www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Doktor yang Gila Bola

MANAJEMEN: Hidayat
GELAR Doktor membuat seseorang tinggal duduk di belakang meja. Dengan pikiran dan ilmu yang dimiliki, dia akan mempunyai ide yang dibutuhkan di bidang akademika.
 Tapi lain dengan Hidayat. Dengan ijazah S3 yang dimiliki alias gelar Doktor yang disandang, dia rela membuang waktunya untuk  mengurusi bola. Tidak tanggung-tanggung beberapa klub ditanganinya. Bahkan, salah satunya tim promosi Divisi Utama di bawah naungan PT Liga Indonesia Persebo Bondowoso. Tim lainnya adalah dua kontestan Divisi III Perssu Sumenep dan Kresno Suryanaga Connection serta klub anggota internal Pengcab PSSI Surabaya Kresno Indonesia.
 ‘’Tapi, bidang akademika tetap tidak saya lupakan. Saya masih mengajar di Universitas Wijaya Putra, Surabaya, ‘’ kata Dayat, sapaan karib Hidayat, saat ditemui pada Senin (29/1).
   Di universitas yang kampusnya terpisah di tiga lokas itu, dia pernah menduduki jabatan penting. Puncaknya, Dayat pernah menjadi Pembantu Rektor Bidang Akademik.
 ‘’Tapi, sejak 2008, saya sudah mengundurkan diri dari jabatan struktural. Jadi dosen memang masih,’’ ungkapnya.
 Dayat mengaku menekuni sepak bola karena ingin membagi kebahagiaan dengan orang lain. Meski, untuk itu, dia rela mengeluarkan uang ratusan juta.
 ‘’Saya bisanya membuat orang lain bahagia lewat sepak bola, ya yang itu saya lakukan,’’ tambah lelaki yang kini berusia 49 tahun tersebut.
 Selain itu, dia pun menerapkan ilmu manajemen yang dimiliki untuk diterapkan di  olahraga bola sepak tersebut. Jadi, ungkapnya, pelatih bergerak di bidang produksi.
 ‘’Saya hanya mengawasi saja. Saya tak pernah mengurusi bidang teknik,’’ terang lelaki yang menyelesaikan S3-nya di Universitas Brawijaya, Malang, tersebut.
 Baginya, pelatih sangat berperan penting. Dia tak mau  Hengky Kurniawan, pelatih Persebo sekarang, menyalahkan orang lain jika gagal. ‘’Karena saya memberinya kepercayaan penuh dalam hal teknis. Jajaran pelatih dan pemain, semua di bawah kendalinya,’’ lanjut Dayat.
 Hasilnya memang luar biasa. Semua tim yang ditangani Dayat mampu bersinar. ‘’Persebo bisa promosi ke Divisi Utama dan Kresno Indonesia lolos ke Kelas Utama Kompetisi Pengcab PSSI Surabaya,’’ jelasnya. (*)
Read More

