www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Anshar Ahmad, Mantan Penggawa Garuda yang Kini Jadi Satpam

Posturnya seperti tokoh wayang Bima. Tinggi besar dengan kumis yang melintas.
 Hanya, saat ini, dia kadang harus rela begadang sampai pagi. Ya dialah Anshar Ahmad. Di perjalanan sepak bola Indonesia namanya tercantum di Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia.
 Anshar tercatat pernah membela timnas merah putih sejak 1988 hingga 1997. Dengan posturnya yang mencapai 180 sentimeter, dia menjadi andalan timnas Indonesia di posisi stopper. 
 Lelaki kelahiran 23 Juli 1966 memang selalu berada di posisi yang dikenal harus tega mematikan penyerang lawan di lapangan tersebut. ‘’Saya memulai karir di PU Kendari pada 1986. Itu setelah saya tamat SMA,’’ kata Anshar saat ditemui di Solo pada 23 Desember lalu.
 Bersama klub asal Pulau Sulawesi tersebut, kemampuannya semakin terasah. Ini yang membuat klub papan atas Galatama (Liga Sepak Bola Utama) Makassar Utama tertarik merekrutnya pada 1988.
 Hanya, dia tak bertahan lama di klub asal Kota Angin Mamiri, julukan Makassar. ‘’Saya hanya membela Makassar Utama dalam tiga pertandingan Piala Milo (sponsor yang menyoponsori Piala Liga),’’ jelas Anshar.
 Tiga kali penampilannya di Piala Milo sudah membuat klub besar Arseto Solo kepincut. Bersama dua rekannya yang lain, Franky Weno  dan Alan Haviludin ‘’Hanya, saya dan Alan yang bisa bertahan lama. Franky hanya semusim dan memilih kembali ke Makassar,’’ kenang bapak tiga anak tersebut.
 Di Solo, karir dan perjalanan Anshar terus membaik. Dia hanya perlu setahun di Kota Bengawan, julukan Solo, untuk mempersunting gadis dari daerah tersebut. Setelah menikah, penampilan Anshar bukannya menurun tapi malah sebaliknya.
Panggilan membela timnas pun datang mengalir. Arseto pun pada 1992 dibawanya menjadi juara. Sayang, pada 1998, saat krisis ekonomi, klub milik putra Presiden II Republik Indonesia Soeharto, Sigit Hardjojoedanto, tersebut tutup.
 Dengan terpaksa, kebersamaan Anshar dengan Arseto pun berakhir. ‘’Tapi, saya tak bisa pindah dari Solo. Saya pun langsung bergabung Persis Solo,’’ucap Anshar.
 Bersama Laskar Sambernyawa, julukan Persis, Anshar lama bertahan. Bahkan, menjelang karirnya sebagai pemain berakhir, dia sudah diproyeksikan masuk jajaran pelatih.
 ‘’Tentu, saya sangat senang karena hidup saya, saya dedikasikan buat sepak bola,’’ lanjut Anshar. Anshar resmi pensiun sebagai pemain setelah mengantarkan Persis masuk Divisi Utama pada 2009.  Dunia kepelatihan pun ditekuninya.
 Namun, Anshar tetap membutuhkan pemasukan dari luar sepak bola. Saat tawaran bekerja di sebuah hotel di dekat Terminal Tirtonadi, Solo, pun tak bisa ditolaknya. Hanya, dia tak mau bekerja di bagian staff.
‘’Saya memilih menjadi satpam saja. Jadi punya waktu yang banyak untuk bisa melatih di pagi dan sore,’’ ungkapnya.
 Dia pun tahu risiko yang harus dilakoni. Begadang dari tengah malam hingga dini hari pun sudah biasa baginya.
‘’Bukan sebuah masalah besar. Kantor pun sangat mendukung aktivitas saya sebagai pelatih,’’ lanjut dia. (*)
Read More

Gomes de Olivera, Tantangan Taklukan Kerasnya Indonesia

TANGAN DINGIN: Gomes de Olivera (sumber: sidiq prasetyo)
TAK gampang sukes menjadi pemain dan juga sukses menjadi pelatih di Indonesia. Apalagi, itu terjadi di Indonesia.
 Maboang Kessack asal Kamerun boleh menjadi pemain top yang kali pertama merumput di Indonesia. Kemudian sang  superstar Piala Dunia 1990 Roger Milla yang juga berasal dari Kamerun juga sempat menjadi perbincangan hangat.
 Tapi, keduanya tak bisa menjadi pelatih di Indonesia. Bahkan, sang top scorer (pencetak gol terbanyak) Piala Dunia 1978 asal Argentina Mario Kempes pun tak bisa menangani tim di Negeri Jamrud Khatulistiwa, julukan Indonesia.
 Lain halnya dengan Jacksen F. Tiago. Dia termasuk pemain asing yang sukses di Indonesia. Klub-klub yang dibelanya, Petrokimia Putra Gresik, PSM Makassar, dan Persebaya Surabaya pun tergolong sukses. Petrokimia dan PSM menjadi runner-up Liga Indonesia. Green Force, julukan Persebaya, malah diantarkannya menjadi juara pada Liga Indonesia III.
 Setelah gantung sepatu, lelaki asal Brasil itu pun mengangkat Assyabaab menjadi juara kompetisi internal Persebaya, kemudian Persebaya menjadi juara Liga Indonesia serta Persipura Jayapura mengangkat trofi Indonesia Super League.
 Kini, ada lagi yang bisa jadi mengikuti jejak Jacksen. Siapa? Gomes de Olivera.
 Memang, dia belum sesukses Jacksen kalau masih aktif di lapangan hijau.  Hanya, klub yang dibelanya pun bukan klub kacangan.
 ‘’Saya datang saat Liga Indonesia II dan membela Mitra Surabaya,’’  kata Gomes saat ditemui di Surabaya pada 16 Desember lalu.
 Dia pun mengenang kedatangannya ke Indonesia karena ajakan seorang agen di negeri asalnya, Brasil. Dia dikenalkan dengan seorang agen Rumania yang kali pertama membawa pemain mancanegara ke Indonesia.
 ‘’Saya kaget melihat atmosfer sepak bola Indonesia. Animo penontonnya luar biasa,’’ terang lelaki kelahiran 1972 tersebut.
 Setelah Mitra, dia pun mulai berpetualang ke berbagai klub di Indonesia. Mataram Indocement, Semen Padang, Persedikab Kab Kediri, hingga PSIS Semarang pernah dibelanya. Di semua klub itu, lelaki yang memperistri gadis Surabaya tersebut selalu menjadi andalan di lini depan.
Bahkan, Gomes mengaku pernah membela klub di Liga Bangladesh. Saat usianya terus beranjak tua, karir di dunia kepelatihan menjadi pilihan utama.
 Klub anggota internal Persebaya, Suryanaga, menjadi klub senior pertama yang dipolesnya.  Dia mampu mengangkat klub binaan Michael Sanjaya itu juara.
 Tawaran menangani Persebaya U-21 dan menjadi asisten Persebaya Senior pun datang kepadanya. Di tim senior, Gomes mengaku banyak belajar kepada Danurwindo. Mantan pelatih timnas PSSI tersebut dianggap Gomes sebagai pelatih dengan ilmu tinggi.
  Ilmu dari Danurwindo yang dipadukannya dengan ilmu yang diperoleh di Brasil semakin membuat Gomes tertantang menaklukan kerasnya kompetisi sepak bola Indonesia. Perseru Serui tertarik mengangkat dia menjadi asisten pelatih.
 Pengalaman yang diperolehnya mampu membuat Gomes singgah di Persiwa Wamena. Hasilnya pun sungguh menakjubkan. Badai Pegunungan Tengah, julukan Persiwa, diantarkannya menjadi peringkat ketiga Indonesia Super League. Bahkan, sebelumnya, Pieter Rumaropen dkk sempat memanaskan persaingan juara bersama Persipura Jayapura.
 Kini, tangan dingin Gomes pun diharapkan bisa menular ke Persela Lamongan. ‘’Tapi, saya tetap harus kerja keras jika ingin sukses.’’. (*) 

