www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

MONUMEN YANG BERADA DI SIMPANG JALAN



DI MASA KECILKU, di era 1980-an, masuk Stadion Sriwedari merupakan sebuah impian. Saya harus bersepeda sejauh hampir 8 kilometer untuk bisa sampai di stadion yang berada di tepi Jalan Slamet Riyadi tersebut.
Saking keinginan yang kuat, saya pun harus menaiki sepeda kecilku untuk bisa mengintip kondisi lapangan saat itu. Saya pun sempat berdecak kagum melihat hijaunya rumput stadion yang dipakai pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) I 1948 tersebut. Barulah setelah menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sudah bisa masuk ke Stadion Sriwedari.
Tentunya, saya masuk dengan membeli tiket pertadingan Arseto Solo, yang sejak 1985 sudah menjadikan Stadion Sriwedari sebagai kandangnya. Harga tiketnya Rp 1.500 untuk tribun tertutup. Saya membelinya dari uang jajan yang saya sisihkan.
Kekaguman saya pun menjadi-jadi saat kali pertama melihat langsung kondisi stadion. Rumput yang hijau terhampar dengan tribun penonton dari kayu yang kukuh meski hentakan kaki ribuan penonton selalu bergema saat pemain Arseto mencetak gol atau nyaris mencetak gol.
Kebahagiaan saya pun semakin lengkap ketika kali pertam menginjak rumput stadion pada pertengahan 1990-an saat saya diajak rekan dekat berlatih bersama PS Pemda Solo di sana setiap Jumat pagi. Demi bisa merasakan nikmatnya menginjak rumput Stadion Sriwedari, saya rela absen di jam-jam awal kuliah.
Sayang, lambat-laun kondisi Stadion Sriwedari semakin memprihatinkan. Apalagi, setelah Arseto Solo bubar pada 1998 karena krisis sosial dan ekonomi yang menyerang Indonesia. Setiap klub dengan mudahnya bisa menginjak rumput stadion asalkan mereka berani membayar uang sewanya. Kondisi semakin diperparah dengan seringnya lapangan Stadion Sriwedari untuk kegiatan pentas musik (baca konser). Besoknya, pasti lapangan Stadion Sriwedari langsung rusak bak kandang kerbau.
Tapi mau bagaimana lagi. Demi masuknya uang perawatan dan membiayai aktivitas karyawan, uang masuk sangat dibutuhkan. Pemkot Solo pernah melalukan renovasi lapangan. Memang, kondisinya membaik. Tapi, perawatannya pun juga susah.
Dari daftar penyewanya, stadion yang bisa menampung 10 ribu penonton tersebut nyaris tak pernah longgar. Mulai dari klub hingga instansi berebut memakai stadion yang dibangun pada era Raja Paku Buwono X pada 1933 tersebut.
Namun, ada lagi yang membuat Stadion Sriwedari bisa hilang dari peredaran. Saat ini, tempat tersebut menjadi sengketa Pemkot Solo dengan RMT Wiryodiningrat.

Terlepas dari argumen yang dimiliki baik Pemkot Solo dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional (BPN) maupun ahli waris RMT Wiryodiningrat, kenyataannya sengketa ikut membuat stadion juga kurang terurus. Kita hanya berharap, siapa pun pemenangnya, Stadion Sriwedari tetap ada karena sudah menjadi milik negeri ini sebagai Monumen PON I. Semoga. (*)

Tulisan ini dibuat di Solo pada 30 Agustus 2011

Read More

SAKSI BISU KEJAYAAN ARSETO SOLO


PINTU sebuah bangunan besar di kawasan Kadipolo, Solo,pada 29 Agustus 2011 lalu tertutup rapat. Awalnya, sempat kesusahan juga bagaimana caranya untuk bisa masuk.
Tapi, setelah digoyang-goyang sedikit, pintu tersebut bisa dibuka. Tampaklah sebuah lapangan bola yang nyaris gundul. Rumput yang tumbuh pun sudah coklat warnanya.
Ya, tempat tesebut merupakan bekas mess Arseto Solo. Memang, tempat tersebut bukan tempat pertama Arseto menjadikannya sebagai mes. Sebelumnya, tim juara Galatama itu sudah menemati mes di Jalan Adi Sutjipto Jajar dan sebuah bangunan besar di kawasan Sidokare. Hingga akhirnya pihak manajemen memilih mes Kadipolo sebagai tempat para pemain Arseto menjalankan aktivitasnya.
Dulunya, lapangan di Kadipolo tersebut sangat elok. Rumputnya hijau terawat karena setiap hari dipakai latihan oleh klub yang dulunya termasuk bergengsi baik di era Galatama ataupun Liga Indonesi sebelum akhirnya Arseto bubar pada 1998 saat terjadi krisis sosial dan politik.Ini dikarenakan Elang Biru, julukan Arseto, merupakan klub kepunyaan penguasa Orde Baru Soeharto. Memang bukan Soeharto langsung tapi anaknya, Sigit Hardjojoedanto.
Sebelum dipakai mess Arseto, tempat tersebut merupakan bekas rumah sakit bagi penderita kelainan jiwa. Ini pula yang membuat seringnya cerita mistik yang mengiringnya. Dari suara kereta pasien hingga makhluk menembus tembok.
Mess Arseto letaknya di Jalan Dokter Radjiman atau di depan Kelurahan Panularan. Bangunan ini berada di atas tanah seluas 2,5 hektare dan didirikan pada masa pemerintahan Raja Kraton Surakarta Paku Buwono (PB) X.

Awalnya, bangunan ini dibangun khusus untuk poliklinik para abdi dalem kraton.Pada 1976, terjadi pemindahan pasien Rumah Sakit Kadipolo ke Rumah Sakit Mangkubumen dan di sana berdiri Sekolah Pendidikan Keperawatan. Tapi kampus ini hanya bertahan lima tahun dan terjadi pengosongan Rumah Sakit Kadipolo. Sejak 1985, bangunan-bangunan tua itu menjadi milik Arseto sebagai mes pemain.Arseto sendiri berdiri di Jakarta 1978. Klub Nama Arseyo diambil dari nama dua anak Sigit, Ario dan Seto.
Di samping lapangan, dulu juga terdapat kamar-kamar yang menjadi tempat tidur para pemain. Ruangannya pun rapi dan juga ada meja makan buat para pemain mengisi perut.
Tapi sekarang, semua ruangan tersebut telah berubah total. Kamar-kamar tersebut ditumbuhi tanaman liar.Genting di atas pun sudah reot dan banyak yang pecah.
Sekarang, untuk masuk pun tak bisa dari depan ataupun jalan samping yang lebih lapang. Semuanya sudah tertutup. Lapangan pun dipakai untuk berlatih anak-anak yang bergabung dalam sebuah sekolah sepak bola.Kadang sesekali disewakan tim lain. Wajar kalau lapangannya pun tak ada rumput yang layak karena terus dipakai dan tanpa dilakukan perawatan.
Bahkan, kabarnya bekas mess Arseto tersebut telah dibeli sebuah perusahaan tekstil. Bisa jadi, tak lama lagi tempat tersebut bakal berdiri mall. Mess Kadipolo pun tinggal kenangan dan hanya ada dalam cerita tanpa bisa dilihat lagi bentuk aslinya. (*)

*Tulisan ini dibuat di Solo pada 31 Agustus 2011
Read More

HARTONO RUSLAN, KESETIAAN TIADA BATAS


DI ITALIA,sosok Franco Baresi dan Paolo Maldini akan selalu dikenang. Keduanya mampu membawa timnas Italia selau disegani di kancah internasional. Bahkan, Baresi dan Maldini sempat dipercaya sebagai kapten timnas negaranya tersebut.
Tapi, ada yang lebih di kedapankan dari keduanya. Dua pemain yang sama-sama beroperasi sebagai pemain belakang tersebut setia membela klubnya, AC Milan. Meski, Baresi dan Maldini selalu digoda untuk pindah klub.Bahkan, sampai pensiun, keduanya tetap membela klub berjuluk Rossoneri tersebut.
Di Indonesia pun juga ada. Siapa? Hartono Ruslan namanya. Memang agak asing bagi penggemar sepak bola nasional. Wajar karena aktif sebagai pemain di era 1980-an hingga awal 1990-an. Satu-satunya klub yang dibelanya saat terjun sebagai pemain professional hanya Arseto.
“Sebenarnya, saya juga pernah membela klub lain yakni Persema Malang. Tapi,itu masih di junior dan belum masuk professional,” kata Hartono saat ditemui di rumahnya di kawasan Banyuanyar, Solo,pada 29 Agustus 2011.
Dia membela Persema karena Malang merupakan kota kelahirannya. Setelah itu, dalam usia yang sangat muda, 20, Hartono berani meninggalkan Kota Dingin, julukan Malang, untuk mengembangkan karir sepak bolanya.
“Saya selalu diajak Pak Lekan (Solekan, pelatih sepak bola papan atas Indonesia, red),” jelas Hartono.
Kali pertama membela Arseto pada 1981 saat klub kepunyaan putra mantan presiden Soeharto Sigit Hardjojoedanto tersebut masih berada di Jakarta.Dia pun langsung nyetel dengan pemain lama Arseto.
Hanya, di awal karirnya tersebut, dia belum mempunyai posisi yang pas. Semua posisi di belakang pernah dipercayakan kepada lelaki kelahiran Malang 1960 tersebut. “Bek kanan, bek kiri, hingga stopper saya jalani. Hingga akhirnya menemukan posisi yang pas sebagai libero/stopper,” lanjut Hartono.
Bahkan, sampai pensiun pada 1992, dia tak tergantikan sebagai pemain belakang. Dia pensiun setelah Arseto mendatangkan pemain-pemain binaan PSSI Garuda yang ditempa di Eropa. “Saya tidak mau dianggap menghambat regenerasi,” tambah Hartono.
Saat dia pensiun, Arseto memang telah mempunyai Sudirman dan Imron As’ad serta Anshar Ahmad. Trio ini mempunyai tenaga yang lebih dibandingkan Hartono yang usianya telah merambat tua.
“Saya minder kalau saingannya pemain yang posturnya besar besar,” jelas Hartono sambil terkekeh-kekeh.
Karirnya sebagai pemain di Arseto selama 10 tahun telah memberikan prestasi juara Galatama pada 1991. Sebelumnya, juara Piala Liga 1985 pun diberikan kepada klub yang mempunyai kostum kebesaran biru muda tersebut.
Ternyata, setelah pensiun, Hartono tetap berada di Arseto. Dia dipercaya menangani pemain muda yang dibina dalam Diklat Arseto. Hanya, saat dia menangani Diklat tersebut, dia beberapa kali sempat ditawari kembali menjadi pemain karena kemampuannya yang masih dianggap berlaga di level Galatama ataupun Liga Indonesia, setelah Galatama melebur dengan perserikatan.
“Saya tolak karena malu. Saya juga sudah mulai enjoy mendidik pemain muda,” kenang Hartono.
Di tangannya pemain muda Diklat Arseto tersebut meraih runner-up Piala U-15 PSSI. Ini yang membuat dia pun dipromosikan sebagai asisten pelatih senior. Di Arseto, dia sempat berkolaborasi dengan Dananjaya, Sinyo Aliandoe, Salam Sadimin, Sartono Anwar dan yang terakhir Tumpak Sihite.”Saya juga sempat jadi pelatih kepala pada 1996. Tapi, saya mengundurkan diri karena pemain yang memberikan kesan yang bagus kepada saya karena mayoritas pemainnya merupakan pemain nasional,” ungkap Hartono.
Bubarnya Arseto pada 1998 karena kerusuhan social dan politik membuat dia sempat limbung. Hartono memutar otak agar asap dapurnya tetap mengepul.
“Saya terima tawaran menangani klub Indonesia Muda di Sragen. Dari sanalah, saya memulai karir sebagai pelatih di luar Arseto. Memang butuh perjuangan ekstrakeras,” tegas bapak dua anak cewek ini.
Habis Indonesia Muda, PSISra Sragen kepincut dengan Hartono. Hanya, selama menangani Laskar Sukowati, julukan PSISra, tapi gajinya tetap dibayar Indonesia Muda. “Semua saya lakukan karena saya juga tengah merintis karir. Biar ilmu yang saya peroleh di Arseto bisa dipakai di luar juga,” kata Hartono.
Tangan dinginnya di PSISra membuat dia pun dilirik Persis Solo. Bersama Laskar Samber Nyawa, julukan Persis, dia mulai diburu banyak klub. Persibat Batang, Persepar Palangkaraya, Persipon Pontianak, Persela Lamongan, hingga Perseman Manokwari pernah menggunakan jasa dan kemampuannya. “Hanya, klub yang pernah saya bela dan tangani,Arseto tetap yang susah dilepaskan dari kenangan hidup. Banyak hal yang saya peroleh dari sana,” pungkas Hartono. (*)

BIODATA
Nama: Hartono Ruslan
Lahir: Malang 1960
Klub yang pernah dibela: Persema, Arseto
KLub yang pernah ditangani: Diklat Arseto, Arseto, Indonesia Muda Sragen, PSISra Sragen, Persis Solo, Persibat Batang, Persepar Palangkaraya, Persibas Banyumas, Persipon Pontianak, Persela Lamongan, Perseman Manokwari

