www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Deltras Bukan yang Pertama di Sidoarjo

SIDOARJO punya stadion megah. Gelora Delta dibangun pada 1996 untuk persiapan menyambut PON 2000. Tempat tersebut akhirnya memang dipergunakan untuk pembukaan pesta olahraga empat tahunan bangsa Indonesia tersebut.
Setelah PON, Gelora Delta pun tak menganggur. Klub pindahan asal Bali, Gelora Dewata, memakainya sebagai kandang dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD) dan berubah lagi menjadi Delta Putra Sidoarjo(Deltras) hingga sekarang.
Tentu, banyak yang menganggap The Lobster,julukan Deltra, merupakan klub sepak bola professional di Sidoarjo. Memang, ada Persida, tapi tim yang berjuluk Laskar Jenggolo tersebut berstatus amatir.
Tapi, anggapan tersebut ternyata salah. Jauh-jauh sebelumnya sudah ada klub sepak bola professional yang bermarkas di Kota Udang,julukan Sidoarjo, tersebut. Siapa? Perkesa 78. Karena bermarkas di Sidoarjo, nama lengkapnya pun menjadi Perkesa 78 Sidoarjo.
Sebenarnya, klub tersebut bukan asli Sidoarjo. Sesuai angka yang ada, klub tersebut lahir pada 1978 dengan diketuai tokoh bola Nabon Noor. Tempatnya pun di Jakarta, atau pasnya di Kebayoran. Nama Perkesa pun katanya Persatuan Sepak Bola Kebayoran dan sekitarnya.
Pada 1984, Perkesa memutuskan pindah ke Sidoarjo. Hanya untuk menjamu lawan-lawannya, tim yang mempunyai kostum kebesaran warna oranye tersebut bertanding di Gelora 10 Nopember. Menurut salah satu mantan pemain Perkesa 78, Eko Prayogo, mereka memakai mes di belakang Mall Ramayana, Sidoarjo, yang kini telah berubah menjadi ruko (rumah toko) dan hotel.
Setelah itu, mes pindah di dekat Kantor Pos Sidoarjo atau lebih tepatnya di selatan warung bakso. Saat ini, bekas mes Perkesa tersebut menjadi Kantor Telkom Sidoarjo.
Tempat latihan pun di Stadion Jenggolo, stadion yang di era 1980-an sudah masuk ukuran bagus. Tapi, kalau main ya tetap di Gelora 10 Nopember.
Risikonya, pada hari pertandingan, Perkesa harus berangkat pagi dan tidur siang di stadion yang juga dikenal dengan nama Stadion Tambaksari tersebut. Meski bukan tim bertabur bintang, tapi prestasi Perkesa tak boleh dianggap enteng.
Runner-up Piala Liga pernah disabet pada 1985 sebelum ditundukkan Arseto Solo di Stadion Sriwedari Solo. Para pemain Perkesa pun antara lain Eko Prayogo, Freddy Muli, Suharno, ataupun juga Socheh.
Hebatnya, nama-nama tersebut sampai sekarang masih aktif di lapangan hijau. Hanya, statusnya bukan lagi sebagai pemain karena usianya yang sudah uzur. Namun, kini berkiprah sebagai pelatih. Eko menjadi pembina klub Mitra Surabaya, anggota internal Persebaya, Freddy menjadi salah satu pelatih papan atas Indonesia, dan Socheh menangani klub-klub di Surabaya dan sekitarnya.
Sayang, Perkesa tak bertahan lama di Sidoarjo. Pada 1989, Perkesa pindah ke Jogjakarta dan berganti nama menjadi Perkesa Mataram. Kemudian pindah ke Cibinong dan menjadi Perkesa Indocement dan terakhir menjadi Perkesa Trisakti. Sampai saat ini, nama Perkesa lenyap seperti hilang ditelan bumi.
Hanya, sejarah sepak bola Indonesia tetap mencatat pernah ada klub yang mewarnai perjalanannya yakni Perkesa dan berhome base di Sidoarjo. Jadi, Deltras bukan yang pertama di Kota Udang, tapi Perkesa. (*)