Read More

Baroto, sang Pencetak 1000 Bintang Lapangan Hijau


Baroto (paling kanan) bersama Puslat Putra Sukoharjo saat melakukan try out di Sidoarjo, Jawa Timur , pada November 2012. (sumber: sidiq prasetyo)
JOSE Mourinho boleh menyebut dirinya The Special One. Sir Alex Ferguson dikatakan pelatih bertangan dingin. Begitu juga dengan Josep ‘’Pep’’ Guardiola yang dikenal pintar meracik strategi.
 Tapi, ketiganya bisa sukes karena materi pemainnya sudah jempolan.  Jika kita menyebut nama Baroto, orang akan langsung mengerutkan dahi. Siapa dia? Kok ada namanya di antara tiga pelatih papan atas dunia tersebut.
 Jika dibandingkan pun tentu baik langit dan dasar bumi. Baroto hanya pelatih ‘’kampung’’ yang mungkin namanya hanya dikenal di wilayah Solo dan sekitarnya.
  Tapi, saya punya nilai plus Baroto dibandingkan pelatih-pelatih yang lain. Dia mampu melahirkan pemain-pemain papan atas meski hanya level Indonesia.
  Pembaca mungkin masih penasaran dengan sosok Baroto. Lelaki ini adalah manusia yang mengabdikan hidupnya untuk sepak bola.
 Sejak kecil, saya sudah begitu akrab dengan namanya. Banyak teman yang ingin ikut klub binaan Putra Sukoharjo.
 Bahkan, saat saya duduk di kelas 3 SMA, seorang kawan yang kebetulan juga kapten Persiharjo Sukoharjo, domisi Putra Sukoharjo, Isnu Broto Santoso, mengajak saya berlatih di sana. Ini sebagai persiapan menghapi Piala Suratin, kini lebih dikenal dengan nama Liga Remaja.
 Sayang, tak bisa memenuhinya karena waktunya berdekatan dengan ujian akhir sekolah. Tapi, kesempatan untuk bisa mengenal Baroto mulai terbuka saat saya bekerja di sebuah harian di Solo. Sebagai wartawan olahraga, nama dia masuk dalam daftar sumber berita yang harus bisa didekati.
 Memang tak susah mencari rumah Baroto. Setiap warga yang tinggal di daerah Baron pasti kenal sosok dia. Hanya, kali pertama mau bertemu Baroto, saya rela berhujan-hujan dengan mengendarai sepeda motor Yamaha 80 kepunyaan saya.
 Di luar dugaan, sosok yang dikenal keras di lapangan ternyata pribadi yang ramah. Layaknya teman yang lama tak bertemu, dia tak sungkan menceritakan segala sesuatu tentang sepak bola dan perjalanannya menggeluti olahraga si kulit bundar tersebut.
  Setelah itu, kami pun berteman akrab. Saya pun sempat sedih saat mendengar Baroto mengalami sakit stroke. Lebih sedih lagi gara-garanya juga sepak bola. Rekan-rekan yang dulu begitu dipercayainya tega mengkhianati.
 Duh, sungguh pedih. Tapi melihat Baroto datang ke Sidoarjo di akhir November 2012, saya seperti melihat Baroto sebelas tahun lalu. Masih energik dan juga teriakan-teriakannya saat menyemangati anak asuhnya.
 Hanya, memang sudah tak selincah dulu. Stroke ikut mengurangi kegesiatan gerakannya.
 Tapi, Baroto sempat berucap sakit tak akan mengurangi sakitnya mencetak pemain-pemain muda. Selamat berjuang Mas... (*)

Spesialis Pencetak Pemain Berbakat
Pemain Binaan Baroto
1. Wahyu Tri Nugroho
Posisi: Kiper
Klub : Persis Solo, Persiba Bantul, Timnas Indonesia U-19, Timnas Indonesia Senior
2. Putut Waringin Jati
Posisi: Penyerang
Klub: Deltras, PSPS Pekanbaru, Arema, Timnas U-19
3. Dwi Joko Prihatin
Posisi: Bek
Klub: Persis Solo, Petrokimia Putra Gresik, Deltras, Persita Tangerang, Persiba Balikpapan
4. Indriyanto ‘Nunung’ Nugroho
Posisi: Penyerang
Klub: Pelita Jaya, Arseto, Persijatim Solo FC, PSIS Semarang, Persikaba Blora, Persepam Madura United , Timnas PSSI Primavera, Timnas Senior
5. Haryanto ‘’Tommy’’ Prasetyo
Posisi: Gelandang
Klub: Pelita Jaya, PSS Sleman, Persijap Jepara, Persis Solo, Timnas PSSI Barreti, Timnas PSSI Senior
6. M. Analis
Posisi: Belakang
Klub: Persis Solo, Persikabo Kab Bogor, Persela Lamongan, Solo United
7. Santoso
Posisi: Depan
Klub: Persis Solo, PSIM Jogja, Persipur Purwodadi, Persiku Kudus
8. Syaiful Bahri
Posisi: Depan
Klub: Persis Solo, PSIR Rembang, Persikubar Kutai Barat
Read More

Muhammad Al Hadad, Mencuat di Antara Minoritas

Dengan postur yang tinggi, sekitar 175 sentimeter, Mamak memang ideal ditempatkan sebagai penyerang. Tandukan maupun sepakannya jitu ke gawang lawan. Tak heran, Mamak mencatatkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak pada era Galatama pada 1987.
 Pada tahun itu, dia membela Niac Mitra. Di klub milik A. Wenas itu pula kesetiaan Mamak perlu mendapat acungan jempol. Sejak bergabung di kelompok junior pada 1977, lelaki kelahiran Surabaya, 19 September 1961 tersebut tak pernah berpindah klub. ‘’Saya selalu membela Niac Mitra sampai klub itu bubar pada 1990-an. Banyak kenangan yang saya dapat dari klub itu, ‘’ kata Mamak.
 Dia berada di sana bersama generasi emas. Mamak pernah merasakan menimba ilmu dari pemain Singapura Fandi Ahmad. Hingga trio nya bersama Hanafing dan Eduard Mangilomi. Saat bersaing menjadi top scorer (pencatak gol terbanyak), Mamak harus bersaing dengan Hanafing.
 Karirnya bersama Niac Mitra harus diakui sangat menjulang. Pada 1986, Niac Mitra dibawanya menjadi juara Piala Gubernur Jateng. Dua tahun kemudian, tim yang mempunyai kaos kebesaran warna hijau tersebut menempati runner-up Galatama. Panggilan Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, pun dipenuhinya dalam kurun 1986-1989.
 Aksinya membela Indonesia terjadi di Piala Raja Bangkok, Pra Piala Asia, Piala Kemerdekaan, dan juga Pra Piala Dunia. Selain itu, pada 1988, Mamak terpilih sebagai Atlet Terbaik Jatim versi Siwo (Seksi Wartawan Olahraga) Jatim.
 Nah, setelah Niac Mitra bubar, Mamak pun langsung gantung sepatu. Dia langsung dapat kepercayaan menjadi asisten Assyabaab Galatama 1991-1993. Dua tahun sudah cukup bagi lelaki dengan rambut ikal tersebut naik jabatan menjadi pelatih kepala. Dia mengembannya selama empat tahun dari 1993 hingga 1997.