Carlos de Mello, Gemuk dengan Umpan Terukur


Jumat sore (25/1), saya harus datang ke Stadion Manahan, Solo. Undangan dari klub di Kota Bengawan, julukan Solo, Agawe Trengginas (AT) Farmasi untuk melakukan pertandingan uji coba dengan kumpulan wartawan dan pemain sepak bola dari Jakarta.
 Saat datang ke Stadion Manahan, saya sempat melihat ada warga asing di tim tersebut. Tapi, saya tak terlalu menghiraukannya.
 Pada pertandingan pun saya juga tak melihat ada pesepak bola bintang di tim lawan. Hanya Ovan, sang presenter di AnTV, serta produser olahraga di AnTV juga Dedy Reva yang saya kenal. Tapi, di tengah pertandingan, ada sebuah nama dipanggil rekan-rekannya yang membuat saya terkejut. Siapa? Carlos de Mello.
 Bagi saya, dia merupakan pesepak bola pujaan. Kiprahnya di lapangan hijau di tanah air sudah tak diragukan lagi.
 Datang kali pertama saat Liga Indonesia dibuka dengan kehadiran pemain asing, de Mello langsung menyedot perhatian. Umpannya yang terukur serta keahliannya mengocek bola membuat Petrokimia Putra Gresik mampu menembus final. Kolaborasinya dengan compatriot (rekan satu negara) Jacksen F. Tiago, yang kini menangani Persipura Jayapura, menjadi duet paling ditakuti.
 Sayang, setahun kemudian, duet tersebut berpisah. Carlos ke Mitra Surabaya dan Jacksen ke PSM Makassar. Tapi, keduanya kembali ke Persebaya Surabaya. Hasilnya, Green Force, julukan Persebaya, juara di kompetisi level tertinggi tersebut.
 Tak dipungkuri, keduanya menjadi pemain Brasil paling sukses di Indonesia. Meski sudah ada ratusan pemain dari Negeri Samba, julukan Brasil, yang mengadu nasib di Negeri Jamrud Khatulistiwa, julukan Indonesia, ini.
 Hanya,saat menjadi pelatih, de Mello tak sesukses Jacksen. Jika Jacksen sukses membawa Persebaya dan Persipura juara Liga Indonesia, beda dengan de Mello. Dia hanya tercatat pernah menangani Putra Samarinda.
 Tapi, itu tak bertahan lama. Lisensi yang dimiliki menjadi sorotan. Imbasnya, dia pun belum bisa menangani tim di Indonesia tersebut.
 Ketika dikasih kabar keberadaan de Mello di Solo, Jacksen pun agak kaget. Dia hanya tahu kalau koleganya tersebut di Jakarta.
 ‘’Dia lagi cari-cari klub di Indonesia, sekalian jadi agen pemain,’’ terang Jacksen.
 Perjumpaan dengan de Mello memang hanya singkat. Namun, itu sudah mampu mengobati kerinduan yang lama untuk bisa bermain dengannya dalam satu lapangan. (*)


Read More

Si Kumis, Sang Jagal Masa Lalu

MASA KINI: Lulut Kistono (foto: sidiq)
PERUTNYA mulai membuncit. Tapi, kumis yang melintang tetap membuat wajahnya terlihat sangar meski usianya sudah menginak 45 tahun. Sesangar permainannya di lapangan hijau saat masih aktif sebagai pemain.
 Ya, dialah Lulut Kistono. Dia termasuk pemain belakang yang dikenal garang dan tak kenal kompromi.