Read More

Abdul Kirom, Bintang yang Terlalu Cepat Redup

CIBLEK: Abdul Kirom (sumber: sidiq)
DIA hanya memakai sandal jepit. Teh hangat pun tersaji di depannya setelah berlatih di lapangan Menanggal Surabaya pada pertengahan September 2011 lalu.
Keringat masih mengucur deras dari tubuhnya meski dia sudah berteduh. Semua orang yang ada di sekitarnya pun terlihat menghormatinya.
Siapa sosok itu? Bagi penggemar sepak bola di era 2000-an itu, tentu banyak yang tak kenal. Namun, kalau maniak bola pada pertengahan era 1990-an,sangat familiar dengan nama tersebut. Dia adalah Abdul Kirom. Banyak yang memanggilnya nama bekannya, Ciblek. Dia merupakan mantan pemain Persebaya Surabaya.
Memang harus diakui, Persebaya tak pernah berhenti melahirkan bintang. Sudah tak terkira pemain yang namanya menasional dari Kota Pahlawan.Sebut saja Abdul Kadir, Rudy William Keltjes, Syamsul Arifin, Mustaqim, Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi, hingga Rendi Irwan sekarang.
Abdul Kirom? Tentu, nama tersebut layak juga masuk kategori bintang.Hanya, ada sedikit embel-embel kontroversial yang bakal mengirinya kalau dia disebut pemain bintang. Padahal, pemain yang mempunyai postur mungil untuk ukuran pesepak bola tersebut termasuk dalam bagian Green Force, julukan Persebaya, saat menjadi juara Liga Indonesia 1997. Saat ini, tim yang dikapteni Aji Santoso tersebut memetik kemenangan 3-1 atas Bandung Raya di laga final yang dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Saat itu, saat usianya sekitar 22-an, Kirom memang mempunyai skill di atas rata-rata. Itu masih ditambah dengan daya jelajahnya yang tinggi. Wajar kalau saat itu, dia menjadi idola suporter.
Sayang, di saat usia muda, arek Krian tersebut, menurut salah satu rekannya Bejo Sugiantoro, tak bisa menjada mental bintang. Dia sering tertangkap pulang malam dan paginya tak fit saat latihan.
Pada 1998, Kirom pun sempat dipinjamkan ke Arseto Solo. Sayang, di klub asal Kota Bengawa tersebut hubungan keduanya tak bisa berlangsung lama. Arseto bubar setahun kemudian setelah terjadinya krisis sosial dan politik.
Kirom pun melanglang ke berbagai klub-klub kecil. Persewangi Banyuwangi dan Persida Sidoarjo pun pernah memakai jasa dan kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar. Sayang sebenarnya, pemain yang seharusnya awet di Persebaya tersebut harus membela klub yang bukan level untuk seukuran dia. Kini, Kirom pun masih sering terlihat bermain bola.
Bahkan, ajang antarkampung (tarkam) namanya masih beredar. Hanya, untuk level atas, dia sudah tak bisa lagi. Fisiknya sudah tergerus usia. Untung, Kirom termasuk pandai dalam memanfaatkan namanya saat masih menjadi bintang.
Di Krian, Kirom mempunyai usaha kos-kosan yang lumayan laris. Ini membuatnya bisa menghidupi keluarga. (*)



Read More

Freddy Muli, Karakter Keras Berbuah Prestasi

PENGALAMAN: Freddy Muli
BANYAK pelatih di pentas sepak bola Indonesia. Tentu, banyal di antara mereka pernah merasakan masa jaya dan masa redup.
Tapi, kiprah mereka pun tetap banyal dinanti klub. Salah satunya Freddy Muli. Dia pernah merasakam kejayaan sebagai pelatih saat menangani Persebaya Surabaya dan Persidafon Dafonsoro.Kabarnya, dia dua klub tersebut, kontraknya lebuh dari Rp 500 juta.
Toh,kalaupun benar memang wajar kalau sesosok Freddy dihargai setinggi itu. Lelaki berusia 48 tahun tersebut memang dikenal bertangan dingin. Green Force, julukan Persebaya, pernah dibawanya kembali ke Divisi Utama pada musim 2007, setelah musim sebelumnya terlempar ke Divisi I. Selain itu, beberapa tahun sebelumnya, dia pun mampu mengangkat tim kecil Persid Jember mampu menembus semifinal Piala Gubernur Jatim. PSMS Medan, yang lama ambles, pun sukses dibawanya ke final Liga Indonesia sebelum ditundukkan Sriwijaya FC pada musim 2007-2008.
Bahkan, hanya kurang beruntung saja yang menggagalkan Persidafon Dafonsoro masuk Indonesia Super League pada musim 2009-2010. Di babak penyisihan, tim asal Papua tersebut susah ditaklukan.
Hanya,pada musim 2010-2011, dia tak menangani tim. Beberapa tawaran klub ditolaknya karena tak mempunyai target serius. Bahkan saat kompetisi bergulir, nama Freddy tetap tak tenggelam. Namanya selalu disebut jika ada posisi pelatih yang gagal membawanya berprestasi.
Tapi,itu ditolak Freddy. Dia pantang melatih tim di tengah jalan. Tidak ada tantangan karena dia tak bisa menyiapkan tim sejak awal dan kurang ada kepuasan kalau melanjutkan kinerja pelatih lain.
Ilmu sepak bola Freddy memang tak pernah luntur di tengah jalan. Apalagi, dia termasuk salah satu pelatih yang mengantongi lisensi A AFC (Federasi Sepak Bola Asia). Selain itu, Freddy juga tak malu untuk terus belajar. Koran, majalah, dan literature sepak bola menjadi santapannya setiap hari jika lagi berada di rumahnya di Jalan Yos Sudarso, Sidoarjo.
Ternyata, sejak masih pelajar, Freddy memang sudah doyan membaca. Itu terjadi saat dia menimba ilmu di Diklat PSSI Ragunan, Jakarta. Oh ya, skill Freddy di lapangan hijau juga meningkat pesat sejak ditempa di Diklat Ragunan. Dia masuk di program milik Diknas tersebut pada 1979. Di sana, dia termasuk angkatan awal. Bakatnya terendus saat tampil di Popnas (Pekan Olahraga Pelajar Nasional).
Dari Diklat Ragunan, Freddy sempat ditarik ke Galamahasiswa yang dipoles di Solo, Jawa Tengah. Di Kota Bengawan, julukan Solo, lelaki asal Palopo, Sulsel, tersebut pernah kuliah di Universitas Slamet Riyadi (Unisri).
Sayang, pada 1983, dia sempat gantung sepatu karena cedera dan memilih bekerja di Krakatau Steel, Cilegon. Dia diajak rekan bekerja di sana. Tapi, tantangan dari lapangan hijau tak bisa dilupakan. Dia memutuskan menjadi pemain professional setelah direkrut Perkesa 78 Sidoarja pada 1985. Nah, setelah itu, dia pun telah bergonta-ganti klub. Niac Mitra, Petrokimia Putra Gresik, Mitra Surabaya, hingga akhirnya berlabuh ke Gelora Dewata hingga akhirnya memutuskan pensiun pada musim 1995. Dunia kepelatihan pun menjadi pilihan hidupnya. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 23 September 2011