Setelah itu, Mamak pun mulai melanglang ke berbagai klub di tanah air. Klub sebesar Persebaya Surabaya pun pernah merasakan sentuhannya. ‘’Saya tak akan bisa lepas dari sepak bola. Sampai kapan pun, saya akan menekuni olahraga ini,’’ tandas Mamak. (*)



Data Diri:

Nama: Muhammad “Mamak” Al Hadad

Tempat Tanggal Lahir: Surabaya, 19 September 1961

Agama: Islam

Alamat: Kalimas Udik II No 32 Surabaya



Pengalaman Pemain

1977-1979: Mitra Muda Surabaya

1979-1990: Niac Mitra Surabaya

-1984-1990: Kapten

-Juara Galatama 1982-1983

1986: Juara Piala Gubernur Jateng

-1987-1988 (runner-up top skorer Galatama)

1988-1989 (runner-up Galatama)

1986-1989: Liga Selection (Piala Raja Bangkok), PSSI Senior (Pra Piala Asia, Piala Kemerdekaan, Pra Piala Dunia)

1988: Atlet Terbaik Jatim



Pengalaman Melatih

1991-1993: Assyabaab Galatama (asisten pelatih)

1993-1997: Assyabaab Galatama (pelatih kepala)

1999: SIWO Jatim

2000-2001: Persijatim

2002-2003: Persebaya

2004-2005: Timnas U-20

2006: Persim Maros

2007-2008: Persebaya Surabaya

2009: PS Kupang

2010: Deltras

2011: Manado United
Read More

Beri Saja Sanksi Biar Tobat

KEMELUT sepak bola Indonesia seakan tiada habisnya. PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin dan La Nyalla Mattalitti belum mau berdamai.
 Kedua organisasi tersebut masih sama-sama merasa sebagai organisasi yang sah untuk mengurusi si kulit bundar di negeri kita tercinta ini. Kongres yang dilaksanakan pada 9 Desember pun dilakukan bersama.
PSSI Djohar melaksanakan kongresnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sedangkan PSSI Nyalla menggelar di ibu kota Jakarta.
 Keduanya pun sudah sama-sama mengeluarkan keputusan yang akan dilaporkan di FIFA selaku induk organisasi sepak bola tertinggi di dunia. Harapannya, agar keduanya mampu membawa Indonesia terbebas dari sanksi dari FIFA.
 Karena, federasi sepak bola yang berkantor pusat di Swiss itu menjatuhkan tempo sebelum 10 Desember untuk menggelar kongres. Memang, ada kongres, tapi tetap ada dua organisasi.
Kini, semua insan sepak bola Indonesia pun harap-harap cemas. Kena nggak  ya? Kalau penulis tak mempermasalahkan sanksi atau tidak.
 Kalau akhirnya FIFA menjatuhkan juga bukan  masalah. Siapa tahu, vonis tersebut membuat dua kubu yang berseberangan sadar dan bergandengan tangan lagi.
 Meski, untuk itu, harus ada kebesaran jiwa dari mereka. Lebih baik buang saja ego, buang saja dendam, dan buang saja merasa lebih pintar. 
 Masyarakat sudah rindu akan prestasi. Itu hanya bisa dicapai kalau tak ada lagi perbedaan dan perpecahan. Kompetisi harus satu, induk organisasi juga satu. Dengan tujuan satu, membawa prestasi Indonesia ke pentas internasional. (*)

Mereka Yang Pernah Kena Sanksi FIFA
1. Yunani
Negara ini mendapatkan sanksi karena tidak mematuhi statuta FIFA.  Alasannya, adanya dugaan politisasi dunia si kulit bundar di negara yang masuk kawasan Eropa tersebut.
Sanksi dijatuhkan pada 3-7 Juli 2006 setelah federasi sepak bola Yunani mematuhi statuta FIFA.
2. Kuwait
Negara di Timur Tengah ini terkena palu FIFA pada 30 Oktober 2007. Alasannya, campur tangan pemerintah dalam proses pemilihan ketua umum dan dewan direksi.FIFA mencabut sanksi tersebut pada 15 November 2007.
3. Brunei Darussalam
Brunei kena sanksi  pada 2009 karena intervensi pemerintah. Sultan Brunei membentuk kepengurusan baru federasi sepak bola di negaranya pada Desember 2008. Hingga sekarang, skors tersebut masih belum dicabut FIFA.
4. Peru
Peru diharamkan mengikuti pertandingan internasional. Pertimbangannya terjadi kekisruhan antara pemerintah dan Federasi Sepak Bbola Peru sejak 25 November2008.
Sanksi baru dicabut satu bulan kemudian, 20 Desember 2008.
5. Iran
FIFA memberikan hukuman kepada Iran pada 26 November 2006. Sama dengan Brunei. Pemerintah campur tangan di kepengurusan. FIFA mencabut sanksi itu pada 17 Desember 2006.
6. Nigeria
Nigeria kena sanksi  4 Oktober 2010 karena intervensi dari pemerintah. Akibatnya, Nigeria dilarang bermain di level internasional. Sanksi dicabut empat hari kemudian.
7. Ethiopia
FIFA menjatuhkan sanksi pada 2008 sebab adanya campur tangan dari pemerintah karena memecat Presiden EFF. Ethiopia sempat dikeluarkan dari ajang kualifikasi Piala Dunia 2010 meski telah melakoni empat pertandingan kualifikasi. FIFA mencabut sanksi tersebut pada November 2008.
8. Irak
Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) menjatuhkan sanksi kepada Federasi Sepakbola Irak (IFA) pada 20 November 2009. Alasannya, intervensi pemerintah. Maret 2010, FIFA mencabut sanksi tersebut. (*)
Read More