*Dibuat di Solo pada 29 Agustus 2011
Read More

TIDAK SABAR MENANTI LIGA PROFESIONAL

KEPALA mendadak merasa pusing. Bukan karena sakit yang menyerang saat pada 25 Agustus lalu.
Bukan pula karena memikirkan anakku yang paling kecil yang lagi batuk di rumah. Bagaimanapun, saya tetap yakin anak keduaku bakal sembuh karena sudah saya bawa ke dokter bersama istri pagi harinya.
Ini gara-gara melihat daftar peserta kompetisi terbaru di PSSI. Apalagi, selama ini,induk organisasi sepak bola Indonesia yang baru dibawah kendali Djohar Arifin Husin yang menggantikan Nurdin Halid yang dianggap gagal.
Tentu, dengan embel-embel professional, awalnya berharap kompetisi dengan system baru ini bakal lebih bagus. Bukan lagi kompetisi yang penuh rekayasa dan permainan kotor
Tapi, semuanya menjadi musnah saat PSSI mengumumkan peserta Liga Profesional level 1. Level yang seharusnya hanya untuk klub terbaik tersebut bukan diisi oleh klub-klub yang benar-benar jempolan.
Jumlahnya pun gila-gilaan kalau saya boleh bilang yakni 34 peserta. Memang masih calon karena akan disetorkan ke AFC (Federasi Sepak Bola Asia) untuk ditentukan siapa yang lolos dan siapa yang tidak.
Tapi, saya bilang maksimal separo yang layak berlaga di level tertinggi karena mempunyai sarana dan prasarana yang memadai. Bukan hanya mereka yang punya modal Rp 5 Miliar saja.
Lihat saja masuknya PSIR Rembang, PSCS Cilacap, PS Bengkulu, dan Persipasi. Mereka saya anggap belum layak berada di level teratas.
Bahkan PSIR seharusnya tampil di level amatir karena musim lalu berada di posisi degradasi dari kompetisi kelas II alias Divisi Utama.
Stadion yang dimiliki klub-klub tersebut masih jauh dari memuaskan. Untuk direnovasi pun butuh waktu lama dan biaya besar.
Atau masuknya tim-tim yang belum layak di level teratas tersebut karena balas budi karena sukses mengusung Djohar dan menggusur Nurdin. Biarlah masyarakat yang menilai. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 27 Agustus 2011

34 Klub Calon Peserta Liga Profesional Indonesia:
1. Persipura
2. Arema**
3. Persija **
4. Semen Padang*
5. Sriwijaya FC
6. Persisam
7. Persib Bandung
8. Persiwa
9. Persela
10. Persiba Balikpapan
11. PSPS Pekanbaru
12. Pelita Jaya
13. Deltras
14. Persijap Jepara
15. Bontang FC
16. Persema Malang
17. Persibo Bojonegoro
18. PSM Makassar
19. Mitra Kukar
20. Persiraja
21. PSMS Medan
22. Pro Duta FC
23. Persik Kediri
24. PSIS Semarang
25. PSCS Cilacap
26. Persikota Tangerang
27. Persis Solo
28. Persiba Bantul
29. Persebaya Surabaya**
30. PS Barito Putra
31. PSS Sleman
32. PSIR Rembang
33. PS Bengkulu
34. Persipasi

36 Klub Calon Peserta Kompetisi Level 2:

1.PSAP Sigli
2.Persita Tangerang
3.Persik Tembilahan
4.Persitara Jakarta Utara
5.Persikabo Kabupaten Bogor
6.PSLS Lhokseumawe
7.PSSB Bireun
8.Persires Rengat
9.Persiram Raja Ampat
10.Gresik United
11.Perseman Manokwari
12.PSIM Yogyakarta
13.Persikab Bandung
14.Persemara Tual
15.PPSM Magelang
16.Persidafon Dafonsoro
17.PSBI Blitar
18.Persigo Gorontalo
19.Persiku Kudus
20.Persipro Probolinggo
21.Perseru Serui
22.PSMP Mojokerto
23.PSBS Biak
24.Persibul Buol
25.Persepam Pamekasan
26.PSBL Langsa
27.Persinjai
28.Madiun Putra
29.Persewangi
30.Persip Kota Pekalongan
31.PSBK Blitar
32.KSB Sumbawa Barat
33.Persetema Temanggung
34.Persid Jember
35.Persepar Palangkaraya
36.PSGL Gayo Leus


** Arema, Persija, dan Persebaya ditunggu penyelesaian internalnya dan PSSI akan mengundang pihak terkait.
-Liga profesional Indonesia Level 1 akan dibagi dalam dua grup. Masing-masing grup berisi 16 klub. Total peserta kompetisi 32 klub.
-Kompetisi Liga Profesional level 2 akan dibagi dalam 4 grup dengan masing-masing grup berisi 12 klub. Total peserta kompetisi 48 klub.
-Karena level 2 masih butuh 10 klub tambahan untuk memenuhi kuota tersebut, PSSI masih membuka kesempatan kepada 10 klub dari Divisi I di luar klasemen musim lalu untuk ikut pada kompetisi level 2. Dengan catatan, klub itu dapat memenuhi syarat yang telah diwajibkan (berbadan hukum PT).
Read More

HOBI YANG HABISKAN MILIARAN RUPIAH


SOSOK ini bisa dikatakan misterius. Dia sudah dua puluh tahun terjun di sepak bola. Tapi, dia juga tak mau sering muncul di permukaan. Beda dengan orang yang lain yang lebih suka disanjung dan gila publikasi.
Ya, dia adalah Michael Pranyoto Sanjaya. Dia lebih senang berkutat dengan klub binaannya, Suryanaga, anggota internal Persebaya Surabaya.
“Ngapain ditonjol-tonjolkan. Sepak bola sudah menjadi hobi bagi saya,” kata Michael saat ditemui.
Padahal, selama menangani sepak bola, dia sudah miliaran rupiah keluar dari kantongnya. Tapi, dia tak mengambil satu sen pun uang dari kiprahnya di Suryanaga.
Alasannya, dia sudah mempunyai penghasilan yang sangat besar yakni bisnis kayu. Menurutnya, bisnis tersebut bisa menghasilkan miliran rupiah setiap bulannya. Apalagi, dia mempunyai dua pabrik di Gresik dan Samarinda.
Pabriknya di Gresik termasuk luas. Bisa jadi empat kali lapangan bola. Hanya, dengan gayanya yang khas, pria yang tetap merasaikan usianya tersebut menegaskan pabriknya di Samarinda, Kalimantan Timur, empat kali lebih luas. Itu artinya, luasnya delapan kali lapangan bola. Wow..
Bahkan, bisnis yang penghasilannya bisa puluhan juta yakni ikan koi tetap dianggapnya sebagai hobi. Dari ikan koi saja, sekarang Michael bisa menghidupi Suryanaga. Padahal, pemain yang dibinanya puluhan dan setiap hari harus memberi mereka makan dan uang saku tiap bulan plus bonus kalau menang dalam pertandingan internal. Hebatnya lagi, dia tak hanya mengelola Suryanaga.
Ada satu klub lagi yang harus dibinanya yakni Setia Naga Kuning. Dedikasi Michael kepada sepak bola pun telah melahirkan pemain-pemain papan atas di pentas sepak bola Indonesia. Sebut saja Supaham, penyerang senior yang pernah membela Persebaya, Persija Jakarta, dan Persita Tangerang. Ada juga Ronny Firmansyah, gelandang elegan yang berbaju Arema Indonesia. Kini,hampir separo klub level I dan II terdapat pemain binaan Michael.
“Kalau saya ambil uang dari mereka, kekayaan saya pasti bertumpuk. Saya hanya niat membantu anak-anak bisa hidup lebih baik,” ungkap Michel.
Dia pun tak tahu kapan akan pensiun. Baginya, meski hobi, sepak bola susah dilepaskan dari kehidupannya. (*)

Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 26 Agustus 2011
Read More

GELORA DELTA SAAT MALAM AGUSTUS


GELORA Delta Sidoarjo mulai dikenal sejak 2000. Itu terjadi saat tempat tersebut dipercaya sebagai pembukaan dan penutupan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000.
Namanya mulai sering didengar setelah Kota Udang,julukan Sidoarjo,jadi kandang tim peserta Liga Indonesia Gelora Dewata Bali. Karena pindah kandang, klub yang dimiliki H.Mislan tersebut pun berganti nama menjadi Gelora Putra Delta yang disingkat menjadi GPD.
Nama ini pun tak bertahan lama dan kembali berganti menjadi Delta Putra Sidoarjo (Delta) setelah dikelola Pemkab Sidoarjo. Stadion pun selalu didatangi penonton yang akhirnya membentuk kelompok suporter dengan nama Deltamania.
Setiap tamu yang dating ke Gelora Delta sempat memuji kondisi lapangannya. Rumputnya yang hijau dan fasilitas pendukungnya memang harus diakui jempol. Apalagi, di sekeliling lapangan, ada lintasan atletik yang diperkirakan harganya bisa mencapai miliran rupiah.
Sayang, seiring waktu, kondisi Gelora Delta Sidoarjo bukannya semakin membaik tapi malah sebaliknya. Rumput yang dulunya terlihat hijau kini mulai menguning.
Saat siaran langsung pertandingan Divisi Utama ataupun Indonesia Super League (ISL), lapangan Gelora Delta Sidoarjo terlihat bergelombang. Padahal, untuk membangun stadion yang berada di tengah Kota Udang, julukan Sidoarjo, memakan uang yang tidak sedikit. Miliaran rupiah sudah tersedot di dalamnya.
Bahkan, Gelora Delta sempat mengalami rusak parah saat laga GPD melawan Arema. Suporter yang bertikai merusak beberapa fasilitas stadion.
Terakhir, saat saya datang ke Gelora Delta pada pertengahan Agustus 2011. Saat itu, kondisi lapangan lagi tak terbentuk. Alasannya, lapangan tengah direnovasi sebagai persiapan Deltras menghadapi musim 2011-2012. Tanah di tengah lapangan diaduk-aduk agar nantinya penyerapan air bisa berlangsung bagus. Rencananya, lapangan baru bisa dipakai pada Desember 2011. Ini artinya Gelora Delta belum bisa dilaksanakan pada kompetisi 2011-2012 dimulai. Ini disebabkan kompetisi yang rencananya memakai nama Liga Pro tersebut sudah bergulir pada 8 Oktober.
Selain lapangan, atap gelora delta juga direnovasi. Kondisi Gelora Delta di dalam memang tak beraturan. Kalau di luar? Tak jauh beda. Hanya, kalau di luar bukan bagian dari Deltras menghadapi kompetisi.
Jika kita datang le Gelora Delta setiap malam, kita pasti akan geleng-geleng kepala. Kita tak menyangka sedang berada di kawasan olahraga. Kita seperti berada di tengah pasar.
Ya, kalau malam, kawasan Gelora Delta memang dipenuhi pedagang kaki lima (PKL). Mereka merupakan pindahan dari Alun-Alun Sidoarjo yang kena penertiban. Dari pedagang makanan, kaos, hingga mainan anak-anak. Saya pun tak membayangkan jika nantinya lapangan sudah bisa dipakai Deltras bertanding di kompetisi dan dilaksanakan malam hari. Bisa-bisa bakal ruwet dan tak menutup kemungkinan terjadi keributan. Semoga saja prediksi saya tak terjadi. (*)


*Tulisan ini dibuat pada 25 Agustus 2011
Read More

MENEMBUS MARKAS BAYERN MUNCHEN

BAGI penggemar sepak bola, semua tahu Bayern Munchen. Klub tersebut merupakan klub raksasa dari Jerman.
Sejak kecil, Bayern merupakan klub pujaan saya. Di era 1980-an, nama Karl-Heinz Rummenigge jadi idola dari barisan pemain.
Wajar kalau saat mendengar saya ada tugas ke Munchen, tempat latihan Bayern menjadi bidikan saya. Setelah ke Stadion Olimpiade Munchen, stadion final Piala Dunia 1974, kemudian ke Stadion Allianz Arena, stadion pembukaan Piala Dunia 2006. Nah, setelah keduanya sudah, tempat latihan Bayern Munchen juga harus bisa datangi.
Tidak susah menanyakan lokasi di mana tim tersebut menempa diri. Apalagi, David, teman saya yang kebetulan bertemu di dekat Stasiun Munchen, juga tahu.
Dia hanya menunjukkan dengan apa saya bisa sampai ke sana. Nah, akhirnya kesempatan tersebut datang juga pada 30 Juni lalu.
Saya harus berangkat awal karena Sabaner, tempat latihan Munchen, agak jauh jika ditempuh dari stasiun kereta api terdekat.
Untung, warga Jerman tetap ramah seperti yang saya kenal dua hari di Munchen. Dengan tanya sana dan sini, saya pun sampai juga.
Saat itu, suasana masih sepi. Wajar karena latihan memang tengah libur. Para pemainnya banyak yang masih atau baru saja membela negaranya dalam Euro 2008 atau Piala Eropa 2008.
Para pemain Bayern yang membela timnas Jeman sorenya pun masih turun ke lapangan untuk menghadapi Spanyol di laga final di Wina, Austria. Meski masih sepi, tapi hati saya sudah berbunga-bunga bisa sampai ke sana.
Pintu masuk utama ke tempat latihan tertutup. Saya sempat kecewa. Untung, seseorang mengajak saya masuk.
Dengan percaya dirinya, dia langsung masuk. Ternyata di tas yang dibawanya, dia membawa bola. Saya heran juga. Akhirnya saya pun tahu, ternyata dia penggemar berat Bayern yang memang (maaf semoga saja tebakan saya benar) kurang waras. Kalau mengingat kejadian itu, saya masih sering tersenyum sendiri.
Oh ya, tempat latihan Bayern terdiri dari empat lapangan yang kualitas rumputnya sungguh jempolan. Saya juga mengetahui ada mes bagi pemain junior. Sayang, saya tak bisa berlama-lama di dalam karena petugas tempat latihan menyuruh saya keluar.
Saat berada di luar, saya sempat berbincang dengan penggemar berat Bayern yang tinggalnya juga di Sabener. Dia memberitahukan, besok (1/7/2008), bakal menjadi waktu latihan perdana Bayern dibawah komando pelatih baru Jurgen Klinsmann.
Saya sempat berjanji bakal datang lagi. Sayang, esoknya, saya batal datang karena takut terlambat sampai di Wina, Austria, tempat saya dan teman-teman berkumpul lagi setelah berpisah hampir sebulan meliput Euro 2008.
Penyesalan itu memang tak bisa dihapus. Tapi, paling tidak, saya sudah pernah datang dan masuk ke tempat latihan Bayern Munchen, klub idola saya sejak kecil bahkan hingga sekarang. (*)