Read More

Muhtar, Sosok di Balik Logo Wong Mangap

SEHAT: Muhtar yang akrab disapa Mister
APA yang Anda selalu ingat dari Persebaya Surabaya? Tim sepak bolanya yang termasuk legendaris Indonesia, tim sepak bola asal Kota Pahlawan, atau bisa juga tim sepak bola yang mempunyai pendukung fanatic yang lebih dikenal dengan nama Bonek atau Bondo Nekat (modal nekat).
Tiga jawaban tersebut tidak salah. Tapi, kalau Anda menyebut tim sepak bola yang mempunyai logo orang berteriak, ini yang paling menarik dan jarang orang menjawabnya. Memang, Persebaya merupakan klub yang kali pertama memakai logo.
Tapi, tahukan Anda siapa yang kali pertama membuat logo yang sudah tersebar dan tertempel di kaos-kaos pendukung Persebaya tersebut. Tentu banyak yang tak tahu karena memang jarang dipopulerkan.
Yang kali pertama membuat logo wong mangap tersebut adalah Muhtar atau yang akrab disapa Mister. Sebenarnya tak susah mencari sosoknya. Setiap Selasa pagi dia selalu berlatih sepak bola di Lapangan Bungurasih atau yang akrab disebut Lapangan Mahmil karena letaknya di belakang Mahmil atau Mahkamah Militer. Sementara, kalau Kamis pagi, lelaki yang sudah berusia 55 tahun tersebut berada di Lapangan Menanggal untuk mencari keringat di Askring (Asal Keringeten, klub sepak bola yang pemainnya merupakan karyawan Jawa Pos).
Saat ini bermain bola di pagi hari merupakan salah satu kegiatannya setelah pensiun dari Jawa Pos. Sebagai pemain yang sudah tidak muda lagi, Mister termasuk pemain bagus. Umpan-umpannya dari sisi kanan sering berbuah gol. Bahkan, tak jarang, dia ikut menyumbang gol buat timnya.
Baginya, sepak bola merupakan hobi yang tak bisa ditinggalkannya.Itu pula yang membuat dia begitu pas menggambarkan sosok orang yang menjadi logo Persebaya saat ditugaskan membuatnya pada 1987.
Dia hnya diberi gambaran bahwa logo tersebut menunjukkan semangat arek Suroboyo yang tak kenal menyerah, berani, dan punya jiwa pahlawan. Sebagai orang grafis, Mister tak butuh waktu lama untuk merealisasikan perintah tersebut. Apalagi, sebagai pendukung setia Persebaya, dia juga ingin klub pujaannya tersebut mempunyai logo yang bisa mempengaruhi penampilan pemain di lapangan juga.
Akhirnya, dia menemukan sosok orang yang berteriak dengan rambut gondrong serta tali pengikat kepala. Besoknya logo tersebut muncul di Koran dan dia langsung mendapat respons positif.
Memang, diperjalanannya, logo tersebut mengalami penyempurnaan dari Boediono, rekannya sekantor, hingga menjadi seperti sekarang ini. Tapi, bagaimanapun, Mister tetap yang pertama.
Dia pun berharap hasil karyanya tersebut terus dipakai dan menjadi identik dengan Persebaya. Meski,supporter tak harus mengenal siapa sosok Mister. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 23 September 2011
Read More

Satu Wilayah... Dua Wilayah... Satu Wilayah...

