www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Sabtu, 24 September 2011

Freddy Muli, Karakter Keras Berbuah Prestasi

PENGALAMAN: Freddy Muli
BANYAK pelatih di pentas sepak bola Indonesia. Tentu, banyal di antara mereka pernah merasakan masa jaya dan masa redup.
Tapi, kiprah mereka pun tetap banyal dinanti klub. Salah satunya Freddy Muli. Dia pernah merasakam kejayaan sebagai pelatih saat menangani Persebaya Surabaya dan Persidafon Dafonsoro.Kabarnya, dia dua klub tersebut, kontraknya lebuh dari Rp 500 juta.
Toh,kalaupun benar memang wajar kalau sesosok Freddy dihargai setinggi itu. Lelaki berusia 48 tahun tersebut memang dikenal bertangan dingin. Green Force, julukan Persebaya, pernah dibawanya kembali ke Divisi Utama pada musim 2007, setelah musim sebelumnya terlempar ke Divisi I. Selain itu, beberapa tahun sebelumnya, dia pun mampu mengangkat tim kecil Persid Jember mampu menembus semifinal Piala Gubernur Jatim. PSMS Medan, yang lama ambles, pun sukses dibawanya ke final Liga Indonesia sebelum ditundukkan Sriwijaya FC pada musim 2007-2008.
Bahkan, hanya kurang beruntung saja yang menggagalkan Persidafon Dafonsoro masuk Indonesia Super League pada musim 2009-2010. Di babak penyisihan, tim asal Papua tersebut susah ditaklukan.
Hanya,pada musim 2010-2011, dia tak menangani tim. Beberapa tawaran klub ditolaknya karena tak mempunyai target serius. Bahkan saat kompetisi bergulir, nama Freddy tetap tak tenggelam. Namanya selalu disebut jika ada posisi pelatih yang gagal membawanya berprestasi.
Tapi,itu ditolak Freddy. Dia pantang melatih tim di tengah jalan. Tidak ada tantangan karena dia tak bisa menyiapkan tim sejak awal dan kurang ada kepuasan kalau melanjutkan kinerja pelatih lain.
Ilmu sepak bola Freddy memang tak pernah luntur di tengah jalan. Apalagi, dia termasuk salah satu pelatih yang mengantongi lisensi A AFC (Federasi Sepak Bola Asia). Selain itu, Freddy juga tak malu untuk terus belajar. Koran, majalah, dan literature sepak bola menjadi santapannya setiap hari jika lagi berada di rumahnya di Jalan Yos Sudarso, Sidoarjo.
Ternyata, sejak masih pelajar, Freddy memang sudah doyan membaca. Itu terjadi saat dia menimba ilmu di Diklat PSSI Ragunan, Jakarta. Oh ya, skill Freddy di lapangan hijau juga meningkat pesat sejak ditempa di Diklat Ragunan. Dia masuk di program milik Diknas tersebut pada 1979. Di sana, dia termasuk angkatan awal. Bakatnya terendus saat tampil di Popnas (Pekan Olahraga Pelajar Nasional).
Dari Diklat Ragunan, Freddy sempat ditarik ke Galamahasiswa yang dipoles di Solo, Jawa Tengah. Di Kota Bengawan, julukan Solo, lelaki asal Palopo, Sulsel, tersebut pernah kuliah di Universitas Slamet Riyadi (Unisri).
Sayang, pada 1983, dia sempat gantung sepatu karena cedera dan memilih bekerja di Krakatau Steel, Cilegon. Dia diajak rekan bekerja di sana. Tapi, tantangan dari lapangan hijau tak bisa dilupakan. Dia memutuskan menjadi pemain professional setelah direkrut Perkesa 78 Sidoarja pada 1985. Nah, setelah itu, dia pun telah bergonta-ganti klub. Niac Mitra, Petrokimia Putra Gresik, Mitra Surabaya, hingga akhirnya berlabuh ke Gelora Dewata hingga akhirnya memutuskan pensiun pada musim 1995. Dunia kepelatihan pun menjadi pilihan hidupnya. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 23 September 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com