www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rabu, 05 Oktober 2011

Bejo Sugiantoro, Libero Terbaik Sepanjang Masa

Bejo Sugiantoro (sumber: sidiq)

HERRY Kiswanto selalu disebut sebagai libero terbaik Indonesia sepanjang masa. Bagi saya, hal tersebut tidak berlaku.
Saya masih menjagokan Bejo Sugiantoro. Dia merupakan tipikal pemain belakang modern yang bukan hanya bertugas menjaga lini belakang.
Bejo tak jarang sering terlihat membantu penyerang saat timnya butuh konstribusi dirinya. Apalagi, jika tim yang dibelakanya lagi dalam kondisi tertinggal.
Layaknya seorang pendekar, Bejo langsung naik dan susah dicegah. Tapi, dengan stamina yang dimiliki, dia pun cepat kembali ke posnya jika serangan gagal.
Wajar kalau dia selalu mendapat posisi inti di setiap tim yang dibelanya. Ya, karir Bejo dimulai dari klub kota kelahirannya, Persebaya Surabaya.
Sebenarnya, Bejo pun pernah mendapat kesempatan menimba ilmu di Italia melalui program PSSI Barreti pada 1997. Tapi, karena kerinduannya kepada keluarga di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, dia pun memilih pulang.
Tapi, itu tak membuat kemampuan dan bakatnya ikut redup. Sebaliknya, setelah balik ke Surabaya, dia pun langsung kembali dipercaya menjadi libero utama. Meski, saat itu, usianya masih sangat muda. Hasilnya, Persebaya pun dibawanya menjadi juara Liga Indonesia selama dua kali.
Sayang, karirnya di Persebaya yang begitu gemilang dan menjadi pujaan suporter seolah terhapus saat dia memutuskan hengkang ke PSPS Pekanbaru. Dia bersama rekan akrabnya di Persebaya, Uston Nawawi, sempat membuat kecewa suporter Persebaya.
Untung, itu hanya berlangsung semusim. Saat Persebaya kembali ke Divisi Utama pada 2002, dia pun pulang ke Green Force. Bejo pun kembali menunjukkan loyalitasnya saat tim yang dibelanya tersebut degradasi ke Divisi I pada 2006. Hanya setahun di level II itu, Bejo sukses memimpin rekan-rekannya kembali ke Divisi Utama.
Tapi, pada 2008, Bejo sudah cabut lagi dari tim yang bermarkas di Gelora 10 Nopember. Kabarnya, dia melakukan itu karena aksi solidaritasnya kepada rekan-rekannya yang hendak dirasionalisasi soal gaji.
Mitra Kutai Kartanegara menjadi tujuannya di putaran II. Nyaris saja Barisan Kuat dan Kekar, julukan Mitra Kukar, menembus level ISL. Setelah itu, Bejo merumput di Persidafon Dafonsoro. Tampaknya, tekadnya sudah bulat untuk tidak lagi membela Persebaya.
Sebagai pemain yang bersikap profesional, Bejo akan membela klub yang serius meminangnya. Kabarnya, di Persidafon, kontraknya menembus Rp 750 juta. Sayang, tim asal Papua tersebut gagal menembus ISL setelah kalah menyakitkan di babak playoff.
Tak perlu lama Bejo pun dapat klub baru. Delta Putra Sidoarjo (Deltras) menjadi pelabuhan karirnya pada musim 2010-2011. Dengan bayaran yang tertunggak berbulan, jiwa leader pemain kelahiran 2 April 1977 tersebut pantas diacungi jempol.
The Lobster, julukan Deltras, tetap bertahan di ISL dengan posisi bukan sebagai juru kunci. Dengan usia yang terus merambat, Bejo tetap belum mau pensiun. Artinya, kita masih punya kesempatan aksi libero terebaik Indonesia sepanjang masa itu. (*)


Data Diri:
Nama: Sugiantoro
Panggilan: Bejo
Lahir: Sidoarjo, 2 April 1977
Orang tua: Mulyadi/Rotin
Istri: Rachmawati
Karier
1994-2002: Persebaya
2003-2004: PSPS Pekanbaru
2004-2008: Persebaya
2008-2009: Mitra Kukar
2009-2010: Persidafon Dafonsoro
2010-2011: Deltras
1997-2004 : Timnas Indonesia

*Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 5 Oktober 2011

1 comments:

Bagus Rio mengatakan...

setuju mas salah satu legendanya Persebaya,bahkan kapten terbaik yang pernah memimpin persebaya,selain ada uston,dan yang lainnya,stadion tambaksari tinggal kenangan

28 Oktober 2015 08.42

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com