www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kamis, 18 Agustus 2011

SUSAHNYA NYANYIKAN INDONESIA RAYA

MEMBELA tim nasional Indonesia tentu menjadi suatu kebanggaan. Ini bisa menunjukkan sebagai bukti dharma bakti kepada bangsa dan negara. Bahkan, mereka siap mati di lapangan.
Sayang, sebelum turun ke lapangan, ada hal yang sangat krusial tapi sering dianggap remeh para penggawa Merah Putih, julukan timnas Indonesia. Apa itu? Menyanyikan lagu kebanggsaan Indonesia Raya.
Kita amati saja pada Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2010 lalu. Saaat kamera mengincar wajah-wajah pemain nasional, beberapa di antaranya memilih diam.Ini tentu sangat ironi. Di saat tenaga dan kemampuannya dibutuhkan membela bangsa dan negara, rasa kebangsaannya (meski dari raut muka dan mimik) tak terlihat.
Padahal, masyarakat yang ada di stadion ataupun yang berada di depan layar kaca, dengan semangat menyanyikan lagu ciptaan Wage Rudolf Soepratman tersebut. Masyarakat berharap agar para pemain bisa menjiawai lagu yang kali pertama berkumandang pada Sumpah Pemuda 28 Oktober tersebut.
Eh, sekarang kejadian tersebut kembali terulang. Saat menghadapi juniornya, timnas U-23 di Stadion Manahan Solo pada 18 Agustus, kembali muka-muka lama tersebut tetap tak mau menyayikan lagu Indonesia Raya. Dengan angkuhnya mereka diam dengan kepalanya tegak.
Memang, untuk mencoret dengan alasan tak menyanyikan lagu Indonesia Raya memang tak logis. Tapi, memberi teguran tentu saja menjadi jalan terbaik. Kita butuh pemain dengan skill tinggi, tapi alangkah baiknya kalau itu dibekali dengan semangat nasionalisme yang menggelora.
Timnas Prancis juga pernah mendapat sorotan karena mayoritas pemainnya hanya diam saat lagu kebangsaan negaranya berkumandang. Rasa nasionalisme mereka pun digugat. Apalagi, banyak dari mereka merupakan imigran dari Afrika. Imbanya, masalah ini pun sempat merembet ke dunia politik.
Kita pun berharap agar kejadian serupa tak terulang di Indonesia. Apalagi, kita sudah menginginkan agar menjauhkan olahraga dari politik. Politik ya Politik, Olahraga ya Olahraga. Hanya, harapan kita semua, pesepak bola Indonesia tetaplah harus menyanyikan Indonesia Raya. Meski, kita tak meragukan keberanian mereka di lapangan. (*)

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 18 Agustus 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com