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 23 Agustus 2011

Read More

MASUK KE STADION IMPIAN


SAYA selalu punya kenangan kalau Bayern Munchen berlaga di Allianz Arena. Bukan hanya karena saya fanatik dengan tim asal Bavarian tersebut.
Tapi, saya serasa baru saja datang ke stadion tempat pembukaan Piala Dunia 2006 tersebut. Padahal, saya sudah tiga tahun lalu saya menginjakkan kaki di Alianz Arena.
Ya, pada 29 Juni lalu, saya datang ke Jerman atas penugasan di tempat saya bekerja dalam rangka liputan Euro 2008 (Piala Eropa 2008). Sebenarnya, even sepak bola terbesar di Benua Biru, julukan Eropa, tersebut dilaksanakan di Austria dan Swiss.
Saya bisa ke Jerman karena negara tersebut lolos ke final untuk bersua Spanyol. Sayang, memang akhirnya Jerman kalah 0-2 dari Negeri Matador, julukan Spanyol.
Tapi, hasil tersebut tetap tak mengurang kekaguman saya kepada atmosfer sepak bola Jerman, khususnya Munchen. Pada hari pertama (28/6), saya memang berkesempatan datang ke Stadion Olimpiade. Stadion ini tak kalah punya sejarah karena pernah menjadi tempat penyelenggaraan final Piala Dunia 1974. Hebatnya, saat itu, Jerman, yang masih bernama Jerman Barat karena terpisah dengan Jerman Timur, mampu menang di final setelah mengalahkan Belanda dengan skor 2-1 (7/7/1974).
Dalam laga pemungkas itu, Jerman sempat tertinggal dulu saat Negeri Kincir Angin, julukan Belanda, melalui gol Johan Neeskens pada menit ke-2 dari tembakan penalti. Tapi, gol Paul Breitner menit ke-25 juga dari titik penalti serta Gerd Muller menit ke-43 membuat pendukung tuan rumah bersorak.
Meski sudah tua, tapi Stadion Olimpiade tetap terawat dengan baik. Mungkin berbeda dengan stadion di Indonesia, yang makin tua makin tidak terawat he he he he.
Saya datang ke Allianz Arena dengan naik kereta api dari Stasiun Munchen, yang tak jauh dari saya menginap. Saya membeli tiket tiga hari karena saya sesuaikan dengan rencana saya menginap di kota tersebut.
Saya turun di stasiun yang paling dekat dengan Stadion Allianz Arena. Dari stasiun memang sudah terlihat megahnya stadion yang bisa menampung 69 ribu penonton tersebut.
Memang harus berkeringat untuk bisa menjangkaunya. Kira-kira jarak stasiun ke stadion sekitar 3 kilometer lebih dan waktu itu melewati ilalang.
Sampai di sana, Allianz Arena masih tutup karena masih pukul 09.00. Saat itu, stadion yang memakain biaya 30 juta Euro tersebut baru buka satu jam kemudian.
Saya menunggu di luar. Untung, saya kenal dengan keluarga warga Jerman (sayang saya sudah lupa namanya). Keluaga itu akhirnya masuk bersama saya ke dalam stadion dengan membayar 10 Euro.
Kali pertama masuk, kami dibawa ke kafe tempat penonton. Ternyata, ada dua kafe di dalam stadion megah itu. Bagi penonton ekonomi, kursi dan mejanya terbuat dari kayu. Sementara, yang kelas VIP, sudah layaknya restoran kelas atas.
Setelah itu, rombongan dibawa masuk ke tribun penonton. Oleh guide, kami dibawa ke tribun penonton, mulai dari tribun kelas ekonomi hingga tribun VIP serta VVIP. Kami pun juga diberi kesempatan berteriak layaknya saat mendukung Bayern Munchen.
Usai dari tribun, kami masih dibawa ke lorong pemain. Di sana, kami masuk ke ruang ganti pemain Bayern serta tamu. Saya sempat terkesima saat melihat ada kolam renang mini di dalam ruang ganti. Saya pun sempat berdecak kagum. Di akhir perjalanan, kami masuk ke toko souvenir Bayern Munchen. Saya menyempatkan membeli topi pemain pujaan saya di klub tersebut, Bastian Schweinteiger.
Pengalaman yang sangat berharga. Hanya, saya belum bisa masuk lansung saat ada pertandingan di stadion yang diresmikan 30 Mei 2005 itu. Siapa tahu adan rezeki dan kesempatan, kata saya dalam hati. ..(*)

*Catatan ini dibuat di Surabaya pada 23 Agustus 2011
Read More

SOEPANGAT, LEGENDA DARI STADION TAMBAKSARI



KENALKAH Anda dengan Soepangat? Jika Anda sering dating ke Gelora 10 Nopember, Surabaya, untuk menyaksikan Persebaya Surabaya bertanding, tentu sangat kenal. Bahkan, ada yang lebih kenal. Tapi, bukan dalam hal sosoknya tapi suaranya.
Wajar itu. Soepangat merupakan pembawa acara setiap kali Green Force, julukan Persebaya, turun ke lapangan. “Profesi ini sudah saya jalani sejak 1973. Jadi, sudah banyak orang yang hafal dengan suara saya,” kata Soepangat saat diteemui di Mes Persebaya, Karanggayan, Surabaya,pada 18 Agustus 2011.
Perkenalannya dengan pembawa acara pertandingan Persebaya tak lepas dari pekerjaannya sebagai penyiar sepak bola di Radio Gelora Surabayaa (RGS). Lokasi tempatnya bekerja pun juga berada di Gelora 10 Nopember yang menjadi kandang Persebaya. “Kerja di RGS pun dulunya iseng-iseng saja karena saya belum dapat pekerjaan setelah lulus SMA,” kenang lelaki yang kini berusia 61 tahun tersebut.
Ya, Soepangat lulus SMA pada 1969. Keterbatasan dana membuat dia tak bisa melanjutkan menuntut ilmu lebih tinggi atau kuliah. Dia sempat melamar k sebuah perusahaan penerbangan yang membuka lowongan pramugara. “Say abaca lowongan itu saat jalan-jalan di Tunjungan. Saya kemudian tertarik melamarnya. Itu kali pertama dan terakhir saya melban amar pekerjaan. Saya tunggu lama pun tidak ada jawaban soal lamaran saya itu,” kenangnya.
Dia pun sempat bekerja serabutan. Hingga akhirnya, dia main ke RGS yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
“Saya hanya main-main.Ini membuat saya akrab dengan orang-orang RGS. Mereka pun sering meminta tolong saya untuk membantu setiap kegiatan RGS,”jelas Soepangat.
Bahkan, dia pun mulai disuruh untuk membantu dalam hal menyiarkan program RGS. Gara-garanya pun unik. “Penyiar RGS kan banyak yang pacaran. Pas kalau pacaran, saya disuruh untuk menggantikan mereka pada 1971,” lanjutnya sambil terkekeh.
Lama kelamaan, Soepangat pun disuruh untuk mengudara. Ini membuat dia mulai percaya diri membawakan acara. “Saat menggantikan Nung yang pindah kerja. Tapi, saya lupa pertandingan pertama yang saya siarkan,” ucap Soepangat.
Hanya, dia mengaku tak grogi. Alasannya, dia sudah biasa melakukannya di RGS. Apalagi, dia juga sudah biasa menghadapi banyak orang.”Saya kan bukan hanya siaran sepak bola. Tinju dan balap motor pun saya jalani.”
Selama puluhan tahun pula dia tak pernah punya takut jika sudah memegang mike di Gelora 10 Nopember. Termasuk juga duel panas derby Jatim antara Persebaya versus Arema.”Selama saya jadi pembawa acara ada 4 pertandingan yang ricuh di Gelora 10 Nopember. Semuanya terjadi saat kompetisi sudah memasuki era Liga Indonesia, bukan di zaman perserikatan atau Galatama,” ungkap suami dari Pudjiatmi ini.
Soepangat pun menegaskan tak pernah menganggap enteng pertandingan. Meski pun, lawan yang dihadapi Persebaya tim yang tak diunggulkan menang. “Karakter tiap pertandingan beda. Saya selalu serius dalam membawakan acara dan bisa mengarahkan penonton agar selalu tertib,” lanjut Soepangat.
Meski sudah ratusan bahkan ribuan pertandingan yang dibawakannya di Gelora 10 Nopember, tapi dia mengaku kesan mendalamnya terjadi bukan di stadion yang juga dikenal sebagai Stadion Tambaksari tersebut.Dia mengalaminya saat ikut rombongan Persebaya di Thailand dalam pertandingan Liga Champions Asia melawan wakil Thailand Krung Thai Bank.
“Itu terjadi pada 2005. Saya menyiarkan langsung pertandingan Persebaya dari luar negeri untuk kali pertama,” tambah bapak tiga anak tersebut.
Menariknya, dia menyiarkan secara langsung laga tim pujaan Bonekmania tersebut melalui handphone. Mekanismenya pun berbeda dengan biasanya.”Saya pinjam HP yang dibawa para pendukung Persebaya yang ikut ke Thailand saat itu. Tiap lima menit, saya ganti HP agar tak terputus siarannya,” ungkap Soepangat.
Dia mengaku siaran langsungnya melalui HP tersebut diikuti oleh para suporter Persebaya.Sekarang, meski sudah 38 tahun menyiarkan pertandingan Persebaya, Soepangat belum mau memutuskan pensiun. Dia tetap ingin bisa memberikan sumbangsihnya kepada tim pujaannya tersebut hingga tak lagi dibutuhkan lagi.
“Saya masih kuat,” tegasnya.
Soepangat pun belum tahu siapa penggantinya kelak. Apalagi, belum ada orang yang belajar langsung kepadanya untuk bisa membawakan pertandingan Persebaya yang selalu heroik. (*)


BIODATA:
Nama: Soepangat
Lahir: Surabaya 5 Mei 1950
Istri: Pudjiatni
Anak:
Dhanny Zally Nursandi
Aditwin Suryawan
Deka Okttriscorin
Karir organisasi :
1973-..: Pembawa acara pertandingan sepak bola dan reporter Radion Gelora Surabaya (RGS)
1978-1982: Wakil Humas Persebaya
1982…: Humas Persebaya
Read More

SUSAHNYA NYANYIKAN INDONESIA RAYA

MEMBELA tim nasional Indonesia tentu menjadi suatu kebanggaan. Ini bisa menunjukkan sebagai bukti dharma bakti kepada bangsa dan negara. Bahkan, mereka siap mati di lapangan.
Sayang, sebelum turun ke lapangan, ada hal yang sangat krusial tapi sering dianggap remeh para penggawa Merah Putih, julukan timnas Indonesia. Apa itu? Menyanyikan lagu kebanggsaan Indonesia Raya.
Kita amati saja pada Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2010 lalu. Saaat kamera mengincar wajah-wajah pemain nasional, beberapa di antaranya memilih diam.Ini tentu sangat ironi. Di saat tenaga dan kemampuannya dibutuhkan membela bangsa dan negara, rasa kebangsaannya (meski dari raut muka dan mimik) tak terlihat.
Padahal, masyarakat yang ada di stadion ataupun yang berada di depan layar kaca, dengan semangat menyanyikan lagu ciptaan Wage Rudolf Soepratman tersebut. Masyarakat berharap agar para pemain bisa menjiawai lagu yang kali pertama berkumandang pada Sumpah Pemuda 28 Oktober tersebut.
Eh, sekarang kejadian tersebut kembali terulang. Saat menghadapi juniornya, timnas U-23 di Stadion Manahan Solo pada 18 Agustus, kembali muka-muka lama tersebut tetap tak mau menyayikan lagu Indonesia Raya. Dengan angkuhnya mereka diam dengan kepalanya tegak.
Memang, untuk mencoret dengan alasan tak menyanyikan lagu Indonesia Raya memang tak logis. Tapi, memberi teguran tentu saja menjadi jalan terbaik. Kita butuh pemain dengan skill tinggi, tapi alangkah baiknya kalau itu dibekali dengan semangat nasionalisme yang menggelora.
Timnas Prancis juga pernah mendapat sorotan karena mayoritas pemainnya hanya diam saat lagu kebangsaan negaranya berkumandang. Rasa nasionalisme mereka pun digugat. Apalagi, banyak dari mereka merupakan imigran dari Afrika. Imbanya, masalah ini pun sempat merembet ke dunia politik.
Kita pun berharap agar kejadian serupa tak terulang di Indonesia. Apalagi, kita sudah menginginkan agar menjauhkan olahraga dari politik. Politik ya Politik, Olahraga ya Olahraga. Hanya, harapan kita semua, pesepak bola Indonesia tetaplah harus menyanyikan Indonesia Raya. Meski, kita tak meragukan keberanian mereka di lapangan. (*)

