www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 26 Juli 2011

Jangan Sampai Mementik Perang Baru

KITA belum lupa dengan momen Piala AFF 2010. Indonesia mampu lolos ke final dalam even sepak bola yang diikuti oleh negara-negara di Asia Tenggara tersebut.
Ini membuat animo masyarakat kepada timnas Indonesia menjadi begitu besar. Demam kepada Christian Gonzales dkk pun merambah di seluruh penjuru tanah air, dari anak-anak hingga dewasa. Melihat orang memakai seragam Merah Putih pun sudah menjadi hal yang biasa. Padahal, sebelumnya, penggemar bola sepak di negeri ini lebih suka memakai kostum tim-tim atau pun negara manca.
Ironis memang. Kebanggaan kepada Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, sungguh sangat rendah. Tapi, setelah timnas Indonesia lolos, ada perubahan yang sangat signifikan. Perjuangan para pemain di lapangan dan dukungan suporter memang perlu diapresiasi.
Hanya, kita juga tak boleh melupakan sosok Alfred Riedl. Lelaki asal Austria tersebut mampu meracik pemain dari berbagai klub dan berbagai karakter untuk bisa menjadi satu, berjuang demi mengangkat Merah Putih.
Kita pun tak akan lupa dengan ketegasnnya saat mencoret Boaz Solossa. Padahal, penyerang asal Persipura Jayapura tersebut lagi on fire di ajang Indonesia Super League (ISL). Pro-kontra mewarnai tak dipakainya striker andalan Mutiara Hitam, julukan Persipura, tersebut.
Riedl, yang pernah menangani Vietnam, lebih memilih pemain yang patuh dan punya disiplin tinggi. Pelatih berusia 61 tahun tersebut mempercai Irfan Bachdim sebagai pengganti Boaz. Padahal, sebelumnnya, pemain yang lama tinggal di Belanda tersebut kurang diperhatikan sebelumnya. Dia pun baru kali pertama berlaga di kompetisi sepak bola Indonesia bersama Persema Malang, setelah sebelumnya tak masuk di Persija Jakarta dan Persib Bandung.
Pilihan lelaki kelahiran Wina 2 November 1949 tersebut tak salah. Irfan moncer di Piala AFF. Dia pun jadi pujaan baru di blantika sepak bola Indonesia. Meski, akhirnya Indonesia gagal menjadi juara setelah kalah selisih gol dari Malaysia dalam laga final.
Harapan tinggi pun diberikan kepada Riedl. Dia ditarget mampu membawa Indonesia berprestasi dalam SEA Games 2011 yang dilaksanakan November mendatang. Kerinduan akan keping berharga di pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut diletakkan di pundak lelaki yang tercatat pernah membela klub Belgia Standard Liege. Kali terakhir emas dari sepak bola digapai pada 1991.
Riedl pun melaksanakan kepercayaan yang diamanatkan kepadanya. Dia mulai memantau talenta-talenta muda yang tersebar di klub-klub peserta kompetisi. Sayang, di tengah jalan, badai mengguncang persiapan yang dilakukan Riedl. Kompetisi di Indonesia terbelah dengan lahirnya Liga Primer Indonesia (LPI).
Ini ditambah dengan ribut-ribut pemilihan ketua umum PSSI. Setelah kegagalan memilih orang nomor satu di induk organisasi sepak bola di Indonesia tersebut di Pekanbaru, Riau, dan dilanjutkan di Jakarta. Akhirnya, Kongres Luar Biasa (KLB) di Solo bisa berakhir tanpa keributan dan memilih Djohar Arifin Husin sebagai pengganti Nurdin Halid yang banyak dikritik insan dan masyarakat sepak bola nasional karena gagal memberikan prestasi . Terpilihnya Djohar juga dianggap sebagai kemenangan sepak bola Indonesia. Bukan kemenangan dua kubu yang bersebarangan, Kelompok 78 dan Kelompok Nurdin.
Dengan terpilihnya Djohar, Riedl pun tentu berharap bisa kembali melanjutkan kerjanya. Tapi, tak ada angin, tak ada hujan, sosok yang dikenal dekat dengan para pemain tersebut tak bisa memoles Pasukan Garuda pada kualifikasi Piala Dunia dan SEA Games. Oleh PSSI mulai 14 Juli.
Alasannya, Riedl diberhentikan karena kontraknya tidak jelas. Dia tidak kontrak dengan PSSI. Tak hanya Riedl yang dilengserkan, tapi juga tim pelatih, Wolfgang Pikal, Widodo C. Putro, dan Edi Harto.
Gantinya, PSSI menunjuk pelatih asal Belanda Wilhelmus "Wim" Gerardus Rijsbergen, yang menangani tim LPI. Selain itu, pergantian juga trerjadi di sektor manajer. Iman Arif digantikan Ferry Kodrat, CEO Persibo Bojonegoro yang juga berlaga di LPI.
Padahal, momen persiapan kualifikasi Piala Dunia dan SEA Games bisa menjadi awal rekonsiliasi dua kubu. Toh tak salah, jika pihak yang membayar Riedl masih mau melanjutkan niatnya. Alangkah indahnya kalau itu terjadi.
Kita yang sudah bosan dengan ontran-ontran selama pemilihan ketum PSSI, tentu tak mau kembali disuguhi cerita yang sama di kasus timnas. Apalagi, Riedl bukan sosok yang cela di masyarakat meski Wim pun juga tak bisa dipandang sebelah mata dengan pengalamannya baik sebagai pemain maupun pelatih. Dengan adanya dua sosok dari satu kubu, bisa jadi kemenangan sepak bola Indonesia di KLB lalu bisa menjadi kabur.Balas dendam dari kubu yang merasa dipinggirkan jangan sampai terjadi. Jangan sampai pula pergantian Riedl membuat lahirnya “perang” baru.
Masyarakat hanya mau sepak bola Indonesia ini berprestasi dan memberi kebanggaan. Seperti yang pernah disuguhkan Riedl di Piala AFF meski hanya menjadi runer-up. Kini, setelah tak ada Riedl, kita pun kembali berharap, Wim bisa juga memberikan kebanggaan. (*)

Catatan ini pernah keluar di Harian Jawa Pos pada 15 Juli 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com