www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kamis, 28 Juli 2011

TERNYATA, MASIH BUTUH SUARA DARI LUAR JUGA

SEPAK bola Indonesia mulai mendekati normal. Kok mendekati? Ya, karena ontran-ontran pergantian ketua umum sudah selesai dengan terpilihnya Djohar Arifin Husin menggantikan Nurdin Halid.
Tapi, itu belum bisa dikatakan normal 100 persen. Sebab, Djohar belum mengumumkan kabinetnya secara resmi dan komplet. Meski, santer terdengar bahwa kepengurusan nanti diisi orang-orang yang sukses mengantarkan mantan Sekjen KONI Pusat itu duduk sebagai PSSI 1.
Sebenarnya tidak semua pengurus di era Nurdin mendapat cap buruk. Tapi, tetap menjadi hak Djohar untuk memilihnya. Bagi masyarakat pun, yang penting mereka jujur, bersih, dan netral. Yang juga tak kalah peting, mereka mampu membawa sepak bola Indonesia menuju prestasi yang lebih baik daripada di era Nurdin.
Saat era Nurdin, kegagalan sudah menjadi hal biasa. Emas SEA Games pun menjadi hal yang susah digapai. Penggemblengan pemain dengan model PSSI Primavera-Barreti di Italia atau di Belanda dilakukan saat menghadapi Asian Games 2006. Namun, hasilnya nol besar. PSSI Primavera-Barreti gagal membawa Indonesia juara SEA Games, juara Asia, ataupun lolos ke Piala Dunia. Sementara, meski telah memakai pelatih top Belanda Foppe de Haan, Indonesia sudah tersungkur di babak kualifikasi Asian Games 2006.
Ini bisa jadi merupakan tantangan bagi Djohar. Dia harus pas memilih sosok yang bisa menjadikan sepak bola Indonesia lebih maju. Tentu, sistem kompetisi yang akan dipakai juga memegang peran utama.
Hanya, saat ini ada dua kompetisi yang belum ada jalan keluarnya. Satu sistem dipakai sebelumnya, dengan Indonesia Super League (ISL) sebagai puncaknya. Satu sistem lagi adalah LPI (Liga Primer Indonesia). LPI merupakan kompetisi yang digagas oleh mereka yang kecewa dengan kompetisi lain.
Tentu, menggabungkan dua sistem tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kompetisi dengan puncak ISL harus dilalui para peserta dengan sistem yang panjang dan berliku.
Mereka harus memulai dari Divisi III, Divisi II, Divisi I, hingga Divisi Utama. Sebuah tim Divisi III, yang kalau setiap musim promosi, butuh waktu tiga tahun. Tapi, tidak semua tim bisa beruntung dengan naik setiap tahun. Persaingan sudah sangat ketat.
Tim yang berjuang keras dari bawah tentu bisa iri kalau melihat tim LPI bisa langsung berada di level teratas kompetisi di negeri ini. Dalam aturan, saya tak membela siapa pun, klub baru yang berada di naungan PSSI harus memulainya dari Divisi III, kecuali klub tersebut melakukan merger.
Namun, klub LPI tentu juga tak mau memulai dari Divisi III. Dengan materi pemain dan pendanaan yang ada, mereka ingin eksis, tapi di level atas.
PSSI harus bisa mencarikan solusi. Eh, tahu-tahu ada berita bahwa induk organisasi sepak bola di Indonesia tersebut mau berkonsultasi dengan AFC (Federasi Sepak Bola Asia) atau FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional). Ini membuat saya teringat ramai-ramai menjelang Kongres Luar Biasa (KLB) untuk menunjuk ketua umum PSSI. Saat itu, banyak terdengar suara.
”Kita ini negara merdeka. Jangan mau diintervensi.” Artinya, Indonesia dengan PSSI sudah bisa menentukan segala kebijakan tanpa ada saran atau masukan dari pihak luar. Tapi, sekarang semuanya berubah. Akhirnya, kita tetap harus mendengarkan suara dari luar.
Bagaimanapun, jika itu menjadi jalan yang terbaik, saran dan masukan tetap dibutuhkan. Muaranya hanya satu, membawa sepak bola Indonesia ke arah yang lebih baik. (*)

Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos pada 28 Juli 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com