www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kamis, 04 Agustus 2011

SURYO AGUNG WIBOWO, TAK BISA MENAHAN GATAL KAKI


INDONESIA susah dibendung di lari jarak pendek di ajang SEA Games. Buktinya, emas 100 meter dan 200 meter putra selalu jatuh ke tangan pelari Merah Putih, Suryo Agung Wibowo.
Bahkan, pelari kelahiran Solo, Jawa Tengah, pada 8 Oktober 1983 tersebut mampu memecahkan rekor Asia Tenggara dan nasional. Itu diciptakannya pada SEA Games 2009 di Laos. Catatan waktunya 10,17 detik membuat Suryo menorehkan namanya sebagai pelari tercepat di Asia Tenggara. Selain itu, suami Astatik Anjarwani itu juga memecahkan rekor nasional yang bertahan selama 21 tahun atas nama pelari legendaris Indonesia Mardi Lestari 10,25 detik.
Dalam buku semibiografi Lari, Gung!Lari!, disebutkan bahwa kemampuan Suryo yang berlari bak kilat tersebut lebih banyak diasah di sepak bola. Saya menyebutnya semibiografi karena banyak kesamaan antara cerita di dalam novel tersebut dengan kisah hidup Suryo Agung.
Ya, sejak kecil, Suryo Agung memang bergelut dengan olahraga si kulit undar. Wajar, karena rumahnya yang berada di kawasan Banyuanyar, Solo, tidak jauh dari lapangan bola. Lingkungan bermainnya juga sangat mendukung karena rekan-rekannya juga gandrung dengan olahraga paling populer di muka bumi ini.
Saat beranjak dewasa, dia pun bergabung dengan klub Ster, anggota internal Persis Solo. Bahkan, kemampuannya yang di atas rata-rata, membuat Suryo yang masih berusia 17 tahun sempat merasakan menjalani seleksi di Laskar Samber Nyawa, julukan Persis Solo. Sayang, karena usianya yang masih sangat muda, membuat namanya terpental dari tim kebanggaan Kota Bengawan, julukan Solo, tersebut.
Pelampiasannya, Suryo Agung menekuni atletik. Di hari pertama latihan, saya melihat Suryo masih memakai sepatu atletik yang ujungnya sudah jebol dan ditutup dengan pembalut. Beruntung sekali saya bisa menyaksikan Suryo menekuni atletik setelah tahu dia akhirnya menjadi Raja Lari Jarak Pendek Asia Tenggara.
Saat saya tugas di Jakarta dan sering bertemu Suryo Agung antara 2002-2004, dia tetap tak berubah. Yang diceritakannya tetap tentang sepak bola, bukan atletik. Dia mengaku sangat tertarik bergabung dengan klub di pentas Liga Indonesia.
Kini, setelah dia kecewa tak dipakai PB PASI di SEA Games 2011, keinginan tersebut kembali mencuat. Dengan usia yang semakin matang dan skill yang terasah dari latihan, Suryo Agung pun ingin merasakan kerasnya atmosfer sepak bola Indonesia,. Baginya, bermain di Divisi Utama, Indonesia Super League (ISL), ataupun Liga Primer Indonesia (LPI) bukan masalah. Hanya, dia mengakui masih minim pengalaman.
“Wajar kalau banyak klub memandang sebelah mata kepada kemampun bermain bola saya. Tapi, kalau diberi kesempatan, saya akan memberi bukti,” tegas Suryo Agung.
Dia pun berharap minimal bisa membela klub di kota kelahirannya, Persis, ataupun juga Solo FC, anggota Liga Primer Indonesia. Dia tak ingin gatal di kakinya yang ingin selalu bermain bola tak terobati. (*)



Tentang Buku Lari, Gung! Lari!
Penulis: Mahfud Ihkwan
Penerbit: PT Sunda Kelapa Pustaka
Tebal: 268 Halaman


*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 4 Agustus 2011.

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com