Super League (ISL) diikuti oleh 24 tim. Padahal, seharusnya kompetisi tersebut hanya diikuti 18 tim.
Ada beberapa tim yang dipaksanakan masuk. Nama seperti Persebaya Surabaya, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar seharusnya tidak berada di situ. Alasannya, keempatnya sudah bukan lagi anggota PSSI setelah berlaga di kompetisi tandingan, Liga Primer Indonesia (LPI).
Namun, dengan entengnya, PSSI mempunyai alasan yang membuat mereka layak berlaga di ISL. Mulai dari alasan sponsor ataupun karena mempunyai suporter yang jumlahnya besar.
Menariknya lagi, para pigak yang kecewa kali ini, dulunya juga merupakan pemegang suara yang ngotot mengajukan Djohar. Cepat sekali dukungan tersebut berubah.
Sebelumya pun, saya sempat tidak percaya ketika awal Djohar memimpin PSSI tidak akan lama. Ah isu pasti. Kan suara yang mendukung Djohar lumayan besar.
Eh, nggak tahunya hal itu tinggal tunggu waktu.
Di negeri ini, semua bisa berubah kalau memang punya suara. Padahal, mediasi masih perlu dan Djohar bersama PSSI pun tidak perlu memaksakan kehendak.
Memang kalau harusnya ISL hanya 18 klub kan juga tidak masalah. Kalau Persebaya, Persibo, Persema, dan PSM harus tak ikut kan juga sudah ada dasarnya. Sesuai aturan FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) dan AFC (Federasi Sepak Bola Asia) memang kalau tak diakui federasi lokal harus mendaftar kembali dan memulai dari dasar.
Masyarakat Indonesia sekarang sudah tak bisa dibodohi lagi. Semua sudah melek informasi dengan mudahnya kabar diterima.
Mereka bisa mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Tentu, kita tak ingin masyarakat kembali dibodohi karena menyalahi statuta FIFA. Tapi, hanya diam dan membiarkan kompetisi dan roda organisasi tetap berjalan. (*)


Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 2 Oktober 2011
Read More

Deltras Bukan yang Pertama di Sidoarjo

SIDOARJO punya stadion megah. Gelora Delta dibangun pada 1996 untuk persiapan menyambut PON 2000. Tempat tersebut akhirnya memang dipergunakan untuk pembukaan pesta olahraga empat tahunan bangsa Indonesia tersebut.
Setelah PON, Gelora Delta pun tak menganggur. Klub pindahan asal Bali, Gelora Dewata, memakainya sebagai kandang dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD) dan berubah lagi menjadi Delta Putra Sidoarjo(Deltras) hingga sekarang.
Tentu, banyak yang menganggap The Lobster,julukan Deltra, merupakan klub sepak bola professional di Sidoarjo. Memang, ada Persida, tapi tim yang berjuluk Laskar Jenggolo tersebut berstatus amatir.
Tapi, anggapan tersebut ternyata salah. Jauh-jauh sebelumnya sudah ada klub sepak bola professional yang bermarkas di Kota Udang,julukan Sidoarjo, tersebut. Siapa? Perkesa 78. Karena bermarkas di Sidoarjo, nama lengkapnya pun menjadi Perkesa 78 Sidoarjo.
Sebenarnya, klub tersebut bukan asli Sidoarjo. Sesuai angka yang ada, klub tersebut lahir pada 1978 dengan diketuai tokoh bola Nabon Noor. Tempatnya pun di Jakarta, atau pasnya di Kebayoran. Nama Perkesa pun katanya Persatuan Sepak Bola Kebayoran dan sekitarnya.
Pada 1984, Perkesa memutuskan pindah ke Sidoarjo. Hanya untuk menjamu lawan-lawannya, tim yang mempunyai kostum kebesaran warna oranye tersebut bertanding di Gelora 10 Nopember. Menurut salah satu mantan pemain Perkesa 78, Eko Prayogo, mereka memakai mes di belakang Mall Ramayana, Sidoarjo, yang kini telah berubah menjadi ruko (rumah toko) dan hotel.
Setelah itu, mes pindah di dekat Kantor Pos Sidoarjo atau lebih tepatnya di selatan warung bakso. Saat ini, bekas mes Perkesa tersebut menjadi Kantor Telkom Sidoarjo.
Tempat latihan pun di Stadion Jenggolo, stadion yang di era 1980-an sudah masuk ukuran bagus. Tapi, kalau main ya tetap di Gelora 10 Nopember.
Risikonya, pada hari pertandingan, Perkesa harus berangkat pagi dan tidur siang di stadion yang juga dikenal dengan nama Stadion Tambaksari tersebut. Meski bukan tim bertabur bintang, tapi prestasi Perkesa tak boleh dianggap enteng.
Runner-up Piala Liga pernah disabet pada 1985 sebelum ditundukkan Arseto Solo di Stadion Sriwedari Solo. Para pemain Perkesa pun antara lain Eko Prayogo, Freddy Muli, Suharno, ataupun juga Socheh.
Hebatnya, nama-nama tersebut sampai sekarang masih aktif di lapangan hijau. Hanya, statusnya bukan lagi sebagai pemain karena usianya yang sudah uzur. Namun, kini berkiprah sebagai pelatih. Eko menjadi pembina klub Mitra Surabaya, anggota internal Persebaya, Freddy menjadi salah satu pelatih papan atas Indonesia, dan Socheh menangani klub-klub di Surabaya dan sekitarnya.
Sayang, Perkesa tak bertahan lama di Sidoarjo. Pada 1989, Perkesa pindah ke Jogjakarta dan berganti nama menjadi Perkesa Mataram. Kemudian pindah ke Cibinong dan menjadi Perkesa Indocement dan terakhir menjadi Perkesa Trisakti. Sampai saat ini, nama Perkesa lenyap seperti hilang ditelan bumi.
Hanya, sejarah sepak bola Indonesia tetap mencatat pernah ada klub yang mewarnai perjalanannya yakni Perkesa dan berhome base di Sidoarjo. Jadi, Deltras bukan yang pertama di Kota Udang, tapi Perkesa. (*)


Read More

Abdul Kirom, Bintang yang Terlalu Cepat Redup

CIBLEK: Abdul Kirom (sumber: sidiq)
DIA hanya memakai sandal jepit. Teh hangat pun tersaji di depannya setelah berlatih di lapangan Menanggal Surabaya pada pertengahan September 2011 lalu.
Keringat masih mengucur deras dari tubuhnya meski dia sudah berteduh. Semua orang yang ada di sekitarnya pun terlihat menghormatinya.
Siapa sosok itu? Bagi penggemar sepak bola di era 2000-an itu, tentu banyak yang tak kenal. Namun, kalau maniak bola pada pertengahan era 1990-an,sangat familiar dengan nama tersebut. Dia adalah Abdul Kirom. Banyak yang memanggilnya nama bekannya, Ciblek. Dia merupakan mantan pemain Persebaya Surabaya.
Memang harus diakui, Persebaya tak pernah berhenti melahirkan bintang. Sudah tak terkira pemain yang namanya menasional dari Kota Pahlawan.Sebut saja Abdul Kadir, Rudy William Keltjes, Syamsul Arifin, Mustaqim, Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi, hingga Rendi Irwan sekarang.
Abdul Kirom? Tentu, nama tersebut layak juga masuk kategori bintang.Hanya, ada sedikit embel-embel kontroversial yang bakal mengirinya kalau dia disebut pemain bintang. Padahal, pemain yang mempunyai postur mungil untuk ukuran pesepak bola tersebut termasuk dalam bagian Green Force, julukan Persebaya, saat menjadi juara Liga Indonesia 1997. Saat ini, tim yang dikapteni Aji Santoso tersebut memetik kemenangan 3-1 atas Bandung Raya di laga final yang dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Saat itu, saat usianya sekitar 22-an, Kirom memang mempunyai skill di atas rata-rata. Itu masih ditambah dengan daya jelajahnya yang tinggi. Wajar kalau saat itu, dia menjadi idola suporter.
Sayang, di saat usia muda, arek Krian tersebut, menurut salah satu rekannya Bejo Sugiantoro, tak bisa menjada mental bintang. Dia sering tertangkap pulang malam dan paginya tak fit saat latihan.
Pada 1998, Kirom pun sempat dipinjamkan ke Arseto Solo. Sayang, di klub asal Kota Bengawa tersebut hubungan keduanya tak bisa berlangsung lama. Arseto bubar setahun kemudian setelah terjadinya krisis sosial dan politik.
Kirom pun melanglang ke berbagai klub-klub kecil. Persewangi Banyuwangi dan Persida Sidoarjo pun pernah memakai jasa dan kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar. Sayang sebenarnya, pemain yang seharusnya awet di Persebaya tersebut harus membela klub yang bukan level untuk seukuran dia. Kini, Kirom pun masih sering terlihat bermain bola.
Bahkan, ajang antarkampung (tarkam) namanya masih beredar. Hanya, untuk level atas, dia sudah tak bisa lagi. Fisiknya sudah tergerus usia. Untung, Kirom termasuk pandai dalam memanfaatkan namanya saat masih menjadi bintang.
Di Krian, Kirom mempunyai usaha kos-kosan yang lumayan laris. Ini membuatnya bisa menghidupi keluarga. (*)



