www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 23 Agustus 2011

MASUK KE STADION IMPIAN


SAYA selalu punya kenangan kalau Bayern Munchen berlaga di Allianz Arena. Bukan hanya karena saya fanatik dengan tim asal Bavarian tersebut.
Tapi, saya serasa baru saja datang ke stadion tempat pembukaan Piala Dunia 2006 tersebut. Padahal, saya sudah tiga tahun lalu saya menginjakkan kaki di Alianz Arena.
Ya, pada 29 Juni lalu, saya datang ke Jerman atas penugasan di tempat saya bekerja dalam rangka liputan Euro 2008 (Piala Eropa 2008). Sebenarnya, even sepak bola terbesar di Benua Biru, julukan Eropa, tersebut dilaksanakan di Austria dan Swiss.
Saya bisa ke Jerman karena negara tersebut lolos ke final untuk bersua Spanyol. Sayang, memang akhirnya Jerman kalah 0-2 dari Negeri Matador, julukan Spanyol.
Tapi, hasil tersebut tetap tak mengurang kekaguman saya kepada atmosfer sepak bola Jerman, khususnya Munchen. Pada hari pertama (28/6), saya memang berkesempatan datang ke Stadion Olimpiade. Stadion ini tak kalah punya sejarah karena pernah menjadi tempat penyelenggaraan final Piala Dunia 1974. Hebatnya, saat itu, Jerman, yang masih bernama Jerman Barat karena terpisah dengan Jerman Timur, mampu menang di final setelah mengalahkan Belanda dengan skor 2-1 (7/7/1974).
Dalam laga pemungkas itu, Jerman sempat tertinggal dulu saat Negeri Kincir Angin, julukan Belanda, melalui gol Johan Neeskens pada menit ke-2 dari tembakan penalti. Tapi, gol Paul Breitner menit ke-25 juga dari titik penalti serta Gerd Muller menit ke-43 membuat pendukung tuan rumah bersorak.
Meski sudah tua, tapi Stadion Olimpiade tetap terawat dengan baik. Mungkin berbeda dengan stadion di Indonesia, yang makin tua makin tidak terawat he he he he.
Saya datang ke Allianz Arena dengan naik kereta api dari Stasiun Munchen, yang tak jauh dari saya menginap. Saya membeli tiket tiga hari karena saya sesuaikan dengan rencana saya menginap di kota tersebut.
Saya turun di stasiun yang paling dekat dengan Stadion Allianz Arena. Dari stasiun memang sudah terlihat megahnya stadion yang bisa menampung 69 ribu penonton tersebut.
Memang harus berkeringat untuk bisa menjangkaunya. Kira-kira jarak stasiun ke stadion sekitar 3 kilometer lebih dan waktu itu melewati ilalang.
Sampai di sana, Allianz Arena masih tutup karena masih pukul 09.00. Saat itu, stadion yang memakain biaya 30 juta Euro tersebut baru buka satu jam kemudian.
Saya menunggu di luar. Untung, saya kenal dengan keluarga warga Jerman (sayang saya sudah lupa namanya). Keluaga itu akhirnya masuk bersama saya ke dalam stadion dengan membayar 10 Euro.
Kali pertama masuk, kami dibawa ke kafe tempat penonton. Ternyata, ada dua kafe di dalam stadion megah itu. Bagi penonton ekonomi, kursi dan mejanya terbuat dari kayu. Sementara, yang kelas VIP, sudah layaknya restoran kelas atas.
Setelah itu, rombongan dibawa masuk ke tribun penonton. Oleh guide, kami dibawa ke tribun penonton, mulai dari tribun kelas ekonomi hingga tribun VIP serta VVIP. Kami pun juga diberi kesempatan berteriak layaknya saat mendukung Bayern Munchen.
Usai dari tribun, kami masih dibawa ke lorong pemain. Di sana, kami masuk ke ruang ganti pemain Bayern serta tamu. Saya sempat terkesima saat melihat ada kolam renang mini di dalam ruang ganti. Saya pun sempat berdecak kagum. Di akhir perjalanan, kami masuk ke toko souvenir Bayern Munchen. Saya menyempatkan membeli topi pemain pujaan saya di klub tersebut, Bastian Schweinteiger.
Pengalaman yang sangat berharga. Hanya, saya belum bisa masuk lansung saat ada pertandingan di stadion yang diresmikan 30 Mei 2005 itu. Siapa tahu adan rezeki dan kesempatan, kata saya dalam hati. ..(*)

*Catatan ini dibuat di Surabaya pada 23 Agustus 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com