Derita Diego Mendieta

SEPAK bola Indonesia selalu jadi sorotan. Bukan hal yang positif tapi lebih banyak sisi negatif.
 Mulai dari dualisme induk organisasi olahraga sepak bola (PSSI Djohar Arifin dan PSSI La Nyalla Mattalitti) yang berimbas adanya dua kompetisi di tanah air , kegagalan merah putih di Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2012, hingga yang terbaru meninggalnya pesepak bola asing Diego Mendieta dalam kondisi yang memprihatinkan.
 Ya, pesepak bola asal Paraguay tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di Solo pada Senin malam lalu. Diego tutup usia karena penyakit tifus yang diderita.
 Ironisnya lagi, pemain berusia 32 tahun tersebut tak bisa membayar ongkos pengobatan. Ini tentu menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan kita semua.
 Sebagai pemain asing, di benak kita tentu dia berkantong tebal. Minimal mereka dikontrak dehgan bandrol ratusan juta rupiah.
 Memang, tapi itu bagi pesepak bola yang tengah berada di puncak karir. Bahkan, klub berani membayar mereka miliaran rupiah.
 Tapi, bagi mereka yang levelnya di bawah atau tengah redup prestasinya, bayaran puluhan juta atau bahkan di bawahnya sudah sebuah anugerah. Itu pun diterima saat kompetisi berlangsung.
 Ketika kompetisi usai, para pemain asing berkantong tipis pun kebingungan. Mau kembali ke negaranya, uang tak ada buat beli tiket. Gaji dari klub pun juga tak semuanya lancar.
 Dalam kasus Mendieta. setelah membela Persis Solo di ajang Kompetisi Divisi Utama di bawah naungan PT Liga Indonesia, dia lebih banyak berada di Kota Bengawan, julukan Solo.
 Diego menghabiskan waktunya menerima order bermain di turnamen antarkampung. Dia melakukannya karena gajinya dari Persis yang ditunggunya tak kunjung diterima.
 Hingga, dia pun melupakan kesehatan. Hingga akhirnya Diego pun tak kuasa melawan penyakit yang terus menggerogoti.
 Sebelum meninggal, dia pun hanya ingin bisa pulang ke negerinya dan meninggal di dekat sang ibu. Sebuah kisah pesepak bola yang sangat menyanyat hati.
Kematian pemain yang juga pernah membela Persitara Jakarta Utara ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahkan, klub harus benar-benar siap finansial kalau ingin mengikuti kompetisi.
 Gengsi dan semangat mengikuti kompetisi tak ada artinya jika kesejahteraan pemain terlupakan. Gembar gembor profesionalisme pun hanya sebuah kata-kata yang susah direalisasikan.
 Lupakan dualisme PSSI, lupakan dualisme kompetisi, dan yang perlu diingat lagi, nasib pemain harus menjadi perhatian utama.
 Jangan sampai ada lagi Diego Mendieta-Diego Mendieta yang lain hadir. Sebaliknya, meninggalnya Mendieta akan membuat semua insan sepak bola sadar bahwa pemain bukan budak yang bisa diperas tenaga dengan seenaknya tanpa harus menerima imbalan yang layak. (*)
*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos pada 5 Desember 2012
Read More

H.M. Barmen, Pendekar Bola dari Surabaya

Penulis bersama H.M. Barmen (sumber: sidiq prasetyo)
SUDAH hampir sebelas tahun saya tinggal di Surabaya. Selama itu pula, saya mulai mengenal sosok H.M. Barmen.
Dulu, saat masih berada di kampung halaman di Solo, saya hanya bisa mengetahui sosoknya dari membaca surat kabar. Saya sudah kagum dengan dedikasinya pada sepak bola.
Seorang teman  yang pernah merasakan bergabung di Assyabaab pun bercerita tentang dia. Dia sosok yang peduli kepada pemain, kata teman yang datang lebih awal di Surabaya.
Sayang, sang teman tak bertahan lama. Kerinduan kepada keluarga membuat karir sepak bolanya tak bisa bertahan lama.
Kesempatan mengenal Bang Moh, begitu H.M. Barmen, pun semakin dekat ketika saya pindah ke Surabaya.  Akhirnya, kesempatan tersebut datang. Sebuah undangan dari Bang Moh kepada saya untuk datang ke rumahnya di  kawasan Ampel.
Sosoknya terlihat begitu berwibawa. Satu hal yang membuat saya salut, daya ingat Bang Moh begitu luar biasa…Dia masih hapal dengan peristiwa yang terjadi pada era 1970-an. Kejadian itu begitu gampang diingatnya meski sudah berlangsung 30 tahunan lalu.
  Mulai saat itu, saya semakin salut dan hormat kepada Bang Moh. Apalagi, dia mempunyai kepedulian yang tinggi kepada perkembangan sepak bola Surabaya dan nasional.
 Awal Oktober 2012, sosok Bang Moh pun tak banyak berubah. Seakan dia masih tetap seperti yang saya temui di awal 2000.
 Dia antusias menyaksikan para pemainnya di klub Assyabaab berlatih di lapangan Bumimoro, Surabaya. Dia tahu semua nama pemainnya meski usianya jauh di bawahnya dan selalu berganti di tiap musim.
Bang Moh pun tak peduli dengan masalah yang tengah menerpa Assyabaab. Ya, saat ini, Assyabaab terancam turun ke Kelas I. Itu disebabkan klub pujaan masyarakat Ampel tersebut tak mau tampil dengan alasan hadiah juara musim lalu tak seperti yang  dijanjikan.
Para pemain Assyabaab pun setali tiga uang. Di bawah arahan Kasiyanto, mantan asisten pelatih Persebaya, mereka begitu bersemangat. Hadirnya Bang Moh pun ikut berperan menambah motivasi untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
 Bang Moh pun berada di sisi lapangan hingga latihan usai. Ini sudah dilakukannya sejak puluhan tahun lalu. Memang tak mudah menemukan sosok seperti Bang Moh. Jangankan di Surabaya, di Indonesia pun belum tentu ada. (*)
Read More