Read More

Freddy Muli, Karakter Keras Berbuah Prestasi

PENGALAMAN: Freddy Muli
BANYAK pelatih di pentas sepak bola Indonesia. Tentu, banyal di antara mereka pernah merasakan masa jaya dan masa redup.
Tapi, kiprah mereka pun tetap banyal dinanti klub. Salah satunya Freddy Muli. Dia pernah merasakam kejayaan sebagai pelatih saat menangani Persebaya Surabaya dan Persidafon Dafonsoro.Kabarnya, dia dua klub tersebut, kontraknya lebuh dari Rp 500 juta.
Toh,kalaupun benar memang wajar kalau sesosok Freddy dihargai setinggi itu. Lelaki berusia 48 tahun tersebut memang dikenal bertangan dingin. Green Force, julukan Persebaya, pernah dibawanya kembali ke Divisi Utama pada musim 2007, setelah musim sebelumnya terlempar ke Divisi I. Selain itu, beberapa tahun sebelumnya, dia pun mampu mengangkat tim kecil Persid Jember mampu menembus semifinal Piala Gubernur Jatim. PSMS Medan, yang lama ambles, pun sukses dibawanya ke final Liga Indonesia sebelum ditundukkan Sriwijaya FC pada musim 2007-2008.
Bahkan, hanya kurang beruntung saja yang menggagalkan Persidafon Dafonsoro masuk Indonesia Super League pada musim 2009-2010. Di babak penyisihan, tim asal Papua tersebut susah ditaklukan.
Hanya,pada musim 2010-2011, dia tak menangani tim. Beberapa tawaran klub ditolaknya karena tak mempunyai target serius. Bahkan saat kompetisi bergulir, nama Freddy tetap tak tenggelam. Namanya selalu disebut jika ada posisi pelatih yang gagal membawanya berprestasi.
Tapi,itu ditolak Freddy. Dia pantang melatih tim di tengah jalan. Tidak ada tantangan karena dia tak bisa menyiapkan tim sejak awal dan kurang ada kepuasan kalau melanjutkan kinerja pelatih lain.
Ilmu sepak bola Freddy memang tak pernah luntur di tengah jalan. Apalagi, dia termasuk salah satu pelatih yang mengantongi lisensi A AFC (Federasi Sepak Bola Asia). Selain itu, Freddy juga tak malu untuk terus belajar. Koran, majalah, dan literature sepak bola menjadi santapannya setiap hari jika lagi berada di rumahnya di Jalan Yos Sudarso, Sidoarjo.
Ternyata, sejak masih pelajar, Freddy memang sudah doyan membaca. Itu terjadi saat dia menimba ilmu di Diklat PSSI Ragunan, Jakarta. Oh ya, skill Freddy di lapangan hijau juga meningkat pesat sejak ditempa di Diklat Ragunan. Dia masuk di program milik Diknas tersebut pada 1979. Di sana, dia termasuk angkatan awal. Bakatnya terendus saat tampil di Popnas (Pekan Olahraga Pelajar Nasional).
Dari Diklat Ragunan, Freddy sempat ditarik ke Galamahasiswa yang dipoles di Solo, Jawa Tengah. Di Kota Bengawan, julukan Solo, lelaki asal Palopo, Sulsel, tersebut pernah kuliah di Universitas Slamet Riyadi (Unisri).
Sayang, pada 1983, dia sempat gantung sepatu karena cedera dan memilih bekerja di Krakatau Steel, Cilegon. Dia diajak rekan bekerja di sana. Tapi, tantangan dari lapangan hijau tak bisa dilupakan. Dia memutuskan menjadi pemain professional setelah direkrut Perkesa 78 Sidoarja pada 1985. Nah, setelah itu, dia pun telah bergonta-ganti klub. Niac Mitra, Petrokimia Putra Gresik, Mitra Surabaya, hingga akhirnya berlabuh ke Gelora Dewata hingga akhirnya memutuskan pensiun pada musim 1995. Dunia kepelatihan pun menjadi pilihan hidupnya. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 23 September 2011

Read More

Muhtar, Sosok di Balik Logo Wong Mangap

SEHAT: Muhtar yang akrab disapa Mister
APA yang Anda selalu ingat dari Persebaya Surabaya? Tim sepak bolanya yang termasuk legendaris Indonesia, tim sepak bola asal Kota Pahlawan, atau bisa juga tim sepak bola yang mempunyai pendukung fanatic yang lebih dikenal dengan nama Bonek atau Bondo Nekat (modal nekat).
Tiga jawaban tersebut tidak salah. Tapi, kalau Anda menyebut tim sepak bola yang mempunyai logo orang berteriak, ini yang paling menarik dan jarang orang menjawabnya. Memang, Persebaya merupakan klub yang kali pertama memakai logo.
Tapi, tahukan Anda siapa yang kali pertama membuat logo yang sudah tersebar dan tertempel di kaos-kaos pendukung Persebaya tersebut. Tentu banyak yang tak tahu karena memang jarang dipopulerkan.
Yang kali pertama membuat logo wong mangap tersebut adalah Muhtar atau yang akrab disapa Mister. Sebenarnya tak susah mencari sosoknya. Setiap Selasa pagi dia selalu berlatih sepak bola di Lapangan Bungurasih atau yang akrab disebut Lapangan Mahmil karena letaknya di belakang Mahmil atau Mahkamah Militer. Sementara, kalau Kamis pagi, lelaki yang sudah berusia 55 tahun tersebut berada di Lapangan Menanggal untuk mencari keringat di Askring (Asal Keringeten, klub sepak bola yang pemainnya merupakan karyawan Jawa Pos).
Saat ini bermain bola di pagi hari merupakan salah satu kegiatannya setelah pensiun dari Jawa Pos. Sebagai pemain yang sudah tidak muda lagi, Mister termasuk pemain bagus. Umpan-umpannya dari sisi kanan sering berbuah gol. Bahkan, tak jarang, dia ikut menyumbang gol buat timnya.
Baginya, sepak bola merupakan hobi yang tak bisa ditinggalkannya.Itu pula yang membuat dia begitu pas menggambarkan sosok orang yang menjadi logo Persebaya saat ditugaskan membuatnya pada 1987.
Dia hnya diberi gambaran bahwa logo tersebut menunjukkan semangat arek Suroboyo yang tak kenal menyerah, berani, dan punya jiwa pahlawan. Sebagai orang grafis, Mister tak butuh waktu lama untuk merealisasikan perintah tersebut. Apalagi, sebagai pendukung setia Persebaya, dia juga ingin klub pujaannya tersebut mempunyai logo yang bisa mempengaruhi penampilan pemain di lapangan juga.
Akhirnya, dia menemukan sosok orang yang berteriak dengan rambut gondrong serta tali pengikat kepala. Besoknya logo tersebut muncul di Koran dan dia langsung mendapat respons positif.
Memang, diperjalanannya, logo tersebut mengalami penyempurnaan dari Boediono, rekannya sekantor, hingga menjadi seperti sekarang ini. Tapi, bagaimanapun, Mister tetap yang pertama.
Dia pun berharap hasil karyanya tersebut terus dipakai dan menjadi identik dengan Persebaya. Meski,supporter tak harus mengenal siapa sosok Mister. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 23 September 2011
Read More

Satu Wilayah... Dua Wilayah... Satu Wilayah...

SATU wilayah..dua wilayah …satu wilayah..dua wilayah. Ini bukan suara cicak yang menempel di dinding. Tapi, ini suara kebimbangan PSSI dalam hal memutuskan format kompetisi pada musim 2011-2012.
Awalnya, kompetisi di level tertinggi dalam kancah sepak bola Indonesia memakai format satu wilayah dengan nama Indonesia Super League (ISL). Piramida teratas tersebut telah bergulir sejak musim 2008-2009. Di musim pertama, Persipura Jayapura ditahbiskan sebagai juara, kemudian 2009-2010 trofi ISL jatuh ke tangan Arema dan pada musim 2010-2011, Mutiara Hitam, julukan Persipura, menjadi yang terkuat.
Hanya, ada yang special pada musim 2010-2011 ini. Semula, kompetisi yang diikuti 18 klub tersebut menyusut menjadi 15. Itu setekah PSM Makassar, Persibo Bojonegoro,dan Persema Malang menyeberang ke Liga Primer Indonesia (LPI), kompetisi tandingan yang digagas oleh sebuah konsorsium bentukan pengusaha Arifin Panigoro.
Kini, musim 2011-2012 pun sudah siap digelarkan. Hanya, ada masalah yang harus dituntaskan PSSI yang kini dinakhodai Djohar Arifin Husin. Format satu wilayah yang sudah mapan sempat diombang-ambingkan dengan bakal hadirnya format dua wilayah.
Pesertanya pun ikut membengkak. Bukan lagi 18 tapi menjadi 32 klub!. Kompetisi yang sudah lama bergulir seakana tak diakui lagi. Banyak yang bilang, ini kompetisi balas budi kepada klub-klub yang mendukung Djohar menjadi ketua umum menggantikan Nurdin Halid, yang sudah dua kali berkuasa demgan minim prestasi.
Tapi, harusnya diingat, kompetisi yang bergulir selama ini lahir dari persaingan yang menjunjung tinggi fairplay, bukan dari sebuah niatan balas budi. Beberapa klub yang di musim lalu terdegradasi ke level yang lebih bawah eh malah diletakkan di level teratas. Dengan alasan ini, itu.
Untung, rencana format kompetisi ini batal lagi. PSSI memutuskan kembali ke satu wilayah. Hanya, pesertanya tak sama dengan musim sebelumnya, yakni 18 klub, tapi menjadi 24 klub. Tiga klub yang sempat mundur dari ISL diberi kesempatan kembali. Padahal, seharusnya, PSM, Persibo, ataupun Persema minimal harus berada di level II atau Divisi Utama karena dianggap absen di musim sebelumnya. Bahkan, lebih tragis lagi, karena sesuai keputusan PSSI dalam kongresnya di Bali,ketiganya diturunkan ke Divisi I.
Tentu, saja, polemic belum berakhir. Format kompetisi pun belum resmi diputuskan. Hanya, alangkah bijaknya kalau kembali ke format yang lama. ISL tetap sebagai puncak piramida kompetisi. Kita hargai kompetisi yang musim lalu telah bergulir yang menghabiskan dana yang tidak sedikit dan juga berdarah-darah. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 23 September 2011
Read More

Desa Pencetak Bintang Lapangan Hijau

DAMAI: Salah satu pintu masuk gang di Klagen

TAK ada yang istimewa dari Dusun Klagen, Desa Wilayut. Daerah yang masuk Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, tersebut pun sepi karena banyak warganya yang kerja di sawah, ataupun duduk di warung kopi. Ada juga yang masih berada di Surabaya karena masih mengais rezeki.
Tapi, ada yang istimewa dari desa yang sudah berbatasan dengan Kecamatan Wonoayu tersebut. Siapa sangka, banyak bintang lapangan hijau dari Klagen.Siapa saja? Di level senior sebut saja Uston Nawawi dan Nurul Huda.
Uston merupakan gelandang andalan Green Force, julukan Persebaya, diera 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Kostum nasional pun pernah dikenakannya dalam kurun waktu 10 tahun lebih. Lelaki kelahiran 1978 itu pun pernah menimba ilmu di Italia melalui program PSSI Baretti.
Hanya kurang sreg dengan pengurus yang membuat Uston hengkang ke beberapa klub seperti Persidafon Dafonsoro ataupun Gresik United (GU). Tapi tetap harus diakui Uston termasuk salah satu gelandang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Nurul Huda lebih senior lagi. Pemain kelahiran 1976 tersebut dibesarkan melalui program PSSI Primavera yang juga digembleng di Negeri Pizza, julukan Italia. Di antara para pemain PSSI Primavera, Huda, sapaan karibnya, merupakan segelintir yang masih bertahan di level atas sepak bola Indonesia. Selain Huda hanya Bima Sakti yang membela Persema Malang di ajang Indonesia Super League (ISL) sebelum menyeberang ke Liga Primer Indonesia (LPI). Sementara Huda, hampir empat musim berkostum Persijap Jepara. Sebelumnya, pemain yang beroperasi sebagai bek itu memperkuat Pelita Jaya, Delta Putra Sidoarjo (Deltras), PSIS Semarang, dan Persijap Jepara.
Ada juga di kelompok senior yakni Sutaji. Gelandang kelahiran 1975 ini pernah membela Persebaya sebelum hengkang ke PSIM Jogja, PSS Sleman, Deltras, Arema, dan terakir Persema. Bedanya dengan Uston dan Huda, Sutaji tak pernah berkostum Merah Putih sebagai pemain nasional.
Arek Klagen lainnya yang kini berkostum Garuda di dada adalah Hariono. Breaker Merah Putih ini dikenal sebagai pemain yang pantang takut dan menyerah dalam memotong aliran serangan lawan. Kini, dia memperkuat Persib Bandung setelah sebelumnya membela Deltras.
Selain itu ada juga Lucky Wahyu. Dia tercatat pernah membela Indonesia di SEA Games 2009 Laos dan kini membela Persebaya 1927. Sayang, saat Persebaya 1927, kebintangan Lucky redup karena coach Aji Santoso tampaknya kurang berkenan dengan tipe permainannya.
Sudah habis? Belum. Masih ada Arif Ariyanto. Meski kurang menonjol., pemain kidal ini sudah sejak 2005 berkostum Green Force. Yang terbaru bintang dari Klagen adalah Rendi Irwan. Posturnya yang mungil mampu ditutupinya dengan skill kelas wahid.
Wajar kalau Persebaya 1927 sangat kepincut dengan kemampuannya. Hanya, dia kurang beruntung karena kemampuannya belum dilirik timnas.
Para pemain bintang tersebut lahir dari sebuah lapangan yang berada di sisi jalan yang menghubungan Sukodono dan Krian, yang juga masuk wilayah Sidoarjo. Jangan bayangkan lapangannya selevel Senayan ataupun Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang.
Lapangan Klagen kalau hujan becek dan jika musim kemarau sangat keras. Di sebelah selatan lapangan ada beberapa pohon pisang, sebelah baratnya kantor kelurahan, serta utaranya sebuah sungai kecil.
Lahirnya para bintang dari Klagen membuktikan bahwa factor lapangan tak banyak memberikan pengaruh. Yang penting adalah kemauan keras untuk menjadi bintang dan latihan yang serius. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 10 September 2011.
Read More

