www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rabu, 21 Maret 2012

Berdebar Tunggu Sanksi FIFA

PERBEDAAN di sepak bola Indonesia akhirnya mencapai klimaks. Saat ini, bukan hanya kompetisi yang lebih dari satu di negeri ini tapi juga ketua umum.
Itu setelah Kongres Luar Biasa (KLB) yang diprakarsai Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) memilih La Nyalla Mattalitti saebagai orang nomor satu di PSSI. Padahal, sebelumnya, sudah ada nama Djohar Arifin Husin yang duduk di posisi yang sama.
Ya, kisruh sepak bola Indonesia berawal pada akhir 2010 lalu. Saat itu, sudah banyak suara yang menyerukan lengsernya Nurdin Halid dari jabatannya sebagai orang nomor satu di PSSI. Alasannya, beragam mulai dari macetnya organisasi hingga tak ada prestasi yang diberikan.
Kubu yang bersebarangan pun membikin kompetisi tandingan dengan Liga Prima Indonesia. Beberapa klub lama seperti Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persema Malang, dan Persibo Bojonegoro pun bergabung di sini.
Sedangkan PSSI dengan PT Liga Indonesianya tetap menggelar Indonesia Super League (ISL) sebagai puncak tertinggi dari kompetisinya. Meski, saat itu, mereka kehilangan beberapa anggotanya.
Dampaknya pun cukup terasa. Masyarakat sempat memberikan respons positif. Harapan tinggi pun sempat diberikan kepada LPI.
Sayang, di tengah jalan, penataan kompetisi pun tak jauh beda dari sebelumnya. Dari jadwal yang sering berubah hingga minimnya nilai positif dari tengah lapangan.
Tapi, itu sudah cukup menjadi senjata untuk melengserkan Nurdin. Namun, di tengah jalan, kubu yang semula sukses mendudukkan Djohar pun berbalik arah. Banyak dari mereka yang menyebarang ke kubu yang dulunya mendukung Nurdin.
Ontran-ontran ini pun berlanjut ke tim nasional Indonesia. PSSI di bawah nakhoda Djohar melarang pemain yang berlaga di kompetisi di luar Indonesia Premier League (IPL, yang dulu LPI) membela Indonesia di kancah internasional. Nama-nama yang sudah familer seperti Markis Haris Maulana, M. Robby, M. Nasuha, Ahmad Bustomi bahkan Bambang Pamungkas pun tak ada lagi.
Dengan materi pemain dari IPL, Indonesia dipermalukan tuan rumah Bahrain dengan 10 gol tanpa balas dalam pertandingan Pra Piala Dunia Grup E. Ini menjadi aib sepak bola tanah air karena belum pernah Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, dijebol lawan sebanyak itu. Memang, selama diperkuat para pemain yang berlaga di ISL, Indonesia juga belum pernah memetik kemenangan. Namun, mereka belum pernah kalah sebanyak itu dalam asatu pertandingan.
Setelah itu, harapan akan prestasi sempat mencuat ketika timnas U-21 menembus Piala Hassanal Bolkiah di Brunei Darussalam. Sayang, di final, tim yang dikapteni pemain Persebaya Andik Vermansyah dipermalukan tuan rumah dua gol tanpa balas. Padahal, sebelumnya, Indonesia tak pernah kalah dari negeri yang berada di Pulau Kalimantan itu.
Harus diakui, bagaimanapun, ontran-ontran di kepengurusan dan dualisme sistem kompetisi tetap memberikan dampak bagi bagi pemain serta prestasi timnas.
Padahal, masyarakat sudah lama menantikan lahirnya prestasi. Bukan hanya mengenang kejayaan masa lalu. Setiap saat pasti disebut Indonesia pernah berlaga di Olimpiade Melbourne 1956 dan bisa menahan tim tangguh Uni Soviet dengan kiper legendarisnya Lev Yashin. Atau juga nyarisnya lolosnya Indonesia ke olimpiade sebelum akhirnya kalah adu penalti dari Korea Utara di Jakarta pada 1976.
Sudah? Belum. Masih ada masa lalu yang selalu diungkit. Indonesia pernah menjadi raksasa sepak bola Asia Tenggara. Namun, kali terakhir, Indonesia Raya berkumandang pada SEA Games 1991 di Filipina.
Kini, mungkin, masyarakat berdebar. Tapi, bukan prestasi, namun sanksi dari FIFA (federasi Sepak Bola Internasional) terkait dualisme kepengurusan. Meski, sebenarnya, sanksi itu akan mematikan sepak bola dan prestasi Indonesia. Kalau sanksi itu bisa menyatukan perbedaan dan membawa maju sepak bola kita, apa salahnya. (*)




*Tulisan ini pernah dimuat di harian Jawa Pos pada 20 Maret 2011

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com