www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kamis, 29 September 2011

Abdul Kirom, Bintang yang Terlalu Cepat Redup

CIBLEK: Abdul Kirom (sumber: sidiq)
DIA hanya memakai sandal jepit. Teh hangat pun tersaji di depannya setelah berlatih di lapangan Menanggal Surabaya pada pertengahan September 2011 lalu.
Keringat masih mengucur deras dari tubuhnya meski dia sudah berteduh. Semua orang yang ada di sekitarnya pun terlihat menghormatinya.
Siapa sosok itu? Bagi penggemar sepak bola di era 2000-an itu, tentu banyak yang tak kenal. Namun, kalau maniak bola pada pertengahan era 1990-an,sangat familiar dengan nama tersebut. Dia adalah Abdul Kirom. Banyak yang memanggilnya nama bekannya, Ciblek. Dia merupakan mantan pemain Persebaya Surabaya.
Memang harus diakui, Persebaya tak pernah berhenti melahirkan bintang. Sudah tak terkira pemain yang namanya menasional dari Kota Pahlawan.Sebut saja Abdul Kadir, Rudy William Keltjes, Syamsul Arifin, Mustaqim, Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi, hingga Rendi Irwan sekarang.
Abdul Kirom? Tentu, nama tersebut layak juga masuk kategori bintang.Hanya, ada sedikit embel-embel kontroversial yang bakal mengirinya kalau dia disebut pemain bintang. Padahal, pemain yang mempunyai postur mungil untuk ukuran pesepak bola tersebut termasuk dalam bagian Green Force, julukan Persebaya, saat menjadi juara Liga Indonesia 1997. Saat ini, tim yang dikapteni Aji Santoso tersebut memetik kemenangan 3-1 atas Bandung Raya di laga final yang dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Saat itu, saat usianya sekitar 22-an, Kirom memang mempunyai skill di atas rata-rata. Itu masih ditambah dengan daya jelajahnya yang tinggi. Wajar kalau saat itu, dia menjadi idola suporter.
Sayang, di saat usia muda, arek Krian tersebut, menurut salah satu rekannya Bejo Sugiantoro, tak bisa menjada mental bintang. Dia sering tertangkap pulang malam dan paginya tak fit saat latihan.
Pada 1998, Kirom pun sempat dipinjamkan ke Arseto Solo. Sayang, di klub asal Kota Bengawa tersebut hubungan keduanya tak bisa berlangsung lama. Arseto bubar setahun kemudian setelah terjadinya krisis sosial dan politik.
Kirom pun melanglang ke berbagai klub-klub kecil. Persewangi Banyuwangi dan Persida Sidoarjo pun pernah memakai jasa dan kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar. Sayang sebenarnya, pemain yang seharusnya awet di Persebaya tersebut harus membela klub yang bukan level untuk seukuran dia. Kini, Kirom pun masih sering terlihat bermain bola.
Bahkan, ajang antarkampung (tarkam) namanya masih beredar. Hanya, untuk level atas, dia sudah tak bisa lagi. Fisiknya sudah tergerus usia. Untung, Kirom termasuk pandai dalam memanfaatkan namanya saat masih menjadi bintang.
Di Krian, Kirom mempunyai usaha kos-kosan yang lumayan laris. Ini membuatnya bisa menghidupi keluarga. (*)



0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com