www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

TAK ADA YANG MELARANG KITA BERMIMPI

INDONESIA melangkah ke babak III Pra-Piala Dunia 2014. Kemenangan 4-3 atas Turkmenistan di Jakarta pada 28 Juli membuat Firman Utina dkk lolos dengan agregate 5-4. Ini dikarenakan pada pertemuan pertama (23/7), Indonesia mampu menahan Turkmenistan di kandangnya sendiri dengan 1-1.
Meski lolos, tapi banyak catatan yang harus segera dibenahi pelatih Wim Rijsbergen asal Belanda. Menang 3-0 di babak I, eh Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, nyaris memetik malu sebelum akhirnya bisa menang 4-3. Bahkan, Indonesia sempat leading 4-1. Dua gol yang bersarang di gawang Indonesia yang dikawal Ferry Rotinsulu pun lahir saat lawan hanya bermain dengan sepuluh pemain.
Ada anggapan lemahnya Indonesia setelah keluarnya sang kapten, Firman Utina. Tapi, sebenarnya, Indonesia juga bisa menang dengan lebih empat gol. Banyak peluang yang disia-siakan oleh Boaz Solossa maupun tandemnya, Christian Gonzalez. Wajar jika 80 ribu pasang mata pendukung Indonesia pun dipacu jantungnya hingga peluit panjang ditiup wasit. Satu gol lagi ke gawang Ferry bisa menghancurkan peluang lolos ke babak III yang sudah terbentang di depan mata.
Kini, laga melawan Turkmenistan sudah dilupakan. Tapi, dari pertandingan tersebut, timnas Indonesia harus mampu memetik banyak pelajaran berharga. Ini bisa dipakai untuk tamil pada babak III. Apalagi dari undian yang dilaksanakan pada Minggu dini hari WIB (31/7), Merah Putih akan menghadapi tiga tim timur tengah, Iran, Qatar, dan Bahrain di Grup E.
Indonesia
Dari ketiganya, Iran memang paling mentereng. Mereka pernah berlaga di tiga kali Piala Dunia, yakni 1978, 1998, dan 2006. Selain itu, tim yang kini ditangani mantan pelatih Portugal dan Real Madrid Carlos Queiroz tersebut pernah merasakan juara Asia pada 1968, 1972, dan 1976. Belum lagi materi pemainnya yang beberapa pernah menjajal kerasnya kompetisi Eropa seperti Ali Kharimi di Bayern Munich.
Hanya, kita tetap berharap, itu tak membuat timnas Indonesia keder. Semangat pantang menyerah dan dukungan ribuan suporter bisa membalikan prediksi yang tak mengunggulkan Indonesia. Tapi, pembenahan skill dan kerja sama pemain juga tetap memegang peranan utama.
Kita bisa melihat bahwa saat menghadapi Turkmenistan di Jakarta. Babak pertama, dengan stamina yang masih prima, Indonesia tampil dominan. Eh, begitu pertengahan babak kedua, stamina mulai kedodoran. Imbasnya, Turkmenistan nyaris memalukan Merah Putih.
Hal tersebut tentu tak boleh terjadi lagi. Ambisi menembus Piala Dunia boleh berkumandang kencang. Tapi, alangkah baiknya kalau kita juga mengukur kemampuan diri sendiri. (*)


Drawing Putaran III Pra-Piala Dunia 2014 Zona Asia:

Grup A
Tiongkok
Yordania
Iraq
Singapura

Grup B
Korea Selatan
Kuwait
Uni Emirat Arab
Lebanon

Grup C
Jepang
Uzbekistan
Syria
Korea Utara

Grup D
Australia
Arab Saudi
Oman
Thailand

Grup E
Iran
Qatar
Bahrain
Indonesia

Jadwal Indonesia di Babak III
2 September 2011 : Iran v Indonesia away
6 September 2011 : Indonesia v Bahrain home
11 Oktober 2011 : Indonesia v Qatar home
11 November 2011 : Qatar v Indonesia away
15 November 2011 : Indonesia v Iran home
29 Februari 2012 : Bahrain v Indonesia away

