www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rabu, 07 September 2011

BEBAN SEMAKIN BERAT DI PUNDAK TIMNAS

KANS Indonesia menembus Piala Dunia Brazil 2014 makin tipis. Kekalahan 0-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (6/9/2011) oleh Bahrain dalam pertandingan Kualifikasi Grup E membuat Bambang Pamungkas dkk belum mengemas poin dalam dua kali pertandingan.
Sebelumnya, Indonesia juga dihantam Iran dengan skor telak 0-3 di Teheran, Iran (2/9/2011). Memang, sejak awal, untuk lolos ke Brazil memang jauh dari harapan.Merah Putih tak punya sejarah kuat lolos ke even sepak bola terbesar di muka bumi tersebut.
Paling jauh, Indonesia sampai babak ketiga pada Kualifikasi Piala Dunia 1986. Sayang, perjuangan Herry Kiswanto dkk dihentikan oleh Korea Selatan (Korsel).
Indonesia boleh mengklaim juga pernah mencicipi kerasnya Piala Dunia. Itu terjadi pada Piala Dunia 1938 Prancis. Hanya, saat ini memakai nama Hinda Belanda karena negeri ini masih dijajah Belanda. Kita lupakan semua itu yang merupakan sejarah. Kini, kita harus menatap masa depan.
Kekalahan dari Bahrain memang sangat menyakitkan. Tapi, kalau melihat permainan, wajar kalau Bambang Pamungkas dkk malu di kandang. Wim Rijsbergen, pelatih asal Belanda yang kini menangani Indonesia, tidak mempunyai strategi jitu.
Melihat postur pemain Bahrain yang lebih tinggi, dia tetap memainkan bola-bola lambung. Akibatnya, alur serangan Indonesia mudah dipatahkan. Belum lagi penampilan Ahmad Bustomi yang mulai overacting.
Penampilannya yang ngeyel dan taktis, mulai terkikis dan nyaris habis. Dia lebih banyak menahan bola dan melakukan banyak pergerakan yang tidak perlu.
Lebih menyakitkan lagi, saat melawan Bahrain, pertandingan sempat terhenti hampir 15 menit. Bukan karena lampu mati, lapangan tergenang air, ataupun keributan di lapangan seperti yang biasa terjadi di Liga Indonesia. Lalu karena apa? Petasan.
Memang, kalau di negeri kita, petasan dan kembang api tak terlalu dipermasalahkan. Tapi, di sepak bola internasional, FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) jelas-jelas melarangnya. Itu bisa menganggu pertandingan dan juga bisa mengarah mengancam keselamatan pemain.
Tentu, ini bisa menjadi nilai negatif bagi suporter Indonesia yang sebenarnya sudah mulai dewasa. Kita bisa melihat betapa tingginya animo suporter untuk memberikan dukungan kepada Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia. Kemudian, rapinya suporter saat antre membeli tiket pertandingan timnas. Belum lagi dilupakannya perbedaan dan asal daerah saat semuanya mendukung Merah Putih.
Sayang, semua itu tercoreng akibat ulah segelintir suporter. Padahal, sejak awal, pengumuman larangan membawa petasan dan kembang api sudah disebarluaskan. Tapi, pengumuman tinggal pengumuman dan larangan tetap dilanggar.
Kini,kita hanya berharap agar Indonesia bisa bebas sanksi dari FIFA. Paling tidak, Indonesia tetap diperbolehkan menggelar pertandingan internasional. Jangan sampai jeblolnya prestasi timnas semakin bertambah dengan sanksi dari FIFA. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 7 September 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com