Mustaqim, Bersahaja di Lapangan, Rajin Ibadah di Rumah

CUACA Surabaya panas menyengat pada 5 September. Suhunya bisa jadi mencapai 35 derajat selsius. Tapi, itu tak menyyurutkan semangat penulis datang ke rumah seorang salah satu legenda sepak bola Indonesia dan Persebaya Surabaya, Mustaqim. Memang tak susah mencari rumahnya. Itu dikarenakan penulis sudah pernah ke sana beberapa tahun lalu. Rumah yang berada di kawasan mewah Rungkut tersebut berdiri megah. Saat berada di depan rumahnya, pintu pagarnya tertutup. Untung, setelah ditelepon, salah wanita yang bekerja di rumah itu membukakannya. Suasana sejuk langsung terasa saat berada di rumah Mustaqim. Rumah dua lantai tersebut cukup luas. Kebetulan, saat itu sudah memasuki waktu sholat dzuhur. Bahkan, sebelum menjalankan sholat wajib, bapak tiga anak itu lebih dulu menjalankan sholat sunah. Mantan mesin gol Persebaya itu pun langsung mengajak penulis mendirikan sholat. Dengan fasihnya, Mustaqim membacakan setiap ayat-ayat Al-Quran. ‘’Saya tenang kalau menjalankan ibadah. Bisa dekat dengan Allah membuat hidup kita tenang,’’ jelas Mustaqim. Dia pun percaya rezeki yang tak pernah berhenti datang kepadanya juga karena izin Allah. Wajar kalau Mustaqim pun tak hanya memilih pemain berdasarkan skill saja. ‘Ada aspek moralitas yang juga perlu diperhatikan,’’ ungkapnya. Dalam melatih pun, Mustaqim juga selalu menekankan kebersamaan melakui sholat. Dia berharap para pemainnya juga bisa kompak di lapangan layaknya saat mereka menjalankan ibadah. Bukan hanya sebagai pelatih, saat menjadi pemain, Mustaqim sudah dikenal rajin beribadah. Ini membuat kita tak pernah mendengar berita miring soal dirinya. (*) Biodata: Nama: Mustaqim Lahir: Surabaya, 6 September 1964 Istri: Hesty Nurfarida Anak: -Mizan Zano Ramadhan -Sifana Zana Masyitha -Fauzan Syaikhul Islam Alamat: Jl. Rungkut Asri Utara VII/17 Surabaya Lisensi Pelatih: A AFC (Asian Football Confederation) Karir Pemain: -Persebaya Surabaya 1985-1988 -Petrokimia Putra Gresik 1989-1990 -Assyabaab 1990-1991 -Mitra Surabaya 1991-1994 -Assyabaab Salim Group (ASGS) 1995-1996 -Tim Nasional 1986-1992 Prestasi pemain: -Mengantarkan Jatim Juara Di Piala Pemuda 1984 -Bersama Persebaya Juara pada 1987 -Pencetak Gol Terbanyak Bersama Assyabaab di Divisi I 1990 -Meraih Perunggu bersama Timnas Di Sea Games Malaysia 1989 Karir Pelatih: -Asisten Pelatih Persebaya 1997-1999 -Asisten Pelatih Tim Jatim PON XV Surabaya 2000 -Pelatih Siwo Jatim Porwanas Banjarmasin 2000 -Pelatih Persela Lamongan 2000-2001 -Pelatih Tim Jatim PON XVI Palembang 2002-2004 -Pelatih Timnas U-12 2004 -Pelatih Persela 2005 . -Pelatih Gresik United 2006 -Mitra Kukar 2007 -PKT 2008/2009 -2009-2010: Mitra Kukar -2010-2011: Deltras -2011-2012: Kabupaten Sumbawa Barat Prestasi pelatih: -Meraih Medali Emas Bersama Jatim dalam PON XV Surabaya 2000 dan PON XVI Palembang 2004 -Mengantarkan Persela Lamongan Juara Divisi II 2000 -Meloloskan Mitra Kukar Ke Divisi Utama 2007
Read More

Masih Amankan Kita Bermain Sepak Bola

SEPAK BOLA masih menjadi olahraga nomor wahid di dunia. Jutaan pasang atau bahkan ratusan juta selalu mempeloti aksi para bintang lapangan hijau.
Harapannya, pemain dari tim pujaannyan bisa memberikan kemenangan dan prestasi. Ini membuat olahraga bola sepak bola ini selalu terlihat dinamis.
Penonton ingin melihat timnya memang, sang pemain yang berada di lapangan hijau pun ingin merealisasikannya dengan bermain gemilang dan tak kenal lelah selama 2x45 menit.
Itu tercapai kalau pemain berada dalam kondisi fit. Hanya, untuk mencapainya bukan sebuah hal mudah. Program latihan yang bagus dan terukur menjadi faktor pendukung utama. Belum lagi, kondisi si pemain sendiri. Apakah mempunyai masalah.
Sudah banyak pesepak bola yang menghembuskan nafas terakhir saat berada di lapangan atau setelah beraksi di lapangan hijau. Terakir, Sabtu (14/4), kabar mengejutkan para insan sepak bola dunia.
Pemain klub sepakbola Italia Livorno Piemario Morosini meninggal dunia di lapangan saat timnya melawan Pescara. Pemain tengah itu terkena serangan jantung dan kolaps saat pertandingan memasuki menit ke-33.
Bisa jadi, setelah diekos besar-besaran oleh media, kegilaan para pesepak bola di lapangan hijau bisa tersendat. Masa depan olahraga yang tujuannya menjebol gawang lawan itu pun bisa terancam karena ketakutan orang tua akan kehidupan anaknya di lapangan.
Jadi, tugas bagi para pengurus dan pelatih untuk kembali menegaskan bahwa sepak bola tetap merupakan olahraga yang tak berbahaya. Klub juga harus menyadari itu.
Meski harus mengeluarkan uang tak sedikit, tes kesehatan kepada pemainnya tetap penting. Buku medis pun perlu kembali dihidupkan. Dokter di tim juga layak diperhatikan. Jangan seperti sekarang, yang masih banyak tukang urut dibandingkan dokter kesehatan.
Keberadaan dokter dengan ilmu medis yang dimiliki tetap sangat dibutuhkan untuk memantau kesehatan pemain. Bahkan,yang lebih krusial, bisa mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan di lapangan. (*)

Beberapa Pesepak Bola Yang Meninggal di Lapangan

1. Marc-Vivien Foe (Kamerun) : Pingsan ketika membela negaranya di Piala Konfederasi di Lyon Prancis 26 Juni 2006. Dia meninggal beberapa lama kemudian.
Para pemain Kamerun mengusung foto Marc-Vivien Foe 

2. Antonio Puerta (Spanyol): Meninggal saat membela klubnya Sevilla di ajang Liga Primera melawan Getafe pada 28 Agustus 2007.
3. John Tomson (Skotlandia): Kiper Glasgow Celtic ini meningal setelah bertabrakan dengan penyerang Glasgow Rangers dalam partai panas 5 September 1931.
4. Hugo Cunha (Portugal): Menghembuskan nafas terakhir dalam sebuah pertandingan persahabatan saat membela klubnya, Uniao Leirea, pada Juni 2005.
5. Marcio Dos Santos (Brazil): Meninggal saat membela klubnya, Deportivo Wanka, di Liga Peru, pada Oktober 2002.
6. Miklos Feher (Hungaria): Meninggal karena serangan jantung saat membela klubnya, Benfica, dalam kompetisi Portugal.
Read More