Si Mungil dengan Talenta Tinggi

KORBANKAN SEKOLAH: Rendi Irwan

POSTUR pemain sepak bola biasanya tinggi besar. Di lingkup Indonesia, minimal tinggi 170 centimeter akan membuat klub melirik kepadanya.
Tapi, Rendi Irwan masuk perkecualian. Gelandang Persebaya 1927 ini ‘hanya’ mempunyai tinggi 160 sentimeter. Tapi, jangan pernah memandang kekurangannya tersebut. Di antara semua pemain asal Kota Pahlawan tersebut, Rendi merupakan pemain yang dikaruniai skill jempolan.
Wajar kalau Persebaya 1927, kita menyebutkan begitu karena ada dua Persebaya.Satunya lagi Persebaya Divisi Utama, tak ingin melepasnya. Bersama Taufik dan Andik Vermansyah, ketiganya menjadi trio andalan tim yang di awal musim ditangani Aji Santoso tersebut.
Menariknya,Rendi, Taufik, dan Andik sama-sama mungil. Taufik yang paling tinggi karena mempunyai tinggi 163 sentimeter. Sementara, Rendi dan Andik tak jauh beda.
Meski mungil,. tapi perpaduan ketiganya membuat Persebaya 1927 merajai Liga Primer Indonesia (LPI), liga tandingan yang sempat menjadi seteru liga bikinan PSSI. Bahkan, Persebaya 1927 mampu menjadi juara paro musim LPI. Sebelum akhirnya kompetisi tersebut tak dilanjutkan lagi.
Membawa tim yang dibelanya meraih prestasi juga bukan hal yang aneh buat Rendi. Saat membela Jawa Timur di PON 2008, provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut diantarkannya meraih emas. Di sini pulalah, dia mulai dikenal sebagai pemain bertalenta tinggi. Selain itu pula, di PON pulalah, Rendi mulai dekat dengan pelatih Aji Santoso.
Faktor Aji pula yang membuat Rendi mau ke Persebaya 1927. Sebelumnya, Rendi sempat melanglang ke Metro FC Kab Malang, Gresik United, hingga Mitra Kutai Kartanegara (Kukar). Di semua tim yang dibelanya, Rendi selalu menjadi pemain inti dan nyawa permaian tim.
Tak jarang, dia menjadi pemecah kebuntuan saat para penyerangnya mandul. Rendi sendiri beryukur berkembang di lingkungan sepak bola. Selatan rumahnya merupakan tempat mantan gelandang Persebaya dan timnas Uston Nawawi.
Uston pula yang menjadi motivator baginya untuk serius menekuni olahraga si kulit bundar. Pemain asal Desa Klagen, Wilayut, Sukodono, Sidoarjo, tersebut mulai mengenal sepak bola sejak usia 10 tahun. Dia bergabung dengan SSB Kelud Putra yang latihannya tak jauh dari rumahnya.
Pelatih yang kali pertama menanganinya adalah Wahyu Suhantyo, ayah Lucky Wahyu yang juga juga pemain Persebaya 1927. Rendi bergabung bersama Kelud Putra. Setelah itu, dia membela Mitra Surabaya yang dipoles Eko Prayogo. Habis dari Mitra, karir Rendi makin moncer dan mulai dilirik Persebaya Surabaya Junior. Setelah itu, Rendi pun mulai merambah sepak bola professional.
Sayang di saat karir sepak bolanya menjulang, studi Rendi tak bisa berjalan beriringan. Kuliahnya di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tak sampai selesai. Tapi, Rendi masih menyimpan keinginan agar dia bisa bergelar sarjana guna membahagiakan kedua orang tuanya. (*)

Data Diri:
Nama: Rendi Irwan Saputra
Usia: 24 Tahun
Posisi: Tengah
Klub: Putra Kelud, Mitra Surabaya, Persebaya Junior, PSBK, PON Jatim, Metro FC Kab Malang, Gresik United, Mitra Kukar, Persebaya 1927

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 9 September 2011
Read More

SEMMUEL PETER KAYADU, EKSIS DI ATAS 40 TAHUN

Tidak mudah untuk terus eksis sebagai pemain di kerasnya kompetisi sepak bola. Apalagi jika usia sudah di atas 40 tahun. Tetapi, Semmuel Peter Kayadu yang akrab disapa Semmy Peter bisa melakukannya.
--

BANYAK pemain muda yang berkecimpung di sepak bola Indonesia. Kemampuan mereka pun tak perlu lagi diragukan. Apalagi, para pemain tersebut mempunyai stamina kuat karena usia yang masih muda.
Tetapi, itu tak membuat Semmuel Peter Kayadu gentar. Dia tetap berani bersaing. Meskipun, usia pemain yang akrab disapa Semmy Peter tersebut sudah lebih dari 40 tahun.
”Tahun ini usia saya sudah 42 tahun. Tapi, stamina dan kemampuan saya tak kalah oleh pemain muda,” kata Semmy saat ditemui di kawasan Wage, Sidoarjo, Selasa lalu (6/9).
Ya, Semmy mengorbit di sepak bola Indonesia sejak akhir 1980-an. Pada usia 18 tahun, lelaki yang mempunyai tato di tangan tersebut sudah bergabung dengan Persebaya Surabaya.
”Saya masuk Persebaya setelah bergabung dengan klub internal PS Untag. Dari situlah saya mendapat kepercayaan masuk Persebaya,” kenangnya.
Kali pertama masuk, dia merasakan susahnya menembus skuad inti. Dia menyebut Muharrom Roesdiana sebagai senior yang menjadi saingan. Namun, perlahan tapi pasti, lelaki kelahiran Ambon, 20 November 1969, tersebut mulai mendapat kepercayaan sebagai bek utama.
”Saya membela Persebaya hingga 1995. Banyak kenangan yang saya rasakan di Persebaya. Saya tak akan pernah melupakannya,” ucap Semmy.
Setelah Persebaya, Mitra Surabaya, Pelita Jaya, Perseden Denpasar, Petrokimia Putra Gresik, Persipura Jayapura, Sriwijaya FC, Persis Solo, hingga terakhir Pro Titan Medan pernah dia bela. Hebatnya, di seluruh klub yang pernah dibelanya tersebut, dia selalu memperoleh posisi inti. Bisa dikatakan, selama berkarir di sepak bola, dia tak pernah menganggur.
Ternyata, Semmy punya resep agar kondisinya selalu prima hingga usianya lebih dari 40 tahun. ”Saya makan secukupnya. Pagi makan singkong dan ikan laut serta mengindari daging,” ungkap pemain yang pernah mendapat penghargaan sebagai bek terbaik 1995 versi sebuah stasiun televisi swasta tersebut. Selain itu, waktu tidur Semmy cukup. Dia juga tidak mengurangi makan nasi. Hanya, dia tak mau makan terlalu banyak karbohidrat. ”Banyak yang bilang, saya tak berubah sejak kali pertama main bola,” tambahnya.
Selain itu, sebelum bermain, Semmy selalu melakukan pemanasan hingga otot kakinya terasa kuat. Setelah itu, Semmy baru berani turun ke lapangan. ”Jadi, saya jarang cedera. Saya pun selalu siap kalau dipercaya main meski saingannya adalah para pemain muda,” ungkap dia.
Itu pula yang membuat Semmy belum mau gantung sepatu. Bahkan, dia masih mau main tiga tahun lagi atau saat usianya sudah 45 tahun. Setelah itu? ”Mungkin jadi pelatih,” ujar dia. (*)

Data Diri
Nama: Semmy Peter Kayadu
Usia: 42 tahun
Kelahiran: 20 November 1969
Karir pemain:
1988–1995 Persebaya Surabaya
1995–1998 Mitra Surabaya
1998–2002 Pelita
2002–2003 Perseden Denpasar
2003–2004 Petrokimia Putra Gresik
2004–2006 Persipura Jayapura
2006–2007 Sriwijaya FC
2007–2008 Persis Solo
2008 Persiku Kudus
2009 Persikab Kab Bandung
2010–2011 PSSB Bireuen
2011 Pro Titan Medan
Prestasi:
1990 Juara Piala Utama (Persebaya)
1995 Pemain terbaik versi TV swasta
1996 Semifinalis Liga Indonesia (Mitra Surabaya)