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 18 Agustus 2011

Read More

UNTUK KEPENTINGAN SESAAT

STADION Manahan, Solo, 8 Januari 2011. Stadion kebanggaan warga Kota Bengawan, julukan Solo, erti penuh sesak. Bukan hanya oleh supporter tapi juga beberapa tokoh penting seperti pengusaha Arifin Panigoro, Saleh Ismail Mukadar, ataupun juga Wali Kota Solo Joko Widodo.
Mereka dating untuk menjadi saksi pembukaan kompetisi yang digadang-gadang menjadi kompetisi professional. Namanya, Liga Primer Indonesia (LPI). Liga ini diikuti oleh 18 tim dari ujung barat Indonesia, Nanggroe Aceh Darussalam dengan Atjeh United, maupun dari ujung timur yakni Papua melalui Cenderawasih Papua.
Hadirnya kompetisi ini pun membuat tim Indonesia Super League (ISL), yang merupakan kompetisi tertinggi di Indonesia, Persema Malang, Persebaya Surabaya, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar cabut. Imbasnya, keempatnya pun dikeluarkan dari keanggotaan PSSI.
LPI pun mampu menggandeng stasiun televise yang menyiarkan laganya seminggu dua kali pada Sabtu dan Minggu. Ini tak ubahnya dengan ISL maupun Divisi Utama. Sayang, PSSI tetap tak mengakuinya.
Tapi, kondisi tersebut tak menyurutkan semangat LPI. Kompetisi yang menggunakan slogan Perubahan dan Sepak Bola tanpa APBD tersebut tetap bergulir. Para wasitnya pun memakai wasit yang tak dipakai PSSI.
Hanya, tidak semua pertandingan LPI menarik dan bisa mendatangkan banyak penonton. Wajar karena kualitas pemainnya masih di bawah ISL kecuali tentunya para mantan peserta ISL. Stadion yang penontonnya banyak pun bisa dihitung jari. Akibatnya, kualitas pun kurang terjaga. Meski, LPI telah mendatangkan beberapa mantan pemain level dunia sekelas Lee Hendrie, mantan pemain Aston Villa dan juga timnas Inggris. Dia membela Bandung FC. Ada juga Amaral yang tercatat pernah membela timnas Brazil dan juga tim elite Serie A Italia Fiorentina.
LPI pun tetap berdalih kebih baik daripada kompetisi lainnya. Tapi, setelah Kongres PSSI berakhir damai di Solo dan memilih Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum, masyarakat mulai paham. Ternyata LPI hanya menjadi senjata untuk menghimpun opini masyarakat untuk meninggalkan NUrdin Halid. Meski tanpa LPI pun masyarakat sudah banyak yang antipasti kepada PSSI yang dipimpin Nurdin. Dia dianggap gagal membawa prestasi bagi Indonesia. Juara SEA Games sudah susah digapai,apalagi merealisasikan mimpi menembus Piala Dunia.
Bahkan pada 15 Agustus 2011, PSSI malah membubarkan LPI. Kompetisi tersebut hanya berlangsung satu musim tanpa ada tim yang menjadi juara. Kalau ada tim LPI yang mau bergabung dalam kompetisi PSSI harus merger dengan klub yang sudah menjadi anggota PSSI.
Sangat disayangkan sebenarnya. Ini membuat masyarakat semakin tahu akan tujuan dan maksud adanya LPI. Semuanya tak jauh dari kepentingan segelintir orang yang menggunakannya untuk merebut kekuasaaan. Selamat jalan LPI. (*)
Read More

MANTAN PELATIH DELTRAS MUSTAQIM ENJOY DENGAN DUNIA BARU

Mustaqim dikenal lewat sepak bola. Karir sebagai pemain dan pelatih telah dilakoni dengan baik. Kini dia menekuni dunia yang jauh dari lapangan hijau.

Mustaqim tampil beda pada Rabu (10/8). Mantan penyerang nasional tersebut memakai helm pelindung kerja. Dia tampak serius mengawasi para pekerja yang menggarap alat berat di sebuah rumah di kawasan Sepanjang, Sidoarjo.
Tentu itu suatu hal yang aneh. Selama ini Mustaqim lebih sering terlihat memakai pakaian olahraga, sebagai pemain maupun pelatih. Beberapa tahun terakhir dia tidak mengawasi pemain, tetapi pekerja.
”Enam bulan ini saya melakoni pekerjaan itu. Saya jadi manajer teknik di PT Putra Utamatek yang bergerak di konstruksi dan mesin,” jelas lelaki kelahiran Surabaya, 6 September 1964, tersebut.
Mustaqim mengungkapkan awalnya tidak mengerti bidang baru yang ditekuni tersebut. Itu wajar. Sebab, hampir 30 tahun dia bergumul dengan sepak bola. Selain itu, dia bukan sarjana teknik, melainkan sarjana ilmu administrasi. ”Saya benar-benar nol. Kata-kata teknik pun, saya tidak tahu. Lambat laun, saya mengerti dan tahu apa artinya,” katanya.
Bahkan, dia kini dipercaya untuk menangani proyek di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tentu itu dicapai setelah dia tidak lagi aktif di Delta Putra Sidoarjo (Deltras).
Mustaqim memang tidak menangani The Lobster –julukan Deltras– hingga akhir musim. Posisinya digantikan asistennya, Nus Yadera. Dia menolak bahwa pekerjaannya sekarang merupakan bentuk kekecewaannya kepada Deltras yang tidak kunjung menghargai jerih payahnya. Dia menyatakan enjoy dengan dunianya tersebut.
”Pasti ada pelajaran yang dipetik. Sekarang saya mau berkonsentrasi di pekerjaan sekarang,” terang lelaki yang sukses membawa Jawa Timur (Jatim) meraih emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004 di Palembang itu.
Mustaqim terjun di bidang konstruksi dan mesin karena diajak rekan lamanya yang juga direktur di tempatnya bekerja sekarang, Andreas Ferdinand. Awalnya. Awalnya, dia juga tidak yakin bisa melakoni pekerjaan tersebut.
”Kami membutuhkan sosok Mustaqim sebagai leader di perusahaan. Dia biasa memimpin banyak orang. Khususnya para pemain. Untuk masalah teknis pekerjaan, lambat laun, Mustaqim pasti bisa. Saya yakin itu dan memang terbukti,” papar Andreas.
Kemampuan Mustaqim sebagai mantan bintang lapangan hijau nasional membuat para karyawan segan. Menurut Andreas, hal tersebut tidak bisa terwujud jika dirinya tidak memilih Mustaqim.
Meski Mustaqim bekerja di perusahaannya, Andreas tidak melarang jika suami Hesty Nurfarida tersebut kembali terjun di sepak bola. Hanya, dia berharap, klub yang ditangani Mustaqim nanti tidak jauh dari Surabaya.
”Mustaqim tidak bisa 100 persen meninggalkan sepak bola. Itu dunianya. Hanya, saya mengharapkan Mustaqim tetap bekerja dengan kami. Tenaganya juga kami butuhkan,” jelas Andreas. (*)

*Tulisan ini terbit di Harian Jawa Pos pada 15 Agustus 2011

Mustaqim bersama sang bos, Andreas Ferdinand, di tempatnya bekerja.
Read More

LAYAKNYA MAU DAFTAR SEKOLAH

SENYUM kecil tersungging dari bibir saya. Gara-garanya membaca komentar teman yang menganggap kompetisi sepak bola di Indonesia layaknya mendaftar sekolah.
Kok bisa? Gara-garanya ada syarat yang harus dilengkapi oleh klub jika ingin berlaga di kompetisi musim depan. PSSI mewajibkan klub yang berlaga di level 1 harus punya uang Rp 5 Miliar dan yang ‘hanya’ punya uang Rp 2 Miliar harus rela berlaga di level II.
Saya pun menyadari juga akan kebenaran sindiran dari teman tersebut kepada PSSI. Kita pasti ingat kalau mendaftarkan anak kita ataupun kita sendiri jika mau sekolah. Jika kantong kita tebal, tentu kita akan dapat sekolah bagus (meski ini juga tak 100 persen benar).
Padahal, untuk mendapat sekolah bagus, bukan melulu karena uang. Tentu, kepandaian dan kecerdasan yang lebih utama. Sangat riskan kalau hanya mengandalkan uang. Bisa-bisa peringkat sekolah yang menerima muridnya berdasarkan uang bakal turun peringkatnya karena sumber daya manusianya (SDM) kurang mendukung.
Saya akhirnya sependapat dengan kiriman rekan tersebut. Meski, saya pun juga geleng-geleng kepala (tentunya yang paham akan sepak bola). Akankan kompetisi yang sudah terbangun puluhan tahun ini harus diubah gara-gara pergantian ketua umum PSSI dan hanya karena uang setoran.
Tentu Anda akan sependapat dengan saya bahwa Persipura Jayapura masih jauh lebih baik dibandingkan Cenderawasih Papua, Solo FC, ataupun juga klub-klub Liga Primer Indonesia (LPI) lainnya. Persipura bisa gagal berlaga di level satu hanya karena Mutiara Hitam, julukan Papua, masih mengandalkan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Padahal, secara kualitas, tim yang berstatus juara Indonesia Super League (ISL) 2010-2011 tersebut bisa dikatakan jempolan. Mereka punya pendukung yang selalu meluberi Stadion Mandala, Jayapura. Punya materi pemain sekelas Zah Rahan, Hamka Hamzah, atapun juga Boaz Solossa. Belum lagi kehadiran pelatih bertangan dingin asal Brazil Jacksen F. Tiago. Lelaki yang juga pernah mengantarkan Persebaya Surabaya juara Liga Indonesia tersebut mampu meracik pemain yang labelnya bintang.
Kini, kita juga harus merenungkan, lamanya kompetisi yang dijalani klub dengan sengit, akhirnya hanya kalah karena uang. Ataukah ini bakal menjadi awal keterpurukan sepak bola Indonesia. Atau malah sebaliknya, bakal menjadi awal prestasi sepak bola Negeri Jamrud Khatulistiwa. (*)

Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 14 Agustus 2011



Read More

BUKAN HANYA PAJANGAN


SURABAYA sebenarnya boleh berbangga. Kota Pahlawan telah memiliki stadion baru, Gelora Bung Tomo, yang jauh lebih megah dari stadion lama, Gelora 10 Nopember. Gelora 10 Nopember, mungkin, sudah dianggap kurang representatif. Selain bangunannya yang sudah termasuk uzur karena dibangun pada 1960-an sebagai persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 1969, stadion tersebut berada di tengah kawasan pemikiman yang padat. Ini sangat berisiko jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Dan ini pernah terjadi dan membuat pihak keamanan membuat penjagaan ketat kepada lingkungan sekitar.
Sementara, Gelora Bung Tomo termasuk stadion modern. Stadion yang dibangun 2008 tersebut mempunyai 55 ribu tempat duduk atau 15 ribu lebih banyak dibandingkan Gelora 10 Nopember. Sayang, stadion yang pembangunannya memakan biaya miliaran rupiah tersebut masih belum banyak dipakai.
Even yang paling besar hanya pertandingan ekshibisi antara Garuda Merah versus Garuda Putih pada 7 Agustus 2010. Sementara, untuk pertandingan resmi, belum pernah. Keinginan Persebaya untuk berlaga di sana hanya sebatas wacana dan belum pernah direalisasikan. Sempat tersiar Persebaya 1927 bakal menjamu Persibo Bojonegoro, eh akhirnya batal juga.
Memang tak dipungkiri, lokasi Gelora Bung Tomo cukup jauh dan butuh perjuangan ekstra untuk menjangkaunya. Bahkan, bus besar pun bakal susah masuk karena jembatan tol yang melintas di atas jalan menuju Gelora Bung Tomo kurang tinggi.
Itu juga belum selesai. Jika hujan deras, tak menutup kemungkinan jalanan bakal tertutup air yang meluap dari Kali Lamong, yang lokasinya tidak jauh dari Gelora Bung Tomo. Jika tak banjir pun, jalanan yang dilewati masih kurang memadai. Dua mobil yang bertemu, salah satunya harus mengalah lebih ke pinggir. Tentu, kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkot Surabaya,selaku pemilik Gelora Bung Tomo serta kawasan Surabaya Sport Centre (SSC).
Meski, sebenarnya, lapangan Gelora Bung Tomo termasuk jempolan. Penulis yang pernah merasakan bermain di tempat tersebut mengakuinya. Petugas yang berada di sana pun tak henti-hentinya menjaga kondisi lapangan serta pra sarana yang ada di dalamnya.
Gelora Bung Tomo memiliki 21 pintu masuk di sekeliling stadion. Masing-masing pintu memiliki dua akses menuju ke tribun. Banyaknya akses itu, dirancang agar gerak penonton bisa lebih leluasa dan nyaman, pintu masuk dibuat berkelok-kelok seperti ular agar penonton tertib saat memasuki stadiun serta melewati sebuah ruangan khusus yang menjadi tempat “screening” atau tempat pemeriksaan barang bawaan.
Fasilitas penting lain yang ada adalah toilet. Lokasinya pun tidak jauh dari tempat duduk penonton. Toilet itu merata di beberapa penjuru stadion. Hal ini akan mempermudah bagi penonton.
Tentu sangat sayang jika Gelora Bung Tomo hanya jadi pajangan. Pembangunan yang menelan miliran rupiah bisa tidak ada artinya. (*)

