www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rabu, 03 Agustus 2011

MANDIRI TANPA MENGANDALKAN PEMAIN ASING


PEMAIN asing bak raja di sepak bola Indonesia. Gaji mereka puluhan hingga ratusan juta setiap bulan. Belum lagi fasilitas yang didapat, mobil dan apartamen. Memang harus diakui, legion asing memang menjadi denyut nyawa permainan tim-tim sepak bola di tanah sir di level Divisi Utama ataupun Indonesia Super League(ISL). Bahkan, kompettisi yang lain, Liga Primer Indonesia (LPI) pun memakai jasa pemain mancanegara sebagai nyawa tim.

Bahkan, jumlahnya terus bertambah setiap tahun. Kali pertama, pemain asing dating pada Liga Indonesia (Ligina) I pada 1993/1994. Memang di era awal Galatama (Liga Sepak Bola Utama), sudah ada juga jasa memakai penggawa asing. Nama-nama Fandi Ahmad dan David Lee, keduanya asal Singapura, jadi inti kekuatan Niac Mitra Surabaya. Fandi beroperasi di lini depan dan David sebagai penjaga gawang. KOnstribusi keduanya sangat besar kepada klub asal Kota Pahlawan tersebut. Masih ada juga Jairo Matos. Pemain asal Brazil ini membela Pardedetex Medan. Bahkan, setelah tak lagi sebagai pemain, Matos pun masih menyumbangkan ilmunya sebagai pelatih di Medan dan sekitarnya.
Sayang, kebijakan larangan memakai pelatih asing di pertengahan 1980-an membuat klub-klub Galatama kembali mengoptimalkan pemain local. Hingga akhirnya, keran kepada pemain asing kembali dibuka pada era Liga Indonaesia, yang meleburkan Galatama dan Perserikatan. Awalnya, tak ada pemain top yang dating ke Indonesia. Nama-nama seperti Jacksen F. Tiago, Carlos de Mello, atapun Luciano Leandro masih asing di telinga penggemar sepak bola tanah air. Itu ditambah dengan para pemain asing asal Kamerun yang belum jelass juntrungnya.
Seiring perjalanan waktu, para pemain yang pernah merasakan kerasnya liga Eropa pun dating ke Indonesia. Sebut saja Jules Denis Onana, Maboang Kessack, ataupun juga legenda sepak bola Kamerun Roger Milla, Masih ada juga pencetak gol terbanyak Piala Dunia 1978 asal Argentina Mario Kempes. Hanya, para pemain tersebut dating saat kemampuannya sudah bukan lagi dalam kondisi puncak. Kedatangan para pemain itu pum bisa dianggap sebagai pemanis kompetisi sepak bola Indonesia.
Jumlahnya pun terus bertambah. Ini seiring dengan kebijakan PSSI dan BLI (Badan Liga Indonesia)—yang kemudian menjadi PT Liga Indonesia, selaku regulator sepak bola di Negeri Jamrud Khatulistiwa ini menambah jumlah pemain asing. Mulai dari tuga pemain hingga akhirnya membengkak menjadi lima pemain asing. Untung, penggunaan pemain asing hanya diterapkan di level utama dan I. Jika tidak, bisa-bisa klub-klub Divisi III pun akan memakai pemain asing. Kekhawatiran akan matinya potensi lokalpun berhembus kencang.
Apalagi, bayaran para pemain tersebut kadang tak sebanding dengan pemain local. Meski, secara kualitas, tak jauh beda ataumalah ada di bawahnya.Aturan PT LI yang memperketat standar pemain asing tetap tak menyurutkan semangat agen untuk mendatangkan pemainnya ke Indonesia. Bayaran yang tinggi menjadi salah satu pemikatnya.
Sayang seribu saying, belum ada keuntungan yang signifikan dari kedatangan pemain asing. Prestasi sepak bola Indonesia tetap jalan di tempat kalau tak mau disebut berjalan mundur. Timnas tetap terpuruk dan klub pun gagal bersinar di level Asia ataupun Asia Tenggara.
Tak jarang pula, pemain asing juga menjadi biang keributan dalam pertandingan. Padahal, kedatangan pemain asing ke Indonesia diharapkan bukan hanya meningkatkan skill pemain tapi juga sikap professional, bukan hanya di lapangan tapi juga di luar lapangan. Nah, yang jadi pertanyaan, masih relevankan kita memakai pemain asing?
Jika kita berkaca kepada Negara tetangga, Malaysia, tentu jawabannya tidak perlu. Kompetisi negeri jiran tersebut sudah dua tahun ini melarang kehadiran pemain asing. Hasilnya, mental dan skill pemain Malaysia benar-benar terasah. Hasilnya, Negara serumpun dengan Indonesia itupun mampu menjadi juara Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2010. Ironisnya, di final, xxx dkk di final mempermalukan Indonesia di pertandingan final yang memakai system home and away.\
Sebaliknya dengan Thailand. Negara yang kini banyak memakai pemain asing tersebut tengah terpuruk prestasi. Kehadiran mantan kapten Inggris dan Manchester United Bryan Robson sebagai pelatih tetap tak mampu mendongkrak prestasi Negeri Gajah Putih, julukan Thailand. Di ajang Piala AFF, negara yang masih disebut sebagai raja sepak bola Asia Tenggara itu sudah terpuruk di babak penyisihan.Kritik pun langsung tertuju kepada pengelola sepak bola Thailand. Banyaknya pemain asing membuat potensi pemain asli terkikis dan tak teruji. (*)
Pemain Asing Yang Sukses di Indonesia
1. Jacksen F. Tiago (Brazil)
2. Carlos de Mello (Brazil)
3. Luciano Leandro (Brazil)
4. Roger Milla (Kamerun)
5. Maboang Kessack (Kamerun)
6. Rodrigo Araya (Cile)
7. Antonio “Toyo” Claudio (Brazil)
8. Christian Gonzalez (Uruguay)*
9. Ronald Fagundes (Uruguay)
10. Danilo Fernando (Brazil)

*sudah naturalisasi menjadi warga negara Indonesia

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com