Cibiran dari Kampung Halaman

KASHARTADI termasuk rookie di kancah pelatih Indonesia Super League (ISL) 2011-2012. Tim yang ditanganinya kali pertama pun bukan tim kacangan, Sriwijaya Football Club (Sriwijaya FC), Palembang.
Tim berjuluk Laskar Wong Kito itu punya materi pemain dengan label nasional dari belakang hingga depan. Tapi, itu tak membuat dia kurang percaya diri.
Sebaliknya, di tangan Kashartadi, Sriwijaya mampu menjelma menjadi tim yang menakutkan. Bahkan, Firman Utina dkk dibawanya merasakan puncak klasemen. Jika konsisten, tim asal Kota Empek-Empek itu bakal menjadi juara.
Hanya, untuk mencapainya juga bukan pekerjaan mudah. Para rival, khususnya dua tim Papua, Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena, siap mengancam.
Sebenarnya, posisi sebagai pelatih kepala di Sriwijaya tak pernah terlintas di benaknya. Cita-citanya yang paling didambakannya adalah menangani tim kampung halamannya, Persis Solo.
Sayang, keinginannya tersebut bertepuk sebelah tangan. Sebaliknya, tawaran malah datang dari klub yang levelnya jauh di atas Laskar Sambernyawa, julukan Persis, yakni Sriwijaya.
Dia pun tak kuasa menolak. Apalagi, selain Solo, Palembang sudah seperti kampung halamannya. Namanya pun meroket sebagai pemain di ibu kota Sumatera Selatan (Sumsel) itu ketika membela klub raksasa sepak bola di era 1980-an dan 1990-an, Kramayudha Tiga Berlian (KTB).
SUKSES:Kashartadi (sumber: sidiq)
Dengan usianya yang masih belasan, saat itu, baru saja lulus SMA (Sekolah Menengah Atas), dia masuk pilihan inti di posisi sayap. Padahal, saingannya pun para pemain senior yang sudah malang melintang di kancah sepak bola Indonesia.
Dari KTB pula, dia bisa mengenakan kostum tim nasional Indonesia. Bahkan, Kashartadi menjadi salah satu bagian tim emas SEA Games 1991. Prestasi itu, hingga saat ini, 2012, belum bisa diulangi. Atas jerih payahnya itu, tiap bulan Kashartadi memperoleh tunjangan Rp 100 ribu selama seumur hidup.
Dia pun merasa lebih dihargai di Palembang dibandingkan di Solo. Meski, dia punya cita-cita yang tinggi, ingin mengembalikan nama besar Persis yang pernah disegani di kancah sepak bola Indonesia dengan merajai perserikatan pada era 1940-an hingga 1950-an. Sayang, setelah itu, Persis pun tertidur lelap dalam jangka waktu yang panjang.
Dengan menangani Sriwijaya pula, dia ingin membuktikan kualitas kepelatihan miliknya yang dipandang sebelah mata oleh pengurus Persis. Apalagi, di Sriwijaya terdapat sosok seniornya di Arseto Solo, Hartono Ruslan. Ya, setelah KTB bubar, Kashartadi sempat membela Arseto Solo bersama Hartono.
Jika itu telaksana, Kashartadi pun merasa plong. Dia pun tak memikirkan ambisi yang lebih tinggi yakni menangani timnas. Hanya, kepercayaan itu datang, dia tak kuasa menolak. (*)
Read More

Impian Gapai Prestasi Makin Jauh

KOMPLET sudah perpecahan di sepak bola Indonesia. Setelah ada dua kompetisi di tanah air, kemudian ada dua PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia), sebentar lagi bakal ada dua tim nasional (Timnas) Indonesia.
Ya, kisruh itu memang berawal dari lahirnya Liga Prima Indonesia (LPI) yang diikuti oleh klub-klub yang kecewa dengan kompetisi yang dikelola PT Liga Indonesia. Kompetisi tersebut dianggap penuh rekayasa.
Meski, sebenarnya, LPI ini merupakan jalan awal untuk melengserkan Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI. Adanya, kompetisi ini pun sempat mendapat sambutan antusias dari mayoritas.
Kehadirannya diharapkan bisa menjadi oase prestasi sepak bola Merah Putih yang kali terakhir bisa dibanggakan saat meraih emas SEA Games 1991. Sayang, setelah Nurdin Halid bisa digantikan oleh Djohar Arifin Husin, harapan itu kembali menguap.
Bukannya prestasi yang diraih, tapi malah malu yang didapat. Timnas yang dianggap kumpulan para pemain pilihan dan terbaik di tanah air dipermalukan tuan rumah Bahrain 0-10 dalam pertandingan Pra-Piala Dunia Grup E pada 29 Februari lalu.
Kekalahan itu pun memberikan angin kepada kubu yang bersebarangan dengan Djohar untuk mengusik posisinya. Saat PSSI Djohar menggelar kongres di Palangkaraya, seterunya menggelar hal yang sama di Ancol, Jakarta.
Waktunya, pun bersamaan 18 Maret. Bedanya, acara di Ancol dengan titel Kongres Luar Biasa (KLB) yang akhirnya memilih La Nyalla Mattalitti sebagai ketua umum PSSI. Kisruh pun semakin memanas dengan perbedaan kompetisi. Beda dengan sebelumnya, sekarang perbedaan itu sudah mencapai level bawah mulai dari Divisi III. Bahkan, banyak kota/kabupaten yang mengusung nama yang sama meski berada di naungan yang berbeda. Hanya penyebutan di puncak kompetisi saja yang berbeda. Jika PSSI versi Djohar puncak kompetisinya dengan Indonesia Premier League (IPL), versi La Nyalla tetap dengan ISL.
Masih ada lagi perbedaan yang ditunggu, yakni timnas. Akhirnya, PSSI versi La Nyalla pun membentuk Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia. Pelatihnya pun memakai Alfred Riedl. Sementara PSSI versi Djohar ditangani Aji Santoso.
Timnas Indonesia di Piala AFF 2012 (sumber: AFF)
Niatan itu pun tak main-main. Riedl, yang kini berusia 63 tahun, pun sudah didatangkan kembali ke Indonesia. Sebelumnya, lelaki asal Austria tersebut juga pernah menangani timnas di akhir era Nurdin Halid.
Polesannya pun tak mengecewakan. Bambang Pamungkas dkk dibawanya lolos ke final Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara). Sayang, di final, mereka kalah selisih gol dari Malaysia. Padahal, pada babak penyisihan grup, negeri jiran itu disikat dengan skor telak.
Lalu, dengan adanya dua timnas ini, apa yang diharapkan? Tentu, impian mengembalikan Indonesia menjadi, minimal, macan Asia Tenggara semakin jauh. Kita tak perlu bicara terlalu jauh dengan meraih emas Asian Games, juara Piala Asia, atau lolos ke Piala Dunia.
Timnas yang ada bukan lagi kumpulan pemain terbaik dan sudah pilihan. Timnas yang ada merupakan timnas yang membela golongan tertentu. Kebanggaan memakai lambang garuda di dada pun sudah luntur.
Kita hanya berharap semua konflik dan perbedaan yang ada di sepak bola Indonesia segera berakhir. Bukan hanya itu saja, tapi juga tak ada lagi. Jangan buat masyarakat semakin lama menunggu prestasi timnas. Masyarakat sudah rindu menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam seremoni pengalungan medali emas dari cabang olahraga paling populer di tanah air tersebut. (*)

