www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rabu, 31 Agustus 2011

MONUMEN YANG BERADA DI SIMPANG JALAN



DI MASA KECILKU, di era 1980-an, masuk Stadion Sriwedari merupakan sebuah impian. Saya harus bersepeda sejauh hampir 8 kilometer untuk bisa sampai di stadion yang berada di tepi Jalan Slamet Riyadi tersebut.
Saking keinginan yang kuat, saya pun harus menaiki sepeda kecilku untuk bisa mengintip kondisi lapangan saat itu. Saya pun sempat berdecak kagum melihat hijaunya rumput stadion yang dipakai pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) I 1948 tersebut. Barulah setelah menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sudah bisa masuk ke Stadion Sriwedari.
Tentunya, saya masuk dengan membeli tiket pertadingan Arseto Solo, yang sejak 1985 sudah menjadikan Stadion Sriwedari sebagai kandangnya. Harga tiketnya Rp 1.500 untuk tribun tertutup. Saya membelinya dari uang jajan yang saya sisihkan.
Kekaguman saya pun menjadi-jadi saat kali pertama melihat langsung kondisi stadion. Rumput yang hijau terhampar dengan tribun penonton dari kayu yang kukuh meski hentakan kaki ribuan penonton selalu bergema saat pemain Arseto mencetak gol atau nyaris mencetak gol.
Kebahagiaan saya pun semakin lengkap ketika kali pertam menginjak rumput stadion pada pertengahan 1990-an saat saya diajak rekan dekat berlatih bersama PS Pemda Solo di sana setiap Jumat pagi. Demi bisa merasakan nikmatnya menginjak rumput Stadion Sriwedari, saya rela absen di jam-jam awal kuliah.
Sayang, lambat-laun kondisi Stadion Sriwedari semakin memprihatinkan. Apalagi, setelah Arseto Solo bubar pada 1998 karena krisis sosial dan ekonomi yang menyerang Indonesia. Setiap klub dengan mudahnya bisa menginjak rumput stadion asalkan mereka berani membayar uang sewanya. Kondisi semakin diperparah dengan seringnya lapangan Stadion Sriwedari untuk kegiatan pentas musik (baca konser). Besoknya, pasti lapangan Stadion Sriwedari langsung rusak bak kandang kerbau.
Tapi mau bagaimana lagi. Demi masuknya uang perawatan dan membiayai aktivitas karyawan, uang masuk sangat dibutuhkan. Pemkot Solo pernah melalukan renovasi lapangan. Memang, kondisinya membaik. Tapi, perawatannya pun juga susah.
Dari daftar penyewanya, stadion yang bisa menampung 10 ribu penonton tersebut nyaris tak pernah longgar. Mulai dari klub hingga instansi berebut memakai stadion yang dibangun pada era Raja Paku Buwono X pada 1933 tersebut.
Namun, ada lagi yang membuat Stadion Sriwedari bisa hilang dari peredaran. Saat ini, tempat tersebut menjadi sengketa Pemkot Solo dengan RMT Wiryodiningrat.

Terlepas dari argumen yang dimiliki baik Pemkot Solo dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional (BPN) maupun ahli waris RMT Wiryodiningrat, kenyataannya sengketa ikut membuat stadion juga kurang terurus. Kita hanya berharap, siapa pun pemenangnya, Stadion Sriwedari tetap ada karena sudah menjadi milik negeri ini sebagai Monumen PON I. Semoga. (*)

Tulisan ini dibuat di Solo pada 30 Agustus 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com