 Imbasnya, dia pun pernah terkena skorsing dari PSSI pada Kompetisi Galatama 1993/1994. Gara-garanya, dia memukul penyerang Arema Singgih Pitono.
 ‘”Saat itu, saya membela Mitra Surabaya. Saya emosi karena Singgih menyikut saya,’’ kata Lulut saat ditemui di kediamannya di kawasan Bogangin, Surabaya, pada Minggu (20/1).
 Padahal, dia sudah menegur Singgih dengan baik-baik. Apalagi, keduanya berkawan di Arema.
 ‘’Dia tak peduli dengan teguran saya, ya langsung saja saya pukul,’’ kenang Lulut sambil tersenyum.
 Gara-gara skorsing itu, Lulut kena hukuman dua tahun. Vonis itu tentu saja membuat asap dapurnya tak bisa mengepul.
 ‘’Saya langsung ke Jakarta untuk menemui ketua umum PSSI saat itu Azwar Anas untuk merinta keringanan. Akhirnya, saya kena 1 tahun saja dan musim berikutnya sudah bermain lagi,’’ jelas bapak tiga anak tersebut.
 Ya, sejak remaja Lulut memang dikenal dengan permainan kerasnya. Gagal  memperkuat PSSI Garuda II karena kelebihan usia, Lulut pun bergabung dengan Arseto pada 1987. ‘Saya diajak om Solekan (mantan pelatih timnas dan Arseto). Saat itu, saya juga masih sekolah,’’ terangnya.
 Di klub asal Kota Bengawan, julukan Solo, itu Lulut bertahan hingga 1992. Di klub yang bermarkas di Stadion Sriwedari itu, dia dipasang sebagai bek kanan.
 Beruntung, dia Arseto dia mempunyai senior-senior yang selalu membimbingnya. Nama-nama Hartono Ruslan, Eduard Tjong, ataupun juga penyerang legendaris Ricky Yacobi mengarahkannya menjadi pesepak bola profesional. Selain itu, beberapa pemain seangkatannya seperti Sudirman dan Imron Assad menimbulkan kompetisi positif di tim.
 ‘’Banyak yang saya dapat dari Arseto. Itu membentuk mental saya di lapangan,’’ ungkapnya.
 Selama di Arseto, Lulut pun merasakan membela Indonesia berlaga di ajang Piala Raja (King Cup) di Bangkok, Thailand. Dia bergabung bersama para pemain terbaik Galatama di era tersebut.
 Selain itu, dia juga membela Arseto dalam beberapa kali pertandingan persahabatan melawan tim mancanegara. Sayang, kebersamaan Lulut dengan Arseto  hanya bertahan  selama tiga tahun.
 ”Datangnya para pemain Garuda II membuat saya pindah dari Arseto,’’ terangnya.
  Setelah dari Arseto, beberapa klub pun mulai disinggahi Lulut. Mulai dari Barito Putra, Arema, PSIS Semarang, Mitra Surabaya, hingga Putra Samarinda. Namun, dari semua klub itu, dia tak pernah membawa timnya juara.
 Hingga akhirnya Lulut pun pensiun pada awal 2000-an dan mulai menekuni profesi sebagai pelatih. Barito Putra, Persikubar Kutai Barat, KSB (Kabupaten Sumbawa Barat), dan Deltras Sidoarjo pernah ditangan.
 Di sela-sela menangani tim luar Surabaya, Lulut masih menyempatkan berbagi ilmu di klub asalnya, Indonesia Muda (IM), klub anggota internal Pengcab PSSI Surabaya. Dia berharap dari polesannya akan lahir penerus-penerusnya yang bersinar di lapangan hijau. Tentu, mainnya nggak sekeras Lulut. (*)