Catatan ini dibuat di Surabaya pada 31 Juli 2011
Read More

TIONGHOA JUGA CINTA SEPAK BOLA


DI dalam sepak bola, tidak mengenal perbedaan. Ras, golongan, atau pun suku dilupakan jika sudah bersatu dalam satu tim sepak bola. Semua mempunyai tujuan, meraih kemenangan tapi dengan tidak melupakan sportivitas.
Tapi, di Indonesia, untuk saat ini, mencari pesepak bola dari etnis Tionghoa butuh perjuangan ekstrakeras. Bisa jadi, hadirnya Kim Jeffry Kurniawan mampu menyambung rantai yang terputus tersebut.
Pemain asal Persema Malang tersebut memang mempunyai darah Tionghoa. Bahkan, kakek pemain yang kini tengah berjuang masuk timnas U-23 SEA Games 2011 tersebut juga pernah tercatat sebagai pesepak bola Indonesia di era 1960-an, yakni Kwee Hong Sing. Meski, masuknya dia ke timnas Indonesia melalui proses naturalisasi setelah sebelumnya berwarga negara Jerman.
Ya, pada era 1960-an, Indonesia memang banyak diperkuat pesepak bola Tionghoa. Nama Latif Harris Tanoto (LH Tanoto) layak di kedepankan. Kemampuannya mengolah bola dilanjutkan sang anak Wahyu Tanoto yang juga sempat tercatat membela Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, pada era 1980-an.
Hanya, pada buku Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola lebih fokus kepada perkembangan olahraga kulit bundar tersebut di Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Di buku karangan Rojil Nugroho Bayu Aji ini disebutkan John Edgar merupakan orang yang mengawali pembentukan bond sepak bola di Surabaya. Dia mendirikan Victoria pada 1895.
Setelah itu, lahir pula Gymnastiek en Sportvereeniging Tionghoa Surabaya pada 1908 yang kemudian menjadi Naga Kuning dan Suryanaga. Hingga saat ini, Suryanaga masih eksis sampai sekarang dengan dikendalikan Michael Sanjaya.
Di Suryanaga saat ini ada pemain yang etnis Tionghoa yakni Suwito. Pemain asal Tuban ini menjadi bukti bahwa etnisnya tetap mencintai sepak bola. Suwito pun pernah tercatat sebagai pemain Persebaya Surabaya pada awal 2000-an. Sayang, dia tak bisa eksis dan akhirnya harus kembali ke klub amatir.
Kembali ke buku Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola menarik juga karena bukan hanya bercerita soal sepak bola. Ada juga nuansa politik yang ada di dalamnya. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, khususnya di Surabaya, buku Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola perlu dibaca untuk menambah wawasan kita. (*)

Judul Buku: Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola
Pengarang: Rojil Nugroho Bayu Aji
Pengantar: Freek Colombijn (Vrije University)
Penerbit: Ombak
Tebal: 128 halaman
Cetakan Pertama: 2010

Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 28 Juli 2011. Tapi, penulis pernah menjadi pembicara dalam bedah bukunya di Surabaya di akhir 2010.
Read More

