www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Hong Widodo, Legenda Bola dari Solo


WAJAHNYA sudah mulai berkeriput. Dengan rokok di tangan, lelaki itu melihat dengan jeli setiap langkah dan aliran bola saat Persebaya Surabaya menjamu Persis Solo di Gelora 10 Nopember, Surabaya, pada awal April 2012.
Dia adalah Hong Widodo. Jabatannya, direktur teknik Persis Solo yang berlaga di kompetisi Divisi Utama bentukan PT Liga Indonesia. Dia tak lupa memanggil saya yang melintas di depannya.
Obrolan khas Solo dengan joke-joke sepak bola pun terdengar di jeda pertandingan.
Siapa Hong Widodo? Mungkin nama yang asing bagi insan sepak bola Indonesia. Tapi, bagi masyarakat Solo dan sekitarnya nama itu sudah familiar.
Dialah salah satu legenda sepak bola dari Kota Bengawan, julukan Solo. Dia pun sudah melakoni kehidupannya di Persis baik sebagai pemain maupun pelatih.
Sebagai pemain, lelaki yang kini berusia 68 tahun tersebut layak dapat acungan jempol. Dia selalu menjadi nyawa permainan timnya dalam setiap permainan.
Sejak 1958-1980, Hong tercatat membela klub lokal Solo Hayeging Wargo Mudo.Selama itu pula, dia selalu menjadi tumpuan Persis Solo.
Jawa Tengah (Jateng) pun pernah memakai tenaga dan kemampuannya. Tercatat pada PON 1969 di Surabaya dan 1973 di Jakarta, Hong meloloskan Jateng ke pesta olahraga empat tahunan level nasional tersebut.
Setelah pensiun sebagai pemain, Hong tak bisa lepas dari sepak bola. Dia menjadi pelatih di klub yang membesarkan namanya, HWM dan Persis. Saya sempat melihat beberapa kali sosok Hong di pinggir lapangan saat HWM berlatih.
Dia pun dengan serius memberikan pengarahan. Tapi, saat itu, di pertengahan 1990-an, dia bukan pelatih kepala HWM. Statusnya menjadi penasihat atau pun juga direktur teknik.
Ini disebabkan pada saat yang bersamaan, Hong menduduki jabatan sebagai pelatih di Laskar Sambernyawa, julukan Persis Solo. Posisi itu lama didudukinya.
Prestasi Persis pun tak terlalu mengecewakan. Bahkan, mereka nyaris promosi ke Divisi Utama pada pertengahan 1990-an. Sayang, langkahnya terganjal di Manado.
Penulis bersama Hong Widodo (sumber: sidiq)
Setelah itu, Persis pun hanya berkutat di Divisi I. Sepeninggal Hong, tim yang punya warna kebesaran merah-merah itu turun ke Divisi I saat tak lagi ditangani Hong.
Untung, Pemkot Solo kembali mau mengurusi Persis dan kembali ke habitatnya di Divisi Utama. Nama Hong kembali masuk tim saat Persis mempunyai dua tim, Persis dan Solo FC. Awalnya, Hong ada di Solo FC. Tapi, pada musim 2011-2012, dia dibutuhkan kembali oleh Persis yang tengah terseok-seok. (*)
Read More