Biodata
Nama        : Lulut Kistono
Lahir    : Surabaya, 26 Maret 1968
Alamat        : JL. Bogangin IIA / 14A Surabaya

Karir Pemain    :
1987-1992: Arseto Solo
1992-1995: Arema Malang
1996-1997: Barito Putera
1998-199: Mitra Surabaya
2000-2001: Persisam Putera Samarinda
Karir Pelatih    :
2002-3003: Sampit
2003-2004: Persikubar Kutai Barat
2004-2005: Barito Putera Banjarmasin
2005-2007: Persiko Kota Baru (Lolos Divisi I)
2007-2009: Persikubar Kutai Barat (promosi Divisi I)
2009-2010: Mitra Kukar Kutai Kartanegara (bertahan di Divisi Utama)
2010-2011: KSB (Kabupaten Sumbawa Barat)
2012: Deltras
Read More

Nama Perseba, Latihan Sidoarjo

SONGSONG KOMPETISI: Perseba Super 2013
BEBERAPA pemain tengan menalikan tali sepatu di Lapangan Lebo, Sidoarjo, pada Kamis (17/1). Mereka memakai kaos dan celana hijau.
 Meski berlatih di Sidoarjo, tetapi di belakang kaosnya tertulis Perseba Super. Perseba kan Bangkalan yang berada di Pulau Madura?.
Ya, para pemain tersebut merupakan skuad Perseba yang dipersiapkan mengarungi kerasnya kompetisi Divisi Utama di bawah naungan PT Liga Indonesia (PT LI). Mereka diasuh pelatih Nus Yadera dengan dua asistennya, Ashari dan Syafii.
 Sebelumnya, tim tersebut pernah ditempa di Denpasar, Bali. Materi pemain yang dimiliki memang bukan papan atas.
 Para pemain Perseba tersebut mayoritas pemain yang sering mengorbit di Divisi Utama. Sebut saja nama seperti Aditya Fajar Haribowo (musim lalu kiper Persiku Kudus), Zainuri (PSBK Blitar), La Umbu (PSBK), atau juga Harun Nur Rosid (PSBK).
 Tapi, melihat kiprahnya di Piala Gubernur Jatim 2012 lalu, mereka mampu mempermalukan Deltras Sidoarjo dan menahan imbang tim Indonesia Super League (ISL) Persela Lamongan di kandangnya sendiri, Stadion Surajaya.
 Sayang,meski sudah siap menatap kompetisi, Nus belum tahu di mana mereka akan bertanding. ‘’Bisa jadi di Bangkalan atau juga bisa di Bali. Kami masih menunggu kabar dari bos (panggilan kepada Vigit Waluyo, penanggung jawab Perseba),’’ ucapnya.
 Hanya, dia tak mau mempermasalahkan hal tersebut. Bermain di mana saja, lanjut Nus, dia yakin anak asuhnya bakal tampil fight.
Alasannya, Perseba sudah ditempa dengan latihan yang keras dan terpogram. Bahkan, tak menutup kemungkinan, mereka akan menjadi kuda hitam di pentas Divisi Utama musim ini. (*)

