www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Minggu, 16 Oktober 2011

GAGAL DATANG KE BRAZIL 2014

HARAPAN Indonesia lolos ke Piala Dunia 2014 Brazil sudah menguap. Kekalahan 2-3 dari Qatar membuat ratusan juta masyarakat di tanah air meradang. Ironisnya, kekalahan tersebut dialami di kandang sendiri, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Selasa (11/10).
Memang, sebelum pertandingan, kans lolos juga sangat tipis. Gara-garanya, Firman Utina dkk sudah menelan dua kali kekalahan yakni dari Iran dan Bahrain. Tapi, jika mampu mengalahkan Qatar, minimal anak asuh Wim Rijsbergen tersebut masih punya asa. Atau paling tidak membuat masyarakat Indonesia bisa dengan kepala tegak dan bangga dengan kumpulan sebelas pemain terbaiknya tersebut.
Sayang, harapan tinggal harapan. Untuk kali kesekian, kita hanya bisa menjadi penonton di ajang Piala Dunia. Mungkin yang lebih sakit daripada melihat pertandingan melawan Qatar adalah proses kekalahan itu sendiri.
Setelah kalah dari Bahrain, situasi di tim sangat panas. Komentar Wim yang menyalahkan anak asuhnya membuat para pemain kecewa. Sebagai pelatih, seharusnya dia ikut merasa bertanggung jawab bukan malah menyalahkan pemainnya.
Bambang Pamungkas dkk pun sempat mengancam keluar dari tim. Para penggawa Merah Putih pun membandingkan situasi tim di era Wim dan di era pelatih sebelumnyam Alfred Riedl.
Bagai pemain, Riedl, pelatih yang dilengsgerkan karena dianggap dikontrak Bakrie sehingga diputus di tengah jalan oleh PSSI di bawah ketua umum Djohar Arifin Husin, lebih manusiawi. Pelatih asal Austria ini bisa dekat dan memahami isi hati pemain.
Hasilnya, timnas Indonesia pun bisa lolos ke final Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara). Sayang, di final, yang memakai format home and away, Indonesia harus mengakui ketangguhan Malaysia.
Metode dan strategi yang dipakai Wim pun sempat bikin insan bola Indonesia bingung. Kekalahan dari Qatar menjadi buktinya. Tim yang diturunnya pun di luat dugaan.
Padahal, dugaan awal, meneer asal Belanda tersebut akan menampilkan formasi yang sama saat Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, menahan imbang tim tangguh Asia Arab Saudi di Malaysia di laga uji coba empat hari sebelumnya. Penampilan para pemain pun perlu mendapat acungan jempol. Tanpa lelah, Made Wirawan dkk membuat para pemain Arab Saudi frustrasi.
Tentu, dugaan awal, para pemain yang akan diturunkan melawan Arab Saudi yang akan ditampilkan saat menghadapi Qatar. Ternyata, semua itu hanya menjadi harapan.
Saat melawan Qatar, semua berubah. Made Wirawan dan Ferdinand Sinaga yang tampil bagus menghadapi Arab Saudi hanya jadi pemanas bangku cadangan. Purwaka yang spesialisnya bermain sebagai bek tengah dimainkan sebagai gelandang bertahan. Bambang Pamungkas yang sinarnya mulai redup secara mengejutkan malah dimainkan sebagai starter dan dipercaya sebagai kapten.
Hasilnya, permainan Indonesia sama sekali tak berkembang. Dua gol yang dihasilkan Christian Gonzalez pun bukan lahir dari sebuah skema. Sebaliknya, tiga gol yang tercipta ke gawang Indonesia yang dikawal Ferry Rotinsulu akibat kurang koordinasinya para pemain kalau tidak mau disebut sebagai sebuah kecerobohan.
Nasi pun sudah menjadi bubur. Indonesia sudah percaya diri menunjuk Wim. Hasilnya,lelaki yang menjadi bagian timnas Belanda yang lolos ke Piala Dunia 1974 dan 1978 itu gagal membawa Indonesia ke Piala Dunia Brazil 2014. Sekarang, kita hanya memilih, tetap memakai Wim atau tidak setelah melihat torehannya. (*)

Tulisan ini dibuat di Sidoarjo pada 12 Oktober 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com