*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos 11 April 2012
Read More

Hong Widodo, Legenda Bola dari Solo


WAJAHNYA sudah mulai berkeriput. Dengan rokok di tangan, lelaki itu melihat dengan jeli setiap langkah dan aliran bola saat Persebaya Surabaya menjamu Persis Solo di Gelora 10 Nopember, Surabaya, pada awal April 2012.
Dia adalah Hong Widodo. Jabatannya, direktur teknik Persis Solo yang berlaga di kompetisi Divisi Utama bentukan PT Liga Indonesia. Dia tak lupa memanggil saya yang melintas di depannya.
Obrolan khas Solo dengan joke-joke sepak bola pun terdengar di jeda pertandingan.
Siapa Hong Widodo? Mungkin nama yang asing bagi insan sepak bola Indonesia. Tapi, bagi masyarakat Solo dan sekitarnya nama itu sudah familiar.
Dialah salah satu legenda sepak bola dari Kota Bengawan, julukan Solo. Dia pun sudah melakoni kehidupannya di Persis baik sebagai pemain maupun pelatih.
Sebagai pemain, lelaki yang kini berusia 68 tahun tersebut layak dapat acungan jempol. Dia selalu menjadi nyawa permainan timnya dalam setiap permainan.
Sejak 1958-1980, Hong tercatat membela klub lokal Solo Hayeging Wargo Mudo.Selama itu pula, dia selalu menjadi tumpuan Persis Solo.
Jawa Tengah (Jateng) pun pernah memakai tenaga dan kemampuannya. Tercatat pada PON 1969 di Surabaya dan 1973 di Jakarta, Hong meloloskan Jateng ke pesta olahraga empat tahunan level nasional tersebut.
Setelah pensiun sebagai pemain, Hong tak bisa lepas dari sepak bola. Dia menjadi pelatih di klub yang membesarkan namanya, HWM dan Persis. Saya sempat melihat beberapa kali sosok Hong di pinggir lapangan saat HWM berlatih.
Dia pun dengan serius memberikan pengarahan. Tapi, saat itu, di pertengahan 1990-an, dia bukan pelatih kepala HWM. Statusnya menjadi penasihat atau pun juga direktur teknik.
Ini disebabkan pada saat yang bersamaan, Hong menduduki jabatan sebagai pelatih di Laskar Sambernyawa, julukan Persis Solo. Posisi itu lama didudukinya.
Prestasi Persis pun tak terlalu mengecewakan. Bahkan, mereka nyaris promosi ke Divisi Utama pada pertengahan 1990-an. Sayang, langkahnya terganjal di Manado.
Penulis bersama Hong Widodo (sumber: sidiq)
Setelah itu, Persis pun hanya berkutat di Divisi I. Sepeninggal Hong, tim yang punya warna kebesaran merah-merah itu turun ke Divisi I saat tak lagi ditangani Hong.
Untung, Pemkot Solo kembali mau mengurusi Persis dan kembali ke habitatnya di Divisi Utama. Nama Hong kembali masuk tim saat Persis mempunyai dua tim, Persis dan Solo FC. Awalnya, Hong ada di Solo FC. Tapi, pada musim 2011-2012, dia dibutuhkan kembali oleh Persis yang tengah terseok-seok. (*)
Read More

Berdebar Tunggu Sanksi FIFA

PERBEDAAN di sepak bola Indonesia akhirnya mencapai klimaks. Saat ini, bukan hanya kompetisi yang lebih dari satu di negeri ini tapi juga ketua umum.
Itu setelah Kongres Luar Biasa (KLB) yang diprakarsai Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) memilih La Nyalla Mattalitti saebagai orang nomor satu di PSSI. Padahal, sebelumnya, sudah ada nama Djohar Arifin Husin yang duduk di posisi yang sama.
Ya, kisruh sepak bola Indonesia berawal pada akhir 2010 lalu. Saat itu, sudah banyak suara yang menyerukan lengsernya Nurdin Halid dari jabatannya sebagai orang nomor satu di PSSI. Alasannya, beragam mulai dari macetnya organisasi hingga tak ada prestasi yang diberikan.
Kubu yang bersebarangan pun membikin kompetisi tandingan dengan Liga Prima Indonesia. Beberapa klub lama seperti Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persema Malang, dan Persibo Bojonegoro pun bergabung di sini.
Sedangkan PSSI dengan PT Liga Indonesianya tetap menggelar Indonesia Super League (ISL) sebagai puncak tertinggi dari kompetisinya. Meski, saat itu, mereka kehilangan beberapa anggotanya.
Dampaknya pun cukup terasa. Masyarakat sempat memberikan respons positif. Harapan tinggi pun sempat diberikan kepada LPI.
Sayang, di tengah jalan, penataan kompetisi pun tak jauh beda dari sebelumnya. Dari jadwal yang sering berubah hingga minimnya nilai positif dari tengah lapangan.
Tapi, itu sudah cukup menjadi senjata untuk melengserkan Nurdin. Namun, di tengah jalan, kubu yang semula sukses mendudukkan Djohar pun berbalik arah. Banyak dari mereka yang menyebarang ke kubu yang dulunya mendukung Nurdin.
Ontran-ontran ini pun berlanjut ke tim nasional Indonesia. PSSI di bawah nakhoda Djohar melarang pemain yang berlaga di kompetisi di luar Indonesia Premier League (IPL, yang dulu LPI) membela Indonesia di kancah internasional. Nama-nama yang sudah familer seperti Markis Haris Maulana, M. Robby, M. Nasuha, Ahmad Bustomi bahkan Bambang Pamungkas pun tak ada lagi.
Dengan materi pemain dari IPL, Indonesia dipermalukan tuan rumah Bahrain dengan 10 gol tanpa balas dalam pertandingan Pra Piala Dunia Grup E. Ini menjadi aib sepak bola tanah air karena belum pernah Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, dijebol lawan sebanyak itu. Memang, selama diperkuat para pemain yang berlaga di ISL, Indonesia juga belum pernah memetik kemenangan. Namun, mereka belum pernah kalah sebanyak itu dalam asatu pertandingan.
Setelah itu, harapan akan prestasi sempat mencuat ketika timnas U-21 menembus Piala Hassanal Bolkiah di Brunei Darussalam. Sayang, di final, tim yang dikapteni pemain Persebaya Andik Vermansyah dipermalukan tuan rumah dua gol tanpa balas. Padahal, sebelumnya, Indonesia tak pernah kalah dari negeri yang berada di Pulau Kalimantan itu.
Harus diakui, bagaimanapun, ontran-ontran di kepengurusan dan dualisme sistem kompetisi tetap memberikan dampak bagi bagi pemain serta prestasi timnas.
Padahal, masyarakat sudah lama menantikan lahirnya prestasi. Bukan hanya mengenang kejayaan masa lalu. Setiap saat pasti disebut Indonesia pernah berlaga di Olimpiade Melbourne 1956 dan bisa menahan tim tangguh Uni Soviet dengan kiper legendarisnya Lev Yashin. Atau juga nyarisnya lolosnya Indonesia ke olimpiade sebelum akhirnya kalah adu penalti dari Korea Utara di Jakarta pada 1976.
Sudah? Belum. Masih ada masa lalu yang selalu diungkit. Indonesia pernah menjadi raksasa sepak bola Asia Tenggara. Namun, kali terakhir, Indonesia Raya berkumandang pada SEA Games 1991 di Filipina.
Kini, mungkin, masyarakat berdebar. Tapi, bukan prestasi, namun sanksi dari FIFA (federasi Sepak Bola Internasional) terkait dualisme kepengurusan. Meski, sebenarnya, sanksi itu akan mematikan sepak bola dan prestasi Indonesia. Kalau sanksi itu bisa menyatukan perbedaan dan membawa maju sepak bola kita, apa salahnya. (*)




