www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 01 Agustus 2011

MENUJU PROFESIONAL TANPA UANG RAKYAT

SEPAK BOLA tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia, Kita bisa lihat di segala penjuru daerah di negeri ini, menemukan lapangan sepak bola bukan hal susah.
Bahkan di daerah pedesaan di Pulau Jawa, di setiap sekolah dasar (SD), di sampingnya pasti ada lapangan sepak bola. Ini membuat masyarakat begitu erat dengan permainan olahraga dengan menggunakan bola tersebut.
Sayang, hal tersebut tak diimbangi dengan prestasi yang membanggakan di level inrernasional. Untuk menjadi jawara Asia Tenggara pun susahnya bukan main. Indonesia sudah puasa emas SEA Games sejak 1991.
Padahal, sebenarnya, untuk meraih prestasi bukan hal yang susah. Khususnya jika kita bicara soal pendanaan. Bahkan, kita bisa geleng-geleng epala. Anggaran di atas Rp 10 Miliar sudah me njadi biasa. Hanya, dana tersebut bukan dari sponsor tapi dari uang rakyat alias APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Sayang, muara utamanya bukan pada prestasi.Tapi, lebih banyak kepada politik. Tujuannya yakni pencitraan yang akan membawa manajer atau sosok di tim tersebut mampu menjadi kepala daerah.
Bahkan, sering juga, uang yang dipakai untuk membiayai kehidupan tim disalahgunakan. Akibatnya, banyak kepala daerah yang harus berurusan dengan hukum dan akhirnya harus masuk penjara.
Nah, kini penggunaan APBD pun telah diharamkan. Pemerintah melalui Permendagri 59/2007 telah melarang uang rakyat untuk dipakai di sepak bola. Ini membuat banyak klub kelimpungan. Mereka yang selalu dimanja APBD harus memutar otak untuk bisa eksis. Klub yang biasanaya hanya menunggu DPRD ketok palu tak bisa lagi melakukan hal yang sama.
Klub pun harus mulai mencari uang. Memang, pihak sponsor tetap memegang peranan besar. Bukan hal yang mudah untuk mencari uang miliran rupiah. Memang butuh kreativitas untuk mendapatkannya. Banyaknya perusahaan di daerah bisa diajak menjadi partnet. Tapi, perusahaan tersebut juga arus menjadi rekan yang sejajar bukan hanya sebagai pabrik uang yang harus bisa memberikan uang. Apa yang harus diperoleh pihak sponsor harus jelas. Yang tak kalah utama, keterbukaan tak bisa dianggap remeh.
Suporter pun juga harus diberdayakan. Selama ini, supporter sering diabaikan oleh klub sebagai sumber pendapatan. Padahal, bisa miliaran rupiah bisa diperoleh dapat mereka.Bisa melalui tiket, tapi bisa juga melalui merchandise klub. Coba bayangkan kalau puluhan hingga ratusan ribu suporter rutin menyaksiksan pertandingan klub kesayangannya. Bisa melalui tiket regular tapi bisa juga melalui tiket terusan. KLub klub Eropa juga jauh-jauh hari melalukannya. Merchandise yang kadang terlupakan oleh klub klub Eropa bisa jadi sumber kehidupan. Jika semuanya dkelola dengan baik, APBD bakal segara dilupakan oleh klub-klub sepak bola di Indonesia.Biarlah APBD dipakai untuk hal-hal yang lebih krusial seperti pendidikan dan kesehatan rakyat. (*)

Catatan ini dibuat di Surabaya pada 1 Agustus 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com