Materi Pemain Perseba Super 2013
1. Aditya Fajar Haribowo 
2. Fendi Taris
3. La Umbu
4. Fandi Achmad
5. M. Rochip
6. Muherlin
7. Rusmin Nuryadin
8.M. Nizar Ashari
9. Miftachul Chamly
10. Zainuri
11. Kodari Amir
12. Rachmad Wahyudi
13. Hariyanto
14. Arif Basuki
15. Mujib Riduan
16. M. Rusli
17. Hermansyah Muchlis
18. Agusmanto
19. Syaiful Bachri
20. M. Juni Irawan
21. M. Harun Nur Rosid
22.M. Sofyan Hadi
23. Renanta

Read More

Kidal Maut Pahlawan Indonesia Raih Emas SEA Games 1991

SUKSES: Hanafing (foto; sidiq)
CARI pemain kidal di Indonesia bukan pekerjaan mudah. Itu disebabkan kebiasaan pemain Negeri Jamrud Khatulistiwa yang mengefektifkan kaki kanan.
 Tapi, Hanafing di luar kebiasaan. Dengan mengandalkan kaki kirinya, dia lama malang melintang di kancah sepak bola Indonesia. Bahkan, selama sembilan tahun, kaki kirinya mampu mengantarkan lelaki kelahiran 1963 tersebut menjadi penggawa Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia.
 ‘’Dari kecil, saya memang menendang dengan kaki kiri,’’ terang Hanafing sat ditemui Selasa (15/1).
 Ya, kaki kiri Hanafing sangat ditakuti. Bukan hanya lihai dipakai mengecoh lawan, tapi kaki kirinya itu juga bisa dipakai melepaskan tendangan yang sangat keras dan umpan yang terukur.
 ‘’Banyak gol yang lahir dari tendangan kaki kiri ini,’’ terangnya sambil memegang kaki yang melambungkan namanya itu.
 Ya, karir Hanafing dimulai dari kampung halamannya, Makassar. Sejak usia 18 tahun, dia sudah memperkuat Pasukan Ramang, julukan PSM.
 ‘’Hanya masih di level junior,’’ kenangnya.
 Penampilannya di sisi lapangan bagian kiri membuat ayah dua anak tersebut sempat mengecap pendidikan di Diklat Ragunan, Jakarta. Di tempat tersebut, kemampuannya semakin terasah.
 ‘’Banyak ilmu yang saya peroleh di Ragunan. Saya merupakan angkatan awal di sana,’’ ucap Hanafing.
 Setelah lulus Ragunan, Hanafing tak perlu susah-susah mencari klub. Dia bergabung dengan klub legendaris asal Surabaya yang dibina A. Wenas, Niac Mitra.
 Bersama klub yang mempunyai kostum kebesaran hijau-hijau, sinar Hanafing  semakin terang. Ini juga didukung usianya yang semakin matang. Dia pun sukses mengantarkan Niac Mitra juara Galatama pada musim 1987-1987.
 Kebahagian Hanafing semakin lengkap dengan kepercayaan membela timnas pada SEA Games 1989 di Kuala Lumpur, Malaysia, dan 1991 di Manila, Filipina. Sayang, dalam dua keikutsertaannya itu, Hanafing hanya sekali mengantarkan Indonesia meraih emas pada 1991.
 ‘’Pada 1989, kita kalah dari Singapura pada babak semifinal. Golnya terjadi pada menit terakhir,’’ kenangnya.
 Untung,  kegagalan itu terbalas dua tahun kemudian. Dengan materi yang tak banyak berubah, Pasukan Garuda meraih emas dengan menundukkan  Thailand di final melalui drama adu penalti. ‘’Salah satu penendangnya ya saya. Tembakan saya tak bisa ditahan kiper Thailand,’’ ungkap Hanafing.
 Sampai sekarang, dia masih bangga dengan capaian di Manila. Alasannya, emas tersebut merupakan emas  penentu Indonesia menjadi juara umum. Selain itu, sampai sekarang, Indonesia juga belum juga berhasil menggapai emas di cabang olahraga bergengsi tersebut.
 Hanafing membela Niac Mitra hingga klub tersebut bergenti menjadi Mitra pada 1995. Setelah itu, dia hengkeng ke Persegres Gresik. ‘’Setelah itu, saya pensiun sebagai pemain dan konsentrasi sebagai pelatih,’’ lanjut dia.
 Selama akhir karirnya di Mitra dan Persegres, sebenarnya Hanafing juga sudah merangkap sebagai asisten pelatih. Setelah total sebagai pelatih, tiga tahun dia dipercaya menjadi arsitek tim Popda Jawa Timur (Jatim).
 ‘’Tiga tahun menjadi runner-up terus,’’ tambahnya sambil terkekeh.
 Pada 1999, akhirnya Hanafing mendapat kepercayaan menangani Persid Jember. Dua tahun sudah cukup baginya membawa Macan Sangar, julukan Persid, menembus Divisi I.
 ‘’Setelah itu, saya ke Mojokerto Putra dan juga membawanya ke Divisi I. Habis itu, Persiku meminang saya,’’ jelasnya.
 Hasilnya? Persiku pun diangkatnya ke Divisi I juga.. Ini membuat dia mendapat julukan pelatih spesialias mengangkat tim ke Divisi I. Tim legendaris perserikatan PSM Makassar juga pernah memakai jasa dan tenaga Hanafing selama tiga tahun.  Kali terakhir, dia menangani PSIM Jogjakarta.
 “Saya juga konsentrasi menjadi instruktur FIFA,’’ ungkapnya. (*)
Read More