*Tulisan ini pernah dimuat di harian Jawa Pos pada 20 Maret 2011
Read More

Wajah Suporter, Wajah Klub

DEMO besar-besaran dilakukan supporter sebuah klub besar kepada kantor cabang sebuah statsiun televisi. Gara-garanya host (pembawa acara) stasiun identik dengan warna merah itu mengatakan bahwa supporter tersebut tukang onar dan melakukan penjarahan setelah pertandingan.
Esoknya, langsung saja gambar sang pembawa acara dibakar dan dicoret-coret. Wajar sebenarnya kalau kelompok supporter itu berang. Mereka tengah membangun image menjadi lebih baik. Banyak kegiatan social yang dilakukan.
Tapi, mungkin, sang host, saat ini bisa tertawa dan tak lagi berkeringat. Penyebabnya, oknum-oknum suporter melakukan penjarahan saat mendukung tim pujaannya melakukan pertandingan tandang. ‘’Nah, bener kan kata gue,’’ bisa jadi host tersebut berkata seperti itu.
Memang, kalau jelek, tentu petinggi kelompok tersebut membantahnya. Mereka akan bilang, itu oknum yang kebetulan memakai atribut kelompok supporter itu.
Tapi, janganlah mengklaim seperti itu. Baik atau pun buruk, mereka tetap suporter mereka dan bagian dari mereka. Tugas para petinggi suporter adalah mendidik anggotanya agar punya etika dan kesadaran yang tinggi untuk bisa menjadi pendukung yang santun.
Bagaimanapun, baik atau buruknya suporter bisa menjadi wajah dari klub yang didukung. Kita tentu masih ingat dengan tragedy Haysell 1985 saat inal Piala Champions (kini menjadi Liga Champions Eropa). Saat itu, terjadi tragedi yang mengakibatkan meninggalnya 38 suporter saat hendak menyaksikan final Piala Champions antara Juventus dari Italia melawan Liverpool dari Inggris.
Imbasnya, bukan hanya Liverpool tapi juga sepak bola Inggris yang jadi korban. Klub-klub Inggris diisolasikan dari sepak bola Eropa hampir 10 tahun.
Harusnya, Tragedi Heysell bisa menjadi renungan kepada kita semua. Sungguh mahal nyawa para supporter hanya untuk sebuah tontonan sepak bola. (*)
Read More

Sudah Cukup Malu Ini

Selebrasi pemain Bahrain setelah menjebol gawang Indonesia
29 Februari 2012. Momen ini tak akan dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Bukan hanya insan sepak bola, tapi masyarakat Indonesia. Kok bisa? Ini tak lepas dari hasil memalukan yang diterima timnas sepak bola Indonesia saat menghadapi tuan rumah Bahrain di Stadion Nasional Manama.
Tak tanggung-tanggung, Indonesia disikat Bahrain dengan skor telak 0-10. Ini menjadi kekalahan terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia. Sebelumnya di memori masyarakat Indonesia, Indonesia maksimal hanya kalah 0-8 saat pemain muda Merah Putih kalah 0-8 dari Argentina dalam Piala Dunia Junior di Jepang pada 1978. Saa itu, Argentina diperkuat Diego Armando Maradona. Sosok yang kemudian hari menjadi megabintang sepak bola dunia.
Setelah itu, di awal decade 1980-an, Pasukan Garuda disikat dengan skor yang sama dari Arab Saudi dalam pertandingan persahabatan.
Dalam ajang resmi, Indonesia, yang saat itu mayoritas mengandalkan pemain muda didikan PSSI Garuda, tak diduga dibantai tuan rumah Thailand 1-7 dalam ajang SEA Games 1985.
Usai kejadian di Thailand itu, kita tak pernah lagi mendengar Merah Putih digelontor musuh-musuhnya, baik di kandang sendiri maupun di laga tandang. Meski, kekalahan dan kegagalan masih k saja akrab di telinga insan sepak bola tanah air.
Kerinduan akan gelar nyaris saja terobati dalam Piala AFF 2010 dan Piala Hassanal Bolkiah. Sayang, Indonesia kalah meski sudah sampai babak final.
Di ajang Piala AFF,Indonesia kalah dari Malaysia dalam turnamen yang masuk agenda FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) itu dengan aggregate gol. Untuk Piala Hassanal Bolkiah,Andik Vermansah dkk dihajar 0-2 dari tuan rumah. Kekalahan ini juga bisa dianggap memalukan. Selama ini, belum pernah ada ceritanya Merah Putih kalah dari negeri yang berada di Pulau Borneo alias Kalimantan tersebut.
Ini seakan melengkapi aib sepak bola Indonesia. Alasannya, kita juga pernah kalah dari Timor Leste, negara yang dulunya masuk Republik Indonesia dengan nama Timor Timur, dalam ajang Piala ASEAN U-16.
Lalu, apa yang bisa dibanggakan sekarang. Mungkin, hanya rebut-ribut dan akhirnya timbul dualisme kompetisi yang mencuat. PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin punya PT Liga Prima dan pengurus lama masih ada PT Liga Indonesia. Dualisme kompetisi ini bukan hanya terjadi di level elite, tapi sudah sampai di level bawah atau Divisi III.
Dualisme ini pun imbasnya juga sampai ke timnas. Saat ini,PSSI melarang pemain yang berkompetisi di bawah bendera PT Liga Indonesia berkostum Garuda di dada. Padahal, banyak talenta-talenta bagus di kompetisi tersebut.
Alangkah indahnya jika para pemain dari kompetisi yang berbeda itu digabungkan. Tapi, kapan itu terjadi kalau ego para petinggi keduanya masih tinggi. (*)
Read More

Ulah Sendiri Bikin Imej Negatif

SATU hal yang paling saya benci jika di jalan. Bisa jadi, jawaban kita bisa sama, yakni macet.
Tapi, apa yang saya alami saat itu mungkin lain cerita. Macetnya bukan karena para pengguna jalan hendak ke kantor atau pun ke sekolah. Tapi, ini kena karena terjebak dalam rombongan supporter sebuah tim yang mengklaim dirinya terbesar di Indonesia.
Padahal, waktu saya terjebak macet itu, jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB. Gile beneeer. Jarak tiga kilometer yang biasanya saya tempuh hanya 10 menit, bisa hampir sampai satu jam.
Bisa dibayangkan betapa dongkolnya saya dan para pengguna jalan yang terjebak dalam iring-iringan suporter tersebut. Belum lagi suara bising yang ditimbulkan dari sepeda motor yang dinaiki. Imej yang ada oun menjadi negatif.
Padahal, saat ini, kelompok suporter tersebut tengah membangun imej bagus. Selama ini, kelompok supporter tersebut lebih banyak mendapat sorotan negative. Mulai tukang onar, tukang palak, hingga semua yang berbau negative di arahkan kepada mereka.
Sayang, karena semua itu sebenarnya bisa dihindari. Alangkah bagusnya kalau mereka pulang bersama-sama tanpa menganggu pengguna jalan. Bukankah ada lajur lain yang bisa disisakan.
Memulai budaya tertib memang bukan hal yang susah. Tapi, bisa jadi merupakan suatu hal yang mustahil kalau supporter mempunyai niatan seperti itu.
Kita mulai dari yang kecil dulu. Alangkah indahnya, kalau mereka berangkat dari rumah sudah tertib. Jika naik kendaraan roda dua, siapkan helm dan kendaraan juga laik jalan. Jangan lupa juga kelengkapan surat.
Jika naik angkutan umum, pastikan bawa uang yang cukup untuk bisa mengangkut hingga tempat pertandingan. Setelah sampai di tempat pertandingan, beli tiket. Ingat….. beli tiket. Hanya, lebih bagus dan eloknya melalui antrean.
Memang tak elok kalau membandingkan betapa rapinya supporter rival yang dikenal sudah membudayakan antre dan beli tiket. Meski, tak salah jika budaya itu ditiru.
Tak perlu saya panjang lebar menggurui mereka. Seharusnya,k supporter tersebut juga sudah tahu. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com