Berdebar Tunggu Sanksi FIFA

PERBEDAAN di sepak bola Indonesia akhirnya mencapai klimaks. Saat ini, bukan hanya kompetisi yang lebih dari satu di negeri ini tapi juga ketua umum.
Itu setelah Kongres Luar Biasa (KLB) yang diprakarsai Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) memilih La Nyalla Mattalitti saebagai orang nomor satu di PSSI. Padahal, sebelumnya, sudah ada nama Djohar Arifin Husin yang duduk di posisi yang sama.
Ya, kisruh sepak bola Indonesia berawal pada akhir 2010 lalu. Saat itu, sudah banyak suara yang menyerukan lengsernya Nurdin Halid dari jabatannya sebagai orang nomor satu di PSSI. Alasannya, beragam mulai dari macetnya organisasi hingga tak ada prestasi yang diberikan.
Kubu yang bersebarangan pun membikin kompetisi tandingan dengan Liga Prima Indonesia. Beberapa klub lama seperti Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persema Malang, dan Persibo Bojonegoro pun bergabung di sini.
Sedangkan PSSI dengan PT Liga Indonesianya tetap menggelar Indonesia Super League (ISL) sebagai puncak tertinggi dari kompetisinya. Meski, saat itu, mereka kehilangan beberapa anggotanya.
Dampaknya pun cukup terasa. Masyarakat sempat memberikan respons positif. Harapan tinggi pun sempat diberikan kepada LPI.
Sayang, di tengah jalan, penataan kompetisi pun tak jauh beda dari sebelumnya. Dari jadwal yang sering berubah hingga minimnya nilai positif dari tengah lapangan.
Tapi, itu sudah cukup menjadi senjata untuk melengserkan Nurdin. Namun, di tengah jalan, kubu yang semula sukses mendudukkan Djohar pun berbalik arah. Banyak dari mereka yang menyebarang ke kubu yang dulunya mendukung Nurdin.
Ontran-ontran ini pun berlanjut ke tim nasional Indonesia. PSSI di bawah nakhoda Djohar melarang pemain yang berlaga di kompetisi di luar Indonesia Premier League (IPL, yang dulu LPI) membela Indonesia di kancah internasional. Nama-nama yang sudah familer seperti Markis Haris Maulana, M. Robby, M. Nasuha, Ahmad Bustomi bahkan Bambang Pamungkas pun tak ada lagi.
Dengan materi pemain dari IPL, Indonesia dipermalukan tuan rumah Bahrain dengan 10 gol tanpa balas dalam pertandingan Pra Piala Dunia Grup E. Ini menjadi aib sepak bola tanah air karena belum pernah Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, dijebol lawan sebanyak itu. Memang, selama diperkuat para pemain yang berlaga di ISL, Indonesia juga belum pernah memetik kemenangan. Namun, mereka belum pernah kalah sebanyak itu dalam asatu pertandingan.
Setelah itu, harapan akan prestasi sempat mencuat ketika timnas U-21 menembus Piala Hassanal Bolkiah di Brunei Darussalam. Sayang, di final, tim yang dikapteni pemain Persebaya Andik Vermansyah dipermalukan tuan rumah dua gol tanpa balas. Padahal, sebelumnya, Indonesia tak pernah kalah dari negeri yang berada di Pulau Kalimantan itu.
Harus diakui, bagaimanapun, ontran-ontran di kepengurusan dan dualisme sistem kompetisi tetap memberikan dampak bagi bagi pemain serta prestasi timnas.
Padahal, masyarakat sudah lama menantikan lahirnya prestasi. Bukan hanya mengenang kejayaan masa lalu. Setiap saat pasti disebut Indonesia pernah berlaga di Olimpiade Melbourne 1956 dan bisa menahan tim tangguh Uni Soviet dengan kiper legendarisnya Lev Yashin. Atau juga nyarisnya lolosnya Indonesia ke olimpiade sebelum akhirnya kalah adu penalti dari Korea Utara di Jakarta pada 1976.
Sudah? Belum. Masih ada masa lalu yang selalu diungkit. Indonesia pernah menjadi raksasa sepak bola Asia Tenggara. Namun, kali terakhir, Indonesia Raya berkumandang pada SEA Games 1991 di Filipina.
Kini, mungkin, masyarakat berdebar. Tapi, bukan prestasi, namun sanksi dari FIFA (federasi Sepak Bola Internasional) terkait dualisme kepengurusan. Meski, sebenarnya, sanksi itu akan mematikan sepak bola dan prestasi Indonesia. Kalau sanksi itu bisa menyatukan perbedaan dan membawa maju sepak bola kita, apa salahnya. (*)