SATU wilayah..dua wilayah …satu wilayah..dua wilayah. Ini bukan suara cicak yang menempel di dinding. Tapi, ini suara kebimbangan PSSI dalam hal memutuskan format kompetisi pada musim 2011-2012.
Awalnya, kompetisi di level tertinggi dalam kancah sepak bola Indonesia memakai format satu wilayah dengan nama Indonesia Super League (ISL). Piramida teratas tersebut telah bergulir sejak musim 2008-2009. Di musim pertama, Persipura Jayapura ditahbiskan sebagai juara, kemudian 2009-2010 trofi ISL jatuh ke tangan Arema dan pada musim 2010-2011, Mutiara Hitam, julukan Persipura, menjadi yang terkuat.
Hanya, ada yang special pada musim 2010-2011 ini. Semula, kompetisi yang diikuti 18 klub tersebut menyusut menjadi 15. Itu setekah PSM Makassar, Persibo Bojonegoro,dan Persema Malang menyeberang ke Liga Primer Indonesia (LPI), kompetisi tandingan yang digagas oleh sebuah konsorsium bentukan pengusaha Arifin Panigoro.
Kini, musim 2011-2012 pun sudah siap digelarkan. Hanya, ada masalah yang harus dituntaskan PSSI yang kini dinakhodai Djohar Arifin Husin. Format satu wilayah yang sudah mapan sempat diombang-ambingkan dengan bakal hadirnya format dua wilayah.
Pesertanya pun ikut membengkak. Bukan lagi 18 tapi menjadi 32 klub!. Kompetisi yang sudah lama bergulir seakana tak diakui lagi. Banyak yang bilang, ini kompetisi balas budi kepada klub-klub yang mendukung Djohar menjadi ketua umum menggantikan Nurdin Halid, yang sudah dua kali berkuasa demgan minim prestasi.
Tapi, harusnya diingat, kompetisi yang bergulir selama ini lahir dari persaingan yang menjunjung tinggi fairplay, bukan dari sebuah niatan balas budi. Beberapa klub yang di musim lalu terdegradasi ke level yang lebih bawah eh malah diletakkan di level teratas. Dengan alasan ini, itu.
Untung, rencana format kompetisi ini batal lagi. PSSI memutuskan kembali ke satu wilayah. Hanya, pesertanya tak sama dengan musim sebelumnya, yakni 18 klub, tapi menjadi 24 klub. Tiga klub yang sempat mundur dari ISL diberi kesempatan kembali. Padahal, seharusnya, PSM, Persibo, ataupun Persema minimal harus berada di level II atau Divisi Utama karena dianggap absen di musim sebelumnya. Bahkan, lebih tragis lagi, karena sesuai keputusan PSSI dalam kongresnya di Bali,ketiganya diturunkan ke Divisi I.
Tentu, saja, polemic belum berakhir. Format kompetisi pun belum resmi diputuskan. Hanya, alangkah bijaknya kalau kembali ke format yang lama. ISL tetap sebagai puncak piramida kompetisi. Kita hargai kompetisi yang musim lalu telah bergulir yang menghabiskan dana yang tidak sedikit dan juga berdarah-darah. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 23 September 2011
Read More

Desa Pencetak Bintang Lapangan Hijau

DAMAI: Salah satu pintu masuk gang di Klagen

TAK ada yang istimewa dari Dusun Klagen, Desa Wilayut. Daerah yang masuk Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, tersebut pun sepi karena banyak warganya yang kerja di sawah, ataupun duduk di warung kopi. Ada juga yang masih berada di Surabaya karena masih mengais rezeki.
Tapi, ada yang istimewa dari desa yang sudah berbatasan dengan Kecamatan Wonoayu tersebut. Siapa sangka, banyak bintang lapangan hijau dari Klagen.Siapa saja? Di level senior sebut saja Uston Nawawi dan Nurul Huda.
Uston merupakan gelandang andalan Green Force, julukan Persebaya, diera 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Kostum nasional pun pernah dikenakannya dalam kurun waktu 10 tahun lebih. Lelaki kelahiran 1978 itu pun pernah menimba ilmu di Italia melalui program PSSI Baretti.
Hanya kurang sreg dengan pengurus yang membuat Uston hengkang ke beberapa klub seperti Persidafon Dafonsoro ataupun Gresik United (GU). Tapi tetap harus diakui Uston termasuk salah satu gelandang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Nurul Huda lebih senior lagi. Pemain kelahiran 1976 tersebut dibesarkan melalui program PSSI Primavera yang juga digembleng di Negeri Pizza, julukan Italia. Di antara para pemain PSSI Primavera, Huda, sapaan karibnya, merupakan segelintir yang masih bertahan di level atas sepak bola Indonesia. Selain Huda hanya Bima Sakti yang membela Persema Malang di ajang Indonesia Super League (ISL) sebelum menyeberang ke Liga Primer Indonesia (LPI). Sementara Huda, hampir empat musim berkostum Persijap Jepara. Sebelumnya, pemain yang beroperasi sebagai bek itu memperkuat Pelita Jaya, Delta Putra Sidoarjo (Deltras), PSIS Semarang, dan Persijap Jepara.
Ada juga di kelompok senior yakni Sutaji. Gelandang kelahiran 1975 ini pernah membela Persebaya sebelum hengkang ke PSIM Jogja, PSS Sleman, Deltras, Arema, dan terakir Persema. Bedanya dengan Uston dan Huda, Sutaji tak pernah berkostum Merah Putih sebagai pemain nasional.
Arek Klagen lainnya yang kini berkostum Garuda di dada adalah Hariono. Breaker Merah Putih ini dikenal sebagai pemain yang pantang takut dan menyerah dalam memotong aliran serangan lawan. Kini, dia memperkuat Persib Bandung setelah sebelumnya membela Deltras.
Selain itu ada juga Lucky Wahyu. Dia tercatat pernah membela Indonesia di SEA Games 2009 Laos dan kini membela Persebaya 1927. Sayang, saat Persebaya 1927, kebintangan Lucky redup karena coach Aji Santoso tampaknya kurang berkenan dengan tipe permainannya.
Sudah habis? Belum. Masih ada Arif Ariyanto. Meski kurang menonjol., pemain kidal ini sudah sejak 2005 berkostum Green Force. Yang terbaru bintang dari Klagen adalah Rendi Irwan. Posturnya yang mungil mampu ditutupinya dengan skill kelas wahid.
Wajar kalau Persebaya 1927 sangat kepincut dengan kemampuannya. Hanya, dia kurang beruntung karena kemampuannya belum dilirik timnas.
Para pemain bintang tersebut lahir dari sebuah lapangan yang berada di sisi jalan yang menghubungan Sukodono dan Krian, yang juga masuk wilayah Sidoarjo. Jangan bayangkan lapangannya selevel Senayan ataupun Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang.
Lapangan Klagen kalau hujan becek dan jika musim kemarau sangat keras. Di sebelah selatan lapangan ada beberapa pohon pisang, sebelah baratnya kantor kelurahan, serta utaranya sebuah sungai kecil.
Lahirnya para bintang dari Klagen membuktikan bahwa factor lapangan tak banyak memberikan pengaruh. Yang penting adalah kemauan keras untuk menjadi bintang dan latihan yang serius. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 10 September 2011.
Read More

