www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

GAGAL DATANG KE BRAZIL 2014

HARAPAN Indonesia lolos ke Piala Dunia 2014 Brazil sudah menguap. Kekalahan 2-3 dari Qatar membuat ratusan juta masyarakat di tanah air meradang. Ironisnya, kekalahan tersebut dialami di kandang sendiri, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Selasa (11/10).
Memang, sebelum pertandingan, kans lolos juga sangat tipis. Gara-garanya, Firman Utina dkk sudah menelan dua kali kekalahan yakni dari Iran dan Bahrain. Tapi, jika mampu mengalahkan Qatar, minimal anak asuh Wim Rijsbergen tersebut masih punya asa. Atau paling tidak membuat masyarakat Indonesia bisa dengan kepala tegak dan bangga dengan kumpulan sebelas pemain terbaiknya tersebut.
Sayang, harapan tinggal harapan. Untuk kali kesekian, kita hanya bisa menjadi penonton di ajang Piala Dunia. Mungkin yang lebih sakit daripada melihat pertandingan melawan Qatar adalah proses kekalahan itu sendiri.
Setelah kalah dari Bahrain, situasi di tim sangat panas. Komentar Wim yang menyalahkan anak asuhnya membuat para pemain kecewa. Sebagai pelatih, seharusnya dia ikut merasa bertanggung jawab bukan malah menyalahkan pemainnya.
Bambang Pamungkas dkk pun sempat mengancam keluar dari tim. Para penggawa Merah Putih pun membandingkan situasi tim di era Wim dan di era pelatih sebelumnyam Alfred Riedl.
Bagai pemain, Riedl, pelatih yang dilengsgerkan karena dianggap dikontrak Bakrie sehingga diputus di tengah jalan oleh PSSI di bawah ketua umum Djohar Arifin Husin, lebih manusiawi. Pelatih asal Austria ini bisa dekat dan memahami isi hati pemain.
Hasilnya, timnas Indonesia pun bisa lolos ke final Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara). Sayang, di final, yang memakai format home and away, Indonesia harus mengakui ketangguhan Malaysia.
Metode dan strategi yang dipakai Wim pun sempat bikin insan bola Indonesia bingung. Kekalahan dari Qatar menjadi buktinya. Tim yang diturunnya pun di luat dugaan.
Padahal, dugaan awal, meneer asal Belanda tersebut akan menampilkan formasi yang sama saat Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, menahan imbang tim tangguh Asia Arab Saudi di Malaysia di laga uji coba empat hari sebelumnya. Penampilan para pemain pun perlu mendapat acungan jempol. Tanpa lelah, Made Wirawan dkk membuat para pemain Arab Saudi frustrasi.
Tentu, dugaan awal, para pemain yang akan diturunkan melawan Arab Saudi yang akan ditampilkan saat menghadapi Qatar. Ternyata, semua itu hanya menjadi harapan.
Saat melawan Qatar, semua berubah. Made Wirawan dan Ferdinand Sinaga yang tampil bagus menghadapi Arab Saudi hanya jadi pemanas bangku cadangan. Purwaka yang spesialisnya bermain sebagai bek tengah dimainkan sebagai gelandang bertahan. Bambang Pamungkas yang sinarnya mulai redup secara mengejutkan malah dimainkan sebagai starter dan dipercaya sebagai kapten.
Hasilnya, permainan Indonesia sama sekali tak berkembang. Dua gol yang dihasilkan Christian Gonzalez pun bukan lahir dari sebuah skema. Sebaliknya, tiga gol yang tercipta ke gawang Indonesia yang dikawal Ferry Rotinsulu akibat kurang koordinasinya para pemain kalau tidak mau disebut sebagai sebuah kecerobohan.
Nasi pun sudah menjadi bubur. Indonesia sudah percaya diri menunjuk Wim. Hasilnya,lelaki yang menjadi bagian timnas Belanda yang lolos ke Piala Dunia 1974 dan 1978 itu gagal membawa Indonesia ke Piala Dunia Brazil 2014. Sekarang, kita hanya memilih, tetap memakai Wim atau tidak setelah melihat torehannya. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 12 Oktober 2011
Read More

Bejo Sugiantoro, Libero Terbaik Sepanjang Masa

Bejo Sugiantoro (sumber: sidiq)

