www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kamis, 12 April 2012

Impian Gapai Prestasi Makin Jauh

KOMPLET sudah perpecahan di sepak bola Indonesia. Setelah ada dua kompetisi di tanah air, kemudian ada dua PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia), sebentar lagi bakal ada dua tim nasional (Timnas) Indonesia.
Ya, kisruh itu memang berawal dari lahirnya Liga Prima Indonesia (LPI) yang diikuti oleh klub-klub yang kecewa dengan kompetisi yang dikelola PT Liga Indonesia. Kompetisi tersebut dianggap penuh rekayasa.
Meski, sebenarnya, LPI ini merupakan jalan awal untuk melengserkan Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI. Adanya, kompetisi ini pun sempat mendapat sambutan antusias dari mayoritas.
Kehadirannya diharapkan bisa menjadi oase prestasi sepak bola Merah Putih yang kali terakhir bisa dibanggakan saat meraih emas SEA Games 1991. Sayang, setelah Nurdin Halid bisa digantikan oleh Djohar Arifin Husin, harapan itu kembali menguap.
Bukannya prestasi yang diraih, tapi malah malu yang didapat. Timnas yang dianggap kumpulan para pemain pilihan dan terbaik di tanah air dipermalukan tuan rumah Bahrain 0-10 dalam pertandingan Pra-Piala Dunia Grup E pada 29 Februari lalu.
Kekalahan itu pun memberikan angin kepada kubu yang bersebarangan dengan Djohar untuk mengusik posisinya. Saat PSSI Djohar menggelar kongres di Palangkaraya, seterunya menggelar hal yang sama di Ancol, Jakarta.
Waktunya, pun bersamaan 18 Maret. Bedanya, acara di Ancol dengan titel Kongres Luar Biasa (KLB) yang akhirnya memilih La Nyalla Mattalitti sebagai ketua umum PSSI. Kisruh pun semakin memanas dengan perbedaan kompetisi. Beda dengan sebelumnya, sekarang perbedaan itu sudah mencapai level bawah mulai dari Divisi III. Bahkan, banyak kota/kabupaten yang mengusung nama yang sama meski berada di naungan yang berbeda. Hanya penyebutan di puncak kompetisi saja yang berbeda. Jika PSSI versi Djohar puncak kompetisinya dengan Indonesia Premier League (IPL), versi La Nyalla tetap dengan ISL.
Masih ada lagi perbedaan yang ditunggu, yakni timnas. Akhirnya, PSSI versi La Nyalla pun membentuk Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia. Pelatihnya pun memakai Alfred Riedl. Sementara PSSI versi Djohar ditangani Aji Santoso.
Timnas Indonesia di Piala AFF 2012 (sumber: AFF)
Niatan itu pun tak main-main. Riedl, yang kini berusia 63 tahun, pun sudah didatangkan kembali ke Indonesia. Sebelumnya, lelaki asal Austria tersebut juga pernah menangani timnas di akhir era Nurdin Halid.
Polesannya pun tak mengecewakan. Bambang Pamungkas dkk dibawanya lolos ke final Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara). Sayang, di final, mereka kalah selisih gol dari Malaysia. Padahal, pada babak penyisihan grup, negeri jiran itu disikat dengan skor telak.
Lalu, dengan adanya dua timnas ini, apa yang diharapkan? Tentu, impian mengembalikan Indonesia menjadi, minimal, macan Asia Tenggara semakin jauh. Kita tak perlu bicara terlalu jauh dengan meraih emas Asian Games, juara Piala Asia, atau lolos ke Piala Dunia.
Timnas yang ada bukan lagi kumpulan pemain terbaik dan sudah pilihan. Timnas yang ada merupakan timnas yang membela golongan tertentu. Kebanggaan memakai lambang garuda di dada pun sudah luntur.
Kita hanya berharap semua konflik dan perbedaan yang ada di sepak bola Indonesia segera berakhir. Bukan hanya itu saja, tapi juga tak ada lagi. Jangan buat masyarakat semakin lama menunggu prestasi timnas. Masyarakat sudah rindu menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam seremoni pengalungan medali emas dari cabang olahraga paling populer di tanah air tersebut. (*)

*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos 11 April 2012

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com