Si Mungil dengan Talenta Tinggi

KORBANKAN SEKOLAH: Rendi Irwan

POSTUR pemain sepak bola biasanya tinggi besar. Di lingkup Indonesia, minimal tinggi 170 centimeter akan membuat klub melirik kepadanya.
Tapi, Rendi Irwan masuk perkecualian. Gelandang Persebaya 1927 ini ‘hanya’ mempunyai tinggi 160 sentimeter. Tapi, jangan pernah memandang kekurangannya tersebut. Di antara semua pemain asal Kota Pahlawan tersebut, Rendi merupakan pemain yang dikaruniai skill jempolan.
Wajar kalau Persebaya 1927, kita menyebutkan begitu karena ada dua Persebaya.Satunya lagi Persebaya Divisi Utama, tak ingin melepasnya. Bersama Taufik dan Andik Vermansyah, ketiganya menjadi trio andalan tim yang di awal musim ditangani Aji Santoso tersebut.
Menariknya,Rendi, Taufik, dan Andik sama-sama mungil. Taufik yang paling tinggi karena mempunyai tinggi 163 sentimeter. Sementara, Rendi dan Andik tak jauh beda.
Meski mungil,. tapi perpaduan ketiganya membuat Persebaya 1927 merajai Liga Primer Indonesia (LPI), liga tandingan yang sempat menjadi seteru liga bikinan PSSI. Bahkan, Persebaya 1927 mampu menjadi juara paro musim LPI. Sebelum akhirnya kompetisi tersebut tak dilanjutkan lagi.
Membawa tim yang dibelanya meraih prestasi juga bukan hal yang aneh buat Rendi. Saat membela Jawa Timur di PON 2008, provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut diantarkannya meraih emas. Di sini pulalah, dia mulai dikenal sebagai pemain bertalenta tinggi. Selain itu pula, di PON pulalah, Rendi mulai dekat dengan pelatih Aji Santoso.
Faktor Aji pula yang membuat Rendi mau ke Persebaya 1927. Sebelumnya, Rendi sempat melanglang ke Metro FC Kab Malang, Gresik United, hingga Mitra Kutai Kartanegara (Kukar). Di semua tim yang dibelanya, Rendi selalu menjadi pemain inti dan nyawa permaian tim.
Tak jarang, dia menjadi pemecah kebuntuan saat para penyerangnya mandul. Rendi sendiri beryukur berkembang di lingkungan sepak bola. Selatan rumahnya merupakan tempat mantan gelandang Persebaya dan timnas Uston Nawawi.
Uston pula yang menjadi motivator baginya untuk serius menekuni olahraga si kulit bundar. Pemain asal Desa Klagen, Wilayut, Sukodono, Sidoarjo, tersebut mulai mengenal sepak bola sejak usia 10 tahun. Dia bergabung dengan SSB Kelud Putra yang latihannya tak jauh dari rumahnya.
Pelatih yang kali pertama menanganinya adalah Wahyu Suhantyo, ayah Lucky Wahyu yang juga juga pemain Persebaya 1927. Rendi bergabung bersama Kelud Putra. Setelah itu, dia membela Mitra Surabaya yang dipoles Eko Prayogo. Habis dari Mitra, karir Rendi makin moncer dan mulai dilirik Persebaya Surabaya Junior. Setelah itu, Rendi pun mulai merambah sepak bola professional.
Sayang di saat karir sepak bolanya menjulang, studi Rendi tak bisa berjalan beriringan. Kuliahnya di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tak sampai selesai. Tapi, Rendi masih menyimpan keinginan agar dia bisa bergelar sarjana guna membahagiakan kedua orang tuanya. (*)

Data Diri:
Nama: Rendi Irwan Saputra
Usia: 24 Tahun
Posisi: Tengah
Klub: Putra Kelud, Mitra Surabaya, Persebaya Junior, PSBK, PON Jatim, Metro FC Kab Malang, Gresik United, Mitra Kukar, Persebaya 1927

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 9 September 2011
Read More

SEMMUEL PETER KAYADU, EKSIS DI ATAS 40 TAHUN

Tidak mudah untuk terus eksis sebagai pemain di kerasnya kompetisi sepak bola. Apalagi jika usia sudah di atas 40 tahun. Tetapi, Semmuel Peter Kayadu yang akrab disapa Semmy Peter bisa melakukannya.
--