TERNYATA, MASIH BUTUH SUARA DARI LUAR JUGA

SEPAK bola Indonesia mulai mendekati normal. Kok mendekati? Ya, karena ontran-ontran pergantian ketua umum sudah selesai dengan terpilihnya Djohar Arifin Husin menggantikan Nurdin Halid.
Tapi, itu belum bisa dikatakan normal 100 persen. Sebab, Djohar belum mengumumkan kabinetnya secara resmi dan komplet. Meski, santer terdengar bahwa kepengurusan nanti diisi orang-orang yang sukses mengantarkan mantan Sekjen KONI Pusat itu duduk sebagai PSSI 1.
Sebenarnya tidak semua pengurus di era Nurdin mendapat cap buruk. Tapi, tetap menjadi hak Djohar untuk memilihnya. Bagi masyarakat pun, yang penting mereka jujur, bersih, dan netral. Yang juga tak kalah peting, mereka mampu membawa sepak bola Indonesia menuju prestasi yang lebih baik daripada di era Nurdin.
Saat era Nurdin, kegagalan sudah menjadi hal biasa. Emas SEA Games pun menjadi hal yang susah digapai. Penggemblengan pemain dengan model PSSI Primavera-Barreti di Italia atau di Belanda dilakukan saat menghadapi Asian Games 2006. Namun, hasilnya nol besar. PSSI Primavera-Barreti gagal membawa Indonesia juara SEA Games, juara Asia, ataupun lolos ke Piala Dunia. Sementara, meski telah memakai pelatih top Belanda Foppe de Haan, Indonesia sudah tersungkur di babak kualifikasi Asian Games 2006.
Ini bisa jadi merupakan tantangan bagi Djohar. Dia harus pas memilih sosok yang bisa menjadikan sepak bola Indonesia lebih maju. Tentu, sistem kompetisi yang akan dipakai juga memegang peran utama.
Hanya, saat ini ada dua kompetisi yang belum ada jalan keluarnya. Satu sistem dipakai sebelumnya, dengan Indonesia Super League (ISL) sebagai puncaknya. Satu sistem lagi adalah LPI (Liga Primer Indonesia). LPI merupakan kompetisi yang digagas oleh mereka yang kecewa dengan kompetisi lain.
Tentu, menggabungkan dua sistem tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kompetisi dengan puncak ISL harus dilalui para peserta dengan sistem yang panjang dan berliku.
Mereka harus memulai dari Divisi III, Divisi II, Divisi I, hingga Divisi Utama. Sebuah tim Divisi III, yang kalau setiap musim promosi, butuh waktu tiga tahun. Tapi, tidak semua tim bisa beruntung dengan naik setiap tahun. Persaingan sudah sangat ketat.
Tim yang berjuang keras dari bawah tentu bisa iri kalau melihat tim LPI bisa langsung berada di level teratas kompetisi di negeri ini. Dalam aturan, saya tak membela siapa pun, klub baru yang berada di naungan PSSI harus memulainya dari Divisi III, kecuali klub tersebut melakukan merger.
Namun, klub LPI tentu juga tak mau memulai dari Divisi III. Dengan materi pemain dan pendanaan yang ada, mereka ingin eksis, tapi di level atas.
PSSI harus bisa mencarikan solusi. Eh, tahu-tahu ada berita bahwa induk organisasi sepak bola di Indonesia tersebut mau berkonsultasi dengan AFC (Federasi Sepak Bola Asia) atau FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional). Ini membuat saya teringat ramai-ramai menjelang Kongres Luar Biasa (KLB) untuk menunjuk ketua umum PSSI. Saat itu, banyak terdengar suara.
”Kita ini negara merdeka. Jangan mau diintervensi.” Artinya, Indonesia dengan PSSI sudah bisa menentukan segala kebijakan tanpa ada saran atau masukan dari pihak luar. Tapi, sekarang semuanya berubah. Akhirnya, kita tetap harus mendengarkan suara dari luar.
Bagaimanapun, jika itu menjadi jalan yang terbaik, saran dan masukan tetap dibutuhkan. Muaranya hanya satu, membawa sepak bola Indonesia ke arah yang lebih baik. (*)

Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos pada 28 Juli 2011
Read More

Semua Bersatu demi Merah Putih

STADION Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, lama vakum. Tapi, pada Kamis (28/7), stadion megah tersebut bakal berubah warna merah.
Puluhan ribu supporter akan datang guna memberikan dukungan kepada perjuangan Firman Utina dkk saat menghadapi Turkmenistan dalam ajang Pra-Piala Dunia 2014. Kemenangan akan membuat Indonesia melaju ke fase grup.
Memang, untuk bicara lolos masih jauh. Apalagi, para raksasa sepak bola Asia seperti Korea Selatan (Korsel), Jepang, Tiongkok, dan Arab Saudi tak mau melewatkannya begitu saja. Negara-negara tersebut sudah langganan menjadi peserta even yang diklaim terbesar di muka bumi tersebut.Belum lagi Australia. Negara termasuk baru bergabung di AFC (Federasi Sepak Bola Asia) tersebut mempunyai materi pemain dengan skill nomor wahid dan bermain di kompetisi Eropa.
Tapi, jangan pernah berpikir dulu ke sana. Yang ada saat ini, bagaimana Merah Putih bisa menyingkirkan Turkmenistan. Memang bukan pekerjaan mudah. Dalam rekor pertemuan selama tiga kali, belum ada yang unggul. Indonesia dan Turkmenistan sama-sama mengalahkan dalam Pra-Piala Dunia 2006 dan imbang saat leg pertama Pra-Piala Dunia 2014 pada 23 Juli lalu di Turkmenistan.
Ini membuat asmosfer pertandingan terasa panas. Kekuatan kedua tim berimbang. Hanya, Indonesia punya nilai plus. Dengan bermain di kandang, mental Firman dkk lebih terangkat berkat dukungan suporter.
Masih ingat dengan Piala AFF akhir tahun lalu. Tim yang saat itu dipoles Alfred Riedl bermain ngedan. Thailand, sang raja Asia Tenggara, dibuat terkapar di babak penyisihan. Malaysia dipermalukan di laga perdana. Sayang, di laga final, Indonesia takluk dari Malaysia dalam pertandingan yang memakai sistem home and away tersebut.
Namun, itu telah membangkitkan semangat suporter untuk kembali cinta kepada timnas. Perbedaan pun sudah dilupakan saat para suporter mendukung klubnya. Rivalitas Aremania, suporter Arema, dengan suporter Persebaya—suporter Persebaya dengan LA Mania, suporter Persela Lamongan,---atau pun Jakmania, suporter Persija Jakarta, dan Bobotoh, suporter Persib Bandung.
Yang ada hanya satu, memberikan dukungan kepada Indonesia. Tujuannya pun sama, ingin melihat Indonesia bisa berprestasi. Jika ini juga terjadi di klub, alangkah indahnya sepak bola di tanah air. Tidak ada lagi anarkis yang membuat masyarakat banyak yang memberikan cap negatif kepada suporter. (*)

