www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Anshar Ahmad, Mantan Penggawa Garuda yang Kini Jadi Satpam

Posturnya seperti tokoh wayang Bima. Tinggi besar dengan kumis yang melintas.
 Hanya, saat ini, dia kadang harus rela begadang sampai pagi. Ya dialah Anshar Ahmad. Di perjalanan sepak bola Indonesia namanya tercantum di Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia.
 Anshar tercatat pernah membela timnas merah putih sejak 1988 hingga 1997. Dengan posturnya yang mencapai 180 sentimeter, dia menjadi andalan timnas Indonesia di posisi stopper. 
 Lelaki kelahiran 23 Juli 1966 memang selalu berada di posisi yang dikenal harus tega mematikan penyerang lawan di lapangan tersebut. ‘’Saya memulai karir di PU Kendari pada 1986. Itu setelah saya tamat SMA,’’ kata Anshar saat ditemui di Solo pada 23 Desember lalu.
 Bersama klub asal Pulau Sulawesi tersebut, kemampuannya semakin terasah. Ini yang membuat klub papan atas Galatama (Liga Sepak Bola Utama) Makassar Utama tertarik merekrutnya pada 1988.
 Hanya, dia tak bertahan lama di klub asal Kota Angin Mamiri, julukan Makassar. ‘’Saya hanya membela Makassar Utama dalam tiga pertandingan Piala Milo (sponsor yang menyoponsori Piala Liga),’’ jelas Anshar.
 Tiga kali penampilannya di Piala Milo sudah membuat klub besar Arseto Solo kepincut. Bersama dua rekannya yang lain, Franky Weno  dan Alan Haviludin ‘’Hanya, saya dan Alan yang bisa bertahan lama. Franky hanya semusim dan memilih kembali ke Makassar,’’ kenang bapak tiga anak tersebut.
 Di Solo, karir dan perjalanan Anshar terus membaik. Dia hanya perlu setahun di Kota Bengawan, julukan Solo, untuk mempersunting gadis dari daerah tersebut. Setelah menikah, penampilan Anshar bukannya menurun tapi malah sebaliknya.
Panggilan membela timnas pun datang mengalir. Arseto pun pada 1992 dibawanya menjadi juara. Sayang, pada 1998, saat krisis ekonomi, klub milik putra Presiden II Republik Indonesia Soeharto, Sigit Hardjojoedanto, tersebut tutup.
 Dengan terpaksa, kebersamaan Anshar dengan Arseto pun berakhir. ‘’Tapi, saya tak bisa pindah dari Solo. Saya pun langsung bergabung Persis Solo,’’ucap Anshar.
 Bersama Laskar Sambernyawa, julukan Persis, Anshar lama bertahan. Bahkan, menjelang karirnya sebagai pemain berakhir, dia sudah diproyeksikan masuk jajaran pelatih.
 ‘’Tentu, saya sangat senang karena hidup saya, saya dedikasikan buat sepak bola,’’ lanjut Anshar. Anshar resmi pensiun sebagai pemain setelah mengantarkan Persis masuk Divisi Utama pada 2009.  Dunia kepelatihan pun ditekuninya.
 Namun, Anshar tetap membutuhkan pemasukan dari luar sepak bola. Saat tawaran bekerja di sebuah hotel di dekat Terminal Tirtonadi, Solo, pun tak bisa ditolaknya. Hanya, dia tak mau bekerja di bagian staff.
‘’Saya memilih menjadi satpam saja. Jadi punya waktu yang banyak untuk bisa melatih di pagi dan sore,’’ ungkapnya.
 Dia pun tahu risiko yang harus dilakoni. Begadang dari tengah malam hingga dini hari pun sudah biasa baginya.
‘’Bukan sebuah masalah besar. Kantor pun sangat mendukung aktivitas saya sebagai pelatih,’’ lanjut dia. (*)
Read More