BANYAK pemain muda yang berkecimpung di sepak bola Indonesia. Kemampuan mereka pun tak perlu lagi diragukan. Apalagi, para pemain tersebut mempunyai stamina kuat karena usia yang masih muda.
Tetapi, itu tak membuat Semmuel Peter Kayadu gentar. Dia tetap berani bersaing. Meskipun, usia pemain yang akrab disapa Semmy Peter tersebut sudah lebih dari 40 tahun.
”Tahun ini usia saya sudah 42 tahun. Tapi, stamina dan kemampuan saya tak kalah oleh pemain muda,” kata Semmy saat ditemui di kawasan Wage, Sidoarjo, Selasa lalu (6/9).
Ya, Semmy mengorbit di sepak bola Indonesia sejak akhir 1980-an. Pada usia 18 tahun, lelaki yang mempunyai tato di tangan tersebut sudah bergabung dengan Persebaya Surabaya.
”Saya masuk Persebaya setelah bergabung dengan klub internal PS Untag. Dari situlah saya mendapat kepercayaan masuk Persebaya,” kenangnya.
Kali pertama masuk, dia merasakan susahnya menembus skuad inti. Dia menyebut Muharrom Roesdiana sebagai senior yang menjadi saingan. Namun, perlahan tapi pasti, lelaki kelahiran Ambon, 20 November 1969, tersebut mulai mendapat kepercayaan sebagai bek utama.
”Saya membela Persebaya hingga 1995. Banyak kenangan yang saya rasakan di Persebaya. Saya tak akan pernah melupakannya,” ucap Semmy.
Setelah Persebaya, Mitra Surabaya, Pelita Jaya, Perseden Denpasar, Petrokimia Putra Gresik, Persipura Jayapura, Sriwijaya FC, Persis Solo, hingga terakhir Pro Titan Medan pernah dia bela. Hebatnya, di seluruh klub yang pernah dibelanya tersebut, dia selalu memperoleh posisi inti. Bisa dikatakan, selama berkarir di sepak bola, dia tak pernah menganggur.
Ternyata, Semmy punya resep agar kondisinya selalu prima hingga usianya lebih dari 40 tahun. ”Saya makan secukupnya. Pagi makan singkong dan ikan laut serta mengindari daging,” ungkap pemain yang pernah mendapat penghargaan sebagai bek terbaik 1995 versi sebuah stasiun televisi swasta tersebut. Selain itu, waktu tidur Semmy cukup. Dia juga tidak mengurangi makan nasi. Hanya, dia tak mau makan terlalu banyak karbohidrat. ”Banyak yang bilang, saya tak berubah sejak kali pertama main bola,” tambahnya.
Selain itu, sebelum bermain, Semmy selalu melakukan pemanasan hingga otot kakinya terasa kuat. Setelah itu, Semmy baru berani turun ke lapangan. ”Jadi, saya jarang cedera. Saya pun selalu siap kalau dipercaya main meski saingannya adalah para pemain muda,” ungkap dia.
Itu pula yang membuat Semmy belum mau gantung sepatu. Bahkan, dia masih mau main tiga tahun lagi atau saat usianya sudah 45 tahun. Setelah itu? ”Mungkin jadi pelatih,” ujar dia. (*)

Data Diri
Nama: Semmy Peter Kayadu
Usia: 42 tahun
Kelahiran: 20 November 1969
Karir pemain:
1988–1995 Persebaya Surabaya
1995–1998 Mitra Surabaya
1998–2002 Pelita
2002–2003 Perseden Denpasar
2003–2004 Petrokimia Putra Gresik
2004–2006 Persipura Jayapura
2006–2007 Sriwijaya FC
2007–2008 Persis Solo
2008 Persiku Kudus
2009 Persikab Kab Bandung
2010–2011 PSSB Bireuen
2011 Pro Titan Medan
Prestasi:
1990 Juara Piala Utama (Persebaya)
1995 Pemain terbaik versi TV swasta
1996 Semifinalis Liga Indonesia (Mitra Surabaya)