*Catatan ini dibuat di Surabaya pada 27 Juli 2011
Read More

Bersihkan Dusta di Antara Kita

KONTROVERSI tak pernah lepas dari PSSI. Setelah berlikunya pergantian ketua umum di induk organisasi sepak bola di tanah air tersebut, kemudian dilanjutkan dengan pergantian pelatih di tim nasional , kini ada babak baru yang juga mengundang perhatian insan bola.
Dua penggawa Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, Tony Sucipto dan Wahyu Wijiastanto, gagal berangkat ke Turkmenistan dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2014 pada 23 Juli lalu. Menyakitkannya, keduanya gagal berangkat bukan karena cedera atau pun kalah bersaing.
Tony, yang musim lalu membela Persija Jakarta, dan Tanto,sapaan karib pemain terbaik Divisi Utama 2010-2011, tak bisa mengenakan kostum Merah Putih karena alasan visa. Ha? Aneh juga karena keduanya bukan Warren Barton, pemain asal klub Newcastle Inggris yang tak bisa masuk ke Amerika Serikat (AS) dalam tur klubnya karena pernah bermasalah dengan hukum.
Aneh memang. Ada kabar yang menyebutkan bahwa keduanya tak bisa berangkat karena memang namanya sejak awal tak ada dalam daftar nama pemain yang dipersiapkan timnas. Ada benarnya memang.Apalagi pada Tanto.
Pemain yang pernah ditempa di Belanda saat persiapan Asian Games 2006 tersebut namanya memang baru mencuat belakang,Itu ketika gol tunggalnya mampu mengantarkan Laskar Sultan Agung, julukan Persiba, meraih juara Divisi Utama 2010-2011 sekaligus melengkapi tiket promosi ke Indonesia Super League (ISL) musim 2011-2012.
Publik pasti ingin tahu apa alasan sebenarnya tentang batalnya dua pemain yang punya kans sebagai starter tersebut membela Indonesia melawan Turkmenistan. Jika memang alas an visa, okelah. Tapi, kalau ada alasan lain, jangan sampai ditutup-tutupi. Jangan sampai ada dusta di antara kita.
Publik sepak bola Indonesia yang sudah mulai bisa melupakan carut marutnya pemilihan ketua umum PSSI, jangan sampai kembali kecewa. Kini, harapan tengah dilambungkan kepada perjuangan Firman Utina dkk.
Untuk lolos ke Piala Dunia memang sangat sulit. Tapi, tak salah rasanya kalau bisa memberikan kebanggaan kepada Pasukan Garuda. Kita tak mau selalu mendengar bahwa prestasi terbaik Indonesia adalah ‘nyaris’ lolos ke Piala Dunia 1986 saat Bambang Nurdiansyah dkk dijegal Korea Selatan (Korsel) di Jakarta dan Seoul pada 1985. 26 tahun adalah kurun waktu yang sudah lama, saatnya Garuda terbang tinggi. (*)