Gomes de Olivera, Tantangan Taklukan Kerasnya Indonesia

TANGAN DINGIN: Gomes de Olivera (sumber: sidiq prasetyo)
TAK gampang sukes menjadi pemain dan juga sukses menjadi pelatih di Indonesia. Apalagi, itu terjadi di Indonesia.
 Maboang Kessack asal Kamerun boleh menjadi pemain top yang kali pertama merumput di Indonesia. Kemudian sang  superstar Piala Dunia 1990 Roger Milla yang juga berasal dari Kamerun juga sempat menjadi perbincangan hangat.
 Tapi, keduanya tak bisa menjadi pelatih di Indonesia. Bahkan, sang top scorer (pencetak gol terbanyak) Piala Dunia 1978 asal Argentina Mario Kempes pun tak bisa menangani tim di Negeri Jamrud Khatulistiwa, julukan Indonesia.
 Lain halnya dengan Jacksen F. Tiago. Dia termasuk pemain asing yang sukses di Indonesia. Klub-klub yang dibelanya, Petrokimia Putra Gresik, PSM Makassar, dan Persebaya Surabaya pun tergolong sukses. Petrokimia dan PSM menjadi runner-up Liga Indonesia. Green Force, julukan Persebaya, malah diantarkannya menjadi juara pada Liga Indonesia III.
 Setelah gantung sepatu, lelaki asal Brasil itu pun mengangkat Assyabaab menjadi juara kompetisi internal Persebaya, kemudian Persebaya menjadi juara Liga Indonesia serta Persipura Jayapura mengangkat trofi Indonesia Super League.
 Kini, ada lagi yang bisa jadi mengikuti jejak Jacksen. Siapa? Gomes de Olivera.
 Memang, dia belum sesukses Jacksen kalau masih aktif di lapangan hijau.  Hanya, klub yang dibelanya pun bukan klub kacangan.
 ‘’Saya datang saat Liga Indonesia II dan membela Mitra Surabaya,’’  kata Gomes saat ditemui di Surabaya pada 16 Desember lalu.
 Dia pun mengenang kedatangannya ke Indonesia karena ajakan seorang agen di negeri asalnya, Brasil. Dia dikenalkan dengan seorang agen Rumania yang kali pertama membawa pemain mancanegara ke Indonesia.
 ‘’Saya kaget melihat atmosfer sepak bola Indonesia. Animo penontonnya luar biasa,’’ terang lelaki kelahiran 1972 tersebut.
 Setelah Mitra, dia pun mulai berpetualang ke berbagai klub di Indonesia. Mataram Indocement, Semen Padang, Persedikab Kab Kediri, hingga PSIS Semarang pernah dibelanya. Di semua klub itu, lelaki yang memperistri gadis Surabaya tersebut selalu menjadi andalan di lini depan.
Bahkan, Gomes mengaku pernah membela klub di Liga Bangladesh. Saat usianya terus beranjak tua, karir di dunia kepelatihan menjadi pilihan utama.
 Klub anggota internal Persebaya, Suryanaga, menjadi klub senior pertama yang dipolesnya.  Dia mampu mengangkat klub binaan Michael Sanjaya itu juara.
 Tawaran menangani Persebaya U-21 dan menjadi asisten Persebaya Senior pun datang kepadanya. Di tim senior, Gomes mengaku banyak belajar kepada Danurwindo. Mantan pelatih timnas PSSI tersebut dianggap Gomes sebagai pelatih dengan ilmu tinggi.
  Ilmu dari Danurwindo yang dipadukannya dengan ilmu yang diperoleh di Brasil semakin membuat Gomes tertantang menaklukan kerasnya kompetisi sepak bola Indonesia. Perseru Serui tertarik mengangkat dia menjadi asisten pelatih.
 Pengalaman yang diperolehnya mampu membuat Gomes singgah di Persiwa Wamena. Hasilnya pun sungguh menakjubkan. Badai Pegunungan Tengah, julukan Persiwa, diantarkannya menjadi peringkat ketiga Indonesia Super League. Bahkan, sebelumnya, Pieter Rumaropen dkk sempat memanaskan persaingan juara bersama Persipura Jayapura.
 Kini, tangan dingin Gomes pun diharapkan bisa menular ke Persela Lamongan. ‘’Tapi, saya tetap harus kerja keras jika ingin sukses.’’. (*) 