*Tulisan ini dimuat di harian Jawa Pos pada 8 September 2011
Read More

BEBAN SEMAKIN BERAT DI PUNDAK TIMNAS

KANS Indonesia menembus Piala Dunia Brazil 2014 makin tipis. Kekalahan 0-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (6/9/2011) oleh Bahrain dalam pertandingan Kualifikasi Grup E membuat Bambang Pamungkas dkk belum mengemas poin dalam dua kali pertandingan.
Sebelumnya, Indonesia juga dihantam Iran dengan skor telak 0-3 di Teheran, Iran (2/9/2011). Memang, sejak awal, untuk lolos ke Brazil memang jauh dari harapan.Merah Putih tak punya sejarah kuat lolos ke even sepak bola terbesar di muka bumi tersebut.
Paling jauh, Indonesia sampai babak ketiga pada Kualifikasi Piala Dunia 1986. Sayang, perjuangan Herry Kiswanto dkk dihentikan oleh Korea Selatan (Korsel).
Indonesia boleh mengklaim juga pernah mencicipi kerasnya Piala Dunia. Itu terjadi pada Piala Dunia 1938 Prancis. Hanya, saat ini memakai nama Hinda Belanda karena negeri ini masih dijajah Belanda. Kita lupakan semua itu yang merupakan sejarah. Kini, kita harus menatap masa depan.
Kekalahan dari Bahrain memang sangat menyakitkan. Tapi, kalau melihat permainan, wajar kalau Bambang Pamungkas dkk malu di kandang. Wim Rijsbergen, pelatih asal Belanda yang kini menangani Indonesia, tidak mempunyai strategi jitu.
Melihat postur pemain Bahrain yang lebih tinggi, dia tetap memainkan bola-bola lambung. Akibatnya, alur serangan Indonesia mudah dipatahkan. Belum lagi penampilan Ahmad Bustomi yang mulai overacting.
Penampilannya yang ngeyel dan taktis, mulai terkikis dan nyaris habis. Dia lebih banyak menahan bola dan melakukan banyak pergerakan yang tidak perlu.
Lebih menyakitkan lagi, saat melawan Bahrain, pertandingan sempat terhenti hampir 15 menit. Bukan karena lampu mati, lapangan tergenang air, ataupun keributan di lapangan seperti yang biasa terjadi di Liga Indonesia. Lalu karena apa? Petasan.
Memang, kalau di negeri kita, petasan dan kembang api tak terlalu dipermasalahkan. Tapi, di sepak bola internasional, FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) jelas-jelas melarangnya. Itu bisa menganggu pertandingan dan juga bisa mengarah mengancam keselamatan pemain.
Tentu, ini bisa menjadi nilai negatif bagi suporter Indonesia yang sebenarnya sudah mulai dewasa. Kita bisa melihat betapa tingginya animo suporter untuk memberikan dukungan kepada Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia. Kemudian, rapinya suporter saat antre membeli tiket pertandingan timnas. Belum lagi dilupakannya perbedaan dan asal daerah saat semuanya mendukung Merah Putih.
Sayang, semua itu tercoreng akibat ulah segelintir suporter. Padahal, sejak awal, pengumuman larangan membawa petasan dan kembang api sudah disebarluaskan. Tapi, pengumuman tinggal pengumuman dan larangan tetap dilanggar.
Kini,kita hanya berharap agar Indonesia bisa bebas sanksi dari FIFA. Paling tidak, Indonesia tetap diperbolehkan menggelar pertandingan internasional. Jangan sampai jeblolnya prestasi timnas semakin bertambah dengan sanksi dari FIFA. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 7 September 2011
Read More

SEMOGA BUKAN TENDANGAN KE LANGIT

IRAN memang bukan level Indonesia. Negeri di timur tengah tersebut sudah tiga kali lolos ke Piala Dunia (1978, 1998, 2006) dan tiga kali menjadi juara Asia (1968, 1972, 1976).
Tentu, Merah Putih tidak diunggulkan saat menghadapi Iran. Apalagi, pertemuan pertama dan babak kualifikasi Piala Dunia 2014 dilaksanakan di Teheran, ibu kota Iran, pada Jumat (2/9/2011).
Tapi, awalnya, Bambang Pamungkas dkk sempat memberikan perlawanan. Iran nyaris frustrasi menekan pertahanan Indonesia yang dikawal Hamka Hamzah dan M. Robby. Penampilan gemilang kiper Markus Horison pun layak dapat acungan jempol. Ali Kharimi dkk gagal menjebol gawangnya pada babak pertama.
Permainan sabar yang diperakana Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, benar-benar efektif. Bahkan, seharusnya, Indonesia bisa unggul jika tembakan Bambang Pamungkas mengenai sasaran. Kenapa saya bilang bisa unggul.
Dalam posisi yang sama, Bambang mampu menuntaskannya menjadi gol saat menjamu Palestina dalam laga uji coba di Stadion Manahan, Solo, sepekan sebelumnya. Atau mental Bambang yang kurang percaya diri bisa masuk, entahlah hanya dia yang tahu.
Di jejaring sosial, semuanya pun mengeluk-elukan penampilan Indonesia. Tapi, semua berubah saat masuknya Irfan Bachdim. Pemain yang mempunyai darah Belanda tersebut diharapkan mampu memberikan tekanan dengan menggantikan M. Ilham.
Padahal, dari layar kaca (karena saya tak datang ke Teheran he..he..he), Ilham bermain cukup bagus. Sebagai pemain sayap, dia menjalankan tugasnya dengan baik. Beberapa kali dia merepotkan pertahanan Iran.
Wakar kalau dia terlihat marah-marah saat diganti Irfan. Semua pun tahu. Irfan bukannya memberikan tambahan suntikan penampilan yang lebih bagus tapi sebaliknya. Mantan pemain nasional Mustaqim pun menganggap Irfan jadi pemain mati kutu. Kontrolnya tak akurat dan umpan-umpannya pun tak terukur. Kita pasti kaget melihatnya. Padahal, sosok Irfan merupakan bintang Indonesia dalam Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2010.
Semangat yang dipadukan dengan skill, membuat pemain yang mempunyai tato di tangan tersebut menjawab keraguan yang sempat mencibir dia bisa masuk ke timnas Indonesia. Mulai dari pemain yang bermain di level bawahlah hingga hanya bermodal gantenglah atau masih banyak lagi.
Tapi, setelah melihat Irfan sekarang tudingan itu bisa benar adanya. Menjadi publik figur top membuat kemampuannya jauh berkurang. Bisa jadi juga, tenaganya sudah habis untuk syuting filmya, Tendangan dati Langit. Saya pun sempat tertawa lebar saat ledekan teman melihat permainan Irfan. Dia menganggap bukan Tendangan dari Langit tapi Tendangan ke Langit (kalau ini artinya melambung dong he he he).
Semoga saja Irfan bisa kembali ke puncak penampilannya. Bagaimanapun, dia masih termasuk salah satu pemain depan kita yang masih bisa diharapkan. Ayo bangkit Irfan. Tunjukkan Tendangan dari Langit bukan hanya impian tapi itu sebuah kenyataan. (*)

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 3 September 2011
Read More

NUS YADERA MENCARI TANTANGAN BARU

SUSAH juga mencari rumah seorang Nus Yadera. Rumahnya harus masuk ke gang di kawasan Jalan Trunojoyo, Sidoarjo.
Padahal, untuk pelatih sesukses dia, seharusnya dia bisa tinggal di pemukiman elite. Atau minimal tak perlu masuk dalam gang yang sudah padat dengan rumah di kanan dan kirinya.
Sayang, dia pun tak punya niatan untuk meninggalkan rumah yang dibelinya saat masih aktif sebagai pemain tersebut. Alasannya, rumah tersebut mempunyai banyak kenangan baik sebagai pemain atau pun sebagai pelatih.
Ya, sebagai pemain, Nus juga tak bisa dianggap remeh prestasinya. Lelaki kelahiran 1966 tersebut langsung membawa Gelora Dewata juara Piala Liga pada 1992 atau saat dia kali pertama bergabung dengan klub kepunyaan keluarga H.M. Mislan tersebut.
Sebelum bergabung dengan Gelora Dewata, Nus bergabung di Perkesa Mataram pada 1990. Dia mengenal sepak bola profesional setelah diajak pelatihnya di Persikasi Bekasi yang juga pernah membela Perkesa Umar Alatas.
Di Perkesa, klub yang bermarkas di Jogjakarta, dia langsung menempati posisi inti sebagai gelandang bertahan. Dalam usia yang masih muda, Nus menampilkan penampilan yang tak kenal menyerah sebagai pengkut air.
Itu pula yang membuat pelatih Gelora Dewata Suharno langsung menerimanya saat Nus berniat melamar. Ternyata, dia lama berjodoh dengan klub asal Pulau Dewata. Sejak 1992, dia tak pernah meninggalkan Bali hingga akhirnya Gelora Dewata pindah ke Sidoarjo dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD) dan menjelma lagi menjadi Delta Putra Sidoarjo (Deltras).
Di GPD pada 2001-2003, saat usianya tak muda lagi, Nus tetap dipercaya sebagai pilar lini tengah. Hanya, saat pemain muda mulai berdatangan, Nus pilih menyingkir kembali ke Bali dengan memperkuat Persegi Gianyar pada 2003. Satu musim di Persegi, Nus pun kembali ke Jawa dan menerima tawaran Mastro FC, klub divisi III asal Surabaya. Setelah itu, pada 2005, Nus benar-benar pensiun sebagai pemain.
Karena cintanya kepada sepak bola, Nus pun memilih jalur pelatih. Persewangi Banyuwangi menjadi klub yang kali pertama ditangani pada 2006. Polesannya ternyata manjur. Laskar Blambangan, julukan Persewangi, lolos ke divisi I. Setahun kemudian (2007), PSIR pun memakai tenaganya dan tim itu pun lolos ke Divisi I.
Mitra Kukar pun tertarik memakai kemampuan ayah dua putra, Vicky dan Glen, tersebut. Dia mengantarkan Barisan Kuat dan Kekar itu juara Piala Gubernur Kalimantan Selatan pada 2008. Namun, dalam kompetisi 2008-2009, Nus belum bisa membawa Mitra lolos ISL karena terhenti di babak delapan besar.
Untung, itu tak mengurangi citranya. Dia kembali ke klub lamanya, Deltras, dengan jabatan sebagai pelatih pada 2009-2010. Tugas yang diembannya pun tidak ringan. Membawa The Lobster, julukan Deltras, lolos ISL.
Dengan materi yang minim bintang, ternyata Deltras bisa dibawanya lolos ke level teratas sepak bola Indonesia tersebut. Sayang, di final, Deltras kalah adu penalti dari lawan beratnya, Persibo Bojonegoro, di Stadion Manahan.
Tapi, saat Deltras di ISL, Nus melorot jabatannya sebagai asisten pelatih. Ini dikarenakan dia baru mempunyai lisensi B. Padahal, pelatih ISL harus bersertifikat A.
Nus mengakui itu bukan masalah. Bahkan, dia mengaku akan mendapat tambahan ilmu dari Mustaqim, yang menggantikannya.
Di tengah jalan di saat krisis finansial menghamtam Deltras, Mustaqim tak lagi bersama The Lobster. Nah, di sini jiwa kepemimpinan Nus dibutuhkan.
Dia tak ragu menerima tongkat estafet dari Mustaqim. Deltras pun bisa dibawanya bertahan di ISL.
Kini, Nus pun menanti pinangan tim lain. Dia ingin mencari tantangan baru. (*)