*Catatan ini dibuat pada 21 Juli 2011 di Surabaya
Read More

Jangan Sampai Mementik Perang Baru

KITA belum lupa dengan momen Piala AFF 2010. Indonesia mampu lolos ke final dalam even sepak bola yang diikuti oleh negara-negara di Asia Tenggara tersebut.
Ini membuat animo masyarakat kepada timnas Indonesia menjadi begitu besar. Demam kepada Christian Gonzales dkk pun merambah di seluruh penjuru tanah air, dari anak-anak hingga dewasa. Melihat orang memakai seragam Merah Putih pun sudah menjadi hal yang biasa. Padahal, sebelumnya, penggemar bola sepak di negeri ini lebih suka memakai kostum tim-tim atau pun negara manca.
Ironis memang. Kebanggaan kepada Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, sungguh sangat rendah. Tapi, setelah timnas Indonesia lolos, ada perubahan yang sangat signifikan. Perjuangan para pemain di lapangan dan dukungan suporter memang perlu diapresiasi.
Hanya, kita juga tak boleh melupakan sosok Alfred Riedl. Lelaki asal Austria tersebut mampu meracik pemain dari berbagai klub dan berbagai karakter untuk bisa menjadi satu, berjuang demi mengangkat Merah Putih.
Kita pun tak akan lupa dengan ketegasnnya saat mencoret Boaz Solossa. Padahal, penyerang asal Persipura Jayapura tersebut lagi on fire di ajang Indonesia Super League (ISL). Pro-kontra mewarnai tak dipakainya striker andalan Mutiara Hitam, julukan Persipura, tersebut.
Riedl, yang pernah menangani Vietnam, lebih memilih pemain yang patuh dan punya disiplin tinggi. Pelatih berusia 61 tahun tersebut mempercai Irfan Bachdim sebagai pengganti Boaz. Padahal, sebelumnnya, pemain yang lama tinggal di Belanda tersebut kurang diperhatikan sebelumnya. Dia pun baru kali pertama berlaga di kompetisi sepak bola Indonesia bersama Persema Malang, setelah sebelumnya tak masuk di Persija Jakarta dan Persib Bandung.
Pilihan lelaki kelahiran Wina 2 November 1949 tersebut tak salah. Irfan moncer di Piala AFF. Dia pun jadi pujaan baru di blantika sepak bola Indonesia. Meski, akhirnya Indonesia gagal menjadi juara setelah kalah selisih gol dari Malaysia dalam laga final.
Harapan tinggi pun diberikan kepada Riedl. Dia ditarget mampu membawa Indonesia berprestasi dalam SEA Games 2011 yang dilaksanakan November mendatang. Kerinduan akan keping berharga di pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut diletakkan di pundak lelaki yang tercatat pernah membela klub Belgia Standard Liege. Kali terakhir emas dari sepak bola digapai pada 1991.
Riedl pun melaksanakan kepercayaan yang diamanatkan kepadanya. Dia mulai memantau talenta-talenta muda yang tersebar di klub-klub peserta kompetisi. Sayang, di tengah jalan, badai mengguncang persiapan yang dilakukan Riedl. Kompetisi di Indonesia terbelah dengan lahirnya Liga Primer Indonesia (LPI).
Ini ditambah dengan ribut-ribut pemilihan ketua umum PSSI. Setelah kegagalan memilih orang nomor satu di induk organisasi sepak bola di Indonesia tersebut di Pekanbaru, Riau, dan dilanjutkan di Jakarta. Akhirnya, Kongres Luar Biasa (KLB) di Solo bisa berakhir tanpa keributan dan memilih Djohar Arifin Husin sebagai pengganti Nurdin Halid yang banyak dikritik insan dan masyarakat sepak bola nasional karena gagal memberikan prestasi . Terpilihnya Djohar juga dianggap sebagai kemenangan sepak bola Indonesia. Bukan kemenangan dua kubu yang bersebarangan, Kelompok 78 dan Kelompok Nurdin.
Dengan terpilihnya Djohar, Riedl pun tentu berharap bisa kembali melanjutkan kerjanya. Tapi, tak ada angin, tak ada hujan, sosok yang dikenal dekat dengan para pemain tersebut tak bisa memoles Pasukan Garuda pada kualifikasi Piala Dunia dan SEA Games. Oleh PSSI mulai 14 Juli.
Alasannya, Riedl diberhentikan karena kontraknya tidak jelas. Dia tidak kontrak dengan PSSI. Tak hanya Riedl yang dilengserkan, tapi juga tim pelatih, Wolfgang Pikal, Widodo C. Putro, dan Edi Harto.
Gantinya, PSSI menunjuk pelatih asal Belanda Wilhelmus "Wim" Gerardus Rijsbergen, yang menangani tim LPI. Selain itu, pergantian juga trerjadi di sektor manajer. Iman Arif digantikan Ferry Kodrat, CEO Persibo Bojonegoro yang juga berlaga di LPI.
Padahal, momen persiapan kualifikasi Piala Dunia dan SEA Games bisa menjadi awal rekonsiliasi dua kubu. Toh tak salah, jika pihak yang membayar Riedl masih mau melanjutkan niatnya. Alangkah indahnya kalau itu terjadi.
Kita yang sudah bosan dengan ontran-ontran selama pemilihan ketum PSSI, tentu tak mau kembali disuguhi cerita yang sama di kasus timnas. Apalagi, Riedl bukan sosok yang cela di masyarakat meski Wim pun juga tak bisa dipandang sebelah mata dengan pengalamannya baik sebagai pemain maupun pelatih. Dengan adanya dua sosok dari satu kubu, bisa jadi kemenangan sepak bola Indonesia di KLB lalu bisa menjadi kabur.Balas dendam dari kubu yang merasa dipinggirkan jangan sampai terjadi. Jangan sampai pula pergantian Riedl membuat lahirnya “perang” baru.
Masyarakat hanya mau sepak bola Indonesia ini berprestasi dan memberi kebanggaan. Seperti yang pernah disuguhkan Riedl di Piala AFF meski hanya menjadi runer-up. Kini, setelah tak ada Riedl, kita pun kembali berharap, Wim bisa juga memberikan kebanggaan. (*)