HERRY Kiswanto selalu disebut sebagai libero terbaik Indonesia sepanjang masa. Bagi saya, hal tersebut tidak berlaku.
Saya masih menjagokan Bejo Sugiantoro. Dia merupakan tipikal pemain belakang modern yang bukan hanya bertugas menjaga lini belakang.
Bejo tak jarang sering terlihat membantu penyerang saat timnya butuh konstribusi dirinya. Apalagi, jika tim yang dibelakanya lagi dalam kondisi tertinggal.
Layaknya seorang pendekar, Bejo langsung naik dan susah dicegah. Tapi, dengan stamina yang dimiliki, dia pun cepat kembali ke posnya jika serangan gagal.
Wajar kalau dia selalu mendapat posisi inti di setiap tim yang dibelanya. Ya, karir Bejo dimulai dari klub kota kelahirannya, Persebaya Surabaya.
Sebenarnya, Bejo pun pernah mendapat kesempatan menimba ilmu di Italia melalui program PSSI Barreti pada 1997. Tapi, karena kerinduannya kepada keluarga di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, dia pun memilih pulang.
Tapi, itu tak membuat kemampuan dan bakatnya ikut redup. Sebaliknya, setelah balik ke Surabaya, dia pun langsung kembali dipercaya menjadi libero utama. Meski, saat itu, usianya masih sangat muda. Hasilnya, Persebaya pun dibawanya menjadi juara Liga Indonesia selama dua kali.
Sayang, karirnya di Persebaya yang begitu gemilang dan menjadi pujaan suporter seolah terhapus saat dia memutuskan hengkang ke PSPS Pekanbaru. Dia bersama rekan akrabnya di Persebaya, Uston Nawawi, sempat membuat kecewa suporter Persebaya.
Untung, itu hanya berlangsung semusim. Saat Persebaya kembali ke Divisi Utama pada 2002, dia pun pulang ke Green Force. Bejo pun kembali menunjukkan loyalitasnya saat tim yang dibelanya tersebut degradasi ke Divisi I pada 2006. Hanya setahun di level II itu, Bejo sukses memimpin rekan-rekannya kembali ke Divisi Utama.
Tapi, pada 2008, Bejo sudah cabut lagi dari tim yang bermarkas di Gelora 10 Nopember. Kabarnya, dia melakukan itu karena aksi solidaritasnya kepada rekan-rekannya yang hendak dirasionalisasi soal gaji.
Mitra Kutai Kartanegara menjadi tujuannya di putaran II. Nyaris saja Barisan Kuat dan Kekar, julukan Mitra Kukar, menembus level ISL. Setelah itu, Bejo merumput di Persidafon Dafonsoro. Tampaknya, tekadnya sudah bulat untuk tidak lagi membela Persebaya.
Sebagai pemain yang bersikap profesional, Bejo akan membela klub yang serius meminangnya. Kabarnya, di Persidafon, kontraknya menembus Rp 750 juta. Sayang, tim asal Papua tersebut gagal menembus ISL setelah kalah menyakitkan di babak playoff.
Tak perlu lama Bejo pun dapat klub baru. Delta Putra Sidoarjo (Deltras) menjadi pelabuhan karirnya pada musim 2010-2011. Dengan bayaran yang tertunggak berbulan, jiwa leader pemain kelahiran 2 April 1977 tersebut pantas diacungi jempol.
The Lobster, julukan Deltras, tetap bertahan di ISL dengan posisi bukan sebagai juru kunci. Dengan usia yang terus merambat, Bejo tetap belum mau pensiun. Artinya, kita masih punya kesempatan aksi libero terebaik Indonesia sepanjang masa itu. (*)


Data Diri:
Nama: Sugiantoro
Panggilan: Bejo
Lahir: Sidoarjo, 2 April 1977
Orang tua: Mulyadi/Rotin
Istri: Rachmawati
Karier
1994-2002: Persebaya
2003-2004: PSPS Pekanbaru
2004-2008: Persebaya
2008-2009: Mitra Kukar
2009-2010: Persidafon Dafonsoro
2010-2011: Deltras
1997-2004 : Timnas Indonesia

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 5 Oktober 2011
Read More

KAMALUDDIN, Bawa Persbul dari Divisi III hingga Divisi Utama

PSSI Garuda I memang sudah bubar. Proyeksi pembentukan pemain muda untuk tim nasional tersebut usai setelah SEA Games 2005. Meski itu banyak dianggap gagal, banyak pemain nasional yang lahir dari proyek tersebut.
Bahkan, beberapa di antaranya masih eksis di pentas sepak bola Indonesia hingga sekarang. Memang, mereka bukan lagi pemain, tetapi sudah alih profesi sebagai pelatih. Salah satunya Kamaluddin.
Lelaki kelahiran 1966 tersebut pernah bergabung di tim yang pernah ditangani arsitek tim asal Brazil Barbatana itu. ”Saya masuk PSSI Garuda setelah membela timnas junior pada 1982. Setelah itu, saya direkrut PSSI Garuda hingga 1986,” jelas Kamaluddin saat ditemui di Surabaya pada Kamis (29/9).
Tanpa menunggu lama, Kamaluddin langsung bergabung dengan tim elite Pelita Jaya. Namun, sebelum ke klub milik keluarga Bakrie tersebut, dia nyaris berkostum Niac Mitra. ”Saya sudah mau tampil di Piala Liga. Tapi, Pelita tertarik dan saya pun gagal tampil di Surabaya dengan kostum Niac,” kenangnya.
Di Pelita, lelaki yang saat masih aktif sebagai pemain berposisi bek tersebut bertahan lama, hampir sepuluh tahun. Setelah itu, dia membela Barito Putra Banjarmasin dan terakhir di Persipal Palu.
”Setelah pensiun sebagai pemain di Persipal, saya pun sempat menjadi asisten pelatih, kemudian pelatih di sana dari 2001–2005,” tambah Kamaluddin.
Hanya, Kamaluddin pernah meninggalkan aktivitas lapangan saat diterima bekerja di sebuah bank swasta. Pekerjaannya itu dilakonya hampir tiga tahun. ”Saya pun sudah dapat posisi yang baik,” lanjutnya.
Namun, panggilan kembali ke lapangan hijau tak kuasa dilawannya. Apalagi, dia mendapat tawaran menantang untuk menangani Persbul. ”Saya memulainya benar-benar dari dasar. Materi pemain pun pemain lokal serta tambahan beberapa pemain dari Palu,” lanjutnya.
Berkat kerja keras dan kecerdikannya, kesebelasan dari Provinsi Sulawesi Tengah itu perlahan namun pasti terus menuai prestasi. Kamaluddin hanya butuh semusim untuk bisa naik level. ”Jadi, mulai promosi ke Divisi II hingga sekarang ke Divisi Utama. Dukungan Bupati Amran Batalipu juga sangat besar,” tambah Kamaluddin.
Namun, pada musim 2011–2012 ini, dia mengaku susah untuk terus melanjutkan suksesnya alias promosi ke level 1 atau Indonesia Super League (ISL). Alasannya, persaingan di Divisi Utama sangat ketat. ”Bisa jadi rekor saya akan terhenti. Meski, saya tetap akan berusaha mengangkat prestasi Persbul,” ucapnya. (*)