*

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 1 September 2011
Read More

MONUMEN YANG BERADA DI SIMPANG JALAN



DI MASA KECILKU, di era 1980-an, masuk Stadion Sriwedari merupakan sebuah impian. Saya harus bersepeda sejauh hampir 8 kilometer untuk bisa sampai di stadion yang berada di tepi Jalan Slamet Riyadi tersebut.
Saking keinginan yang kuat, saya pun harus menaiki sepeda kecilku untuk bisa mengintip kondisi lapangan saat itu. Saya pun sempat berdecak kagum melihat hijaunya rumput stadion yang dipakai pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) I 1948 tersebut. Barulah setelah menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sudah bisa masuk ke Stadion Sriwedari.
Tentunya, saya masuk dengan membeli tiket pertadingan Arseto Solo, yang sejak 1985 sudah menjadikan Stadion Sriwedari sebagai kandangnya. Harga tiketnya Rp 1.500 untuk tribun tertutup. Saya membelinya dari uang jajan yang saya sisihkan.
Kekaguman saya pun menjadi-jadi saat kali pertama melihat langsung kondisi stadion. Rumput yang hijau terhampar dengan tribun penonton dari kayu yang kukuh meski hentakan kaki ribuan penonton selalu bergema saat pemain Arseto mencetak gol atau nyaris mencetak gol.
Kebahagiaan saya pun semakin lengkap ketika kali pertam menginjak rumput stadion pada pertengahan 1990-an saat saya diajak rekan dekat berlatih bersama PS Pemda Solo di sana setiap Jumat pagi. Demi bisa merasakan nikmatnya menginjak rumput Stadion Sriwedari, saya rela absen di jam-jam awal kuliah.
Sayang, lambat-laun kondisi Stadion Sriwedari semakin memprihatinkan. Apalagi, setelah Arseto Solo bubar pada 1998 karena krisis sosial dan ekonomi yang menyerang Indonesia. Setiap klub dengan mudahnya bisa menginjak rumput stadion asalkan mereka berani membayar uang sewanya. Kondisi semakin diperparah dengan seringnya lapangan Stadion Sriwedari untuk kegiatan pentas musik (baca konser). Besoknya, pasti lapangan Stadion Sriwedari langsung rusak bak kandang kerbau.
Tapi mau bagaimana lagi. Demi masuknya uang perawatan dan membiayai aktivitas karyawan, uang masuk sangat dibutuhkan. Pemkot Solo pernah melalukan renovasi lapangan. Memang, kondisinya membaik. Tapi, perawatannya pun juga susah.
Dari daftar penyewanya, stadion yang bisa menampung 10 ribu penonton tersebut nyaris tak pernah longgar. Mulai dari klub hingga instansi berebut memakai stadion yang dibangun pada era Raja Paku Buwono X pada 1933 tersebut.
Namun, ada lagi yang membuat Stadion Sriwedari bisa hilang dari peredaran. Saat ini, tempat tersebut menjadi sengketa Pemkot Solo dengan RMT Wiryodiningrat.

Terlepas dari argumen yang dimiliki baik Pemkot Solo dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional (BPN) maupun ahli waris RMT Wiryodiningrat, kenyataannya sengketa ikut membuat stadion juga kurang terurus. Kita hanya berharap, siapa pun pemenangnya, Stadion Sriwedari tetap ada karena sudah menjadi milik negeri ini sebagai Monumen PON I. Semoga. (*)

Tulisan ini dibuat di Solo pada 30 Agustus 2011

Read More

SAKSI BISU KEJAYAAN ARSETO SOLO


PINTU sebuah bangunan besar di kawasan Kadipolo, Solo,pada 29 Agustus 2011 lalu tertutup rapat. Awalnya, sempat kesusahan juga bagaimana caranya untuk bisa masuk.
Tapi, setelah digoyang-goyang sedikit, pintu tersebut bisa dibuka. Tampaklah sebuah lapangan bola yang nyaris gundul. Rumput yang tumbuh pun sudah coklat warnanya.
Ya, tempat tesebut merupakan bekas mess Arseto Solo. Memang, tempat tersebut bukan tempat pertama Arseto menjadikannya sebagai mes. Sebelumnya, tim juara Galatama itu sudah menemati mes di Jalan Adi Sutjipto Jajar dan sebuah bangunan besar di kawasan Sidokare. Hingga akhirnya pihak manajemen memilih mes Kadipolo sebagai tempat para pemain Arseto menjalankan aktivitasnya.
Dulunya, lapangan di Kadipolo tersebut sangat elok. Rumputnya hijau terawat karena setiap hari dipakai latihan oleh klub yang dulunya termasuk bergengsi baik di era Galatama ataupun Liga Indonesi sebelum akhirnya Arseto bubar pada 1998 saat terjadi krisis sosial dan politik.Ini dikarenakan Elang Biru, julukan Arseto, merupakan klub kepunyaan penguasa Orde Baru Soeharto. Memang bukan Soeharto langsung tapi anaknya, Sigit Hardjojoedanto.
Sebelum dipakai mess Arseto, tempat tersebut merupakan bekas rumah sakit bagi penderita kelainan jiwa. Ini pula yang membuat seringnya cerita mistik yang mengiringnya. Dari suara kereta pasien hingga makhluk menembus tembok.
Mess Arseto letaknya di Jalan Dokter Radjiman atau di depan Kelurahan Panularan. Bangunan ini berada di atas tanah seluas 2,5 hektare dan didirikan pada masa pemerintahan Raja Kraton Surakarta Paku Buwono (PB) X.

Awalnya, bangunan ini dibangun khusus untuk poliklinik para abdi dalem kraton.Pada 1976, terjadi pemindahan pasien Rumah Sakit Kadipolo ke Rumah Sakit Mangkubumen dan di sana berdiri Sekolah Pendidikan Keperawatan. Tapi kampus ini hanya bertahan lima tahun dan terjadi pengosongan Rumah Sakit Kadipolo. Sejak 1985, bangunan-bangunan tua itu menjadi milik Arseto sebagai mes pemain.Arseto sendiri berdiri di Jakarta 1978. Klub Nama Arseyo diambil dari nama dua anak Sigit, Ario dan Seto.
Di samping lapangan, dulu juga terdapat kamar-kamar yang menjadi tempat tidur para pemain. Ruangannya pun rapi dan juga ada meja makan buat para pemain mengisi perut.
Tapi sekarang, semua ruangan tersebut telah berubah total. Kamar-kamar tersebut ditumbuhi tanaman liar.Genting di atas pun sudah reot dan banyak yang pecah.
Sekarang, untuk masuk pun tak bisa dari depan ataupun jalan samping yang lebih lapang. Semuanya sudah tertutup. Lapangan pun dipakai untuk berlatih anak-anak yang bergabung dalam sebuah sekolah sepak bola.Kadang sesekali disewakan tim lain. Wajar kalau lapangannya pun tak ada rumput yang layak karena terus dipakai dan tanpa dilakukan perawatan.
Bahkan, kabarnya bekas mess Arseto tersebut telah dibeli sebuah perusahaan tekstil. Bisa jadi, tak lama lagi tempat tersebut bakal berdiri mall. Mess Kadipolo pun tinggal kenangan dan hanya ada dalam cerita tanpa bisa dilihat lagi bentuk aslinya. (*)

*Tulisan ini dibuat di Solo pada 31 Agustus 2011
Read More

HARTONO RUSLAN, KESETIAAN TIADA BATAS


DI ITALIA,sosok Franco Baresi dan Paolo Maldini akan selalu dikenang. Keduanya mampu membawa timnas Italia selau disegani di kancah internasional. Bahkan, Baresi dan Maldini sempat dipercaya sebagai kapten timnas negaranya tersebut.
Tapi, ada yang lebih di kedapankan dari keduanya. Dua pemain yang sama-sama beroperasi sebagai pemain belakang tersebut setia membela klubnya, AC Milan. Meski, Baresi dan Maldini selalu digoda untuk pindah klub.Bahkan, sampai pensiun, keduanya tetap membela klub berjuluk Rossoneri tersebut.
Di Indonesia pun juga ada. Siapa? Hartono Ruslan namanya. Memang agak asing bagi penggemar sepak bola nasional. Wajar karena aktif sebagai pemain di era 1980-an hingga awal 1990-an. Satu-satunya klub yang dibelanya saat terjun sebagai pemain professional hanya Arseto.
“Sebenarnya, saya juga pernah membela klub lain yakni Persema Malang. Tapi,itu masih di junior dan belum masuk professional,” kata Hartono saat ditemui di rumahnya di kawasan Banyuanyar, Solo,pada 29 Agustus 2011.
Dia membela Persema karena Malang merupakan kota kelahirannya. Setelah itu, dalam usia yang sangat muda, 20, Hartono berani meninggalkan Kota Dingin, julukan Malang, untuk mengembangkan karir sepak bolanya.
“Saya selalu diajak Pak Lekan (Solekan, pelatih sepak bola papan atas Indonesia, red),” jelas Hartono.
Kali pertama membela Arseto pada 1981 saat klub kepunyaan putra mantan presiden Soeharto Sigit Hardjojoedanto tersebut masih berada di Jakarta.Dia pun langsung nyetel dengan pemain lama Arseto.
Hanya, di awal karirnya tersebut, dia belum mempunyai posisi yang pas. Semua posisi di belakang pernah dipercayakan kepada lelaki kelahiran Malang 1960 tersebut. “Bek kanan, bek kiri, hingga stopper saya jalani. Hingga akhirnya menemukan posisi yang pas sebagai libero/stopper,” lanjut Hartono.
Bahkan, sampai pensiun pada 1992, dia tak tergantikan sebagai pemain belakang. Dia pensiun setelah Arseto mendatangkan pemain-pemain binaan PSSI Garuda yang ditempa di Eropa. “Saya tidak mau dianggap menghambat regenerasi,” tambah Hartono.
Saat dia pensiun, Arseto memang telah mempunyai Sudirman dan Imron As’ad serta Anshar Ahmad. Trio ini mempunyai tenaga yang lebih dibandingkan Hartono yang usianya telah merambat tua.
“Saya minder kalau saingannya pemain yang posturnya besar besar,” jelas Hartono sambil terkekeh-kekeh.
Karirnya sebagai pemain di Arseto selama 10 tahun telah memberikan prestasi juara Galatama pada 1991. Sebelumnya, juara Piala Liga 1985 pun diberikan kepada klub yang mempunyai kostum kebesaran biru muda tersebut.
Ternyata, setelah pensiun, Hartono tetap berada di Arseto. Dia dipercaya menangani pemain muda yang dibina dalam Diklat Arseto. Hanya, saat dia menangani Diklat tersebut, dia beberapa kali sempat ditawari kembali menjadi pemain karena kemampuannya yang masih dianggap berlaga di level Galatama ataupun Liga Indonesia, setelah Galatama melebur dengan perserikatan.
“Saya tolak karena malu. Saya juga sudah mulai enjoy mendidik pemain muda,” kenang Hartono.
Di tangannya pemain muda Diklat Arseto tersebut meraih runner-up Piala U-15 PSSI. Ini yang membuat dia pun dipromosikan sebagai asisten pelatih senior. Di Arseto, dia sempat berkolaborasi dengan Dananjaya, Sinyo Aliandoe, Salam Sadimin, Sartono Anwar dan yang terakhir Tumpak Sihite.”Saya juga sempat jadi pelatih kepala pada 1996. Tapi, saya mengundurkan diri karena pemain yang memberikan kesan yang bagus kepada saya karena mayoritas pemainnya merupakan pemain nasional,” ungkap Hartono.
Bubarnya Arseto pada 1998 karena kerusuhan social dan politik membuat dia sempat limbung. Hartono memutar otak agar asap dapurnya tetap mengepul.
“Saya terima tawaran menangani klub Indonesia Muda di Sragen. Dari sanalah, saya memulai karir sebagai pelatih di luar Arseto. Memang butuh perjuangan ekstrakeras,” tegas bapak dua anak cewek ini.
Habis Indonesia Muda, PSISra Sragen kepincut dengan Hartono. Hanya, selama menangani Laskar Sukowati, julukan PSISra, tapi gajinya tetap dibayar Indonesia Muda. “Semua saya lakukan karena saya juga tengah merintis karir. Biar ilmu yang saya peroleh di Arseto bisa dipakai di luar juga,” kata Hartono.
Tangan dinginnya di PSISra membuat dia pun dilirik Persis Solo. Bersama Laskar Samber Nyawa, julukan Persis, dia mulai diburu banyak klub. Persibat Batang, Persepar Palangkaraya, Persipon Pontianak, Persela Lamongan, hingga Perseman Manokwari pernah menggunakan jasa dan kemampuannya. “Hanya, klub yang pernah saya bela dan tangani,Arseto tetap yang susah dilepaskan dari kenangan hidup. Banyak hal yang saya peroleh dari sana,” pungkas Hartono. (*)

