www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 12 Maret 2012

Sudah Cukup Malu Ini

Selebrasi pemain Bahrain setelah menjebol gawang Indonesia
29 Februari 2012. Momen ini tak akan dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Bukan hanya insan sepak bola, tapi masyarakat Indonesia. Kok bisa? Ini tak lepas dari hasil memalukan yang diterima timnas sepak bola Indonesia saat menghadapi tuan rumah Bahrain di Stadion Nasional Manama.
Tak tanggung-tanggung, Indonesia disikat Bahrain dengan skor telak 0-10. Ini menjadi kekalahan terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia. Sebelumnya di memori masyarakat Indonesia, Indonesia maksimal hanya kalah 0-8 saat pemain muda Merah Putih kalah 0-8 dari Argentina dalam Piala Dunia Junior di Jepang pada 1978. Saa itu, Argentina diperkuat Diego Armando Maradona. Sosok yang kemudian hari menjadi megabintang sepak bola dunia.
Setelah itu, di awal decade 1980-an, Pasukan Garuda disikat dengan skor yang sama dari Arab Saudi dalam pertandingan persahabatan.
Dalam ajang resmi, Indonesia, yang saat itu mayoritas mengandalkan pemain muda didikan PSSI Garuda, tak diduga dibantai tuan rumah Thailand 1-7 dalam ajang SEA Games 1985.
Usai kejadian di Thailand itu, kita tak pernah lagi mendengar Merah Putih digelontor musuh-musuhnya, baik di kandang sendiri maupun di laga tandang. Meski, kekalahan dan kegagalan masih k saja akrab di telinga insan sepak bola tanah air.
Kerinduan akan gelar nyaris saja terobati dalam Piala AFF 2010 dan Piala Hassanal Bolkiah. Sayang, Indonesia kalah meski sudah sampai babak final.
Di ajang Piala AFF,Indonesia kalah dari Malaysia dalam turnamen yang masuk agenda FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) itu dengan aggregate gol. Untuk Piala Hassanal Bolkiah,Andik Vermansah dkk dihajar 0-2 dari tuan rumah. Kekalahan ini juga bisa dianggap memalukan. Selama ini, belum pernah ada ceritanya Merah Putih kalah dari negeri yang berada di Pulau Borneo alias Kalimantan tersebut.
Ini seakan melengkapi aib sepak bola Indonesia. Alasannya, kita juga pernah kalah dari Timor Leste, negara yang dulunya masuk Republik Indonesia dengan nama Timor Timur, dalam ajang Piala ASEAN U-16.
Lalu, apa yang bisa dibanggakan sekarang. Mungkin, hanya rebut-ribut dan akhirnya timbul dualisme kompetisi yang mencuat. PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin punya PT Liga Prima dan pengurus lama masih ada PT Liga Indonesia. Dualisme kompetisi ini bukan hanya terjadi di level elite, tapi sudah sampai di level bawah atau Divisi III.
Dualisme ini pun imbasnya juga sampai ke timnas. Saat ini,PSSI melarang pemain yang berkompetisi di bawah bendera PT Liga Indonesia berkostum Garuda di dada. Padahal, banyak talenta-talenta bagus di kompetisi tersebut.
Alangkah indahnya jika para pemain dari kompetisi yang berbeda itu digabungkan. Tapi, kapan itu terjadi kalau ego para petinggi keduanya masih tinggi. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com