Mat Halil, Setia di Kampung Halaman

BERTAHAN LAMA: Mat Halil (foto: sidiq)
DAFTAR pemain legenda di Persebaya Surabaya sangat panjang.  Nama Yusuf Ekodono, Mursyid Effendi, dan Bejo Sugiantoro layak dimasukkan.
 Tapi, ada satu nama lagi yang tak boleh dihapus. Siapa? Mat Halil. Kok bisa? Ya, kesetiaan pemain yang biasa beroperasi di sisi lapangan tersebut layak dapat acungan jempol.
 Sejak 1999, pemain kelahiran 1979 tersebut tak pernah berpindah klub. Beda dengan Yusuf, Mursyid, dan Bejo. Yusuf setelah keluar dari Green Force, dia berpindah-pindah klub. PSM Makassar, Persitara Jakarta Utara, Gelora Dewata, hingga Persijap Jepara pernah dibelanya.
 Sedang Mursyid nyaris sempurna. Sayang, menjelang pensiun, dia hengkang ke Persiku Kudus. Padahal, setelah membela klub dari Kota Kretek, julukan Kudus, dia tak lagi mengolah si kulit bundar sebagai pemain.
 Untuk Bejo, karena kecewa, dia pun meninggalkan tim pujaan warga Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Meski, sebelumnya, pada 2002, dia sempat tergoda rayuan klub kaya raya saat itu, PSPS Pekanbaru. Setelah itu, dia kembali ke Persebaya hingga 2009. Mitra Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi pelabuhan karirnya. Setelah itu, dia membela Deltras Sidoarjo dan kini di Persidafon Dafonsoro.
 ‘’Kalau saya, sejak 1999 ya di Persebaya. Meski, tawaran sempat datang bertubi-tubi,’’ tegas Halil usai berlatih di Lapangan Bungurasih (8/1).
 Dia mengaku membela Persebaya sudah menjadi impiannya sejak kecil. Sehingga, dia merasa berat meninggalkan klub berlogo Suro dan Boyo itu.
 ‘”Setelah membela Persebaya Junior, saya magang di senior. Untung, saya bisa masuk di posisi inti,’’ ucapnya.
 Posisi bek sayap menjadi tempat yang susah diotak-atik. Meski, setiap musim, pemain silih berganti ke klub yang lama bermarkas di Gelora 10 Nopember itu.
 Di Persebaya, lanjut Halil, dia pernah merasakan suka dan duka. Suka, tambah dia, saat Persebaya mampu menjadi juara Liga Indonesia saat ditangani Jacksen F. Tiago pada 2005. ‘’Sedihnya ya tentu saat degradasi. Dua kali saya merasakannya pada 2002 dan 2006,’’ kenang Halil.  Untung, Persebaya bisa kembali ke habitanya, yakni level tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia. 
 Selama membela Persebaya, pada 2002, Halil sempat mempunyai pengalaman yang menarik. Dia diplot sebagai penyerang. Hasilnya? ‘Saya langsung cetak gol di Gelora 10 Nopember,’’ terang dia.
 Dia berani menjadi penyerang karena sebagai pemain, lelaki kelahiran 1979 tersebut punya kelebihan dalam kecepatan. Jadi, saat ada tawaran pelatih Persebaya saat itu, Rusdi Bahalwan. Dia tak menolaknya.
 ‘’Yang penting bisa berbuat bagi Persebaya. Sayang, saat itu, Persebaya degradasi.’’
 Sampai kini, dia pun tak punya pikiran hengkang ke klub lain. Apalagi, saat ini, usianya sudah tak muda lagi.
 Nah, menjelang akhir karirnya, Halil pun mulai belajar melatih. Kini, dia sudah mengantongi lisensi C kepelatihan. ‘’Saya berharap ilmu yang saya peroleh selama menjadi pemain bisa dipadukan dengan ilmu kepelatihan. Semoga akan lahir pesepak bola-pesepak bola yang bisa melanjutkan karir saya,’’ tambah dia.
 Ada hal lain yang menarik dari sosok pemain yang sukses membawa Jawa Timur meraih emas pada PON 2000 itu. Apa? Sekarang, Halil tercatat sebagai pemilik klub anggota internal Persebaya El Faza. Di klub itu, Halil membina ratusan talenta-talenta muda potensial. (*)


Siapa Mat Halil?
-Lelaki ini lahir 1978 dan kini masih aktif di Persebaya yang berlaga di kompetisi Indonesian Super League
-Kini, posisinya bukan lagi wing back tapi gelandang sayap. Ini didasarkan nalurinya yang tinggi dalam menyerang dibandingkan bertahan.
-Sejak 1999, dia belum pernah hengkang ke klub lain meski pernah beberapa kali dirayu hengkang.
-Pernah merasakan jadi penyerang saat Persebaya ditangani Rusdy Bahalwan pada 2002.
- Kini jadi bapak dua anak dan punya klub sepak bola El Faza yang berlaga di kompetisi internal Persebaya Surabaya.


