www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Masih Amankan Kita Bermain Sepak Bola

SEPAK BOLA masih menjadi olahraga nomor wahid di dunia. Jutaan pasang atau bahkan ratusan juta selalu mempeloti aksi para bintang lapangan hijau.
Harapannya, pemain dari tim pujaannyan bisa memberikan kemenangan dan prestasi. Ini membuat olahraga bola sepak bola ini selalu terlihat dinamis.
Penonton ingin melihat timnya memang, sang pemain yang berada di lapangan hijau pun ingin merealisasikannya dengan bermain gemilang dan tak kenal lelah selama 2x45 menit.
Itu tercapai kalau pemain berada dalam kondisi fit. Hanya, untuk mencapainya bukan sebuah hal mudah. Program latihan yang bagus dan terukur menjadi faktor pendukung utama. Belum lagi, kondisi si pemain sendiri. Apakah mempunyai masalah.
Sudah banyak pesepak bola yang menghembuskan nafas terakhir saat berada di lapangan atau setelah beraksi di lapangan hijau. Terakir, Sabtu (14/4), kabar mengejutkan para insan sepak bola dunia.
Pemain klub sepakbola Italia Livorno Piemario Morosini meninggal dunia di lapangan saat timnya melawan Pescara. Pemain tengah itu terkena serangan jantung dan kolaps saat pertandingan memasuki menit ke-33.
Bisa jadi, setelah diekos besar-besaran oleh media, kegilaan para pesepak bola di lapangan hijau bisa tersendat. Masa depan olahraga yang tujuannya menjebol gawang lawan itu pun bisa terancam karena ketakutan orang tua akan kehidupan anaknya di lapangan.
Jadi, tugas bagi para pengurus dan pelatih untuk kembali menegaskan bahwa sepak bola tetap merupakan olahraga yang tak berbahaya. Klub juga harus menyadari itu.
Meski harus mengeluarkan uang tak sedikit, tes kesehatan kepada pemainnya tetap penting. Buku medis pun perlu kembali dihidupkan. Dokter di tim juga layak diperhatikan. Jangan seperti sekarang, yang masih banyak tukang urut dibandingkan dokter kesehatan.
Keberadaan dokter dengan ilmu medis yang dimiliki tetap sangat dibutuhkan untuk memantau kesehatan pemain. Bahkan,yang lebih krusial, bisa mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan di lapangan. (*)

Beberapa Pesepak Bola Yang Meninggal di Lapangan

1. Marc-Vivien Foe (Kamerun) : Pingsan ketika membela negaranya di Piala Konfederasi di Lyon Prancis 26 Juni 2006. Dia meninggal beberapa lama kemudian.
Para pemain Kamerun mengusung foto Marc-Vivien Foe 

2. Antonio Puerta (Spanyol): Meninggal saat membela klubnya Sevilla di ajang Liga Primera melawan Getafe pada 28 Agustus 2007.
3. John Tomson (Skotlandia): Kiper Glasgow Celtic ini meningal setelah bertabrakan dengan penyerang Glasgow Rangers dalam partai panas 5 September 1931.
4. Hugo Cunha (Portugal): Menghembuskan nafas terakhir dalam sebuah pertandingan persahabatan saat membela klubnya, Uniao Leirea, pada Juni 2005.
5. Marcio Dos Santos (Brazil): Meninggal saat membela klubnya, Deportivo Wanka, di Liga Peru, pada Oktober 2002.
6. Miklos Feher (Hungaria): Meninggal karena serangan jantung saat membela klubnya, Benfica, dalam kompetisi Portugal.
Read More

Cibiran dari Kampung Halaman

KASHARTADI termasuk rookie di kancah pelatih Indonesia Super League (ISL) 2011-2012. Tim yang ditanganinya kali pertama pun bukan tim kacangan, Sriwijaya Football Club (Sriwijaya FC), Palembang.
Tim berjuluk Laskar Wong Kito itu punya materi pemain dengan label nasional dari belakang hingga depan. Tapi, itu tak membuat dia kurang percaya diri.
Sebaliknya, di tangan Kashartadi, Sriwijaya mampu menjelma menjadi tim yang menakutkan. Bahkan, Firman Utina dkk dibawanya merasakan puncak klasemen. Jika konsisten, tim asal Kota Empek-Empek itu bakal menjadi juara.
Hanya, untuk mencapainya juga bukan pekerjaan mudah. Para rival, khususnya dua tim Papua, Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena, siap mengancam.
Sebenarnya, posisi sebagai pelatih kepala di Sriwijaya tak pernah terlintas di benaknya. Cita-citanya yang paling didambakannya adalah menangani tim kampung halamannya, Persis Solo.
Sayang, keinginannya tersebut bertepuk sebelah tangan. Sebaliknya, tawaran malah datang dari klub yang levelnya jauh di atas Laskar Sambernyawa, julukan Persis, yakni Sriwijaya.
Dia pun tak kuasa menolak. Apalagi, selain Solo, Palembang sudah seperti kampung halamannya. Namanya pun meroket sebagai pemain di ibu kota Sumatera Selatan (Sumsel) itu ketika membela klub raksasa sepak bola di era 1980-an dan 1990-an, Kramayudha Tiga Berlian (KTB).
SUKSES:Kashartadi (sumber: sidiq)
Dengan usianya yang masih belasan, saat itu, baru saja lulus SMA (Sekolah Menengah Atas), dia masuk pilihan inti di posisi sayap. Padahal, saingannya pun para pemain senior yang sudah malang melintang di kancah sepak bola Indonesia.
Dari KTB pula, dia bisa mengenakan kostum tim nasional Indonesia. Bahkan, Kashartadi menjadi salah satu bagian tim emas SEA Games 1991. Prestasi itu, hingga saat ini, 2012, belum bisa diulangi. Atas jerih payahnya itu, tiap bulan Kashartadi memperoleh tunjangan Rp 100 ribu selama seumur hidup.
Dia pun merasa lebih dihargai di Palembang dibandingkan di Solo. Meski, dia punya cita-cita yang tinggi, ingin mengembalikan nama besar Persis yang pernah disegani di kancah sepak bola Indonesia dengan merajai perserikatan pada era 1940-an hingga 1950-an. Sayang, setelah itu, Persis pun tertidur lelap dalam jangka waktu yang panjang.
Dengan menangani Sriwijaya pula, dia ingin membuktikan kualitas kepelatihan miliknya yang dipandang sebelah mata oleh pengurus Persis. Apalagi, di Sriwijaya terdapat sosok seniornya di Arseto Solo, Hartono Ruslan. Ya, setelah KTB bubar, Kashartadi sempat membela Arseto Solo bersama Hartono.
Jika itu telaksana, Kashartadi pun merasa plong. Dia pun tak memikirkan ambisi yang lebih tinggi yakni menangani timnas. Hanya, kepercayaan itu datang, dia tak kuasa menolak. (*)
Read More