Tentang Gelora Bung Tomo
Lokasi: Benowo, Pakal, Surabaya Barat
Panjang, 281,51 meter
Lebar, 203,67 meter
Tinggi, 43,22 meter
Kapasitas 55 ribu
*Catatan ini dibuat di Surabaya 11 Agustus 2011
Read More

JIKA BERJANJI TOLONG DITEPATI

DJOHAR Arifin Husin sudah terpilih sebagai ketua umum PSSI. Sayang, dia belum mempunyai susunan pengurus yang komplet.
Awalnya, lelaki yang pernah duduk sebagai Sekjen KONI Pusat tersebut berjanji akan mengumumkannya pada 9 Agustus. Tapi, hingga 10 Agustus, belum ada tanda-tanda kabinet Djohar akan diumumkan. Yang ada hanya Sekjen yang diamanatkan kepada muka baru tapi stok lama Tri Goestoro. Tapi, yang lainnya, janji tinggal janji.
Bisa jadi, Djohar sudah merasa bisa jalan sendiri. Atau bisa juga Djohar tengah dipusingkan dengan pembagian kursi juga. Padahal, jika kepengurusan terbentuk lengkap, organisasi bakal berjalan dengan baik.
Bagaimanapun, kita tak mau agar kesalahan organisasi di era Nurdin Halid kembali terjadi di era Djohar. Harapan yang sudah ada di pundaj Djohar, jangan sampai dinodai dengan ketidakjujuran.
Alangkah baiknya, Djohar segera menyusunnya. Bagaimana pun dia mempunyai kekuatan untuk itu. Kesempatan ini bisa juga digunakannya untuk membuktikan bahwa dia tak bisa diintervensi pihak lain dalam penyusunan kepengurusan. Djohar harus bisa menunjukkan bahwa di punya power (kekuatan).
Apa artinya kalau sebagai ketua umum tapi tidak mempunyai hal yang bisa dibanggakan. Bagaimanapun, roda organisasi tetap harus berjalan jika sudah diisi oleh personel-personel. Tentunya, Djohar juga tak asal pilih.
Sebagai orang yang lama berkecimpung di organisasi, tentu dia sudah pengalaman memilih orang yang tepat pada posnya.
Organisasi yang teratur di level atas, akan membuat organisasi yang di bawahnya, yakni Pengprov ataupun Pengkot dan Pengkab bakal meniru.
Kita tak boleh menganggap enteng masalah organisasi. Maju mundurnya prestasi sepak bola bukan hanya ditentukan melalui kompetisi. Organisasi yang baik ikut menentukan di dalamnya.
Marilah kita semua berharap, agar rasa penasaran soal kepengurusan PSSI di bawah nakhoda Djohar segera dijawab. Harapannya, para orang-orang yang peduli pada kemajuan sepak bola Indonesia yang ada di dalamnya. Bukan orang-orang yang mencari makan di organisasi olahraga paling digemari di Indonesia tersebut. (*)

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 10 Agustus 2011
Read More

ENAKNYA BISA LANGSUNG NAIK

SEPAK bola Indonesia tak pernah lepas dari ribut-ribut. Memilih ketua umum ribut, kini memilih format kompetisi pun ribut lagi.
Padahal, sebelumnya, format kompetisi yang ada di naungan PSSI sudah ada. Indonesia Super League (ISL) menjadi puncak piramida. Sedangkan kompetisi Divisi III menjadi landasan awal.
Tapi, seiring pergantian ketua umum dari Nurdin Halid ke Djohar Arifin, format pun bakal mengalami perombakan. Ini tak lepas dari adanya kepentingan memasukan klub anggota LPI (Liga Primer Indonesia).
Bisa jadi, ini merupakan upaya balas budi dari pengurus PSSI di bawah nakhoda Djohar. Ya, klub LPI memang dikenal sebagai pendukung Djohar yang awalnya mengusung Arifin Panigoro dan George Toisutta.
Bahkan, untuk menentukan format kompetisi ini, PSSI harus minta saran kepada AFC (Federasi Sepak Bola Asia) dan FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional).(baca: Butuh Suara dari Luar Juga). Hasilnya, wakil AFC pun hadir ke Jakarta dan bertemu dengan klub-klub ISL, Divisi Utama, dan juga LPI. Induk organisasi sepak bola Asia itu pun menegaskan ada syarat-syarat yang harus penuhi agar sepak bola Indonesia mengarah ke profesional. Awal kompetisi pun AFC yang menentukan, yakni 8 Oktober.
Klub-klub ISL dan Divisi Utama pun banyak yang berteriak kencang. Umumnya, mereka kurang setuju jika klub LPI langsung duduk di level tertinggi. Bahkan, saat PSSI mengumumkan klub-klub yang masuk kategori profesional, suara pun semakin kencang.
Ada tiga klub LPI yang bisa masuk kategori profesional yakni Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar.
Jika merajuk aturan PSSI, sebenarnya ketiga klub tersebut masih bisa berkompetisi. Tapi bukan di level ISL, namun divisi utama. Alasannya, ketiganya tak menyelesaikan ISL musim 2010-2011 dan memilih bergabung LPI yang saat itu tak diakui PSSI.
Bagi klub non-LPI, mereka bisa berada di ISL ataupun divisi utama harus melalui jalan panjang dan berliku. Bahkan, bisa dikatakan berdarah-darah. Eh, kini, dengan enaknya ada klub yang mau langsung ke level tertinggi hanya karena mereka tak lagi mengandalkan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) serta mempunyai fasilitas yang sesuai aturan AFC.
Masalah ini harus diselesaikan sesuai aturan yang ada. Jika ada klub baru memang harus memulainya dari Divisi III atau jika mau enak, merger saja dengan klub yang ada di Divisi Utama atau ISL. Selain itu, kalau mau mengubah format yang ada harus melalui Kongres Luar Biasa (KLB). Bagaimana pun saat merumuskan format kompetisi yang ada, PSSI di era Nurdin Halid juga melalui KLB.
Yang perlu diwaspadai, jika memaksakan kehendak, bisa-bisa setiap pergantian ketua umum PSSI akan dibarengi dengan format kompetisi baru. Tentunya, format yang menguntungkan klub pengusung sang ketua. Hendaklah hal ini dihindari. Bravo sepak bola Indonesia. (*)

*Catatan ini dibuat di Surabaya pada 9 Agustus 2011
Read More

SELAMAT JALAN RUSDY

MINGGU malam (7/8), suasana Surabaya tak jauh beda. Panas dan lalu lintas di jalan tetap ramai meski bintang dan bulan sudah muncul di langit yang terang.
Para penggemar sepak bola di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, banyak yang mash membicarakan pertandingan Community Shield antara Manchester United dan Manchester City yang baru aja berlaga di Stadion New Wembley, London. Ya, even tersebut memang mempertemukan juara Piala FA dan Premier League di Inggris. Hasilnya,Setan Merah, julukan Manchester United, menang dengan skor 3-2 meski sempat tertinggal 0-2 pada babak pertama.
Tapi,pembicaraan tersebut tiba-tiba berubah. Di jejaring social, pembahasan beralih kepada sosok Rusdy Bahalwan. Mantan bintang lapangan hijau dan pelatih Persebaya Surabaya tersebut menghembuskan nafas terakhir pada pukul 22.30 di kediamannya di Rungkut.
Sontak, insan bola Surabaya menjadi berduka. Bagi mereka, Rusdy bak pahlawan yang terlalu berat meninggalkan mereka. Meski, mereka sudah mengetahui pria berusia 64 tahun tersebut sudah tujuh tahun lebih tergolek lemas karena penyakit yang diderita.
Tak pernah habis para insane bola Surabaya, bahkan nasional, mendoakan agar Rusdy diberi keajaiban untuk bisa sembuh. Harus diakui, Rusdy tak bisa dilepaskan begitu saja. Hidupnya banyak tercurah untuk sepak bola di kota kelahirannya tersebut.
Sebagai pemain, dia telah mengharumkan Surabaya dengan menjadi bek kiri andalan Persebaya. Sebagai pelatih, dia pun jadi panutan anak asuhnya. Banyak mantan anak asuhnya yang selalu mengidolakan Rusdy dan meniru gaya kepelatihannya.
“Saya banyak belajar dari Pak Rusdy. Dalam melatih, saya pun banyak terinspirasi dari beliau,” kata Ibnu saat ditemui dua hari sebelum pelatihnya tersebut berpulang.
Baginya, melatih seperti halnya membina anak di rumah. Rusdy pun juga demikian. “Pak Rusdy selalu mengingatkan kepada pemain jika ada yang salah,” kenangnya.
Rusdy pun juga tak pernah mau melepaskan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. SaatPersebaya compang-camping pada 2002, dia masih bersedia menangani. Padahal, kondisi tim sudah kurang kondusif. Bersama duet abadinya, Soebdoro, dia ingin kembali membangkitkan tim lamanya. Sayang, Persebaya tetap degradasi. Tapi, itu tetap tak melunturkan nama Rusdy seperti halnya misteri sepak bola gajah. Semua tetap menganggap Rusdy tak bersalah.
Saya pun sempat menyaksikan keteguhan beliau dalam melawan sakit yang dialami. Rusdy pernah datang saat pertandingan tim yang telah membesarkannya, Assayabaab. Dia juga beberapa kali datang ke Gelora 10 Nopember dalam pertandingan amal untuk dirinya.
Kini, sang tegar yang telah jadi legenda sepak bola Indonesia dan Surabaya tersebut telah berpulang. Selamat jalan Rusdy. (*)

Biodata:
Nama: Drs. Rusdy Bahalwan M.Si
Lahir : Surabaya, 7 Juni 1947
Orangtua : Ali Bahalwan/Rugayat
Istri : dr. Ramadhani M.Kes
Menikah : 2 Desember 1979
Anak : Irfan Bahalwan, 28 th
Khaira Imandina Bahalwan, 25 th
Ikhwannurdin Bahalwan, 22 th
Prestasi Pemain : Tim Nasional 1972-1975
Juara Pesta Sukan Singapura 1972
Runner-up kompetisi Perserikatan 1975 (Persebaya)
Juara Kompetisi Perserikatan 1977 (Persebaya)
Prestasi Pelatih : Juara Kompetisi Divisi I 1986 (Asyabaab)
Runner-up Kompetisi Perserikatan 1987 (Persebaya)
Runner-up PON XII/1989 (sepak bola Jatim)
Enam besar Ligina 1995 (Assyabaab SGS)
Juara PON XIV/1996 (sepak bola Jatim)
Juara Ligina 1997 (Persebaya)
Runner up Ligina V/998/1999 (Persebaya)
Pendidikan : SMA Negeri 6 Surabaya, lulus 1966
Fakultas Ekonomi Unair, 1967
Sarjana FIA Untag Surabaya, 1989
Magister Ilmu Pemerintahan Untag, 2003

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 8 Agustus 2011
Read More

BUKAN MASALAH GANTI NAMA

APALAH arti sebuah nama.Kalimat ini meluncur dari bibir sastrawan top dunia asal Inggris William Shakespeare. Tapi, bagi Deltamania nama merupakan hal yang sangat krusial.
Ini dipicu dari rencana pergantian nama Deltras (Delta Putra Sidoarjo). Nama Putra yang ada di tengah bakal diganti dengan nama Raya. Singkatannya memang tetap Deltras.
Kelihatannya memang sepele. Tapi, efeknya sangat luar biasa. Bagi Deltamania, arti putra menunjukkan bagi Deltras merupakan milik putra Sidoarjo bukan daerah lain.
Sementara, arti Raya bisa bermakna besar ataupun luas. Bisa jadi, setelah nama putra diganti raya bakal ada perubahan nama lagi. Apalagi, pada musim 2011-2012, The Lobster, julukan Deltras, bakal ganti pengelola. Bukan lagi dikelola keluarga Vigit Waluyo yang sudah dua musim menangani tim yang dulunya memang milik keluarga tersebut.
Pemkab Sidoarjo pun bukan lagi pemegang utama seperti Deltras sebelum dikelola Vigit. Konsorsium di luar Sidoarjo bakal menangani tim yang mencatat prestasi sebagai runner-up Divisi Utama musim 2009-2010 tersebut.
Ketakutan perubahan nama bisa juga menjadi awal kepindahan Deltras ke luar Kota Udang, julukan Sidoarjo. Ini berkaca dari Persijatim. Tim yang aslinya bernama Jakarta Timur di era perserikatan tersebut beberapa kali ganti nama sebelum akhirnya berlabuh ke Palembang dan menjadi Sriwijaya FC.
Metamorfosis Persijatim awalnya dari Persijatim Solo FC, Solo FC, hingga menjadi Sriwijaya. Tentu saja home base nya pun ikut berpindah. Dari Stadion Bea Cukai Jakarta Timur ke Stadion Manahan Solo hingga akhirnya menetap di Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang. Pengelolaannya pun kini telah menjadi milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel).
Ada lagi yang berubah-ubah nama dan tempat tetap kepemilikannya tak berganti. Tim kuat Pelita Jaya adalah buktinya. Lama memakai nama Pelita Jaya, pada 2000-2002 berubah menjadi Pelita Solo. Berada di Kota Bengawan tak lepas dari factor Danurwindo.
Mantan pelatih nasional tersebut lama di Solo dan tahu benar karakter masyarakat di sana. Ternyata, Solo bukan pelabuhan akhir klub milik keluarga Bakrie tersebut. Habis dari Solo, Pelita ke Cilegon dan merger dengan Krakatau Steel dan menjadikan namanya menjadi Pelita Krakatau Steel atau Pelita KS. Sayang, di Cilegon, pelita hanya bertahan empat tahun (2—2-2006). Dari Cilegon, Pelita pun berpindah kandang ke Purwakarta (2006-2007), kemudian di Kab Bandung menjadi Pelita Jabar (2008-2009) dan kini berganti lagi menjadi Pelita Jaya FC Karawang mulai 2010.
Hanya bedanya, Pelita belum memiliki ikatan yang kuat dengan suporter di daerah yang ditempati. Ini beda dengan Deltras. Kini, Deltamania pun berharap Deltras tetap bertahan di Sidoarjo. Bagi mereka, Deltras bukan hanya tim pujaan tapi juga denyut nadi kehidupan. (*)

