www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 25 Desember 2012

Anshar Ahmad, Mantan Penggawa Garuda yang Kini Jadi Satpam

Posturnya seperti tokoh wayang Bima. Tinggi besar dengan kumis yang melintas.
 Hanya, saat ini, dia kadang harus rela begadang sampai pagi. Ya dialah Anshar Ahmad. Di perjalanan sepak bola Indonesia namanya tercantum di Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia.
 Anshar tercatat pernah membela timnas merah putih sejak 1988 hingga 1997. Dengan posturnya yang mencapai 180 sentimeter, dia menjadi andalan timnas Indonesia di posisi stopper. 
 Lelaki kelahiran 23 Juli 1966 memang selalu berada di posisi yang dikenal harus tega mematikan penyerang lawan di lapangan tersebut. ‘’Saya memulai karir di PU Kendari pada 1986. Itu setelah saya tamat SMA,’’ kata Anshar saat ditemui di Solo pada 23 Desember lalu.
 Bersama klub asal Pulau Sulawesi tersebut, kemampuannya semakin terasah. Ini yang membuat klub papan atas Galatama (Liga Sepak Bola Utama) Makassar Utama tertarik merekrutnya pada 1988.
 Hanya, dia tak bertahan lama di klub asal Kota Angin Mamiri, julukan Makassar. ‘’Saya hanya membela Makassar Utama dalam tiga pertandingan Piala Milo (sponsor yang menyoponsori Piala Liga),’’ jelas Anshar.
 Tiga kali penampilannya di Piala Milo sudah membuat klub besar Arseto Solo kepincut. Bersama dua rekannya yang lain, Franky Weno  dan Alan Haviludin ‘’Hanya, saya dan Alan yang bisa bertahan lama. Franky hanya semusim dan memilih kembali ke Makassar,’’ kenang bapak tiga anak tersebut.
 Di Solo, karir dan perjalanan Anshar terus membaik. Dia hanya perlu setahun di Kota Bengawan, julukan Solo, untuk mempersunting gadis dari daerah tersebut. Setelah menikah, penampilan Anshar bukannya menurun tapi malah sebaliknya.
Panggilan membela timnas pun datang mengalir. Arseto pun pada 1992 dibawanya menjadi juara. Sayang, pada 1998, saat krisis ekonomi, klub milik putra Presiden II Republik Indonesia Soeharto, Sigit Hardjojoedanto, tersebut tutup.
 Dengan terpaksa, kebersamaan Anshar dengan Arseto pun berakhir. ‘’Tapi, saya tak bisa pindah dari Solo. Saya pun langsung bergabung Persis Solo,’’ucap Anshar.
 Bersama Laskar Sambernyawa, julukan Persis, Anshar lama bertahan. Bahkan, menjelang karirnya sebagai pemain berakhir, dia sudah diproyeksikan masuk jajaran pelatih.
 ‘’Tentu, saya sangat senang karena hidup saya, saya dedikasikan buat sepak bola,’’ lanjut Anshar. Anshar resmi pensiun sebagai pemain setelah mengantarkan Persis masuk Divisi Utama pada 2009.  Dunia kepelatihan pun ditekuninya.
 Namun, Anshar tetap membutuhkan pemasukan dari luar sepak bola. Saat tawaran bekerja di sebuah hotel di dekat Terminal Tirtonadi, Solo, pun tak bisa ditolaknya. Hanya, dia tak mau bekerja di bagian staff.
‘’Saya memilih menjadi satpam saja. Jadi punya waktu yang banyak untuk bisa melatih di pagi dan sore,’’ ungkapnya.
 Dia pun tahu risiko yang harus dilakoni. Begadang dari tengah malam hingga dini hari pun sudah biasa baginya.
‘’Bukan sebuah masalah besar. Kantor pun sangat mendukung aktivitas saya sebagai pelatih,’’ lanjut dia. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com