www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kompetisiku Terbelah Dua

KOMPETISI sepak bola di Indonesia sudah uzur umurnya. Sejak zaman colonial Belanda, para pesepak bola tanah air sudah bertarung dalam kompetisi yang bentuknya antarkota (bond).
Bahkan, sepak bola juga menjadi alat perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Awalnya juga kompetisi Indonesia hanya perserikatan dan dalam level amatir.
Tapi, memasuki era 1970-an, sepak bola bayaran atau bekennya professional sudah masuk dengan nama Galatama (Liga Sepak Bola Utama). Para pengusaha berduit rela mengelurkan uangnya untuk membiayai klub. Akibatnya, di Indonesia ada dua model kompetisi, galatama dan perserikatan.
Meski ada dua, kompetisi dan sepak bola Indonesia tetap bias berjalan baik. Emas SEA Games 1987 dan 1991, serta semifinalis Asian Games 2006 bisa digapai.
Sayang, system dua model kompetisi ini hanya bertahan hingga 1993. Pada 1994, kompetisi di Indonesia memasuki system baru dengan nama, Liga Indonesia. Klub-klub amatir dan galatama berbaur menjadi satu dengan melahirkan Persib Bandung sebagai juara di musim pertama.
Setelah melakoni beberapa tahun dengan beberapa perubahan format kompetisi, system ini pun berubah lagi pada musim 2008-2009 dengan lahirnya Indonesia Super League (ISL). Hanya berjalan tiga musim, cobaan mulai menghadang.
Gonjang-ganjing menjelang pergantian ketua umum PSSI, lahirlah kompetisi tandingan dengan nama Indonesia Premier League (IPL) yang didanai pengusaha Arifin Panigoro. Dengan diikuti 20 klub, kompetisi ini dianggap brewk away league. Hanya, kompetisi ini tak berjalan hingga akhir alias hanya setengah musim.
Setelah PSSI berganti ketua umum dari Nurdin Halid ke Johar Arifin Husin, LPI pun menjadi kompetisi yang disahkan pada 2011. Sebaliknya, ISL menjadi tandingan. Tapi, kompetisi belum berlangsung, intrik-intrik tajam sudah mengiringi. Kedua kubu saling klaim sudah mendapat dukungan dari klub.
Kalau ini terus berlangsung, sepak bola Indonesia sampai kapan pun tetap akan terpuruk. (*)
Read More

LUKA SEMAKIN MENGANGA

21 November jadi tanggal yang susah dilupakan public sepak bola Indonesia. Untuk kali kesekian, Merah Putih dipermalukan Malaysia di final SEA Games 2011.Padahal, pertandingan tersebut dilaksanakan di kandang sendiri, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Beberapa hari sebelumnya, Indonesia juga diikat Malaysia dengan 0-1. Sementara, di laga final, Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, kalah melalui drama adu penalti. Kans memenangi pertarungan final atau meraih emas sebenarnya terbuka lebar.
Saat pertandingan belum ada lima menit, Stadion Utama Gelora Bung Karno sudah bergemuruh melalui gol tandukan Gunawan Dwi Cahyo. Sayang, setelah itu, pertandingan dikuasai Malaysia hingga mampu menyamakan kedudukan memanfaatkan kesalahan lini belakang dan tengah Indonesia yang tak terkoordinasi dengan baik.
Setelah Malaysia mampu menyamakan kedudukan, sebenarnya Indonesia kembali memegang kendali permainan. Bahkan, dua gol sempat bersarang ke gawang negeri jiran. Tapi, kedua gol Titus Bonai dan Ferdinand Sinaga tesebut dianulir karena keduanya dianggap sudah dalam posisi offside.
Dewi fortuna memang kurang berpihak ke Indonesia. Dalam adu tembakan 12 pas tersebut, Gunawan dan Ferdinand gagal menceploskan gol. Impian kembali meraih emas setelah 20 tahun terbang. Gelar juara umum di ajang SEA Games 2011 pun seakan hambar karena tanpa emas sepak bola.
Kekalahan ini juga membuat luka semakin menganga jika bersua Malaysia. Belum hilang ingatan kita betapa sakitnya menyaksikan Bambang Pamungkas dkk dihentikan langkahnya oleh Harimau Malaya, julukan timnas Malaysia.
Sampai-sampai masyarakat berpikir, kenapa kita susah mengalahkan Malaysia di partai-partai bergengsi. Jawabannya mungkin simple saja. Malaysia mempunyai system pembinaan yang jelas arah dan tujuannya. Sementara kita, tak pernah konsisten. Tergantung siapa yang punya kepentingan dia akan yang akan mengendalikan. Jika ini tak diubah, jangan harap kita bisa melewati Malaysia. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com