*Tulisan ini dimuat di harian Jawa Pos pada 8 September 2011
Read More

BEBAN SEMAKIN BERAT DI PUNDAK TIMNAS

KANS Indonesia menembus Piala Dunia Brazil 2014 makin tipis. Kekalahan 0-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (6/9/2011) oleh Bahrain dalam pertandingan Kualifikasi Grup E membuat Bambang Pamungkas dkk belum mengemas poin dalam dua kali pertandingan.
Sebelumnya, Indonesia juga dihantam Iran dengan skor telak 0-3 di Teheran, Iran (2/9/2011). Memang, sejak awal, untuk lolos ke Brazil memang jauh dari harapan.Merah Putih tak punya sejarah kuat lolos ke even sepak bola terbesar di muka bumi tersebut.
Paling jauh, Indonesia sampai babak ketiga pada Kualifikasi Piala Dunia 1986. Sayang, perjuangan Herry Kiswanto dkk dihentikan oleh Korea Selatan (Korsel).
Indonesia boleh mengklaim juga pernah mencicipi kerasnya Piala Dunia. Itu terjadi pada Piala Dunia 1938 Prancis. Hanya, saat ini memakai nama Hinda Belanda karena negeri ini masih dijajah Belanda. Kita lupakan semua itu yang merupakan sejarah. Kini, kita harus menatap masa depan.
Kekalahan dari Bahrain memang sangat menyakitkan. Tapi, kalau melihat permainan, wajar kalau Bambang Pamungkas dkk malu di kandang. Wim Rijsbergen, pelatih asal Belanda yang kini menangani Indonesia, tidak mempunyai strategi jitu.
Melihat postur pemain Bahrain yang lebih tinggi, dia tetap memainkan bola-bola lambung. Akibatnya, alur serangan Indonesia mudah dipatahkan. Belum lagi penampilan Ahmad Bustomi yang mulai overacting.
Penampilannya yang ngeyel dan taktis, mulai terkikis dan nyaris habis. Dia lebih banyak menahan bola dan melakukan banyak pergerakan yang tidak perlu.
Lebih menyakitkan lagi, saat melawan Bahrain, pertandingan sempat terhenti hampir 15 menit. Bukan karena lampu mati, lapangan tergenang air, ataupun keributan di lapangan seperti yang biasa terjadi di Liga Indonesia. Lalu karena apa? Petasan.
Memang, kalau di negeri kita, petasan dan kembang api tak terlalu dipermasalahkan. Tapi, di sepak bola internasional, FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) jelas-jelas melarangnya. Itu bisa menganggu pertandingan dan juga bisa mengarah mengancam keselamatan pemain.
Tentu, ini bisa menjadi nilai negatif bagi suporter Indonesia yang sebenarnya sudah mulai dewasa. Kita bisa melihat betapa tingginya animo suporter untuk memberikan dukungan kepada Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia. Kemudian, rapinya suporter saat antre membeli tiket pertandingan timnas. Belum lagi dilupakannya perbedaan dan asal daerah saat semuanya mendukung Merah Putih.
Sayang, semua itu tercoreng akibat ulah segelintir suporter. Padahal, sejak awal, pengumuman larangan membawa petasan dan kembang api sudah disebarluaskan. Tapi, pengumuman tinggal pengumuman dan larangan tetap dilanggar.
Kini,kita hanya berharap agar Indonesia bisa bebas sanksi dari FIFA. Paling tidak, Indonesia tetap diperbolehkan menggelar pertandingan internasional. Jangan sampai jeblolnya prestasi timnas semakin bertambah dengan sanksi dari FIFA. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 7 September 2011
Read More

SEMOGA BUKAN TENDANGAN KE LANGIT

IRAN memang bukan level Indonesia. Negeri di timur tengah tersebut sudah tiga kali lolos ke Piala Dunia (1978, 1998, 2006) dan tiga kali menjadi juara Asia (1968, 1972, 1976).
Tentu, Merah Putih tidak diunggulkan saat menghadapi Iran. Apalagi, pertemuan pertama dan babak kualifikasi Piala Dunia 2014 dilaksanakan di Teheran, ibu kota Iran, pada Jumat (2/9/2011).
Tapi, awalnya, Bambang Pamungkas dkk sempat memberikan perlawanan. Iran nyaris frustrasi menekan pertahanan Indonesia yang dikawal Hamka Hamzah dan M. Robby. Penampilan gemilang kiper Markus Horison pun layak dapat acungan jempol. Ali Kharimi dkk gagal menjebol gawangnya pada babak pertama.
Permainan sabar yang diperakana Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, benar-benar efektif. Bahkan, seharusnya, Indonesia bisa unggul jika tembakan Bambang Pamungkas mengenai sasaran. Kenapa saya bilang bisa unggul.
Dalam posisi yang sama, Bambang mampu menuntaskannya menjadi gol saat menjamu Palestina dalam laga uji coba di Stadion Manahan, Solo, sepekan sebelumnya. Atau mental Bambang yang kurang percaya diri bisa masuk, entahlah hanya dia yang tahu.
Di jejaring sosial, semuanya pun mengeluk-elukan penampilan Indonesia. Tapi, semua berubah saat masuknya Irfan Bachdim. Pemain yang mempunyai darah Belanda tersebut diharapkan mampu memberikan tekanan dengan menggantikan M. Ilham.
Padahal, dari layar kaca (karena saya tak datang ke Teheran he..he..he), Ilham bermain cukup bagus. Sebagai pemain sayap, dia menjalankan tugasnya dengan baik. Beberapa kali dia merepotkan pertahanan Iran.
Wakar kalau dia terlihat marah-marah saat diganti Irfan. Semua pun tahu. Irfan bukannya memberikan tambahan suntikan penampilan yang lebih bagus tapi sebaliknya. Mantan pemain nasional Mustaqim pun menganggap Irfan jadi pemain mati kutu. Kontrolnya tak akurat dan umpan-umpannya pun tak terukur. Kita pasti kaget melihatnya. Padahal, sosok Irfan merupakan bintang Indonesia dalam Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2010.
Semangat yang dipadukan dengan skill, membuat pemain yang mempunyai tato di tangan tersebut menjawab keraguan yang sempat mencibir dia bisa masuk ke timnas Indonesia. Mulai dari pemain yang bermain di level bawahlah hingga hanya bermodal gantenglah atau masih banyak lagi.
Tapi, setelah melihat Irfan sekarang tudingan itu bisa benar adanya. Menjadi publik figur top membuat kemampuannya jauh berkurang. Bisa jadi juga, tenaganya sudah habis untuk syuting filmya, Tendangan dati Langit. Saya pun sempat tertawa lebar saat ledekan teman melihat permainan Irfan. Dia menganggap bukan Tendangan dari Langit tapi Tendangan ke Langit (kalau ini artinya melambung dong he he he).
Semoga saja Irfan bisa kembali ke puncak penampilannya. Bagaimanapun, dia masih termasuk salah satu pemain depan kita yang masih bisa diharapkan. Ayo bangkit Irfan. Tunjukkan Tendangan dari Langit bukan hanya impian tapi itu sebuah kenyataan. (*)

