www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Sabtu, 03 September 2011

SEMOGA BUKAN TENDANGAN KE LANGIT

IRAN memang bukan level Indonesia. Negeri di timur tengah tersebut sudah tiga kali lolos ke Piala Dunia (1978, 1998, 2006) dan tiga kali menjadi juara Asia (1968, 1972, 1976).
Tentu, Merah Putih tidak diunggulkan saat menghadapi Iran. Apalagi, pertemuan pertama dan babak kualifikasi Piala Dunia 2014 dilaksanakan di Teheran, ibu kota Iran, pada Jumat (2/9/2011).
Tapi, awalnya, Bambang Pamungkas dkk sempat memberikan perlawanan. Iran nyaris frustrasi menekan pertahanan Indonesia yang dikawal Hamka Hamzah dan M. Robby. Penampilan gemilang kiper Markus Horison pun layak dapat acungan jempol. Ali Kharimi dkk gagal menjebol gawangnya pada babak pertama.
Permainan sabar yang diperakana Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, benar-benar efektif. Bahkan, seharusnya, Indonesia bisa unggul jika tembakan Bambang Pamungkas mengenai sasaran. Kenapa saya bilang bisa unggul.
Dalam posisi yang sama, Bambang mampu menuntaskannya menjadi gol saat menjamu Palestina dalam laga uji coba di Stadion Manahan, Solo, sepekan sebelumnya. Atau mental Bambang yang kurang percaya diri bisa masuk, entahlah hanya dia yang tahu.
Di jejaring sosial, semuanya pun mengeluk-elukan penampilan Indonesia. Tapi, semua berubah saat masuknya Irfan Bachdim. Pemain yang mempunyai darah Belanda tersebut diharapkan mampu memberikan tekanan dengan menggantikan M. Ilham.
Padahal, dari layar kaca (karena saya tak datang ke Teheran he..he..he), Ilham bermain cukup bagus. Sebagai pemain sayap, dia menjalankan tugasnya dengan baik. Beberapa kali dia merepotkan pertahanan Iran.
Wakar kalau dia terlihat marah-marah saat diganti Irfan. Semua pun tahu. Irfan bukannya memberikan tambahan suntikan penampilan yang lebih bagus tapi sebaliknya. Mantan pemain nasional Mustaqim pun menganggap Irfan jadi pemain mati kutu. Kontrolnya tak akurat dan umpan-umpannya pun tak terukur. Kita pasti kaget melihatnya. Padahal, sosok Irfan merupakan bintang Indonesia dalam Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2010.
Semangat yang dipadukan dengan skill, membuat pemain yang mempunyai tato di tangan tersebut menjawab keraguan yang sempat mencibir dia bisa masuk ke timnas Indonesia. Mulai dari pemain yang bermain di level bawahlah hingga hanya bermodal gantenglah atau masih banyak lagi.
Tapi, setelah melihat Irfan sekarang tudingan itu bisa benar adanya. Menjadi publik figur top membuat kemampuannya jauh berkurang. Bisa jadi juga, tenaganya sudah habis untuk syuting filmya, Tendangan dati Langit. Saya pun sempat tertawa lebar saat ledekan teman melihat permainan Irfan. Dia menganggap bukan Tendangan dari Langit tapi Tendangan ke Langit (kalau ini artinya melambung dong he he he).
Semoga saja Irfan bisa kembali ke puncak penampilannya. Bagaimanapun, dia masih termasuk salah satu pemain depan kita yang masih bisa diharapkan. Ayo bangkit Irfan. Tunjukkan Tendangan dari Langit bukan hanya impian tapi itu sebuah kenyataan. (*)

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 3 September 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com