www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rabu, 17 Agustus 2011

UNTUK KEPENTINGAN SESAAT

STADION Manahan, Solo, 8 Januari 2011. Stadion kebanggaan warga Kota Bengawan, julukan Solo, erti penuh sesak. Bukan hanya oleh supporter tapi juga beberapa tokoh penting seperti pengusaha Arifin Panigoro, Saleh Ismail Mukadar, ataupun juga Wali Kota Solo Joko Widodo.
Mereka dating untuk menjadi saksi pembukaan kompetisi yang digadang-gadang menjadi kompetisi professional. Namanya, Liga Primer Indonesia (LPI). Liga ini diikuti oleh 18 tim dari ujung barat Indonesia, Nanggroe Aceh Darussalam dengan Atjeh United, maupun dari ujung timur yakni Papua melalui Cenderawasih Papua.
Hadirnya kompetisi ini pun membuat tim Indonesia Super League (ISL), yang merupakan kompetisi tertinggi di Indonesia, Persema Malang, Persebaya Surabaya, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar cabut. Imbasnya, keempatnya pun dikeluarkan dari keanggotaan PSSI.
LPI pun mampu menggandeng stasiun televise yang menyiarkan laganya seminggu dua kali pada Sabtu dan Minggu. Ini tak ubahnya dengan ISL maupun Divisi Utama. Sayang, PSSI tetap tak mengakuinya.
Tapi, kondisi tersebut tak menyurutkan semangat LPI. Kompetisi yang menggunakan slogan Perubahan dan Sepak Bola tanpa APBD tersebut tetap bergulir. Para wasitnya pun memakai wasit yang tak dipakai PSSI.
Hanya, tidak semua pertandingan LPI menarik dan bisa mendatangkan banyak penonton. Wajar karena kualitas pemainnya masih di bawah ISL kecuali tentunya para mantan peserta ISL. Stadion yang penontonnya banyak pun bisa dihitung jari. Akibatnya, kualitas pun kurang terjaga. Meski, LPI telah mendatangkan beberapa mantan pemain level dunia sekelas Lee Hendrie, mantan pemain Aston Villa dan juga timnas Inggris. Dia membela Bandung FC. Ada juga Amaral yang tercatat pernah membela timnas Brazil dan juga tim elite Serie A Italia Fiorentina.
LPI pun tetap berdalih kebih baik daripada kompetisi lainnya. Tapi, setelah Kongres PSSI berakhir damai di Solo dan memilih Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum, masyarakat mulai paham. Ternyata LPI hanya menjadi senjata untuk menghimpun opini masyarakat untuk meninggalkan NUrdin Halid. Meski tanpa LPI pun masyarakat sudah banyak yang antipasti kepada PSSI yang dipimpin Nurdin. Dia dianggap gagal membawa prestasi bagi Indonesia. Juara SEA Games sudah susah digapai,apalagi merealisasikan mimpi menembus Piala Dunia.
Bahkan pada 15 Agustus 2011, PSSI malah membubarkan LPI. Kompetisi tersebut hanya berlangsung satu musim tanpa ada tim yang menjadi juara. Kalau ada tim LPI yang mau bergabung dalam kompetisi PSSI harus merger dengan klub yang sudah menjadi anggota PSSI.
Sangat disayangkan sebenarnya. Ini membuat masyarakat semakin tahu akan tujuan dan maksud adanya LPI. Semuanya tak jauh dari kepentingan segelintir orang yang menggunakannya untuk merebut kekuasaaan. Selamat jalan LPI. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com