Data Diri
KERJA KERAS: Kamaluddin (sumber: sidiq)
Karir

Kelahiran: Palu 1966
Pemain
1981: PSSI Junior
1982–1986: PSSI Garuda
1986–1995: Pelita Jaya
1995–1996: Barito Putra
1997–2005: Persipal Palu

Pelatih:
2001–2005: Persipal Palu
2008–...: Persbul Buol
Prestasi Pelatih:
2008–2009: Promosi ke Divisi II
2009–2010: Promosi ke Divisi I
2010–2011: Promosi ke Divisi Utama


*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos pada 2 Oktober 2011
Read More

KLB Akankan Datang (Lagi)

GEMA Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI nyaring terdengar lagi. Tuntutannya pun hampir sama dengan KLB-KLB sebelumnya, menggantikan posisi ketua umum.
Padahal, Djohar Arifin Husin, ketua umum PSSI sekarang, belum ada setengah tahun memimpin organisasi sepak bola di Indonesia tersebut. Dia menggantikan posisi Nurdin Halid setelah melalui proses KLB yang mengalami tiga kali perpindahan tempat. Mulai dari Denpasar (Bali), Pekanbaru (Riau), hingga akhirnya di Solo (Jawa Tengah).
Muaranya pun hampir sama, kekecewaan para pemilik suara kepada ketua umum. Jika dulu Nurdin dianggap gagal mengangkat prestasi sepak bola Indonesia, kini Djohar dianggap tidak konsisten dan hanya jadi boneka dari kelompok tertentu.
Saat ini, PSSI memaksakan kompetisi di level tertinggi atau yang dulu dengan nama Indonesia Super League (ISL) diikuti oleh 24 tim. Padahal, seharusnya kompetisi tersebut hanya diikuti 18 tim.
Ada beberapa tim yang dipaksanakan masuk. Nama seperti Persebaya Surabaya, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar seharusnya tidak berada di situ. Alasannya, keempatnya sudah bukan lagi anggota PSSI setelah berlaga di kompetisi tandingan, Liga Primer Indonesia (LPI).
Namun, dengan entengnya, PSSI mempunyai alasan yang membuat mereka layak berlaga di ISL. Mulai dari alasan sponsor ataupun karena mempunyai suporter yang jumlahnya besar.
Menariknya lagi, para pigak yang kecewa kali ini, dulunya juga merupakan pemegang suara yang ngotot mengajukan Djohar. Cepat sekali dukungan tersebut berubah.
Sebelumya pun, saya sempat tidak percaya ketika awal Djohar memimpin PSSI tidak akan lama. Ah isu pasti. Kan suara yang mendukung Djohar lumayan besar.
Eh, nggak tahunya hal itu tinggal tunggu waktu.
Di negeri ini, semua bisa berubah kalau memang punya suara. Padahal, mediasi masih perlu dan Djohar bersama PSSI pun tidak perlu memaksakan kehendak.
Memang kalau harusnya ISL hanya 18 klub kan juga tidak masalah. Kalau Persebaya, Persibo, Persema, dan PSM harus tak ikut kan juga sudah ada dasarnya. Sesuai aturan FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) dan AFC (Federasi Sepak Bola Asia) memang kalau tak diakui federasi lokal harus mendaftar kembali dan memulai dari dasar.
Masyarakat Indonesia sekarang sudah tak bisa dibodohi lagi. Semua sudah melek informasi dengan mudahnya kabar diterima.
Mereka bisa mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Tentu, kita tak ingin masyarakat kembali dibodohi karena menyalahi statuta FIFA. Tapi, hanya diam dan membiarkan kompetisi dan roda organisasi tetap berjalan. (*)


Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 2 Oktober 2011
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com