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 3 September 2011
Read More

NUS YADERA MENCARI TANTANGAN BARU

SUSAH juga mencari rumah seorang Nus Yadera. Rumahnya harus masuk ke gang di kawasan Jalan Trunojoyo, Sidoarjo.
Padahal, untuk pelatih sesukses dia, seharusnya dia bisa tinggal di pemukiman elite. Atau minimal tak perlu masuk dalam gang yang sudah padat dengan rumah di kanan dan kirinya.
Sayang, dia pun tak punya niatan untuk meninggalkan rumah yang dibelinya saat masih aktif sebagai pemain tersebut. Alasannya, rumah tersebut mempunyai banyak kenangan baik sebagai pemain atau pun sebagai pelatih.
Ya, sebagai pemain, Nus juga tak bisa dianggap remeh prestasinya. Lelaki kelahiran 1966 tersebut langsung membawa Gelora Dewata juara Piala Liga pada 1992 atau saat dia kali pertama bergabung dengan klub kepunyaan keluarga H.M. Mislan tersebut.
Sebelum bergabung dengan Gelora Dewata, Nus bergabung di Perkesa Mataram pada 1990. Dia mengenal sepak bola profesional setelah diajak pelatihnya di Persikasi Bekasi yang juga pernah membela Perkesa Umar Alatas.
Di Perkesa, klub yang bermarkas di Jogjakarta, dia langsung menempati posisi inti sebagai gelandang bertahan. Dalam usia yang masih muda, Nus menampilkan penampilan yang tak kenal menyerah sebagai pengkut air.
Itu pula yang membuat pelatih Gelora Dewata Suharno langsung menerimanya saat Nus berniat melamar. Ternyata, dia lama berjodoh dengan klub asal Pulau Dewata. Sejak 1992, dia tak pernah meninggalkan Bali hingga akhirnya Gelora Dewata pindah ke Sidoarjo dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD) dan menjelma lagi menjadi Delta Putra Sidoarjo (Deltras).
Di GPD pada 2001-2003, saat usianya tak muda lagi, Nus tetap dipercaya sebagai pilar lini tengah. Hanya, saat pemain muda mulai berdatangan, Nus pilih menyingkir kembali ke Bali dengan memperkuat Persegi Gianyar pada 2003. Satu musim di Persegi, Nus pun kembali ke Jawa dan menerima tawaran Mastro FC, klub divisi III asal Surabaya. Setelah itu, pada 2005, Nus benar-benar pensiun sebagai pemain.
Karena cintanya kepada sepak bola, Nus pun memilih jalur pelatih. Persewangi Banyuwangi menjadi klub yang kali pertama ditangani pada 2006. Polesannya ternyata manjur. Laskar Blambangan, julukan Persewangi, lolos ke divisi I. Setahun kemudian (2007), PSIR pun memakai tenaganya dan tim itu pun lolos ke Divisi I.
Mitra Kukar pun tertarik memakai kemampuan ayah dua putra, Vicky dan Glen, tersebut. Dia mengantarkan Barisan Kuat dan Kekar itu juara Piala Gubernur Kalimantan Selatan pada 2008. Namun, dalam kompetisi 2008-2009, Nus belum bisa membawa Mitra lolos ISL karena terhenti di babak delapan besar.
Untung, itu tak mengurangi citranya. Dia kembali ke klub lamanya, Deltras, dengan jabatan sebagai pelatih pada 2009-2010. Tugas yang diembannya pun tidak ringan. Membawa The Lobster, julukan Deltras, lolos ISL.
Dengan materi yang minim bintang, ternyata Deltras bisa dibawanya lolos ke level teratas sepak bola Indonesia tersebut. Sayang, di final, Deltras kalah adu penalti dari lawan beratnya, Persibo Bojonegoro, di Stadion Manahan.
Tapi, saat Deltras di ISL, Nus melorot jabatannya sebagai asisten pelatih. Ini dikarenakan dia baru mempunyai lisensi B. Padahal, pelatih ISL harus bersertifikat A.
Nus mengakui itu bukan masalah. Bahkan, dia mengaku akan mendapat tambahan ilmu dari Mustaqim, yang menggantikannya.
Di tengah jalan di saat krisis finansial menghamtam Deltras, Mustaqim tak lagi bersama The Lobster. Nah, di sini jiwa kepemimpinan Nus dibutuhkan.
Dia tak ragu menerima tongkat estafet dari Mustaqim. Deltras pun bisa dibawanya bertahan di ISL.
Kini, Nus pun menanti pinangan tim lain. Dia ingin mencari tantangan baru. (*)


*

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 1 September 2011
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com