www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rabu, 31 Agustus 2011

SAKSI BISU KEJAYAAN ARSETO SOLO


PINTU sebuah bangunan besar di kawasan Kadipolo, Solo,pada 29 Agustus 2011 lalu tertutup rapat. Awalnya, sempat kesusahan juga bagaimana caranya untuk bisa masuk.
Tapi, setelah digoyang-goyang sedikit, pintu tersebut bisa dibuka. Tampaklah sebuah lapangan bola yang nyaris gundul. Rumput yang tumbuh pun sudah coklat warnanya.
Ya, tempat tesebut merupakan bekas mess Arseto Solo. Memang, tempat tersebut bukan tempat pertama Arseto menjadikannya sebagai mes. Sebelumnya, tim juara Galatama itu sudah menemati mes di Jalan Adi Sutjipto Jajar dan sebuah bangunan besar di kawasan Sidokare. Hingga akhirnya pihak manajemen memilih mes Kadipolo sebagai tempat para pemain Arseto menjalankan aktivitasnya.
Dulunya, lapangan di Kadipolo tersebut sangat elok. Rumputnya hijau terawat karena setiap hari dipakai latihan oleh klub yang dulunya termasuk bergengsi baik di era Galatama ataupun Liga Indonesi sebelum akhirnya Arseto bubar pada 1998 saat terjadi krisis sosial dan politik.Ini dikarenakan Elang Biru, julukan Arseto, merupakan klub kepunyaan penguasa Orde Baru Soeharto. Memang bukan Soeharto langsung tapi anaknya, Sigit Hardjojoedanto.
Sebelum dipakai mess Arseto, tempat tersebut merupakan bekas rumah sakit bagi penderita kelainan jiwa. Ini pula yang membuat seringnya cerita mistik yang mengiringnya. Dari suara kereta pasien hingga makhluk menembus tembok.
Mess Arseto letaknya di Jalan Dokter Radjiman atau di depan Kelurahan Panularan. Bangunan ini berada di atas tanah seluas 2,5 hektare dan didirikan pada masa pemerintahan Raja Kraton Surakarta Paku Buwono (PB) X.

Awalnya, bangunan ini dibangun khusus untuk poliklinik para abdi dalem kraton.Pada 1976, terjadi pemindahan pasien Rumah Sakit Kadipolo ke Rumah Sakit Mangkubumen dan di sana berdiri Sekolah Pendidikan Keperawatan. Tapi kampus ini hanya bertahan lima tahun dan terjadi pengosongan Rumah Sakit Kadipolo. Sejak 1985, bangunan-bangunan tua itu menjadi milik Arseto sebagai mes pemain.Arseto sendiri berdiri di Jakarta 1978. Klub Nama Arseyo diambil dari nama dua anak Sigit, Ario dan Seto.
Di samping lapangan, dulu juga terdapat kamar-kamar yang menjadi tempat tidur para pemain. Ruangannya pun rapi dan juga ada meja makan buat para pemain mengisi perut.
Tapi sekarang, semua ruangan tersebut telah berubah total. Kamar-kamar tersebut ditumbuhi tanaman liar.Genting di atas pun sudah reot dan banyak yang pecah.
Sekarang, untuk masuk pun tak bisa dari depan ataupun jalan samping yang lebih lapang. Semuanya sudah tertutup. Lapangan pun dipakai untuk berlatih anak-anak yang bergabung dalam sebuah sekolah sepak bola.Kadang sesekali disewakan tim lain. Wajar kalau lapangannya pun tak ada rumput yang layak karena terus dipakai dan tanpa dilakukan perawatan.
Bahkan, kabarnya bekas mess Arseto tersebut telah dibeli sebuah perusahaan tekstil. Bisa jadi, tak lama lagi tempat tersebut bakal berdiri mall. Mess Kadipolo pun tinggal kenangan dan hanya ada dalam cerita tanpa bisa dilihat lagi bentuk aslinya. (*)

*Tulisan ini dibuat di Solo pada 31 Agustus 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com