www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 13 Desember 2011

Persisku Tak Bisa Bersatu

PERSIS Solo pernah berjaya di era 1950-an. Tim asal Kota Bengawan tersebut merupakan raja sepak bola di level amatir.
Trofi pemenang memenuhi rak di tim yang mempunyai logo lilin tersebut. Bahkan, dominasinya susah ditandingi dan juga mampum melahirkan pesepak bola –pesepak bola papan atas Indonesia. Salah satunya kiper Maladi yang juga pernah duduk sebagai petinggi di negeri ini.
Sayang, lambat laun, prestasi tersebut memudar. Bahkan, terlihat redup di era 1980-an saat Arseto menjadikan Kota Bengawan, julukan Solo, sebagai kandangnya. Persis pun harus rela tampil dari kampung ke kampung.
Saat kecil, saya memang lebih senang melihat Arseto. Penampilannya rancak saat berada di tangan Danurwindo. Tapi, saya pun tetap memperhatikan Laskar Sambernyawa, julukan Persis. Hanya, saya jarang menontonnya karena lawannya hanya tim-tim di sekitar Solo.
Nah, setelah Arseto bubar pada 1998, nafas Persis pun kembali terdengar. Harapan merajut prestasi seperti di era 1950-an pun bergelora.
Saya pun menjadi saksi dari awal kebangkitan Persis saat menapak masuk Divisi I. Mulai pertandingan dari kampung ke kampung di level Divisi II pun saya ikuti. Sayang, panggilan tugas pindah ke luar Solo, tak bisa membuat saya menuntaskannya hingga menjadi saksi Persis menembus Divisi I.
Hingga akhirnya, saya pun gembira plus bangga ketika Persis menembus Divisi Utama. Stadion Manahan, Solo, yang megah, kembali ke tuannya pun ke orang lain. Ya, stadion yang dibangun di era Orde Baru tersebut pernah dipakai kandang Persijatim Jakarta Timur dan Pelita. Karena di Solo, akhirnya ada embel-embel, Solo yakni Persijatim Solo FC dan Pelita Solo FC. Kini, Persijatim sudah menjadi Sriwijaya FC dan Pelita kembali ke nama aslinya Pelita Jaya yang menjadi milik keluarga Bakrie.
Sayang, di saar era kompetisi Indonesia Super League (ISL), Persis gagal lolos. Akibatnya, tim yang mempunyai kostum kebangaan merah-merah itu pun harus tetap berada di Divisi Utama.
Meski hanya di Divisi Utama, Persis pun harus tertatih-tatih. Untung, regulasi membuat Persis bertahan di kompetisi level 2 PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) tersebut.
Hanya, sekarang, keprihatinan saya kepada tim kampung halaman sangat dalam. Persis yang dulu solid, kini terpecah menjadi 2. Persis yang berlaga di naungan PSSI (baca PT LPIS) dan PT Liga Indonesia. Suporter mendukung yang berada di bawah PSSI, tapi klub anggota sebagai pemilik Persis memilih ke PT LI.
Memang, Persis yang bernaung di bawah PSSI dipimpin orang yang bukan dari Solo. Keputusannya sering kali tak melibatkan klub anggota (entahlah, mana yang benar). Hanya, saran saya, alangkah bijaknya, jika kedua kubu bisa duduk bersama. Lupakan perbedaan yang ada. Buang dan tending jauh politik dari sepak bola, begitu juga yang ada di Persis. Viva Sambernyawa. Cintaku ke Persis mengalahlan klub manapun di atas bumi ini. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com