*Catatan ini dibuat di Surabaya pada 7 Agustus 2011
Read More

JANGAN MALU BELAJAR DARI KETERBATASAN URUGUAY

COPA America 2011 telah melahirkan juara baru. Uruguay ditahbiskan sebagai pemegang trofi even sepak bola negara-negara Amerika Selatan tersebut berkat kemenangan 3-0 atas Paraguay dalam laga final yang dilaksanakan di Brazil pada 24 Juli 2011.
Ini menjadi obat dahaga prestasi bagi Uruguay yang kali terakhir menjadi juara Copa America pada 1995 alias harus menunggu selama 16 tahun. Memang, pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (Afsel), La Celeste, julukan timnas Uruguay, sukses menembus semifinal sebelum ditaklukkan
Jerman .
Harus diakui, Uruguay menjadi salah satu negara sepak bola. Selain pernah 16 kali memenangi Copa America, negara tersebut juga dua kali telah menjadi juara dunia yakni pada 1930 dan 1950.
Padahal, luas dan jumlah penduduk Uruguay tidak ada apa-apanya dengan Indonesia. Uruguay hanya mempunyai 176.215 km2 dan penduduknya saat ini ‘hanya’ 3.494.382 (sensus 2009). Jumlah jauh kalah dengan Jakarta ataupun Surabaya. Bahkan, dengan Solo, kota di Jawa Tengah (Jateng), jumlah penduduknya hampir sama.
Tapi, mengapa dalam urusan sepak bola, negara yang beribukota di Monteviedo tersebut bisa sukses? Kuncinya pada pembinaan dan kompetisi. Klub-klub di Uruguay tak lupa melakukan pengkaderan pemain muda. Bukan hanya itu, mereka pun diberi wadah untuk menyalurkan kemampuannya.
Ini membuat kemampuan dan mental bertanding para pemain mudanya benar-benar terasah. Dan, yang tak kalah utamanya, fairplay tetap dijunjung tinggi. Wajar jika prestasi Uruguay selalu berkesinambungan. Bintang-bintang baru pun selalu lahir dari sana. Era Enzo Fransescoli dilanjutkan era Diego Forlan, dan kini Uruguay mempunyai bintang baru pada Luis Suarez.
Rasanya, setelah era Suarez masih banyak pemain muda yang bakal mengharumkan nama Uruguay di pentas internasional. Jadi, rasanya tak salah PSSI di era Nurdin Halid mengirimkan para pemainnya ke sana. Tujuannya, tak lain dan tak bukan untuk meraih prestasi.
Tim ini pun lebih dikenal sebagai timnas SAD. Ini kependekan dari Socieded Anonima Deportiva secara harfiah berarti "Korporasi Olahraga" adalah kumpulan dari pemain-pemain sepak bola muda Indonesia dengan rata-rata kelahiran tahun 1992.
Pada 25 Januari 2008, para pemain muda berbakat Indonesia di kirim untuk berguru di Uruguay. Rencananya, SAD berguru selama 4 tahun dengan isu biaya pertahun 12,5 miliar. tim ini dilatih oleh warga negara Uruguay Cesar Payovich Perez dan asisten Jorge Anon.
Dengan materi pemain di atas SAD berada di posisi 19 pada akhir kompetisi dengan pertandingan yang dilakukan pada bulan Maret hingga Nopember 2008 dengan memainkan 23 pertandingan dengan 6 kemenangan dan 17 kekalahan dan yang menjadi juara Quinta Division yaitu "Danubio" tim tangguh Uruguay.
Tapi, setelah menjalani tahun pertama berguru di Uruguay tim kembali ke Indonesia dengan pelatih Cesar Payovich untuk menjalani masa rehat setelah berkompetisi, disaat para pemain menjalani masa rehat jajaran pelatih Cesar Payovich berkeliling Indonesia untuk mencari pemain berbakat lain yang dapat di bawah ke Uruguay untuk bekompetisi di tahun berikutnya.
Setelah melakukan seleksi pemain dari hasil pencarian di Indonesia dan pemantauan hasil kompetisi pada tahun pertama, tim SAD untuk tahun kedua pun terbentuk dengan beberapa pergantian pemain tahun pertama di gantikan oleh pemain hasil seleksi.berikut skuad pemain tahun kedua SAD.
Pada tahun kedua di Uruguay tim SAD dapat bercokol di puncak klasemen Torneo De Honor. Torneo De Honor sendiri merupakan putaran kedua dari kompetisi yang dijalani oleh SAD Indonesia. Pada putaran pertama, SAD tergabung bersama 11 tim lainnya di grup B. Dan, pada akhir putaran pertama berada di peringkat ketujuh.Karena berada di luar enam besar, Syamsir Alam dkk tergabung dengan lima tim di bawahnya bersama enam tim terbawah di grup A dalam turnamen Torneo De Honor. Sedangkan enam tim teratas di tiap grup lolos ke Torneo Clausura
Kita berharap agar ilmu dan pengalaman yang diterima di Uruguay bisa mengangkat kembali prestasi Indonesia. Janganlah kita sudah berpikiran negative dengan pengiriman tim ini. Jika si donator ikhlas uangnya untuk mencetak pemain muda, marilah kita hargai jeruh payahnya. (*)
Materi SAD Tahun I
Kiper: Alwi Syahrul Karim, Tri Windu Anggono, Dimas Galih Pratama.Bek: Taji Prashetio, Reza Inas Setiarachman, Yericho Christiantoko, Imam Agus Faisal, Reffa Arvindo Badherun Money, Sutanto, Ferdiansyah, Alfin Ismail Tuasalamony.Gelandang: Mochammad Zainal Haq, Ridwan Awaludin, Davitra, Feri Firmansyah, Finky Pasamba, Lutfi Hidayat, Ismail Marzuki, Mochammad Chairudin.Penyerang: Novri Setiawan, Alan Martha, Burhanudin Bayu Saputra, Yandi Sofyan Munawar, Sahlan Sodik, Syamsir Alam.

Materi SAD Tahun II
Kiper: Tri Windu Anggono, Dimas Galih, Beny Stya Yoewanto.
Bek: Yericho Christiantoko, Reffa Arvindo Badherun Money, Mokhamad Syaifudin, Sedek Sanaky, Alfin Tuasalamony, Ferdiansyah, Taji Prashetio, Imam Agus Faisal.
Gelandang: Mochamad Zainal Haq, Feri Firmansyah, Ismail Marzuki, Rizky Ahmad Sanjaya Pellu, Abdul Rahman Lestaluhu, Rinaldi Gunapradiptha, Ridwan Awaludin.
Penyerang: Sahlan Sodik, Vava Mario Yagalo, Syaiful Bachri Ohorella, Syamsir Alam, Alan Martha, Novri Setiawan, Yandi Sofyan Munawar.

Data Uruguay
Ibu kota:Montevideo
Bahasa: Spanyol
Kepala Pemerintahan: Presiden
Luas: 176.215 km2
Penduduk: 3.494.382 (sensus 2009)




Timnas Uruguay
Julukan: La Celeste
Pelatih: Oscar Tabarez
Kapten: Diego Lugano
Stadion: Estadio Centenario
Peringkat:
Tertinggi: 5 (Juli 2011)
Terendah: 54 (Desember 1998)
Prestasi:
Juara Dunia: 1930 dan 1950
Juara Copa America: 1916, 1917, 1920, 1923, 1924, 1926, 1935, 1942, 1956, 1959, 1967, 1983, 1987, 1995, 2011

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 7 Agustus 2011
Read More

IBNU GRAHAN, KUAT ENAM TAHUN MENAHAN CEDERA


PERSEBAYA banyak melahirkan bintang. Mulai dari Rusdy Bahalwan, Soebodro, Syamsul Arifin, Mustaqim, Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi, hingga sekarang Rendy Irwan dan Andik Vermansyah. Tapi, di antara semua nama Ibnu Grahan tak boleh dipinggirkan.
Dia bukan hanya berstatus bintang biasa, bahkan bisa disebut bintang lima. Peranannya tidak hanya sebagai jendral lapangan Green Force, julukan Persebaya, tapi juga menyandang jabatan sebagai kapten tim perserikatan asal Surabaya tersebut. Amanat tersebut dilakoninya selama tiga tahun dari 1990-1993.
“Awalnya, saya kaget juga dipilih sebagai kapten. Tapi, saya akhirnya menganggap itu sebagai kepercayaan yang harus dijalankan,” kata Ibnu saat ditemui pada Ramadan 2011.
Sebenarnya, karir Ibnu di Persebaya tergolong unik. Dia tak pernah menjaadi starter di klubnya, Putra Gelora, eh malah dia bisa menembus skuad Persebaya. Kok bisa? Ini terjadi karena penampilannya yang gemilang di kejuaraan sepak bola antarkecamatan se-Surabaya pada 1986.
“Susah sekali masuk tim inti Putra Gelora. Banyak pemain di situ dan pelatih kurang member kepercayaan kepada pemain muda seperti saya,” kenang Ibnu.
Apalagi, dia baru saja menekuni olahraga si kulit bundar tersebut baru saja, tepatnya setelah lulus SMA. Tapi, itu tak mengurangi niatnya untuk selalu tampil bagus dalam setiap pertandingan, termasuk saat antarkecamatan. Bahkan, saat itu, dia menjadi pemain terbaik sekaligus pencetak gol terbanyak.
Ini juga dilakukannya di depan Wali Kota Surabaya Purnomokasidi. Orang nomor satu di Kota Pahlawawan, julukan Surabaya, kepincut. “Pak Wali langsung memanggil Pak Rusdy (Bahalwan) untuk memanggil saya di Persebaya,” ucap Ibnu.
Sejak 1986 itulah namanya masuk dalam tim berlogo Suro dan Boyo serta Tugu Pahlawan itu. Hanya, untuk menembus skuad inti juga tidak mudah. Hanya, pada 1987, saat Persebaya juara, dia sempat tampil beberapa kali. “Ada kebanggaan membela tim juara meski saya tak banyak tampil. Ini juga memupuk mental bertanding saya,” lanjut pria yang kini dikaruniai tiga anak tersebut.
Setelah itu, lambat laun, posisi pemain regular pun mampu diraih Ibnu. Hingga akhirnya, mulai 1990, jabatan kapten pun diberikan kepadanya. “Saat saya jadi kapten, Persebaya mampu menjadi juara Piala Utama dengan mengalahkan Pelita Jaya,” ungkap lelaki kelahiran 23 Juli 1967 tersebut.
Piala Utama merupakan turnamen yang menggabungkan dua kutub sepak bola saat itu, galatama dan perserikatan. Persebaya yang bermaterikan pemain muda sukses mempermalukan tim bertabur bintang, Pelita Jaya.
Hasil itu pula membuat nama Ibnu makin dikenal di pentas sepak bola Indonesia. Sebagai pemain yang tergolong masih muda, dia pun ingin merasakan tantangan di Galatama.
“Pada 1993, saya pindah ke Mitra Surabaya. Saya ingin merasakan asmosfer Galatama,” tuturnya.
Di Mitra pula, suami Wahyu Rina tersebut menjalani operasi lutut. Padahal, cedera itu sudah dialaminya sejak 1987 saat dia tampil di ajang galadesa. “Jadi, saya menahan sakit di lutut ini selama enam tahun. Kalau mau tampil ketika di Persebaya, lutut saya harus disuntik,” ungkap Ibnu.
Di Mitra, Ibnu bertahan hingga 1995 dan pindah ke klub sekota lainnya, Assayabaab Salim Group Galatama (ASGS). Dia pun bertahan selama setahun hingga akhirnya kembali ke Persebaya pada 1997. “Lutut kadang masih terasa sakit.Ini membuat saya akhirnya memutuskan pensiun. Usia pun sudah tidak muda lagi,” kata Ibnu sambil memegangi lututnya.
Hanya, dunia sepak bola pun tak bisa ditinggalkannya. Datangan melatih puin dating pada 2000. “Pak Wali Cak Narto (Soenarto) langsung yang memberikan tugas. MUngkin, karir saya memang harus melalui wali kota ya. Jadi pemain karena Pak Pur, jadi pelatih pun melalui Cak Narto,” tambahnya.
Sejak itu, dunia kepelatihan sudah akrab dengannya. Pada musim 2001, sudah mulai masuk dalam jajaran pelatih Persebaya senior. Mulai dari Rudy Keeltjes, Muhammad ‘Mamak’ Alhadad hingga pelatih Brazil Gildo Rodriguez pun pernah diasistennya. Saat Green Force juara pada 2004, dia juga menjadi asisten Jacksen F. Tiago, asal Brazil.
“Saya merasa komplet karena merasakan menjadi juara sebagai pemain maupun pelatih,” ucap Ibnu.
Tapi, Ibnu pun juga pernah merasakan menangani tim di luar Surabaya. Pada 2006-2007. Ibnu memoles tim anyar Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Di tangannya, daerah yang masih nol dalam urusan sepak bola itu mulai kenal dengan olahraga paling popular di muka bumi ini. Bahkan, kini, KSB sudah berada di level Divisi Utama.
Persela U-21 pun juga pernah merasakan sentuhan tangan dinginnya. Sayang, panggilan kerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) membuat dia harus kembali ke Surabaya. Pinangan dari Persebaya pun tak kuasa ditolaknya. Suhatman Iman, Danurwindo, hingga Aji Santoso sekarang masih membutuhkan tenaga dan pikirannya.
Di sela-sela sebagai jajaran pelatih di Persebaya , Ibnu tak lupa mencetak pemain muda. Melalui Surabaya Football Club (SFC) yang dimilikinya, dia banyak melahirkan bibit-bibit masa depan lapangan hijau. Dia berharap agar ada yang meneruskan kemampuannya di lapangan hijau. Termasuk menjadi kapten Green Force. (*)

