www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kamis, 01 September 2011

NUS YADERA MENCARI TANTANGAN BARU

SUSAH juga mencari rumah seorang Nus Yadera. Rumahnya harus masuk ke gang di kawasan Jalan Trunojoyo, Sidoarjo.
Padahal, untuk pelatih sesukses dia, seharusnya dia bisa tinggal di pemukiman elite. Atau minimal tak perlu masuk dalam gang yang sudah padat dengan rumah di kanan dan kirinya.
Sayang, dia pun tak punya niatan untuk meninggalkan rumah yang dibelinya saat masih aktif sebagai pemain tersebut. Alasannya, rumah tersebut mempunyai banyak kenangan baik sebagai pemain atau pun sebagai pelatih.
Ya, sebagai pemain, Nus juga tak bisa dianggap remeh prestasinya. Lelaki kelahiran 1966 tersebut langsung membawa Gelora Dewata juara Piala Liga pada 1992 atau saat dia kali pertama bergabung dengan klub kepunyaan keluarga H.M. Mislan tersebut.
Sebelum bergabung dengan Gelora Dewata, Nus bergabung di Perkesa Mataram pada 1990. Dia mengenal sepak bola profesional setelah diajak pelatihnya di Persikasi Bekasi yang juga pernah membela Perkesa Umar Alatas.
Di Perkesa, klub yang bermarkas di Jogjakarta, dia langsung menempati posisi inti sebagai gelandang bertahan. Dalam usia yang masih muda, Nus menampilkan penampilan yang tak kenal menyerah sebagai pengkut air.
Itu pula yang membuat pelatih Gelora Dewata Suharno langsung menerimanya saat Nus berniat melamar. Ternyata, dia lama berjodoh dengan klub asal Pulau Dewata. Sejak 1992, dia tak pernah meninggalkan Bali hingga akhirnya Gelora Dewata pindah ke Sidoarjo dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD) dan menjelma lagi menjadi Delta Putra Sidoarjo (Deltras).
Di GPD pada 2001-2003, saat usianya tak muda lagi, Nus tetap dipercaya sebagai pilar lini tengah. Hanya, saat pemain muda mulai berdatangan, Nus pilih menyingkir kembali ke Bali dengan memperkuat Persegi Gianyar pada 2003. Satu musim di Persegi, Nus pun kembali ke Jawa dan menerima tawaran Mastro FC, klub divisi III asal Surabaya. Setelah itu, pada 2005, Nus benar-benar pensiun sebagai pemain.
Karena cintanya kepada sepak bola, Nus pun memilih jalur pelatih. Persewangi Banyuwangi menjadi klub yang kali pertama ditangani pada 2006. Polesannya ternyata manjur. Laskar Blambangan, julukan Persewangi, lolos ke divisi I. Setahun kemudian (2007), PSIR pun memakai tenaganya dan tim itu pun lolos ke Divisi I.
Mitra Kukar pun tertarik memakai kemampuan ayah dua putra, Vicky dan Glen, tersebut. Dia mengantarkan Barisan Kuat dan Kekar itu juara Piala Gubernur Kalimantan Selatan pada 2008. Namun, dalam kompetisi 2008-2009, Nus belum bisa membawa Mitra lolos ISL karena terhenti di babak delapan besar.
Untung, itu tak mengurangi citranya. Dia kembali ke klub lamanya, Deltras, dengan jabatan sebagai pelatih pada 2009-2010. Tugas yang diembannya pun tidak ringan. Membawa The Lobster, julukan Deltras, lolos ISL.
Dengan materi yang minim bintang, ternyata Deltras bisa dibawanya lolos ke level teratas sepak bola Indonesia tersebut. Sayang, di final, Deltras kalah adu penalti dari lawan beratnya, Persibo Bojonegoro, di Stadion Manahan.
Tapi, saat Deltras di ISL, Nus melorot jabatannya sebagai asisten pelatih. Ini dikarenakan dia baru mempunyai lisensi B. Padahal, pelatih ISL harus bersertifikat A.
Nus mengakui itu bukan masalah. Bahkan, dia mengaku akan mendapat tambahan ilmu dari Mustaqim, yang menggantikannya.
Di tengah jalan di saat krisis finansial menghamtam Deltras, Mustaqim tak lagi bersama The Lobster. Nah, di sini jiwa kepemimpinan Nus dibutuhkan.
Dia tak ragu menerima tongkat estafet dari Mustaqim. Deltras pun bisa dibawanya bertahan di ISL.
Kini, Nus pun menanti pinangan tim lain. Dia ingin mencari tantangan baru. (*)


*

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 1 September 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com