BIODATA
Nama: Hartono Ruslan
Lahir: Malang 1960
Klub yang pernah dibela: Persema, Arseto
KLub yang pernah ditangani: Diklat Arseto, Arseto, Indonesia Muda Sragen, PSISra Sragen, Persis Solo, Persibat Batang, Persepar Palangkaraya, Persibas Banyumas, Persipon Pontianak, Persela Lamongan, Perseman Manokwari

*Dibuat di Solo pada 29 Agustus 2011
Read More

TIDAK SABAR MENANTI LIGA PROFESIONAL

KEPALA mendadak merasa pusing. Bukan karena sakit yang menyerang saat pada 25 Agustus lalu.
Bukan pula karena memikirkan anakku yang paling kecil yang lagi batuk di rumah. Bagaimanapun, saya tetap yakin anak keduaku bakal sembuh karena sudah saya bawa ke dokter bersama istri pagi harinya.
Ini gara-gara melihat daftar peserta kompetisi terbaru di PSSI. Apalagi, selama ini,induk organisasi sepak bola Indonesia yang baru dibawah kendali Djohar Arifin Husin yang menggantikan Nurdin Halid yang dianggap gagal.
Tentu, dengan embel-embel professional, awalnya berharap kompetisi dengan system baru ini bakal lebih bagus. Bukan lagi kompetisi yang penuh rekayasa dan permainan kotor
Tapi, semuanya menjadi musnah saat PSSI mengumumkan peserta Liga Profesional level 1. Level yang seharusnya hanya untuk klub terbaik tersebut bukan diisi oleh klub-klub yang benar-benar jempolan.
Jumlahnya pun gila-gilaan kalau saya boleh bilang yakni 34 peserta. Memang masih calon karena akan disetorkan ke AFC (Federasi Sepak Bola Asia) untuk ditentukan siapa yang lolos dan siapa yang tidak.
Tapi, saya bilang maksimal separo yang layak berlaga di level tertinggi karena mempunyai sarana dan prasarana yang memadai. Bukan hanya mereka yang punya modal Rp 5 Miliar saja.
Lihat saja masuknya PSIR Rembang, PSCS Cilacap, PS Bengkulu, dan Persipasi. Mereka saya anggap belum layak berada di level teratas.
Bahkan PSIR seharusnya tampil di level amatir karena musim lalu berada di posisi degradasi dari kompetisi kelas II alias Divisi Utama.
Stadion yang dimiliki klub-klub tersebut masih jauh dari memuaskan. Untuk direnovasi pun butuh waktu lama dan biaya besar.
Atau masuknya tim-tim yang belum layak di level teratas tersebut karena balas budi karena sukses mengusung Djohar dan menggusur Nurdin. Biarlah masyarakat yang menilai. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 27 Agustus 2011

34 Klub Calon Peserta Liga Profesional Indonesia:
1. Persipura
2. Arema**
3. Persija **
4. Semen Padang*
5. Sriwijaya FC
6. Persisam
7. Persib Bandung
8. Persiwa
9. Persela
10. Persiba Balikpapan
11. PSPS Pekanbaru
12. Pelita Jaya
13. Deltras
14. Persijap Jepara
15. Bontang FC
16. Persema Malang
17. Persibo Bojonegoro
18. PSM Makassar
19. Mitra Kukar
20. Persiraja
21. PSMS Medan
22. Pro Duta FC
23. Persik Kediri
24. PSIS Semarang
25. PSCS Cilacap
26. Persikota Tangerang
27. Persis Solo
28. Persiba Bantul
29. Persebaya Surabaya**
30. PS Barito Putra
31. PSS Sleman
32. PSIR Rembang
33. PS Bengkulu
34. Persipasi

36 Klub Calon Peserta Kompetisi Level 2:

1.PSAP Sigli
2.Persita Tangerang
3.Persik Tembilahan
4.Persitara Jakarta Utara
5.Persikabo Kabupaten Bogor
6.PSLS Lhokseumawe
7.PSSB Bireun
8.Persires Rengat
9.Persiram Raja Ampat
10.Gresik United
11.Perseman Manokwari
12.PSIM Yogyakarta
13.Persikab Bandung
14.Persemara Tual
15.PPSM Magelang
16.Persidafon Dafonsoro
17.PSBI Blitar
18.Persigo Gorontalo
19.Persiku Kudus
20.Persipro Probolinggo
21.Perseru Serui
22.PSMP Mojokerto
23.PSBS Biak
24.Persibul Buol
25.Persepam Pamekasan
26.PSBL Langsa
27.Persinjai
28.Madiun Putra
29.Persewangi
30.Persip Kota Pekalongan
31.PSBK Blitar
32.KSB Sumbawa Barat
33.Persetema Temanggung
34.Persid Jember
35.Persepar Palangkaraya
36.PSGL Gayo Leus


** Arema, Persija, dan Persebaya ditunggu penyelesaian internalnya dan PSSI akan mengundang pihak terkait.
-Liga profesional Indonesia Level 1 akan dibagi dalam dua grup. Masing-masing grup berisi 16 klub. Total peserta kompetisi 32 klub.
-Kompetisi Liga Profesional level 2 akan dibagi dalam 4 grup dengan masing-masing grup berisi 12 klub. Total peserta kompetisi 48 klub.
-Karena level 2 masih butuh 10 klub tambahan untuk memenuhi kuota tersebut, PSSI masih membuka kesempatan kepada 10 klub dari Divisi I di luar klasemen musim lalu untuk ikut pada kompetisi level 2. Dengan catatan, klub itu dapat memenuhi syarat yang telah diwajibkan (berbadan hukum PT).
Read More

HOBI YANG HABISKAN MILIARAN RUPIAH


SOSOK ini bisa dikatakan misterius. Dia sudah dua puluh tahun terjun di sepak bola. Tapi, dia juga tak mau sering muncul di permukaan. Beda dengan orang yang lain yang lebih suka disanjung dan gila publikasi.
Ya, dia adalah Michael Pranyoto Sanjaya. Dia lebih senang berkutat dengan klub binaannya, Suryanaga, anggota internal Persebaya Surabaya.
“Ngapain ditonjol-tonjolkan. Sepak bola sudah menjadi hobi bagi saya,” kata Michael saat ditemui.
Padahal, selama menangani sepak bola, dia sudah miliaran rupiah keluar dari kantongnya. Tapi, dia tak mengambil satu sen pun uang dari kiprahnya di Suryanaga.
Alasannya, dia sudah mempunyai penghasilan yang sangat besar yakni bisnis kayu. Menurutnya, bisnis tersebut bisa menghasilkan miliran rupiah setiap bulannya. Apalagi, dia mempunyai dua pabrik di Gresik dan Samarinda.
Pabriknya di Gresik termasuk luas. Bisa jadi empat kali lapangan bola. Hanya, dengan gayanya yang khas, pria yang tetap merasaikan usianya tersebut menegaskan pabriknya di Samarinda, Kalimantan Timur, empat kali lebih luas. Itu artinya, luasnya delapan kali lapangan bola. Wow..
Bahkan, bisnis yang penghasilannya bisa puluhan juta yakni ikan koi tetap dianggapnya sebagai hobi. Dari ikan koi saja, sekarang Michael bisa menghidupi Suryanaga. Padahal, pemain yang dibinanya puluhan dan setiap hari harus memberi mereka makan dan uang saku tiap bulan plus bonus kalau menang dalam pertandingan internal. Hebatnya lagi, dia tak hanya mengelola Suryanaga.
Ada satu klub lagi yang harus dibinanya yakni Setia Naga Kuning. Dedikasi Michael kepada sepak bola pun telah melahirkan pemain-pemain papan atas di pentas sepak bola Indonesia. Sebut saja Supaham, penyerang senior yang pernah membela Persebaya, Persija Jakarta, dan Persita Tangerang. Ada juga Ronny Firmansyah, gelandang elegan yang berbaju Arema Indonesia. Kini,hampir separo klub level I dan II terdapat pemain binaan Michael.
“Kalau saya ambil uang dari mereka, kekayaan saya pasti bertumpuk. Saya hanya niat membantu anak-anak bisa hidup lebih baik,” ungkap Michel.
Dia pun tak tahu kapan akan pensiun. Baginya, meski hobi, sepak bola susah dilepaskan dari kehidupannya. (*)

Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 26 Agustus 2011
Read More

GELORA DELTA SAAT MALAM AGUSTUS


GELORA Delta Sidoarjo mulai dikenal sejak 2000. Itu terjadi saat tempat tersebut dipercaya sebagai pembukaan dan penutupan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000.
Namanya mulai sering didengar setelah Kota Udang,julukan Sidoarjo,jadi kandang tim peserta Liga Indonesia Gelora Dewata Bali. Karena pindah kandang, klub yang dimiliki H.Mislan tersebut pun berganti nama menjadi Gelora Putra Delta yang disingkat menjadi GPD.
Nama ini pun tak bertahan lama dan kembali berganti menjadi Delta Putra Sidoarjo (Delta) setelah dikelola Pemkab Sidoarjo. Stadion pun selalu didatangi penonton yang akhirnya membentuk kelompok suporter dengan nama Deltamania.
Setiap tamu yang dating ke Gelora Delta sempat memuji kondisi lapangannya. Rumputnya yang hijau dan fasilitas pendukungnya memang harus diakui jempol. Apalagi, di sekeliling lapangan, ada lintasan atletik yang diperkirakan harganya bisa mencapai miliran rupiah.
Sayang, seiring waktu, kondisi Gelora Delta Sidoarjo bukannya semakin membaik tapi malah sebaliknya. Rumput yang dulunya terlihat hijau kini mulai menguning.
Saat siaran langsung pertandingan Divisi Utama ataupun Indonesia Super League (ISL), lapangan Gelora Delta Sidoarjo terlihat bergelombang. Padahal, untuk membangun stadion yang berada di tengah Kota Udang, julukan Sidoarjo, memakan uang yang tidak sedikit. Miliaran rupiah sudah tersedot di dalamnya.
Bahkan, Gelora Delta sempat mengalami rusak parah saat laga GPD melawan Arema. Suporter yang bertikai merusak beberapa fasilitas stadion.
Terakhir, saat saya datang ke Gelora Delta pada pertengahan Agustus 2011. Saat itu, kondisi lapangan lagi tak terbentuk. Alasannya, lapangan tengah direnovasi sebagai persiapan Deltras menghadapi musim 2011-2012. Tanah di tengah lapangan diaduk-aduk agar nantinya penyerapan air bisa berlangsung bagus. Rencananya, lapangan baru bisa dipakai pada Desember 2011. Ini artinya Gelora Delta belum bisa dilaksanakan pada kompetisi 2011-2012 dimulai. Ini disebabkan kompetisi yang rencananya memakai nama Liga Pro tersebut sudah bergulir pada 8 Oktober.
Selain lapangan, atap gelora delta juga direnovasi. Kondisi Gelora Delta di dalam memang tak beraturan. Kalau di luar? Tak jauh beda. Hanya, kalau di luar bukan bagian dari Deltras menghadapi kompetisi.
Jika kita datang le Gelora Delta setiap malam, kita pasti akan geleng-geleng kepala. Kita tak menyangka sedang berada di kawasan olahraga. Kita seperti berada di tengah pasar.
Ya, kalau malam, kawasan Gelora Delta memang dipenuhi pedagang kaki lima (PKL). Mereka merupakan pindahan dari Alun-Alun Sidoarjo yang kena penertiban. Dari pedagang makanan, kaos, hingga mainan anak-anak. Saya pun tak membayangkan jika nantinya lapangan sudah bisa dipakai Deltras bertanding di kompetisi dan dilaksanakan malam hari. Bisa-bisa bakal ruwet dan tak menutup kemungkinan terjadi keributan. Semoga saja prediksi saya tak terjadi. (*)


*Tulisan ini dibuat pada 25 Agustus 2011
Read More

MENEMBUS MARKAS BAYERN MUNCHEN

BAGI penggemar sepak bola, semua tahu Bayern Munchen. Klub tersebut merupakan klub raksasa dari Jerman.
Sejak kecil, Bayern merupakan klub pujaan saya. Di era 1980-an, nama Karl-Heinz Rummenigge jadi idola dari barisan pemain.
Wajar kalau saat mendengar saya ada tugas ke Munchen, tempat latihan Bayern menjadi bidikan saya. Setelah ke Stadion Olimpiade Munchen, stadion final Piala Dunia 1974, kemudian ke Stadion Allianz Arena, stadion pembukaan Piala Dunia 2006. Nah, setelah keduanya sudah, tempat latihan Bayern Munchen juga harus bisa datangi.
Tidak susah menanyakan lokasi di mana tim tersebut menempa diri. Apalagi, David, teman saya yang kebetulan bertemu di dekat Stasiun Munchen, juga tahu.
Dia hanya menunjukkan dengan apa saya bisa sampai ke sana. Nah, akhirnya kesempatan tersebut datang juga pada 30 Juni lalu.
Saya harus berangkat awal karena Sabaner, tempat latihan Munchen, agak jauh jika ditempuh dari stasiun kereta api terdekat.
Untung, warga Jerman tetap ramah seperti yang saya kenal dua hari di Munchen. Dengan tanya sana dan sini, saya pun sampai juga.
Saat itu, suasana masih sepi. Wajar karena latihan memang tengah libur. Para pemainnya banyak yang masih atau baru saja membela negaranya dalam Euro 2008 atau Piala Eropa 2008.
Para pemain Bayern yang membela timnas Jeman sorenya pun masih turun ke lapangan untuk menghadapi Spanyol di laga final di Wina, Austria. Meski masih sepi, tapi hati saya sudah berbunga-bunga bisa sampai ke sana.
Pintu masuk utama ke tempat latihan tertutup. Saya sempat kecewa. Untung, seseorang mengajak saya masuk.
Dengan percaya dirinya, dia langsung masuk. Ternyata di tas yang dibawanya, dia membawa bola. Saya heran juga. Akhirnya saya pun tahu, ternyata dia penggemar berat Bayern yang memang (maaf semoga saja tebakan saya benar) kurang waras. Kalau mengingat kejadian itu, saya masih sering tersenyum sendiri.
Oh ya, tempat latihan Bayern terdiri dari empat lapangan yang kualitas rumputnya sungguh jempolan. Saya juga mengetahui ada mes bagi pemain junior. Sayang, saya tak bisa berlama-lama di dalam karena petugas tempat latihan menyuruh saya keluar.
Saat berada di luar, saya sempat berbincang dengan penggemar berat Bayern yang tinggalnya juga di Sabener. Dia memberitahukan, besok (1/7/2008), bakal menjadi waktu latihan perdana Bayern dibawah komando pelatih baru Jurgen Klinsmann.
Saya sempat berjanji bakal datang lagi. Sayang, esoknya, saya batal datang karena takut terlambat sampai di Wina, Austria, tempat saya dan teman-teman berkumpul lagi setelah berpisah hampir sebulan meliput Euro 2008.
Penyesalan itu memang tak bisa dihapus. Tapi, paling tidak, saya sudah pernah datang dan masuk ke tempat latihan Bayern Munchen, klub idola saya sejak kecil bahkan hingga sekarang. (*)

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 23 Agustus 2011

Read More

MASUK KE STADION IMPIAN


SAYA selalu punya kenangan kalau Bayern Munchen berlaga di Allianz Arena. Bukan hanya karena saya fanatik dengan tim asal Bavarian tersebut.
Tapi, saya serasa baru saja datang ke stadion tempat pembukaan Piala Dunia 2006 tersebut. Padahal, saya sudah tiga tahun lalu saya menginjakkan kaki di Alianz Arena.
Ya, pada 29 Juni lalu, saya datang ke Jerman atas penugasan di tempat saya bekerja dalam rangka liputan Euro 2008 (Piala Eropa 2008). Sebenarnya, even sepak bola terbesar di Benua Biru, julukan Eropa, tersebut dilaksanakan di Austria dan Swiss.
Saya bisa ke Jerman karena negara tersebut lolos ke final untuk bersua Spanyol. Sayang, memang akhirnya Jerman kalah 0-2 dari Negeri Matador, julukan Spanyol.
Tapi, hasil tersebut tetap tak mengurang kekaguman saya kepada atmosfer sepak bola Jerman, khususnya Munchen. Pada hari pertama (28/6), saya memang berkesempatan datang ke Stadion Olimpiade. Stadion ini tak kalah punya sejarah karena pernah menjadi tempat penyelenggaraan final Piala Dunia 1974. Hebatnya, saat itu, Jerman, yang masih bernama Jerman Barat karena terpisah dengan Jerman Timur, mampu menang di final setelah mengalahkan Belanda dengan skor 2-1 (7/7/1974).
Dalam laga pemungkas itu, Jerman sempat tertinggal dulu saat Negeri Kincir Angin, julukan Belanda, melalui gol Johan Neeskens pada menit ke-2 dari tembakan penalti. Tapi, gol Paul Breitner menit ke-25 juga dari titik penalti serta Gerd Muller menit ke-43 membuat pendukung tuan rumah bersorak.
Meski sudah tua, tapi Stadion Olimpiade tetap terawat dengan baik. Mungkin berbeda dengan stadion di Indonesia, yang makin tua makin tidak terawat he he he he.
Saya datang ke Allianz Arena dengan naik kereta api dari Stasiun Munchen, yang tak jauh dari saya menginap. Saya membeli tiket tiga hari karena saya sesuaikan dengan rencana saya menginap di kota tersebut.
Saya turun di stasiun yang paling dekat dengan Stadion Allianz Arena. Dari stasiun memang sudah terlihat megahnya stadion yang bisa menampung 69 ribu penonton tersebut.
Memang harus berkeringat untuk bisa menjangkaunya. Kira-kira jarak stasiun ke stadion sekitar 3 kilometer lebih dan waktu itu melewati ilalang.
Sampai di sana, Allianz Arena masih tutup karena masih pukul 09.00. Saat itu, stadion yang memakain biaya 30 juta Euro tersebut baru buka satu jam kemudian.
Saya menunggu di luar. Untung, saya kenal dengan keluarga warga Jerman (sayang saya sudah lupa namanya). Keluaga itu akhirnya masuk bersama saya ke dalam stadion dengan membayar 10 Euro.
Kali pertama masuk, kami dibawa ke kafe tempat penonton. Ternyata, ada dua kafe di dalam stadion megah itu. Bagi penonton ekonomi, kursi dan mejanya terbuat dari kayu. Sementara, yang kelas VIP, sudah layaknya restoran kelas atas.
Setelah itu, rombongan dibawa masuk ke tribun penonton. Oleh guide, kami dibawa ke tribun penonton, mulai dari tribun kelas ekonomi hingga tribun VIP serta VVIP. Kami pun juga diberi kesempatan berteriak layaknya saat mendukung Bayern Munchen.
Usai dari tribun, kami masih dibawa ke lorong pemain. Di sana, kami masuk ke ruang ganti pemain Bayern serta tamu. Saya sempat terkesima saat melihat ada kolam renang mini di dalam ruang ganti. Saya pun sempat berdecak kagum. Di akhir perjalanan, kami masuk ke toko souvenir Bayern Munchen. Saya menyempatkan membeli topi pemain pujaan saya di klub tersebut, Bastian Schweinteiger.
Pengalaman yang sangat berharga. Hanya, saya belum bisa masuk lansung saat ada pertandingan di stadion yang diresmikan 30 Mei 2005 itu. Siapa tahu adan rezeki dan kesempatan, kata saya dalam hati. ..(*)