Impian Gapai Prestasi Makin Jauh

KOMPLET sudah perpecahan di sepak bola Indonesia. Setelah ada dua kompetisi di tanah air, kemudian ada dua PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia), sebentar lagi bakal ada dua tim nasional (Timnas) Indonesia.
Ya, kisruh itu memang berawal dari lahirnya Liga Prima Indonesia (LPI) yang diikuti oleh klub-klub yang kecewa dengan kompetisi yang dikelola PT Liga Indonesia. Kompetisi tersebut dianggap penuh rekayasa.
Meski, sebenarnya, LPI ini merupakan jalan awal untuk melengserkan Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI. Adanya, kompetisi ini pun sempat mendapat sambutan antusias dari mayoritas.
Kehadirannya diharapkan bisa menjadi oase prestasi sepak bola Merah Putih yang kali terakhir bisa dibanggakan saat meraih emas SEA Games 1991. Sayang, setelah Nurdin Halid bisa digantikan oleh Djohar Arifin Husin, harapan itu kembali menguap.
Bukannya prestasi yang diraih, tapi malah malu yang didapat. Timnas yang dianggap kumpulan para pemain pilihan dan terbaik di tanah air dipermalukan tuan rumah Bahrain 0-10 dalam pertandingan Pra-Piala Dunia Grup E pada 29 Februari lalu.
Kekalahan itu pun memberikan angin kepada kubu yang bersebarangan dengan Djohar untuk mengusik posisinya. Saat PSSI Djohar menggelar kongres di Palangkaraya, seterunya menggelar hal yang sama di Ancol, Jakarta.
Waktunya, pun bersamaan 18 Maret. Bedanya, acara di Ancol dengan titel Kongres Luar Biasa (KLB) yang akhirnya memilih La Nyalla Mattalitti sebagai ketua umum PSSI. Kisruh pun semakin memanas dengan perbedaan kompetisi. Beda dengan sebelumnya, sekarang perbedaan itu sudah mencapai level bawah mulai dari Divisi III. Bahkan, banyak kota/kabupaten yang mengusung nama yang sama meski berada di naungan yang berbeda. Hanya penyebutan di puncak kompetisi saja yang berbeda. Jika PSSI versi Djohar puncak kompetisinya dengan Indonesia Premier League (IPL), versi La Nyalla tetap dengan ISL.
Masih ada lagi perbedaan yang ditunggu, yakni timnas. Akhirnya, PSSI versi La Nyalla pun membentuk Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia. Pelatihnya pun memakai Alfred Riedl. Sementara PSSI versi Djohar ditangani Aji Santoso.
Timnas Indonesia di Piala AFF 2012 (sumber: AFF)
Niatan itu pun tak main-main. Riedl, yang kini berusia 63 tahun, pun sudah didatangkan kembali ke Indonesia. Sebelumnya, lelaki asal Austria tersebut juga pernah menangani timnas di akhir era Nurdin Halid.
Polesannya pun tak mengecewakan. Bambang Pamungkas dkk dibawanya lolos ke final Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara). Sayang, di final, mereka kalah selisih gol dari Malaysia. Padahal, pada babak penyisihan grup, negeri jiran itu disikat dengan skor telak.
Lalu, dengan adanya dua timnas ini, apa yang diharapkan? Tentu, impian mengembalikan Indonesia menjadi, minimal, macan Asia Tenggara semakin jauh. Kita tak perlu bicara terlalu jauh dengan meraih emas Asian Games, juara Piala Asia, atau lolos ke Piala Dunia.
Timnas yang ada bukan lagi kumpulan pemain terbaik dan sudah pilihan. Timnas yang ada merupakan timnas yang membela golongan tertentu. Kebanggaan memakai lambang garuda di dada pun sudah luntur.
Kita hanya berharap semua konflik dan perbedaan yang ada di sepak bola Indonesia segera berakhir. Bukan hanya itu saja, tapi juga tak ada lagi. Jangan buat masyarakat semakin lama menunggu prestasi timnas. Masyarakat sudah rindu menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam seremoni pengalungan medali emas dari cabang olahraga paling populer di tanah air tersebut. (*)

*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos 11 April 2012
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com