Read More

Baroto, sang Pencetak 1000 Bintang Lapangan Hijau


Baroto (paling kanan) bersama Puslat Putra Sukoharjo saat melakukan try out di Sidoarjo, Jawa Timur , pada November 2012. (sumber: sidiq prasetyo)
JOSE Mourinho boleh menyebut dirinya The Special One. Sir Alex Ferguson dikatakan pelatih bertangan dingin. Begitu juga dengan Josep ‘’Pep’’ Guardiola yang dikenal pintar meracik strategi.
 Tapi, ketiganya bisa sukes karena materi pemainnya sudah jempolan.  Jika kita menyebut nama Baroto, orang akan langsung mengerutkan dahi. Siapa dia? Kok ada namanya di antara tiga pelatih papan atas dunia tersebut.
 Jika dibandingkan pun tentu baik langit dan dasar bumi. Baroto hanya pelatih ‘’kampung’’ yang mungkin namanya hanya dikenal di wilayah Solo dan sekitarnya.
  Tapi, saya punya nilai plus Baroto dibandingkan pelatih-pelatih yang lain. Dia mampu melahirkan pemain-pemain papan atas meski hanya level Indonesia.
  Pembaca mungkin masih penasaran dengan sosok Baroto. Lelaki ini adalah manusia yang mengabdikan hidupnya untuk sepak bola.
 Sejak kecil, saya sudah begitu akrab dengan namanya. Banyak teman yang ingin ikut klub binaan Putra Sukoharjo.
 Bahkan, saat saya duduk di kelas 3 SMA, seorang kawan yang kebetulan juga kapten Persiharjo Sukoharjo, domisi Putra Sukoharjo, Isnu Broto Santoso, mengajak saya berlatih di sana. Ini sebagai persiapan menghapi Piala Suratin, kini lebih dikenal dengan nama Liga Remaja.
 Sayang, tak bisa memenuhinya karena waktunya berdekatan dengan ujian akhir sekolah. Tapi, kesempatan untuk bisa mengenal Baroto mulai terbuka saat saya bekerja di sebuah harian di Solo. Sebagai wartawan olahraga, nama dia masuk dalam daftar sumber berita yang harus bisa didekati.
 Memang tak susah mencari rumah Baroto. Setiap warga yang tinggal di daerah Baron pasti kenal sosok dia. Hanya, kali pertama mau bertemu Baroto, saya rela berhujan-hujan dengan mengendarai sepeda motor Yamaha 80 kepunyaan saya.
 Di luar dugaan, sosok yang dikenal keras di lapangan ternyata pribadi yang ramah. Layaknya teman yang lama tak bertemu, dia tak sungkan menceritakan segala sesuatu tentang sepak bola dan perjalanannya menggeluti olahraga si kulit bundar tersebut.
  Setelah itu, kami pun berteman akrab. Saya pun sempat sedih saat mendengar Baroto mengalami sakit stroke. Lebih sedih lagi gara-garanya juga sepak bola. Rekan-rekan yang dulu begitu dipercayainya tega mengkhianati.
 Duh, sungguh pedih. Tapi melihat Baroto datang ke Sidoarjo di akhir November 2012, saya seperti melihat Baroto sebelas tahun lalu. Masih energik dan juga teriakan-teriakannya saat menyemangati anak asuhnya.
 Hanya, memang sudah tak selincah dulu. Stroke ikut mengurangi kegesiatan gerakannya.
 Tapi, Baroto sempat berucap sakit tak akan mengurangi sakitnya mencetak pemain-pemain muda. Selamat berjuang Mas... (*)

