www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kamis, 12 April 2012

Cibiran dari Kampung Halaman

KASHARTADI termasuk rookie di kancah pelatih Indonesia Super League (ISL) 2011-2012. Tim yang ditanganinya kali pertama pun bukan tim kacangan, Sriwijaya Football Club (Sriwijaya FC), Palembang.
Tim berjuluk Laskar Wong Kito itu punya materi pemain dengan label nasional dari belakang hingga depan. Tapi, itu tak membuat dia kurang percaya diri.
Sebaliknya, di tangan Kashartadi, Sriwijaya mampu menjelma menjadi tim yang menakutkan. Bahkan, Firman Utina dkk dibawanya merasakan puncak klasemen. Jika konsisten, tim asal Kota Empek-Empek itu bakal menjadi juara.
Hanya, untuk mencapainya juga bukan pekerjaan mudah. Para rival, khususnya dua tim Papua, Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena, siap mengancam.
Sebenarnya, posisi sebagai pelatih kepala di Sriwijaya tak pernah terlintas di benaknya. Cita-citanya yang paling didambakannya adalah menangani tim kampung halamannya, Persis Solo.
Sayang, keinginannya tersebut bertepuk sebelah tangan. Sebaliknya, tawaran malah datang dari klub yang levelnya jauh di atas Laskar Sambernyawa, julukan Persis, yakni Sriwijaya.
Dia pun tak kuasa menolak. Apalagi, selain Solo, Palembang sudah seperti kampung halamannya. Namanya pun meroket sebagai pemain di ibu kota Sumatera Selatan (Sumsel) itu ketika membela klub raksasa sepak bola di era 1980-an dan 1990-an, Kramayudha Tiga Berlian (KTB).
SUKSES:Kashartadi (sumber: sidiq)
Dengan usianya yang masih belasan, saat itu, baru saja lulus SMA (Sekolah Menengah Atas), dia masuk pilihan inti di posisi sayap. Padahal, saingannya pun para pemain senior yang sudah malang melintang di kancah sepak bola Indonesia.
Dari KTB pula, dia bisa mengenakan kostum tim nasional Indonesia. Bahkan, Kashartadi menjadi salah satu bagian tim emas SEA Games 1991. Prestasi itu, hingga saat ini, 2012, belum bisa diulangi. Atas jerih payahnya itu, tiap bulan Kashartadi memperoleh tunjangan Rp 100 ribu selama seumur hidup.
Dia pun merasa lebih dihargai di Palembang dibandingkan di Solo. Meski, dia punya cita-cita yang tinggi, ingin mengembalikan nama besar Persis yang pernah disegani di kancah sepak bola Indonesia dengan merajai perserikatan pada era 1940-an hingga 1950-an. Sayang, setelah itu, Persis pun tertidur lelap dalam jangka waktu yang panjang.
Dengan menangani Sriwijaya pula, dia ingin membuktikan kualitas kepelatihan miliknya yang dipandang sebelah mata oleh pengurus Persis. Apalagi, di Sriwijaya terdapat sosok seniornya di Arseto Solo, Hartono Ruslan. Ya, setelah KTB bubar, Kashartadi sempat membela Arseto Solo bersama Hartono.
Jika itu telaksana, Kashartadi pun merasa plong. Dia pun tak memikirkan ambisi yang lebih tinggi yakni menangani timnas. Hanya, kepercayaan itu datang, dia tak kuasa menolak. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com