BIODATA
Nama: Ibnu Grahan
Lahir: 23 Juli 1967
Istri: Wahyu Rina
Anak:
Yuhansyah Prima Aditya
Erliga D. Ramadan
Arlangga Kasa Al Ayubi

Karir
Pemain:
1986-1993: Persebaya Surabaya
1993-1995: Mitra Surabaya
1995-1996: Assyabaab Salim Group Surabaya
1997: Persebaya Surabaya

Pelatih:
2000: Persebaya Surabaya Junior
2001-2005: Persebaya Senior
2005-2007: Kabupaten Sumbawa Barat
2007-2008: Persela Lamongan U-21
2008-…: Persebaya Senior
Read More

SURYO AGUNG WIBOWO, TAK BISA MENAHAN GATAL KAKI


INDONESIA susah dibendung di lari jarak pendek di ajang SEA Games. Buktinya, emas 100 meter dan 200 meter putra selalu jatuh ke tangan pelari Merah Putih, Suryo Agung Wibowo.
Bahkan, pelari kelahiran Solo, Jawa Tengah, pada 8 Oktober 1983 tersebut mampu memecahkan rekor Asia Tenggara dan nasional. Itu diciptakannya pada SEA Games 2009 di Laos. Catatan waktunya 10,17 detik membuat Suryo menorehkan namanya sebagai pelari tercepat di Asia Tenggara. Selain itu, suami Astatik Anjarwani itu juga memecahkan rekor nasional yang bertahan selama 21 tahun atas nama pelari legendaris Indonesia Mardi Lestari 10,25 detik.
Dalam buku semibiografi Lari, Gung!Lari!, disebutkan bahwa kemampuan Suryo yang berlari bak kilat tersebut lebih banyak diasah di sepak bola. Saya menyebutnya semibiografi karena banyak kesamaan antara cerita di dalam novel tersebut dengan kisah hidup Suryo Agung.
Ya, sejak kecil, Suryo Agung memang bergelut dengan olahraga si kulit undar. Wajar, karena rumahnya yang berada di kawasan Banyuanyar, Solo, tidak jauh dari lapangan bola. Lingkungan bermainnya juga sangat mendukung karena rekan-rekannya juga gandrung dengan olahraga paling populer di muka bumi ini.
Saat beranjak dewasa, dia pun bergabung dengan klub Ster, anggota internal Persis Solo. Bahkan, kemampuannya yang di atas rata-rata, membuat Suryo yang masih berusia 17 tahun sempat merasakan menjalani seleksi di Laskar Samber Nyawa, julukan Persis Solo. Sayang, karena usianya yang masih sangat muda, membuat namanya terpental dari tim kebanggaan Kota Bengawan, julukan Solo, tersebut.
Pelampiasannya, Suryo Agung menekuni atletik. Di hari pertama latihan, saya melihat Suryo masih memakai sepatu atletik yang ujungnya sudah jebol dan ditutup dengan pembalut. Beruntung sekali saya bisa menyaksikan Suryo menekuni atletik setelah tahu dia akhirnya menjadi Raja Lari Jarak Pendek Asia Tenggara.
Saat saya tugas di Jakarta dan sering bertemu Suryo Agung antara 2002-2004, dia tetap tak berubah. Yang diceritakannya tetap tentang sepak bola, bukan atletik. Dia mengaku sangat tertarik bergabung dengan klub di pentas Liga Indonesia.
Kini, setelah dia kecewa tak dipakai PB PASI di SEA Games 2011, keinginan tersebut kembali mencuat. Dengan usia yang semakin matang dan skill yang terasah dari latihan, Suryo Agung pun ingin merasakan kerasnya atmosfer sepak bola Indonesia,. Baginya, bermain di Divisi Utama, Indonesia Super League (ISL), ataupun Liga Primer Indonesia (LPI) bukan masalah. Hanya, dia mengakui masih minim pengalaman.
“Wajar kalau banyak klub memandang sebelah mata kepada kemampun bermain bola saya. Tapi, kalau diberi kesempatan, saya akan memberi bukti,” tegas Suryo Agung.
Dia pun berharap minimal bisa membela klub di kota kelahirannya, Persis, ataupun juga Solo FC, anggota Liga Primer Indonesia. Dia tak ingin gatal di kakinya yang ingin selalu bermain bola tak terobati. (*)



Tentang Buku Lari, Gung! Lari!
Penulis: Mahfud Ihkwan
Penerbit: PT Sunda Kelapa Pustaka
Tebal: 268 Halaman


*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 4 Agustus 2011.
Read More

MUSTAQIM, JAMINAN PRESTASI DI TANGAN


SIAPA tak kenal Mustaqim. Para penggemar sepak bola era 1980-an hingga pertengahan 1990-an pasti mengenal sosok tersebut.
Mustaqim menjadi jaminan tajamnya lini depan yang dibela. Dengan gerakannya yang gesit, banyak pemain belakang kesusahan mengawal lelaki kelahiran 6 September 1964 tersebut.
Karirnya mulai moncer saat membela Persebaya Surabaya. Di klub asal kota kelahirannya tersebut Mustaqim bertahan selama tiga tahun dari 1985-1988. Di klub berjuluk Green Force tersebut, kemampuannya benar-benar terasah. Apalagi, dia mendapat bimbingan dari penyerang senior, Syamsul Arifin. Ketelatenan Syamsul membuat Mustaqim menjelma menjadi Syamsul muda.
Bahkan, dia punya nilai plus dibandingkan sang mentor. Jika Syamsul hanya piawai di bola-bola atas, Mustaqim dibekali tembakan yang keras. Akselerasinya pun lebih gesit dibanding Syamsul.
Dengan usia yang masih muda, Mustaqim pun benar-benar menjadi idola suporter. Itu dijawabnya dengan mengantarkan Persebaya juara Perserikatan pada 1987. Bersama Persebaya pula, timnas Indonesia membukakan pintu kepadanya.
Dengan jiwa mudanya, Mustaqim pun ingin merasakan membela klub lain. Dia berhasrat mencicipi kompetisi yang lain, Galatama. Pada 1989, dia memutuskan hengkang ke Petrokimia Putra Gresik. Setelah itu, Assyabaab, Mitra Surabaya, dan Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS) pun mengandalkan Mustaqim sebagai penjebol gawang lawan.
Pada 1989, lelaki yang kini dikaruniai tiga anak tersebut ikut membela Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, meraih perunggu di Malaysia. Hanya cedera yang membuat Mustaqim gagal mengenakan kaos Merah Putih dengan lambang garuda di dada.
“Saya selalu tampil fight baik latihan maupun pertandingan. Ini sangat penting agar kemampuan kita benar-benar terasah,” kata Mustaqim.
Setelah pensiun dari lapangan hijau pada 1996, Mustaqim tetap tak bisa lepas dari lapangan hijau. Dunia kepelatihan menjadi bidikannya. Persebaya yang ditangani Rusdy Bahalwan langsung memanggil suami Hesty Nurfarida itu menjadi asisten.
Dia pun tampaknya juga berjodoh dengan Rusdy. Saat Jatim mempersiapkan diri menghadapi PON 2000 di Surabaya, Rusdy kembali memakainya. Hasilnya, Jatim pun dibawanya meraih emas di kandang sekaligus melengkapi kesempurnaan menjadi juara umum multieven empat tahunan tersebut.
Keberhasilan ini membuat Mustaqim tak lama menganggur. Persela menjadi pelabuhan karir kepelatihannya. Persela pun dibawanya menjadi juara Divisi II sekaligus promosi ke Divisi I.
Sayang, di Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, dia hanya satu tahun. Mustaqim terpaksa meninggalkan tim pujaan LA Mania itu. Ini dikarenakan dia mengemban amanat sebagai pelatih Jatim di PON 2004. Sejak 2002, dia sudah menjalankan tugasnya karena beban yang ringan. Mustaqim harus mampu mempertahankan emas yang sudah diraih Jatim sejak PON 1996.
“Butuh persiapan yang serius. Saya harus bisa melaksanakan amanat tersebut dan membuat Jatim tetap sebagai barometer sepak bola Indonesia,” tegas Mustaqim.
Hasilnya, kepercayaan ini sukses dijawabnya dengan emas. Kecerdikan Mustaqim meracik materi dan mengolah strategi membuat Jatim juara di Palembang, Sumatera Selatan (Sulsel).
Klub pun antre melamar Mustaqim. Tapi, kedekatannya dengan Persela membuat dia kembali. Setelah itu, klub asal Kalimantan Timur (Kaltim), Mitra Kutai Kartanegara (Kukar), melamarnya. Mitra diantarkannya merasakan Divisi Utama.
Gresik United pun tertarik memakainya. Tangan dinginnya membuat GU bertahan di Divisi Utama meski materi pemain bukan pilihannya karena Mustaqim baru bekerja di tengah jalan menggantikan pelatih lain yang dianggap gagal.
Ini pula yang membuat Mitra menarik kembali Mustaqim dan juga Delta Putra Sidoarjo (Deltras) pada musim 2010-2011. Cobaan di dua klub itu tetap melunturkan dedikasi dan nama besarnya.
“Sampai kapan pun saya tetap cinta sepak bola,” ucap Mustaqim. (*)


Biodata:

Nama: Mustaqim
Lahir: Surabaya, 6 September 1964
Istri: Hesty Nurfarida

Anak:
-Mizan Zano Ramadhan
-Sifana Zana Masyitha
-Fauzan Syaikhul Islam
Alamat: Jl. Rungkut Asri Utara VII/17 Surabaya
Lisensi Pelatih: A AFC (Asian Football Confederation)

Karir Pemain:
-Persebaya Surabaya 1985-1988
-Petrokimia Putra Gresik 1989-1990
-Assyabaab 1990-1991
-Mitra Surabaya 1991-1994
-Assyabaab Salim Group (ASGS) 1995-1996
-Tim Nasional 1986-1992

Prestasi pemain:
-Mengantarkan Jatim Juara Di Piala Pemuda 1984
-Bersama Persebaya Juara pada 1987
-Pencetak Gol Terbanyak Bersama Assyabaab di Divisi I 1990
-Meraih Perunggu bersama Timnas Di SEA Games Malaysia 1989

Karir Pelatih:
-Asisten Pelatih Persebaya 1997-1999
-Asisten Pelatih Tim Jatim PON XV Surabaya 2000
-Pelatih Siwo Jatim Porwanas Banjarmasin 2001
-Pelatih Persela Lamongan 2000-2001
-Pelatih Tim Jatim PON XVI Palembang 2002-2004
-Pelatih Timnas U-12 2004
-Pelatih Persela 2005 .
-Pelatih Gresik United 2006
-Mitra Kukar 2007
-PKT 2008/2009
-Mitra Kukar 2009/2010
-Deltras 2010/2011

Prestasi pelatih:
-Meraih Medali Emas Bersama Jatim dalam PON XV Surabaya 2000 dan PON XVI Palembang 2004
-Mengantarkan Persela Lamongan Juara Divisi II 2000
-Meloloskan Mitra Kukar Ke Divisi Utama 2007

*Catatan ini dibuat di Surabaya pada 3 Agustus 2011
Read More

MANDIRI TANPA MENGANDALKAN PEMAIN ASING


PEMAIN asing bak raja di sepak bola Indonesia. Gaji mereka puluhan hingga ratusan juta setiap bulan. Belum lagi fasilitas yang didapat, mobil dan apartamen. Memang harus diakui, legion asing memang menjadi denyut nyawa permainan tim-tim sepak bola di tanah sir di level Divisi Utama ataupun Indonesia Super League(ISL). Bahkan, kompettisi yang lain, Liga Primer Indonesia (LPI) pun memakai jasa pemain mancanegara sebagai nyawa tim.