Spesialis Pencetak Pemain Berbakat
Pemain Binaan Baroto
1. Wahyu Tri Nugroho
Posisi: Kiper
Klub : Persis Solo, Persiba Bantul, Timnas Indonesia U-19, Timnas Indonesia Senior
2. Putut Waringin Jati
Posisi: Penyerang
Klub: Deltras, PSPS Pekanbaru, Arema, Timnas U-19
3. Dwi Joko Prihatin
Posisi: Bek
Klub: Persis Solo, Petrokimia Putra Gresik, Deltras, Persita Tangerang, Persiba Balikpapan
4. Indriyanto ‘Nunung’ Nugroho
Posisi: Penyerang
Klub: Pelita Jaya, Arseto, Persijatim Solo FC, PSIS Semarang, Persikaba Blora, Persepam Madura United , Timnas PSSI Primavera, Timnas Senior
5. Haryanto ‘’Tommy’’ Prasetyo
Posisi: Gelandang
Klub: Pelita Jaya, PSS Sleman, Persijap Jepara, Persis Solo, Timnas PSSI Barreti, Timnas PSSI Senior
6. M. Analis
Posisi: Belakang
Klub: Persis Solo, Persikabo Kab Bogor, Persela Lamongan, Solo United
7. Santoso
Posisi: Depan
Klub: Persis Solo, PSIM Jogja, Persipur Purwodadi, Persiku Kudus
8. Syaiful Bahri
Posisi: Depan
Klub: Persis Solo, PSIR Rembang, Persikubar Kutai Barat
Read More

Muhammad Al Hadad, Mencuat di Antara Minoritas

Dengan postur yang tinggi, sekitar 175 sentimeter, Mamak memang ideal ditempatkan sebagai penyerang. Tandukan maupun sepakannya jitu ke gawang lawan. Tak heran, Mamak mencatatkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak pada era Galatama pada 1987.
 Pada tahun itu, dia membela Niac Mitra. Di klub milik A. Wenas itu pula kesetiaan Mamak perlu mendapat acungan jempol. Sejak bergabung di kelompok junior pada 1977, lelaki kelahiran Surabaya, 19 September 1961 tersebut tak pernah berpindah klub. ‘’Saya selalu membela Niac Mitra sampai klub itu bubar pada 1990-an. Banyak kenangan yang saya dapat dari klub itu, ‘’ kata Mamak.
 Dia berada di sana bersama generasi emas. Mamak pernah merasakan menimba ilmu dari pemain Singapura Fandi Ahmad. Hingga trio nya bersama Hanafing dan Eduard Mangilomi. Saat bersaing menjadi top scorer (pencatak gol terbanyak), Mamak harus bersaing dengan Hanafing.
 Karirnya bersama Niac Mitra harus diakui sangat menjulang. Pada 1986, Niac Mitra dibawanya menjadi juara Piala Gubernur Jateng. Dua tahun kemudian, tim yang mempunyai kaos kebesaran warna hijau tersebut menempati runner-up Galatama. Panggilan Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, pun dipenuhinya dalam kurun 1986-1989.
 Aksinya membela Indonesia terjadi di Piala Raja Bangkok, Pra Piala Asia, Piala Kemerdekaan, dan juga Pra Piala Dunia. Selain itu, pada 1988, Mamak terpilih sebagai Atlet Terbaik Jatim versi Siwo (Seksi Wartawan Olahraga) Jatim.
 Nah, setelah Niac Mitra bubar, Mamak pun langsung gantung sepatu. Dia langsung dapat kepercayaan menjadi asisten Assyabaab Galatama 1991-1993. Dua tahun sudah cukup bagi lelaki dengan rambut ikal tersebut naik jabatan menjadi pelatih kepala. Dia mengembannya selama empat tahun dari 1993 hingga 1997.

Setelah itu, Mamak pun mulai melanglang ke berbagai klub di tanah air. Klub sebesar Persebaya Surabaya pun pernah merasakan sentuhannya. ‘’Saya tak akan bisa lepas dari sepak bola. Sampai kapan pun, saya akan menekuni olahraga ini,’’ tandas Mamak. (*)



Data Diri:

Nama: Muhammad “Mamak” Al Hadad

Tempat Tanggal Lahir: Surabaya, 19 September 1961

Agama: Islam

Alamat: Kalimas Udik II No 32 Surabaya



Pengalaman Pemain

1977-1979: Mitra Muda Surabaya

1979-1990: Niac Mitra Surabaya

-1984-1990: Kapten

-Juara Galatama 1982-1983

1986: Juara Piala Gubernur Jateng

-1987-1988 (runner-up top skorer Galatama)