Catatan ini pernah keluar di Harian Jawa Pos pada 15 Juli 2011
Read More

Sahabat Lama Kini Jadi Ketum PSSI

SAAT SEKJEN KONI: Djohar Arifin Husen (foto:sidiq)


TUJUH tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi, juga bukan waktu yang lama jika masih diberi anugerah umur panjang.
Sosok Djohar Arifin pun tetap tak berubah di mata saya. Lelaki yang kini menjadi ketua umum PSSI tersebut. Hanya, rambutnya sekarang sudah memulai memutih. “Saya sudah meninggalkan dunia hitam. Jadi, rambut saya pun sudah tak hitam lagi,” kata Djohar saat bertemu dalam acara Diskusi di Surabaya pada 26 Juni.
Tujuh tahun lalu, saat dia masih menjabat sebagai Sekjen KONI Pusat, saya setiap hari selalu masuk ke ruangannya. Tentu, untuk wawancara dan siapa tahu ada makanan kecil di mejanya ha ha ha... Saat itu, Djohar menjadi sumber berita yang cukup enak di induk semua olahraga di Indonesia tersebut.
Setelah tak lagi di Jakarta mulai 2004, Djohar pun masih sering kirim pesan singkat ke HP saya. Jadi, hubungan kami pun masih terus berlangsung.
Hanya, dia agak kaget melihat badanku yang sudah mulai melar. Maklum, saat sering bertemu Djohar, berat badanku ‘masih’ sekitar 75 kilogram. Tapi, saat bertemu pada hari ini, berat badanku sudah menvapai 85 kilogram.
Djohar pun masih ingat dengan kegemaranku main bola. Tampaknya, Djohar belum lupa dengan aksi saya saat masih sering main bola di lapangan Timnas PSSI di Senayan, Jakarta. Sebagai orang bola, lelaki asal Sumatera Utara tersebut tahu betul siapa yang bisa main bola dan siapa yang hanya sekedar cari keringat.
Tapi, sekarang memang agak susah untuk bertemu dan bisa bercengkerama dengan Djohar. Jabatannya sebagai ketua umum PSSI yang menjadi pagar pembatas antara dia dan aku. Apalagi, kini, dia menjadi tumpuan jutaan orang untuk bisa kembali mengangkat prestasi sepak bola Indonesia setelah sebelumnya terpuruk di era Nurdin Halid.
Memang, saya menyadari bahwa beban tersebut terasa sangat berat. Tapi, sebagai orang yang pernah dekat dengannya, saya ingin Djohar mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Sayang, saat bertemuan tersebut, saya tak sempat berfoto bersama. Hanya, tetap terselip kebanggaan, bahwa Djohar yang dulu selalu bersama saya di KONI Pusat, kini telah jadi orang nomor satu di PSSI. Semoga sukses. (*)

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 26/07/2011
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com