*Catatan ini dibuat di Surabaya pada 23 Agustus 2011
Read More

SOEPANGAT, LEGENDA DARI STADION TAMBAKSARI



KENALKAH Anda dengan Soepangat? Jika Anda sering dating ke Gelora 10 Nopember, Surabaya, untuk menyaksikan Persebaya Surabaya bertanding, tentu sangat kenal. Bahkan, ada yang lebih kenal. Tapi, bukan dalam hal sosoknya tapi suaranya.
Wajar itu. Soepangat merupakan pembawa acara setiap kali Green Force, julukan Persebaya, turun ke lapangan. “Profesi ini sudah saya jalani sejak 1973. Jadi, sudah banyak orang yang hafal dengan suara saya,” kata Soepangat saat diteemui di Mes Persebaya, Karanggayan, Surabaya,pada 18 Agustus 2011.
Perkenalannya dengan pembawa acara pertandingan Persebaya tak lepas dari pekerjaannya sebagai penyiar sepak bola di Radio Gelora Surabayaa (RGS). Lokasi tempatnya bekerja pun juga berada di Gelora 10 Nopember yang menjadi kandang Persebaya. “Kerja di RGS pun dulunya iseng-iseng saja karena saya belum dapat pekerjaan setelah lulus SMA,” kenang lelaki yang kini berusia 61 tahun tersebut.
Ya, Soepangat lulus SMA pada 1969. Keterbatasan dana membuat dia tak bisa melanjutkan menuntut ilmu lebih tinggi atau kuliah. Dia sempat melamar k sebuah perusahaan penerbangan yang membuka lowongan pramugara. “Say abaca lowongan itu saat jalan-jalan di Tunjungan. Saya kemudian tertarik melamarnya. Itu kali pertama dan terakhir saya melban amar pekerjaan. Saya tunggu lama pun tidak ada jawaban soal lamaran saya itu,” kenangnya.
Dia pun sempat bekerja serabutan. Hingga akhirnya, dia main ke RGS yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
“Saya hanya main-main.Ini membuat saya akrab dengan orang-orang RGS. Mereka pun sering meminta tolong saya untuk membantu setiap kegiatan RGS,”jelas Soepangat.
Bahkan, dia pun mulai disuruh untuk membantu dalam hal menyiarkan program RGS. Gara-garanya pun unik. “Penyiar RGS kan banyak yang pacaran. Pas kalau pacaran, saya disuruh untuk menggantikan mereka pada 1971,” lanjutnya sambil terkekeh.
Lama kelamaan, Soepangat pun disuruh untuk mengudara. Ini membuat dia mulai percaya diri membawakan acara. “Saat menggantikan Nung yang pindah kerja. Tapi, saya lupa pertandingan pertama yang saya siarkan,” ucap Soepangat.
Hanya, dia mengaku tak grogi. Alasannya, dia sudah biasa melakukannya di RGS. Apalagi, dia juga sudah biasa menghadapi banyak orang.”Saya kan bukan hanya siaran sepak bola. Tinju dan balap motor pun saya jalani.”
Selama puluhan tahun pula dia tak pernah punya takut jika sudah memegang mike di Gelora 10 Nopember. Termasuk juga duel panas derby Jatim antara Persebaya versus Arema.”Selama saya jadi pembawa acara ada 4 pertandingan yang ricuh di Gelora 10 Nopember. Semuanya terjadi saat kompetisi sudah memasuki era Liga Indonesia, bukan di zaman perserikatan atau Galatama,” ungkap suami dari Pudjiatmi ini.
Soepangat pun menegaskan tak pernah menganggap enteng pertandingan. Meski pun, lawan yang dihadapi Persebaya tim yang tak diunggulkan menang. “Karakter tiap pertandingan beda. Saya selalu serius dalam membawakan acara dan bisa mengarahkan penonton agar selalu tertib,” lanjut Soepangat.
Meski sudah ratusan bahkan ribuan pertandingan yang dibawakannya di Gelora 10 Nopember, tapi dia mengaku kesan mendalamnya terjadi bukan di stadion yang juga dikenal sebagai Stadion Tambaksari tersebut.Dia mengalaminya saat ikut rombongan Persebaya di Thailand dalam pertandingan Liga Champions Asia melawan wakil Thailand Krung Thai Bank.
“Itu terjadi pada 2005. Saya menyiarkan langsung pertandingan Persebaya dari luar negeri untuk kali pertama,” tambah bapak tiga anak tersebut.
Menariknya, dia menyiarkan secara langsung laga tim pujaan Bonekmania tersebut melalui handphone. Mekanismenya pun berbeda dengan biasanya.”Saya pinjam HP yang dibawa para pendukung Persebaya yang ikut ke Thailand saat itu. Tiap lima menit, saya ganti HP agar tak terputus siarannya,” ungkap Soepangat.
Dia mengaku siaran langsungnya melalui HP tersebut diikuti oleh para suporter Persebaya.Sekarang, meski sudah 38 tahun menyiarkan pertandingan Persebaya, Soepangat belum mau memutuskan pensiun. Dia tetap ingin bisa memberikan sumbangsihnya kepada tim pujaannya tersebut hingga tak lagi dibutuhkan lagi.
“Saya masih kuat,” tegasnya.
Soepangat pun belum tahu siapa penggantinya kelak. Apalagi, belum ada orang yang belajar langsung kepadanya untuk bisa membawakan pertandingan Persebaya yang selalu heroik. (*)


BIODATA:
Nama: Soepangat
Lahir: Surabaya 5 Mei 1950
Istri: Pudjiatni
Anak:
Dhanny Zally Nursandi
Aditwin Suryawan
Deka Okttriscorin
Karir organisasi :
1973-..: Pembawa acara pertandingan sepak bola dan reporter Radion Gelora Surabaya (RGS)
1978-1982: Wakil Humas Persebaya
1982…: Humas Persebaya
Read More

SUSAHNYA NYANYIKAN INDONESIA RAYA

MEMBELA tim nasional Indonesia tentu menjadi suatu kebanggaan. Ini bisa menunjukkan sebagai bukti dharma bakti kepada bangsa dan negara. Bahkan, mereka siap mati di lapangan.
Sayang, sebelum turun ke lapangan, ada hal yang sangat krusial tapi sering dianggap remeh para penggawa Merah Putih, julukan timnas Indonesia. Apa itu? Menyanyikan lagu kebanggsaan Indonesia Raya.
Kita amati saja pada Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2010 lalu. Saaat kamera mengincar wajah-wajah pemain nasional, beberapa di antaranya memilih diam.Ini tentu sangat ironi. Di saat tenaga dan kemampuannya dibutuhkan membela bangsa dan negara, rasa kebangsaannya (meski dari raut muka dan mimik) tak terlihat.
Padahal, masyarakat yang ada di stadion ataupun yang berada di depan layar kaca, dengan semangat menyanyikan lagu ciptaan Wage Rudolf Soepratman tersebut. Masyarakat berharap agar para pemain bisa menjiawai lagu yang kali pertama berkumandang pada Sumpah Pemuda 28 Oktober tersebut.
Eh, sekarang kejadian tersebut kembali terulang. Saat menghadapi juniornya, timnas U-23 di Stadion Manahan Solo pada 18 Agustus, kembali muka-muka lama tersebut tetap tak mau menyayikan lagu Indonesia Raya. Dengan angkuhnya mereka diam dengan kepalanya tegak.
Memang, untuk mencoret dengan alasan tak menyanyikan lagu Indonesia Raya memang tak logis. Tapi, memberi teguran tentu saja menjadi jalan terbaik. Kita butuh pemain dengan skill tinggi, tapi alangkah baiknya kalau itu dibekali dengan semangat nasionalisme yang menggelora.
Timnas Prancis juga pernah mendapat sorotan karena mayoritas pemainnya hanya diam saat lagu kebangsaan negaranya berkumandang. Rasa nasionalisme mereka pun digugat. Apalagi, banyak dari mereka merupakan imigran dari Afrika. Imbanya, masalah ini pun sempat merembet ke dunia politik.
Kita pun berharap agar kejadian serupa tak terulang di Indonesia. Apalagi, kita sudah menginginkan agar menjauhkan olahraga dari politik. Politik ya Politik, Olahraga ya Olahraga. Hanya, harapan kita semua, pesepak bola Indonesia tetaplah harus menyanyikan Indonesia Raya. Meski, kita tak meragukan keberanian mereka di lapangan. (*)

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 18 Agustus 2011

Read More

UNTUK KEPENTINGAN SESAAT

STADION Manahan, Solo, 8 Januari 2011. Stadion kebanggaan warga Kota Bengawan, julukan Solo, erti penuh sesak. Bukan hanya oleh supporter tapi juga beberapa tokoh penting seperti pengusaha Arifin Panigoro, Saleh Ismail Mukadar, ataupun juga Wali Kota Solo Joko Widodo.
Mereka dating untuk menjadi saksi pembukaan kompetisi yang digadang-gadang menjadi kompetisi professional. Namanya, Liga Primer Indonesia (LPI). Liga ini diikuti oleh 18 tim dari ujung barat Indonesia, Nanggroe Aceh Darussalam dengan Atjeh United, maupun dari ujung timur yakni Papua melalui Cenderawasih Papua.
Hadirnya kompetisi ini pun membuat tim Indonesia Super League (ISL), yang merupakan kompetisi tertinggi di Indonesia, Persema Malang, Persebaya Surabaya, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar cabut. Imbasnya, keempatnya pun dikeluarkan dari keanggotaan PSSI.
LPI pun mampu menggandeng stasiun televise yang menyiarkan laganya seminggu dua kali pada Sabtu dan Minggu. Ini tak ubahnya dengan ISL maupun Divisi Utama. Sayang, PSSI tetap tak mengakuinya.
Tapi, kondisi tersebut tak menyurutkan semangat LPI. Kompetisi yang menggunakan slogan Perubahan dan Sepak Bola tanpa APBD tersebut tetap bergulir. Para wasitnya pun memakai wasit yang tak dipakai PSSI.
Hanya, tidak semua pertandingan LPI menarik dan bisa mendatangkan banyak penonton. Wajar karena kualitas pemainnya masih di bawah ISL kecuali tentunya para mantan peserta ISL. Stadion yang penontonnya banyak pun bisa dihitung jari. Akibatnya, kualitas pun kurang terjaga. Meski, LPI telah mendatangkan beberapa mantan pemain level dunia sekelas Lee Hendrie, mantan pemain Aston Villa dan juga timnas Inggris. Dia membela Bandung FC. Ada juga Amaral yang tercatat pernah membela timnas Brazil dan juga tim elite Serie A Italia Fiorentina.
LPI pun tetap berdalih kebih baik daripada kompetisi lainnya. Tapi, setelah Kongres PSSI berakhir damai di Solo dan memilih Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum, masyarakat mulai paham. Ternyata LPI hanya menjadi senjata untuk menghimpun opini masyarakat untuk meninggalkan NUrdin Halid. Meski tanpa LPI pun masyarakat sudah banyak yang antipasti kepada PSSI yang dipimpin Nurdin. Dia dianggap gagal membawa prestasi bagi Indonesia. Juara SEA Games sudah susah digapai,apalagi merealisasikan mimpi menembus Piala Dunia.
Bahkan pada 15 Agustus 2011, PSSI malah membubarkan LPI. Kompetisi tersebut hanya berlangsung satu musim tanpa ada tim yang menjadi juara. Kalau ada tim LPI yang mau bergabung dalam kompetisi PSSI harus merger dengan klub yang sudah menjadi anggota PSSI.
Sangat disayangkan sebenarnya. Ini membuat masyarakat semakin tahu akan tujuan dan maksud adanya LPI. Semuanya tak jauh dari kepentingan segelintir orang yang menggunakannya untuk merebut kekuasaaan. Selamat jalan LPI. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com