Bahkan, jumlahnya terus bertambah setiap tahun. Kali pertama, pemain asing dating pada Liga Indonesia (Ligina) I pada 1993/1994. Memang di era awal Galatama (Liga Sepak Bola Utama), sudah ada juga jasa memakai penggawa asing. Nama-nama Fandi Ahmad dan David Lee, keduanya asal Singapura, jadi inti kekuatan Niac Mitra Surabaya. Fandi beroperasi di lini depan dan David sebagai penjaga gawang. KOnstribusi keduanya sangat besar kepada klub asal Kota Pahlawan tersebut. Masih ada juga Jairo Matos. Pemain asal Brazil ini membela Pardedetex Medan. Bahkan, setelah tak lagi sebagai pemain, Matos pun masih menyumbangkan ilmunya sebagai pelatih di Medan dan sekitarnya.
Sayang, kebijakan larangan memakai pelatih asing di pertengahan 1980-an membuat klub-klub Galatama kembali mengoptimalkan pemain local. Hingga akhirnya, keran kepada pemain asing kembali dibuka pada era Liga Indonaesia, yang meleburkan Galatama dan Perserikatan. Awalnya, tak ada pemain top yang dating ke Indonesia. Nama-nama seperti Jacksen F. Tiago, Carlos de Mello, atapun Luciano Leandro masih asing di telinga penggemar sepak bola tanah air. Itu ditambah dengan para pemain asing asal Kamerun yang belum jelass juntrungnya.
Seiring perjalanan waktu, para pemain yang pernah merasakan kerasnya liga Eropa pun dating ke Indonesia. Sebut saja Jules Denis Onana, Maboang Kessack, ataupun juga legenda sepak bola Kamerun Roger Milla, Masih ada juga pencetak gol terbanyak Piala Dunia 1978 asal Argentina Mario Kempes. Hanya, para pemain tersebut dating saat kemampuannya sudah bukan lagi dalam kondisi puncak. Kedatangan para pemain itu pum bisa dianggap sebagai pemanis kompetisi sepak bola Indonesia.
Jumlahnya pun terus bertambah. Ini seiring dengan kebijakan PSSI dan BLI (Badan Liga Indonesia)—yang kemudian menjadi PT Liga Indonesia, selaku regulator sepak bola di Negeri Jamrud Khatulistiwa ini menambah jumlah pemain asing. Mulai dari tuga pemain hingga akhirnya membengkak menjadi lima pemain asing. Untung, penggunaan pemain asing hanya diterapkan di level utama dan I. Jika tidak, bisa-bisa klub-klub Divisi III pun akan memakai pemain asing. Kekhawatiran akan matinya potensi lokalpun berhembus kencang.
Apalagi, bayaran para pemain tersebut kadang tak sebanding dengan pemain local. Meski, secara kualitas, tak jauh beda ataumalah ada di bawahnya.Aturan PT LI yang memperketat standar pemain asing tetap tak menyurutkan semangat agen untuk mendatangkan pemainnya ke Indonesia. Bayaran yang tinggi menjadi salah satu pemikatnya.
Sayang seribu saying, belum ada keuntungan yang signifikan dari kedatangan pemain asing. Prestasi sepak bola Indonesia tetap jalan di tempat kalau tak mau disebut berjalan mundur. Timnas tetap terpuruk dan klub pun gagal bersinar di level Asia ataupun Asia Tenggara.
Tak jarang pula, pemain asing juga menjadi biang keributan dalam pertandingan. Padahal, kedatangan pemain asing ke Indonesia diharapkan bukan hanya meningkatkan skill pemain tapi juga sikap professional, bukan hanya di lapangan tapi juga di luar lapangan. Nah, yang jadi pertanyaan, masih relevankan kita memakai pemain asing?
Jika kita berkaca kepada Negara tetangga, Malaysia, tentu jawabannya tidak perlu. Kompetisi negeri jiran tersebut sudah dua tahun ini melarang kehadiran pemain asing. Hasilnya, mental dan skill pemain Malaysia benar-benar terasah. Hasilnya, Negara serumpun dengan Indonesia itupun mampu menjadi juara Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2010. Ironisnya, di final, xxx dkk di final mempermalukan Indonesia di pertandingan final yang memakai system home and away.\
Sebaliknya dengan Thailand. Negara yang kini banyak memakai pemain asing tersebut tengah terpuruk prestasi. Kehadiran mantan kapten Inggris dan Manchester United Bryan Robson sebagai pelatih tetap tak mampu mendongkrak prestasi Negeri Gajah Putih, julukan Thailand. Di ajang Piala AFF, negara yang masih disebut sebagai raja sepak bola Asia Tenggara itu sudah terpuruk di babak penyisihan.Kritik pun langsung tertuju kepada pengelola sepak bola Thailand. Banyaknya pemain asing membuat potensi pemain asli terkikis dan tak teruji. (*)
Pemain Asing Yang Sukses di Indonesia
1. Jacksen F. Tiago (Brazil)
2. Carlos de Mello (Brazil)
3. Luciano Leandro (Brazil)
4. Roger Milla (Kamerun)
5. Maboang Kessack (Kamerun)
6. Rodrigo Araya (Cile)
7. Antonio “Toyo” Claudio (Brazil)
8. Christian Gonzalez (Uruguay)*
9. Ronald Fagundes (Uruguay)
10. Danilo Fernando (Brazil)

*sudah naturalisasi menjadi warga negara Indonesia
Read More

JANGAN BIKIN RUSAK SEPAK BOLA SEJAK DINI


PEMBINAAN usia dini di Indonesia boleh mendapat acungan jempol. Saat ini, ada ribuan Sekolah Sepak Bola (SSB) yang tersebar di seluruh pelosok nusantara.
Bisa dibayangkan berapa tunas muda lapangan hijau yang siap mengorbit. Bisa jadi ratusan hingga ribuan pesepak bola muda usia yang punya mimpi mengenakan lambang garuda di dada di ajang internasional. Tentu, kondisi ini membuat kita seharusnya banyak berharap prestasi sepak bola Indonesia bisa segara mekar, bukan hanya sebagai tim yang dianggap sebelah mata. Banyaknya bibit juga membuat pelatih tinggal memilih talenta-talenta yang bakal diberi kepercayaan mengumandangkan lagu Indonesia Raya.
Sayang, harapan tersebut sudah puluhan tahun tak tergapai. Memang, kita pernah mencatatkan diri sebagai juara internasional di ajang usia 16 tahun di era 1980-an. Tapi, prestasi tersebut akhirnya dianggap berlumur noda. Para pemain yang membawa Indonesia juara ternyata usianya sudah di atas 16 tahun. Logika kita pun bisa menilai, masak seorang pemain yang baru saja menjadi kapten U-16 langsung dipercaya sebagai kapten klub di ajang galatama. Sungguh lucu tapi sangat ironis!. Tentu, si pemain punya jiwa leader di atas para pemain lainnya. Memang, hingga sekarang, kecurigaan tersebut tak terbukti. Atau aib tersebut memang sengaja tak dibuka karena bisa mencoreng muka Indonesia.
Bukan hanya itu saja, salah seorang pemain Indonesia gagal tampil di ajang Pra-Olimpiade 2000 karena usianya ternyata sudah di atas 23 tahun. Padahal, pemain yang berasal dari Solo, Jawa Tengah, tersebut sudah digembleng di Italia melalui proyek PSSI Primavera selama hampir tiga tahun lebih. Entah sengaja atau tidak, pemain tersebut akhirnya tamat karirnya lebih awal karena cedera.
Selain itu, salah satu penyerang asal Malang, Jawa Timur, juga tersandung pencurian umur saat hendak membela Indonesia di pentas Piala Asia U-19. Gigi bungsu sang pemain , yang kini tampil di ajang divisi utama, ternyata sudah tumbuh. Artinya, sang pemain tersebut usianya sudah lewat 19 tahun. Untuk menutupi malunya, PSSI akhirnya memulangkan penyerang tersebut.
Pencurian umur memang menjadi momok yang menakutkan di pentas kelompok umur. Kondisi ini sudah berlangsung lama dan PSSI pun tak punya cara untuk menangkalnya. Hukuman yang diberikan pun tak bikin jera SSB ataupun melakukan tindakan tercela tersebut. Bagi mereka, yang penting datanya komplet dan jika lolos, si pemain bisa membawa timnya juara.
Sebenarnya, PSSI pusat hingga lokal sudah memakai banyak cara untuk mendeteksi usia pemain. Mulai dari tes kesehatan hingga administrasi. Tapi, tetap saja pencurian umur susah dibendung.
Untuk memberantas pemalsuan umur obat yang paling mujarab adalah kejujuran dari diri sendiri. Lupakan segi prestasi dan lebih mengutamakan pembinaan juga tak boleh dianggap remeh. Peranan orang tua dan pelatih sangat besar dalam hal ini. Tak ada kebangaan yang bisa dirasakan jika kita tidak jujur. Bukanlah dalam sepak bola sudah ditekankan adanya Fair Play. Kata Fair Play bukan hanya di atas lapangan dengan menghormati wasit dan lawan.
Kejujuran dari diri sendiri juga bagian dari Fair Play. PSSI harus lebih serius menyosialisasikan programnya untuk menekankan kejujuran sejak SSB. Harapannya, kita tak mau sepak bola Indonesia yang sudah dalam kondisi kritris ini semakin tenggelam karena sudah rusak sejak usia dini.
Saat usia pemain yang harusnya di usia prestasi ternyata telah redup. Padahal, tenaga dan kemampuannya sangat dibutuhkan, bukan hanya klub tapi juga Merah Putih. Kalau ini terjadi, yang rugi akhirnya bukan hanya pemain tapi juga bangsa dan negeri ini. (*)

Catatan ini dibuat di Surabaya pada 2 Agustus 2011
Read More

MENUJU PROFESIONAL TANPA UANG RAKYAT

SEPAK BOLA tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia, Kita bisa lihat di segala penjuru daerah di negeri ini, menemukan lapangan sepak bola bukan hal susah.
Bahkan di daerah pedesaan di Pulau Jawa, di setiap sekolah dasar (SD), di sampingnya pasti ada lapangan sepak bola. Ini membuat masyarakat begitu erat dengan permainan olahraga dengan menggunakan bola tersebut.
Sayang, hal tersebut tak diimbangi dengan prestasi yang membanggakan di level inrernasional. Untuk menjadi jawara Asia Tenggara pun susahnya bukan main. Indonesia sudah puasa emas SEA Games sejak 1991.
Padahal, sebenarnya, untuk meraih prestasi bukan hal yang susah. Khususnya jika kita bicara soal pendanaan. Bahkan, kita bisa geleng-geleng epala. Anggaran di atas Rp 10 Miliar sudah me njadi biasa. Hanya, dana tersebut bukan dari sponsor tapi dari uang rakyat alias APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Sayang, muara utamanya bukan pada prestasi.Tapi, lebih banyak kepada politik. Tujuannya yakni pencitraan yang akan membawa manajer atau sosok di tim tersebut mampu menjadi kepala daerah.
Bahkan, sering juga, uang yang dipakai untuk membiayai kehidupan tim disalahgunakan. Akibatnya, banyak kepala daerah yang harus berurusan dengan hukum dan akhirnya harus masuk penjara.
Nah, kini penggunaan APBD pun telah diharamkan. Pemerintah melalui Permendagri 59/2007 telah melarang uang rakyat untuk dipakai di sepak bola. Ini membuat banyak klub kelimpungan. Mereka yang selalu dimanja APBD harus memutar otak untuk bisa eksis. Klub yang biasanaya hanya menunggu DPRD ketok palu tak bisa lagi melakukan hal yang sama.
Klub pun harus mulai mencari uang. Memang, pihak sponsor tetap memegang peranan besar. Bukan hal yang mudah untuk mencari uang miliran rupiah. Memang butuh kreativitas untuk mendapatkannya. Banyaknya perusahaan di daerah bisa diajak menjadi partnet. Tapi, perusahaan tersebut juga arus menjadi rekan yang sejajar bukan hanya sebagai pabrik uang yang harus bisa memberikan uang. Apa yang harus diperoleh pihak sponsor harus jelas. Yang tak kalah utama, keterbukaan tak bisa dianggap remeh.
Suporter pun juga harus diberdayakan. Selama ini, supporter sering diabaikan oleh klub sebagai sumber pendapatan. Padahal, bisa miliaran rupiah bisa diperoleh dapat mereka.Bisa melalui tiket, tapi bisa juga melalui merchandise klub. Coba bayangkan kalau puluhan hingga ratusan ribu suporter rutin menyaksiksan pertandingan klub kesayangannya. Bisa melalui tiket regular tapi bisa juga melalui tiket terusan. KLub klub Eropa juga jauh-jauh hari melalukannya. Merchandise yang kadang terlupakan oleh klub klub Eropa bisa jadi sumber kehidupan. Jika semuanya dkelola dengan baik, APBD bakal segara dilupakan oleh klub-klub sepak bola di Indonesia.Biarlah APBD dipakai untuk hal-hal yang lebih krusial seperti pendidikan dan kesehatan rakyat. (*)

Catatan ini dibuat di Surabaya pada 1 Agustus 2011
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com