www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Sabtu, 06 Agustus 2011

IBNU GRAHAN, KUAT ENAM TAHUN MENAHAN CEDERA


PERSEBAYA banyak melahirkan bintang. Mulai dari Rusdy Bahalwan, Soebodro, Syamsul Arifin, Mustaqim, Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi, hingga sekarang Rendy Irwan dan Andik Vermansyah. Tapi, di antara semua nama Ibnu Grahan tak boleh dipinggirkan.
Dia bukan hanya berstatus bintang biasa, bahkan bisa disebut bintang lima. Peranannya tidak hanya sebagai jendral lapangan Green Force, julukan Persebaya, tapi juga menyandang jabatan sebagai kapten tim perserikatan asal Surabaya tersebut. Amanat tersebut dilakoninya selama tiga tahun dari 1990-1993.
“Awalnya, saya kaget juga dipilih sebagai kapten. Tapi, saya akhirnya menganggap itu sebagai kepercayaan yang harus dijalankan,” kata Ibnu saat ditemui pada Ramadan 2011.
Sebenarnya, karir Ibnu di Persebaya tergolong unik. Dia tak pernah menjaadi starter di klubnya, Putra Gelora, eh malah dia bisa menembus skuad Persebaya. Kok bisa? Ini terjadi karena penampilannya yang gemilang di kejuaraan sepak bola antarkecamatan se-Surabaya pada 1986.
“Susah sekali masuk tim inti Putra Gelora. Banyak pemain di situ dan pelatih kurang member kepercayaan kepada pemain muda seperti saya,” kenang Ibnu.
Apalagi, dia baru saja menekuni olahraga si kulit bundar tersebut baru saja, tepatnya setelah lulus SMA. Tapi, itu tak mengurangi niatnya untuk selalu tampil bagus dalam setiap pertandingan, termasuk saat antarkecamatan. Bahkan, saat itu, dia menjadi pemain terbaik sekaligus pencetak gol terbanyak.
Ini juga dilakukannya di depan Wali Kota Surabaya Purnomokasidi. Orang nomor satu di Kota Pahlawawan, julukan Surabaya, kepincut. “Pak Wali langsung memanggil Pak Rusdy (Bahalwan) untuk memanggil saya di Persebaya,” ucap Ibnu.
Sejak 1986 itulah namanya masuk dalam tim berlogo Suro dan Boyo serta Tugu Pahlawan itu. Hanya, untuk menembus skuad inti juga tidak mudah. Hanya, pada 1987, saat Persebaya juara, dia sempat tampil beberapa kali. “Ada kebanggaan membela tim juara meski saya tak banyak tampil. Ini juga memupuk mental bertanding saya,” lanjut pria yang kini dikaruniai tiga anak tersebut.
Setelah itu, lambat laun, posisi pemain regular pun mampu diraih Ibnu. Hingga akhirnya, mulai 1990, jabatan kapten pun diberikan kepadanya. “Saat saya jadi kapten, Persebaya mampu menjadi juara Piala Utama dengan mengalahkan Pelita Jaya,” ungkap lelaki kelahiran 23 Juli 1967 tersebut.
Piala Utama merupakan turnamen yang menggabungkan dua kutub sepak bola saat itu, galatama dan perserikatan. Persebaya yang bermaterikan pemain muda sukses mempermalukan tim bertabur bintang, Pelita Jaya.
Hasil itu pula membuat nama Ibnu makin dikenal di pentas sepak bola Indonesia. Sebagai pemain yang tergolong masih muda, dia pun ingin merasakan tantangan di Galatama.
“Pada 1993, saya pindah ke Mitra Surabaya. Saya ingin merasakan asmosfer Galatama,” tuturnya.
Di Mitra pula, suami Wahyu Rina tersebut menjalani operasi lutut. Padahal, cedera itu sudah dialaminya sejak 1987 saat dia tampil di ajang galadesa. “Jadi, saya menahan sakit di lutut ini selama enam tahun. Kalau mau tampil ketika di Persebaya, lutut saya harus disuntik,” ungkap Ibnu.
Di Mitra, Ibnu bertahan hingga 1995 dan pindah ke klub sekota lainnya, Assayabaab Salim Group Galatama (ASGS). Dia pun bertahan selama setahun hingga akhirnya kembali ke Persebaya pada 1997. “Lutut kadang masih terasa sakit.Ini membuat saya akhirnya memutuskan pensiun. Usia pun sudah tidak muda lagi,” kata Ibnu sambil memegangi lututnya.
Hanya, dunia sepak bola pun tak bisa ditinggalkannya. Datangan melatih puin dating pada 2000. “Pak Wali Cak Narto (Soenarto) langsung yang memberikan tugas. MUngkin, karir saya memang harus melalui wali kota ya. Jadi pemain karena Pak Pur, jadi pelatih pun melalui Cak Narto,” tambahnya.
Sejak itu, dunia kepelatihan sudah akrab dengannya. Pada musim 2001, sudah mulai masuk dalam jajaran pelatih Persebaya senior. Mulai dari Rudy Keeltjes, Muhammad ‘Mamak’ Alhadad hingga pelatih Brazil Gildo Rodriguez pun pernah diasistennya. Saat Green Force juara pada 2004, dia juga menjadi asisten Jacksen F. Tiago, asal Brazil.
“Saya merasa komplet karena merasakan menjadi juara sebagai pemain maupun pelatih,” ucap Ibnu.
Tapi, Ibnu pun juga pernah merasakan menangani tim di luar Surabaya. Pada 2006-2007. Ibnu memoles tim anyar Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Di tangannya, daerah yang masih nol dalam urusan sepak bola itu mulai kenal dengan olahraga paling popular di muka bumi ini. Bahkan, kini, KSB sudah berada di level Divisi Utama.
Persela U-21 pun juga pernah merasakan sentuhan tangan dinginnya. Sayang, panggilan kerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) membuat dia harus kembali ke Surabaya. Pinangan dari Persebaya pun tak kuasa ditolaknya. Suhatman Iman, Danurwindo, hingga Aji Santoso sekarang masih membutuhkan tenaga dan pikirannya.
Di sela-sela sebagai jajaran pelatih di Persebaya , Ibnu tak lupa mencetak pemain muda. Melalui Surabaya Football Club (SFC) yang dimilikinya, dia banyak melahirkan bibit-bibit masa depan lapangan hijau. Dia berharap agar ada yang meneruskan kemampuannya di lapangan hijau. Termasuk menjadi kapten Green Force. (*)

BIODATA
Nama: Ibnu Grahan
Lahir: 23 Juli 1967
Istri: Wahyu Rina
Anak:
Yuhansyah Prima Aditya
Erliga D. Ramadan
Arlangga Kasa Al Ayubi

Karir
Pemain:
1986-1993: Persebaya Surabaya
1993-1995: Mitra Surabaya
1995-1996: Assyabaab Salim Group Surabaya
1997: Persebaya Surabaya

Pelatih:
2000: Persebaya Surabaya Junior
2001-2005: Persebaya Senior
2005-2007: Kabupaten Sumbawa Barat
2007-2008: Persela Lamongan U-21
2008-…: Persebaya Senior

1 comments:

Umar Syahbal mengatakan...

Mas ibnu mantan pemain skaligus seorang pelatih yg bisa buat panutan,semoga tetap sehat&sukses terus Amiinnn...(umar bin umar)

30 November 2017 07.59

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com