www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 02 Agustus 2011

JANGAN BIKIN RUSAK SEPAK BOLA SEJAK DINI


PEMBINAAN usia dini di Indonesia boleh mendapat acungan jempol. Saat ini, ada ribuan Sekolah Sepak Bola (SSB) yang tersebar di seluruh pelosok nusantara.
Bisa dibayangkan berapa tunas muda lapangan hijau yang siap mengorbit. Bisa jadi ratusan hingga ribuan pesepak bola muda usia yang punya mimpi mengenakan lambang garuda di dada di ajang internasional. Tentu, kondisi ini membuat kita seharusnya banyak berharap prestasi sepak bola Indonesia bisa segara mekar, bukan hanya sebagai tim yang dianggap sebelah mata. Banyaknya bibit juga membuat pelatih tinggal memilih talenta-talenta yang bakal diberi kepercayaan mengumandangkan lagu Indonesia Raya.
Sayang, harapan tersebut sudah puluhan tahun tak tergapai. Memang, kita pernah mencatatkan diri sebagai juara internasional di ajang usia 16 tahun di era 1980-an. Tapi, prestasi tersebut akhirnya dianggap berlumur noda. Para pemain yang membawa Indonesia juara ternyata usianya sudah di atas 16 tahun. Logika kita pun bisa menilai, masak seorang pemain yang baru saja menjadi kapten U-16 langsung dipercaya sebagai kapten klub di ajang galatama. Sungguh lucu tapi sangat ironis!. Tentu, si pemain punya jiwa leader di atas para pemain lainnya. Memang, hingga sekarang, kecurigaan tersebut tak terbukti. Atau aib tersebut memang sengaja tak dibuka karena bisa mencoreng muka Indonesia.
Bukan hanya itu saja, salah seorang pemain Indonesia gagal tampil di ajang Pra-Olimpiade 2000 karena usianya ternyata sudah di atas 23 tahun. Padahal, pemain yang berasal dari Solo, Jawa Tengah, tersebut sudah digembleng di Italia melalui proyek PSSI Primavera selama hampir tiga tahun lebih. Entah sengaja atau tidak, pemain tersebut akhirnya tamat karirnya lebih awal karena cedera.
Selain itu, salah satu penyerang asal Malang, Jawa Timur, juga tersandung pencurian umur saat hendak membela Indonesia di pentas Piala Asia U-19. Gigi bungsu sang pemain , yang kini tampil di ajang divisi utama, ternyata sudah tumbuh. Artinya, sang pemain tersebut usianya sudah lewat 19 tahun. Untuk menutupi malunya, PSSI akhirnya memulangkan penyerang tersebut.
Pencurian umur memang menjadi momok yang menakutkan di pentas kelompok umur. Kondisi ini sudah berlangsung lama dan PSSI pun tak punya cara untuk menangkalnya. Hukuman yang diberikan pun tak bikin jera SSB ataupun melakukan tindakan tercela tersebut. Bagi mereka, yang penting datanya komplet dan jika lolos, si pemain bisa membawa timnya juara.
Sebenarnya, PSSI pusat hingga lokal sudah memakai banyak cara untuk mendeteksi usia pemain. Mulai dari tes kesehatan hingga administrasi. Tapi, tetap saja pencurian umur susah dibendung.
Untuk memberantas pemalsuan umur obat yang paling mujarab adalah kejujuran dari diri sendiri. Lupakan segi prestasi dan lebih mengutamakan pembinaan juga tak boleh dianggap remeh. Peranan orang tua dan pelatih sangat besar dalam hal ini. Tak ada kebangaan yang bisa dirasakan jika kita tidak jujur. Bukanlah dalam sepak bola sudah ditekankan adanya Fair Play. Kata Fair Play bukan hanya di atas lapangan dengan menghormati wasit dan lawan.
Kejujuran dari diri sendiri juga bagian dari Fair Play. PSSI harus lebih serius menyosialisasikan programnya untuk menekankan kejujuran sejak SSB. Harapannya, kita tak mau sepak bola Indonesia yang sudah dalam kondisi kritris ini semakin tenggelam karena sudah rusak sejak usia dini.
Saat usia pemain yang harusnya di usia prestasi ternyata telah redup. Padahal, tenaga dan kemampuannya sangat dibutuhkan, bukan hanya klub tapi juga Merah Putih. Kalau ini terjadi, yang rugi akhirnya bukan hanya pemain tapi juga bangsa dan negeri ini. (*)

Catatan ini dibuat di Surabaya pada 2 Agustus 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com