www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 09 Agustus 2011

ENAKNYA BISA LANGSUNG NAIK

SEPAK bola Indonesia tak pernah lepas dari ribut-ribut. Memilih ketua umum ribut, kini memilih format kompetisi pun ribut lagi.
Padahal, sebelumnya, format kompetisi yang ada di naungan PSSI sudah ada. Indonesia Super League (ISL) menjadi puncak piramida. Sedangkan kompetisi Divisi III menjadi landasan awal.
Tapi, seiring pergantian ketua umum dari Nurdin Halid ke Djohar Arifin, format pun bakal mengalami perombakan. Ini tak lepas dari adanya kepentingan memasukan klub anggota LPI (Liga Primer Indonesia).
Bisa jadi, ini merupakan upaya balas budi dari pengurus PSSI di bawah nakhoda Djohar. Ya, klub LPI memang dikenal sebagai pendukung Djohar yang awalnya mengusung Arifin Panigoro dan George Toisutta.
Bahkan, untuk menentukan format kompetisi ini, PSSI harus minta saran kepada AFC (Federasi Sepak Bola Asia) dan FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional).(baca: Butuh Suara dari Luar Juga). Hasilnya, wakil AFC pun hadir ke Jakarta dan bertemu dengan klub-klub ISL, Divisi Utama, dan juga LPI. Induk organisasi sepak bola Asia itu pun menegaskan ada syarat-syarat yang harus penuhi agar sepak bola Indonesia mengarah ke profesional. Awal kompetisi pun AFC yang menentukan, yakni 8 Oktober.
Klub-klub ISL dan Divisi Utama pun banyak yang berteriak kencang. Umumnya, mereka kurang setuju jika klub LPI langsung duduk di level tertinggi. Bahkan, saat PSSI mengumumkan klub-klub yang masuk kategori profesional, suara pun semakin kencang.
Ada tiga klub LPI yang bisa masuk kategori profesional yakni Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar.
Jika merajuk aturan PSSI, sebenarnya ketiga klub tersebut masih bisa berkompetisi. Tapi bukan di level ISL, namun divisi utama. Alasannya, ketiganya tak menyelesaikan ISL musim 2010-2011 dan memilih bergabung LPI yang saat itu tak diakui PSSI.
Bagi klub non-LPI, mereka bisa berada di ISL ataupun divisi utama harus melalui jalan panjang dan berliku. Bahkan, bisa dikatakan berdarah-darah. Eh, kini, dengan enaknya ada klub yang mau langsung ke level tertinggi hanya karena mereka tak lagi mengandalkan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) serta mempunyai fasilitas yang sesuai aturan AFC.
Masalah ini harus diselesaikan sesuai aturan yang ada. Jika ada klub baru memang harus memulainya dari Divisi III atau jika mau enak, merger saja dengan klub yang ada di Divisi Utama atau ISL. Selain itu, kalau mau mengubah format yang ada harus melalui Kongres Luar Biasa (KLB). Bagaimana pun saat merumuskan format kompetisi yang ada, PSSI di era Nurdin Halid juga melalui KLB.
Yang perlu diwaspadai, jika memaksakan kehendak, bisa-bisa setiap pergantian ketua umum PSSI akan dibarengi dengan format kompetisi baru. Tentunya, format yang menguntungkan klub pengusung sang ketua. Hendaklah hal ini dihindari. Bravo sepak bola Indonesia. (*)

*Catatan ini dibuat di Surabaya pada 9 Agustus 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com