*Tulisan ini pernah dimuat di harian Jawa Pos pada 20 Maret 2011
Read More

Wajah Suporter, Wajah Klub

DEMO besar-besaran dilakukan supporter sebuah klub besar kepada kantor cabang sebuah statsiun televisi. Gara-garanya host (pembawa acara) stasiun identik dengan warna merah itu mengatakan bahwa supporter tersebut tukang onar dan melakukan penjarahan setelah pertandingan.
Esoknya, langsung saja gambar sang pembawa acara dibakar dan dicoret-coret. Wajar sebenarnya kalau kelompok supporter itu berang. Mereka tengah membangun image menjadi lebih baik. Banyak kegiatan social yang dilakukan.
Tapi, mungkin, sang host, saat ini bisa tertawa dan tak lagi berkeringat. Penyebabnya, oknum-oknum suporter melakukan penjarahan saat mendukung tim pujaannya melakukan pertandingan tandang. ‘’Nah, bener kan kata gue,’’ bisa jadi host tersebut berkata seperti itu.
Memang, kalau jelek, tentu petinggi kelompok tersebut membantahnya. Mereka akan bilang, itu oknum yang kebetulan memakai atribut kelompok supporter itu.
Tapi, janganlah mengklaim seperti itu. Baik atau pun buruk, mereka tetap suporter mereka dan bagian dari mereka. Tugas para petinggi suporter adalah mendidik anggotanya agar punya etika dan kesadaran yang tinggi untuk bisa menjadi pendukung yang santun.
Bagaimanapun, baik atau buruknya suporter bisa menjadi wajah dari klub yang didukung. Kita tentu masih ingat dengan tragedy Haysell 1985 saat inal Piala Champions (kini menjadi Liga Champions Eropa). Saat itu, terjadi tragedi yang mengakibatkan meninggalnya 38 suporter saat hendak menyaksikan final Piala Champions antara Juventus dari Italia melawan Liverpool dari Inggris.
Imbasnya, bukan hanya Liverpool tapi juga sepak bola Inggris yang jadi korban. Klub-klub Inggris diisolasikan dari sepak bola Eropa hampir 10 tahun.
Harusnya, Tragedi Heysell bisa menjadi renungan kepada kita semua. Sungguh mahal nyawa para supporter hanya untuk sebuah tontonan sepak bola. (*)
Read More

Sudah Cukup Malu Ini

Selebrasi pemain Bahrain setelah menjebol gawang Indonesia
29 Februari 2012. Momen ini tak akan dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Bukan hanya insan sepak bola, tapi masyarakat Indonesia. Kok bisa? Ini tak lepas dari hasil memalukan yang diterima timnas sepak bola Indonesia saat menghadapi tuan rumah Bahrain di Stadion Nasional Manama.
Tak tanggung-tanggung, Indonesia disikat Bahrain dengan skor telak 0-10. Ini menjadi kekalahan terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia. Sebelumnya di memori masyarakat Indonesia, Indonesia maksimal hanya kalah 0-8 saat pemain muda Merah Putih kalah 0-8 dari Argentina dalam Piala Dunia Junior di Jepang pada 1978. Saa itu, Argentina diperkuat Diego Armando Maradona. Sosok yang kemudian hari menjadi megabintang sepak bola dunia.
Setelah itu, di awal decade 1980-an, Pasukan Garuda disikat dengan skor yang sama dari Arab Saudi dalam pertandingan persahabatan.
Dalam ajang resmi, Indonesia, yang saat itu mayoritas mengandalkan pemain muda didikan PSSI Garuda, tak diduga dibantai tuan rumah Thailand 1-7 dalam ajang SEA Games 1985.
Usai kejadian di Thailand itu, kita tak pernah lagi mendengar Merah Putih digelontor musuh-musuhnya, baik di kandang sendiri maupun di laga tandang. Meski, kekalahan dan kegagalan masih k saja akrab di telinga insan sepak bola tanah air.
Kerinduan akan gelar nyaris saja terobati dalam Piala AFF 2010 dan Piala Hassanal Bolkiah. Sayang, Indonesia kalah meski sudah sampai babak final.
Di ajang Piala AFF,Indonesia kalah dari Malaysia dalam turnamen yang masuk agenda FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) itu dengan aggregate gol. Untuk Piala Hassanal Bolkiah,Andik Vermansah dkk dihajar 0-2 dari tuan rumah. Kekalahan ini juga bisa dianggap memalukan. Selama ini, belum pernah ada ceritanya Merah Putih kalah dari negeri yang berada di Pulau Borneo alias Kalimantan tersebut.
Ini seakan melengkapi aib sepak bola Indonesia. Alasannya, kita juga pernah kalah dari Timor Leste, negara yang dulunya masuk Republik Indonesia dengan nama Timor Timur, dalam ajang Piala ASEAN U-16.
Lalu, apa yang bisa dibanggakan sekarang. Mungkin, hanya rebut-ribut dan akhirnya timbul dualisme kompetisi yang mencuat. PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin punya PT Liga Prima dan pengurus lama masih ada PT Liga Indonesia. Dualisme kompetisi ini bukan hanya terjadi di level elite, tapi sudah sampai di level bawah atau Divisi III.
Dualisme ini pun imbasnya juga sampai ke timnas. Saat ini,PSSI melarang pemain yang berkompetisi di bawah bendera PT Liga Indonesia berkostum Garuda di dada. Padahal, banyak talenta-talenta bagus di kompetisi tersebut.
Alangkah indahnya jika para pemain dari kompetisi yang berbeda itu digabungkan. Tapi, kapan itu terjadi kalau ego para petinggi keduanya masih tinggi. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com