1988-1989 (runner-up Galatama)

1986-1989: Liga Selection (Piala Raja Bangkok), PSSI Senior (Pra Piala Asia, Piala Kemerdekaan, Pra Piala Dunia)

1988: Atlet Terbaik Jatim



Pengalaman Melatih

1991-1993: Assyabaab Galatama (asisten pelatih)

1993-1997: Assyabaab Galatama (pelatih kepala)

1999: SIWO Jatim

2000-2001: Persijatim

2002-2003: Persebaya

2004-2005: Timnas U-20

2006: Persim Maros

2007-2008: Persebaya Surabaya

2009: PS Kupang

2010: Deltras

2011: Manado United
Read More

Beri Saja Sanksi Biar Tobat

KEMELUT sepak bola Indonesia seakan tiada habisnya. PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin dan La Nyalla Mattalitti belum mau berdamai.
 Kedua organisasi tersebut masih sama-sama merasa sebagai organisasi yang sah untuk mengurusi si kulit bundar di negeri kita tercinta ini. Kongres yang dilaksanakan pada 9 Desember pun dilakukan bersama.
PSSI Djohar melaksanakan kongresnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sedangkan PSSI Nyalla menggelar di ibu kota Jakarta.
 Keduanya pun sudah sama-sama mengeluarkan keputusan yang akan dilaporkan di FIFA selaku induk organisasi sepak bola tertinggi di dunia. Harapannya, agar keduanya mampu membawa Indonesia terbebas dari sanksi dari FIFA.
 Karena, federasi sepak bola yang berkantor pusat di Swiss itu menjatuhkan tempo sebelum 10 Desember untuk menggelar kongres. Memang, ada kongres, tapi tetap ada dua organisasi.
Kini, semua insan sepak bola Indonesia pun harap-harap cemas. Kena nggak  ya? Kalau penulis tak mempermasalahkan sanksi atau tidak.
 Kalau akhirnya FIFA menjatuhkan juga bukan  masalah. Siapa tahu, vonis tersebut membuat dua kubu yang berseberangan sadar dan bergandengan tangan lagi.
 Meski, untuk itu, harus ada kebesaran jiwa dari mereka. Lebih baik buang saja ego, buang saja dendam, dan buang saja merasa lebih pintar. 
 Masyarakat sudah rindu akan prestasi. Itu hanya bisa dicapai kalau tak ada lagi perbedaan dan perpecahan. Kompetisi harus satu, induk organisasi juga satu. Dengan tujuan satu, membawa prestasi Indonesia ke pentas internasional. (*)

Mereka Yang Pernah Kena Sanksi FIFA
1. Yunani
Negara ini mendapatkan sanksi karena tidak mematuhi statuta FIFA.  Alasannya, adanya dugaan politisasi dunia si kulit bundar di negara yang masuk kawasan Eropa tersebut.
Sanksi dijatuhkan pada 3-7 Juli 2006 setelah federasi sepak bola Yunani mematuhi statuta FIFA.
2. Kuwait
Negara di Timur Tengah ini terkena palu FIFA pada 30 Oktober 2007. Alasannya, campur tangan pemerintah dalam proses pemilihan ketua umum dan dewan direksi.FIFA mencabut sanksi tersebut pada 15 November 2007.
3. Brunei Darussalam
Brunei kena sanksi  pada 2009 karena intervensi pemerintah. Sultan Brunei membentuk kepengurusan baru federasi sepak bola di negaranya pada Desember 2008. Hingga sekarang, skors tersebut masih belum dicabut FIFA.
4. Peru
Peru diharamkan mengikuti pertandingan internasional. Pertimbangannya terjadi kekisruhan antara pemerintah dan Federasi Sepak Bbola Peru sejak 25 November2008.
Sanksi baru dicabut satu bulan kemudian, 20 Desember 2008.
5. Iran
FIFA memberikan hukuman kepada Iran pada 26 November 2006. Sama dengan Brunei. Pemerintah campur tangan di kepengurusan. FIFA mencabut sanksi itu pada 17 Desember 2006.
6. Nigeria
Nigeria kena sanksi  4 Oktober 2010 karena intervensi dari pemerintah. Akibatnya, Nigeria dilarang bermain di level internasional. Sanksi dicabut empat hari kemudian.
7. Ethiopia
FIFA menjatuhkan sanksi pada 2008 sebab adanya campur tangan dari pemerintah karena memecat Presiden EFF. Ethiopia sempat dikeluarkan dari ajang kualifikasi Piala Dunia 2010 meski telah melakoni empat pertandingan kualifikasi. FIFA mencabut sanksi tersebut pada November 2008.
8. Irak
Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) menjatuhkan sanksi kepada Federasi Sepakbola Irak (IFA) pada 20 November 2009. Alasannya, intervensi pemerintah. Maret 2010, FIFA mencabut sanksi tersebut. (*)
Read More

