www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 15 Agustus 2011

LAYAKNYA MAU DAFTAR SEKOLAH

SENYUM kecil tersungging dari bibir saya. Gara-garanya membaca komentar teman yang menganggap kompetisi sepak bola di Indonesia layaknya mendaftar sekolah.
Kok bisa? Gara-garanya ada syarat yang harus dilengkapi oleh klub jika ingin berlaga di kompetisi musim depan. PSSI mewajibkan klub yang berlaga di level 1 harus punya uang Rp 5 Miliar dan yang ‘hanya’ punya uang Rp 2 Miliar harus rela berlaga di level II.
Saya pun menyadari juga akan kebenaran sindiran dari teman tersebut kepada PSSI. Kita pasti ingat kalau mendaftarkan anak kita ataupun kita sendiri jika mau sekolah. Jika kantong kita tebal, tentu kita akan dapat sekolah bagus (meski ini juga tak 100 persen benar).
Padahal, untuk mendapat sekolah bagus, bukan melulu karena uang. Tentu, kepandaian dan kecerdasan yang lebih utama. Sangat riskan kalau hanya mengandalkan uang. Bisa-bisa peringkat sekolah yang menerima muridnya berdasarkan uang bakal turun peringkatnya karena sumber daya manusianya (SDM) kurang mendukung.
Saya akhirnya sependapat dengan kiriman rekan tersebut. Meski, saya pun juga geleng-geleng kepala (tentunya yang paham akan sepak bola). Akankan kompetisi yang sudah terbangun puluhan tahun ini harus diubah gara-gara pergantian ketua umum PSSI dan hanya karena uang setoran.
Tentu Anda akan sependapat dengan saya bahwa Persipura Jayapura masih jauh lebih baik dibandingkan Cenderawasih Papua, Solo FC, ataupun juga klub-klub Liga Primer Indonesia (LPI) lainnya. Persipura bisa gagal berlaga di level satu hanya karena Mutiara Hitam, julukan Papua, masih mengandalkan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Padahal, secara kualitas, tim yang berstatus juara Indonesia Super League (ISL) 2010-2011 tersebut bisa dikatakan jempolan. Mereka punya pendukung yang selalu meluberi Stadion Mandala, Jayapura. Punya materi pemain sekelas Zah Rahan, Hamka Hamzah, atapun juga Boaz Solossa. Belum lagi kehadiran pelatih bertangan dingin asal Brazil Jacksen F. Tiago. Lelaki yang juga pernah mengantarkan Persebaya Surabaya juara Liga Indonesia tersebut mampu meracik pemain yang labelnya bintang.
Kini, kita juga harus merenungkan, lamanya kompetisi yang dijalani klub dengan sengit, akhirnya hanya kalah karena uang. Ataukah ini bakal menjadi awal keterpurukan sepak bola Indonesia. Atau malah sebaliknya, bakal menjadi awal prestasi sepak bola Negeri Jamrud Khatulistiwa. (*)

Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 14 Agustus 2011



0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com