www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

KLB OH KLB……

NURDIN Halid sudah berkuasa dua kali periode. Kuku kekuasaannnya pun begitu dalam. Pria asal Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), tersebut menancap hingga ke daerah-daerah dalam hal ini pengcab atau pengurus cabang dan klub Divisi III.
Wajar, kalau Nurdin begitu susah digantikan. Beberapa sosok yang coba menggoyangnya pun tak kuasa dan akhirnya hilang dengan sendirinya tergerus zaman. Bahkan, pada 2011 ini, tak ada yang menyangka dia tak bisa lagi duduk di kursi empuknya di Senayan, Jakarta.
Wajar karena kasus hukum yang membuat dia harus meringkuk di penjara pun juga tidak bisa melengserkan mantan manajer PSM Makassar tersebut. Tapi, seiring keberanian beberapa sosok yang sudah muak dengan segala tingkah polah Nurdin dan antek-anteknya, mosi tak percaya pun bergulir. Selain memakai pemilik suara, mereka juga memakai Liga Primer Indonesia (LPI) guna menggoyahkan Nurdin. Masyarakat pun memberikan simpati.
Hingga akhirnya, desakan Kongres Luar Biasa (KLB) pun sukses. Kongres tahunan yang seharusnya memilih Nurdin lagi menjadi ajang yang sebaliknya.
Para pemilik suara banyak yang menginginkan Nurdin diganti. Dia pun tak bisa maju dan digantikan oleh Djohar Arifin Husin.
Sayang, tak sama dengan Nurdin yang sudah lama merasakan manisnya kekuasaan, Djohar pun kembali digoyang. Isu dari boneka Jenggala, sebutan untuk pendukung LPI, hingga plin-plan membuat suara keras menyerukan profesor asal Medan tersebut lengser.
Tentu jalan yang ditempuh sama dengan cara menggulingkan Nurdin, yakni KLB. Pemilik suara pun kembali dikumpulkan.
Ini membuat sepak bola Indonesia pun kembali memanas. Ternyata, KLB memang lagi laris. Tinggal tunggu waktu, akankan Djohar mengikuti jejak Nurdin. Menarik kita simak hingga akhir. (*)
Read More

Persisku Tak Bisa Bersatu

PERSIS Solo pernah berjaya di era 1950-an. Tim asal Kota Bengawan tersebut merupakan raja sepak bola di level amatir.
Trofi pemenang memenuhi rak di tim yang mempunyai logo lilin tersebut. Bahkan, dominasinya susah ditandingi dan juga mampum melahirkan pesepak bola –pesepak bola papan atas Indonesia. Salah satunya kiper Maladi yang juga pernah duduk sebagai petinggi di negeri ini.
Sayang, lambat laun, prestasi tersebut memudar. Bahkan, terlihat redup di era 1980-an saat Arseto menjadikan Kota Bengawan, julukan Solo, sebagai kandangnya. Persis pun harus rela tampil dari kampung ke kampung.
Saat kecil, saya memang lebih senang melihat Arseto. Penampilannya rancak saat berada di tangan Danurwindo. Tapi, saya pun tetap memperhatikan Laskar Sambernyawa, julukan Persis. Hanya, saya jarang menontonnya karena lawannya hanya tim-tim di sekitar Solo.
Nah, setelah Arseto bubar pada 1998, nafas Persis pun kembali terdengar. Harapan merajut prestasi seperti di era 1950-an pun bergelora.
Saya pun menjadi saksi dari awal kebangkitan Persis saat menapak masuk Divisi I. Mulai pertandingan dari kampung ke kampung di level Divisi II pun saya ikuti. Sayang, panggilan tugas pindah ke luar Solo, tak bisa membuat saya menuntaskannya hingga menjadi saksi Persis menembus Divisi I.
Hingga akhirnya, saya pun gembira plus bangga ketika Persis menembus Divisi Utama. Stadion Manahan, Solo, yang megah, kembali ke tuannya pun ke orang lain. Ya, stadion yang dibangun di era Orde Baru tersebut pernah dipakai kandang Persijatim Jakarta Timur dan Pelita. Karena di Solo, akhirnya ada embel-embel, Solo yakni Persijatim Solo FC dan Pelita Solo FC. Kini, Persijatim sudah menjadi Sriwijaya FC dan Pelita kembali ke nama aslinya Pelita Jaya yang menjadi milik keluarga Bakrie.
Sayang, di saar era kompetisi Indonesia Super League (ISL), Persis gagal lolos. Akibatnya, tim yang mempunyai kostum kebangaan merah-merah itu pun harus tetap berada di Divisi Utama.
Meski hanya di Divisi Utama, Persis pun harus tertatih-tatih. Untung, regulasi membuat Persis bertahan di kompetisi level 2 PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) tersebut.
Hanya, sekarang, keprihatinan saya kepada tim kampung halaman sangat dalam. Persis yang dulu solid, kini terpecah menjadi 2. Persis yang berlaga di naungan PSSI (baca PT LPIS) dan PT Liga Indonesia. Suporter mendukung yang berada di bawah PSSI, tapi klub anggota sebagai pemilik Persis memilih ke PT LI.
Memang, Persis yang bernaung di bawah PSSI dipimpin orang yang bukan dari Solo. Keputusannya sering kali tak melibatkan klub anggota (entahlah, mana yang benar). Hanya, saran saya, alangkah bijaknya, jika kedua kubu bisa duduk bersama. Lupakan perbedaan yang ada. Buang dan tending jauh politik dari sepak bola, begitu juga yang ada di Persis. Viva Sambernyawa. Cintaku ke Persis mengalahlan klub manapun di atas bumi ini. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com