Derita Diego Mendieta

SEPAK bola Indonesia selalu jadi sorotan. Bukan hal yang positif tapi lebih banyak sisi negatif.
 Mulai dari dualisme induk organisasi olahraga sepak bola (PSSI Djohar Arifin dan PSSI La Nyalla Mattalitti) yang berimbas adanya dua kompetisi di tanah air , kegagalan merah putih di Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2012, hingga yang terbaru meninggalnya pesepak bola asing Diego Mendieta dalam kondisi yang memprihatinkan.
 Ya, pesepak bola asal Paraguay tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di Solo pada Senin malam lalu. Diego tutup usia karena penyakit tifus yang diderita.
 Ironisnya lagi, pemain berusia 32 tahun tersebut tak bisa membayar ongkos pengobatan. Ini tentu menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan kita semua.
 Sebagai pemain asing, di benak kita tentu dia berkantong tebal. Minimal mereka dikontrak dehgan bandrol ratusan juta rupiah.
 Memang, tapi itu bagi pesepak bola yang tengah berada di puncak karir. Bahkan, klub berani membayar mereka miliaran rupiah.
 Tapi, bagi mereka yang levelnya di bawah atau tengah redup prestasinya, bayaran puluhan juta atau bahkan di bawahnya sudah sebuah anugerah. Itu pun diterima saat kompetisi berlangsung.
 Ketika kompetisi usai, para pemain asing berkantong tipis pun kebingungan. Mau kembali ke negaranya, uang tak ada buat beli tiket. Gaji dari klub pun juga tak semuanya lancar.
 Dalam kasus Mendieta. setelah membela Persis Solo di ajang Kompetisi Divisi Utama di bawah naungan PT Liga Indonesia, dia lebih banyak berada di Kota Bengawan, julukan Solo.
 Diego menghabiskan waktunya menerima order bermain di turnamen antarkampung. Dia melakukannya karena gajinya dari Persis yang ditunggunya tak kunjung diterima.
 Hingga, dia pun melupakan kesehatan. Hingga akhirnya Diego pun tak kuasa melawan penyakit yang terus menggerogoti.
 Sebelum meninggal, dia pun hanya ingin bisa pulang ke negerinya dan meninggal di dekat sang ibu. Sebuah kisah pesepak bola yang sangat menyanyat hati.
Kematian pemain yang juga pernah membela Persitara Jakarta Utara ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahkan, klub harus benar-benar siap finansial kalau ingin mengikuti kompetisi.
 Gengsi dan semangat mengikuti kompetisi tak ada artinya jika kesejahteraan pemain terlupakan. Gembar gembor profesionalisme pun hanya sebuah kata-kata yang susah direalisasikan.
 Lupakan dualisme PSSI, lupakan dualisme kompetisi, dan yang perlu diingat lagi, nasib pemain harus menjadi perhatian utama.
 Jangan sampai ada lagi Diego Mendieta-Diego Mendieta yang lain hadir. Sebaliknya, meninggalnya Mendieta akan membuat semua insan sepak bola sadar bahwa pemain bukan budak yang bisa diperas tenaga dengan seenaknya tanpa harus menerima imbalan yang layak. (*)
*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos pada 5 Desember 2012
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com