www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rabu, 12 Desember 2012

Derita Diego Mendieta

SEPAK bola Indonesia selalu jadi sorotan. Bukan hal yang positif tapi lebih banyak sisi negatif.
 Mulai dari dualisme induk organisasi olahraga sepak bola (PSSI Djohar Arifin dan PSSI La Nyalla Mattalitti) yang berimbas adanya dua kompetisi di tanah air , kegagalan merah putih di Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2012, hingga yang terbaru meninggalnya pesepak bola asing Diego Mendieta dalam kondisi yang memprihatinkan.
 Ya, pesepak bola asal Paraguay tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di Solo pada Senin malam lalu. Diego tutup usia karena penyakit tifus yang diderita.
 Ironisnya lagi, pemain berusia 32 tahun tersebut tak bisa membayar ongkos pengobatan. Ini tentu menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan kita semua.
 Sebagai pemain asing, di benak kita tentu dia berkantong tebal. Minimal mereka dikontrak dehgan bandrol ratusan juta rupiah.
 Memang, tapi itu bagi pesepak bola yang tengah berada di puncak karir. Bahkan, klub berani membayar mereka miliaran rupiah.
 Tapi, bagi mereka yang levelnya di bawah atau tengah redup prestasinya, bayaran puluhan juta atau bahkan di bawahnya sudah sebuah anugerah. Itu pun diterima saat kompetisi berlangsung.
 Ketika kompetisi usai, para pemain asing berkantong tipis pun kebingungan. Mau kembali ke negaranya, uang tak ada buat beli tiket. Gaji dari klub pun juga tak semuanya lancar.
 Dalam kasus Mendieta. setelah membela Persis Solo di ajang Kompetisi Divisi Utama di bawah naungan PT Liga Indonesia, dia lebih banyak berada di Kota Bengawan, julukan Solo.
 Diego menghabiskan waktunya menerima order bermain di turnamen antarkampung. Dia melakukannya karena gajinya dari Persis yang ditunggunya tak kunjung diterima.
 Hingga, dia pun melupakan kesehatan. Hingga akhirnya Diego pun tak kuasa melawan penyakit yang terus menggerogoti.
 Sebelum meninggal, dia pun hanya ingin bisa pulang ke negerinya dan meninggal di dekat sang ibu. Sebuah kisah pesepak bola yang sangat menyanyat hati.
Kematian pemain yang juga pernah membela Persitara Jakarta Utara ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahkan, klub harus benar-benar siap finansial kalau ingin mengikuti kompetisi.
 Gengsi dan semangat mengikuti kompetisi tak ada artinya jika kesejahteraan pemain terlupakan. Gembar gembor profesionalisme pun hanya sebuah kata-kata yang susah direalisasikan.
 Lupakan dualisme PSSI, lupakan dualisme kompetisi, dan yang perlu diingat lagi, nasib pemain harus menjadi perhatian utama.
 Jangan sampai ada lagi Diego Mendieta-Diego Mendieta yang lain hadir. Sebaliknya, meninggalnya Mendieta akan membuat semua insan sepak bola sadar bahwa pemain bukan budak yang bisa diperas tenaga dengan seenaknya tanpa harus menerima imbalan yang layak. (*)
*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos pada 5 Desember 2012

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com