Read More

KLB Akankan Datang (Lagi)

GEMA Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI nyaring terdengar lagi. Tuntutannya pun hampir sama dengan KLB-KLB sebelumnya, menggantikan posisi ketua umum.
Padahal, Djohar Arifin Husin, ketua umum PSSI sekarang, belum ada setengah tahun memimpin organisasi sepak bola di Indonesia tersebut. Dia menggantikan posisi Nurdin Halid setelah melalui proses KLB yang mengalami tiga kali perpindahan tempat. Mulai dari Denpasar (Bali), Pekanbaru (Riau), hingga akhirnya di Solo (Jawa Tengah).
Muaranya pun hampir sama, kekecewaan para pemilik suara kepada ketua umum. Jika dulu Nurdin dianggap gagal mengangkat prestasi sepak bola Indonesia, kini Djohar dianggap tidak konsisten dan hanya jadi boneka dari kelompok tertentu.
Saat ini, PSSI memaksakan kompetisi di level tertinggi atau yang dulu dengan nama Indonesia Super League (ISL) diikuti oleh 24 tim. Padahal, seharusnya kompetisi tersebut hanya diikuti 18 tim.
Ada beberapa tim yang dipaksanakan masuk. Nama seperti Persebaya Surabaya, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar seharusnya tidak berada di situ. Alasannya, keempatnya sudah bukan lagi anggota PSSI setelah berlaga di kompetisi tandingan, Liga Primer Indonesia (LPI).
Namun, dengan entengnya, PSSI mempunyai alasan yang membuat mereka layak berlaga di ISL. Mulai dari alasan sponsor ataupun karena mempunyai suporter yang jumlahnya besar.
Menariknya lagi, para pigak yang kecewa kali ini, dulunya juga merupakan pemegang suara yang ngotot mengajukan Djohar. Cepat sekali dukungan tersebut berubah.
Sebelumya pun, saya sempat tidak percaya ketika awal Djohar memimpin PSSI tidak akan lama. Ah isu pasti. Kan suara yang mendukung Djohar lumayan besar.
Eh, nggak tahunya hal itu tinggal tunggu waktu.
Di negeri ini, semua bisa berubah kalau memang punya suara. Padahal, mediasi masih perlu dan Djohar bersama PSSI pun tidak perlu memaksakan kehendak.
Memang kalau harusnya ISL hanya 18 klub kan juga tidak masalah. Kalau Persebaya, Persibo, Persema, dan PSM harus tak ikut kan juga sudah ada dasarnya. Sesuai aturan FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) dan AFC (Federasi Sepak Bola Asia) memang kalau tak diakui federasi lokal harus mendaftar kembali dan memulai dari dasar.
Masyarakat Indonesia sekarang sudah tak bisa dibodohi lagi. Semua sudah melek informasi dengan mudahnya kabar diterima.
Mereka bisa mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Tentu, kita tak ingin masyarakat kembali dibodohi karena menyalahi statuta FIFA. Tapi, hanya diam dan membiarkan kompetisi dan roda organisasi tetap berjalan. (*)


Tulisan ini dibuat di Surabaya pada 2 Oktober 2011
Read More

Berdebar Tunggu Sanksi

PERBEDAAN di sepak bola Indonesia akhirnya mencapai klimaks. Saat ini, bukan hanya kompetisi yang lebih dari satu di negeri ini tapi juga ketua umum.
Itu setelah Kongres Luar Biasa (KLB) yang diprakarsai Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) memilih La Nyalla Mattalitti saebagai orang nomor satu di PSSI. Padahal, sebelumnya, sudah ada nama Djohar Arifin Husin yang duduk di posisi yang sama.
Ya, kisruh sepak bola Indonesia berawal pada akhir 2010 lalu. Saat itu, sudah banyak suara yang menyerukan lengsernya Nurdin Halid dari jabatannya sebagai orang nomor satu di PSSI. Alasannya, beragam mulai dari macetnya organisasi hingga tak ada prestasi yang diberikan.
Kubu yang bersebarangan pun membikin kompetisi tandingan dengan Liga Prima Indonesia. Beberapa klub lama seperti Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persema Malang, dan Persibo Bojonegoro pun bergabung di sini.
Sedangkan PSSI dengan PT Liga Indonesianya tetap menggelar Indonesia Super League (ISL) sebagai puncak tertinggi dari kompetisinya. Meski, saat itu, mereka kehilangan beberapa anggotanya.
Dampaknya pun cukup terasa. Masyarakat sempat memberikan respons positif. Harapan tinggi pun sempat diberikan kepada LPI.
Sayang, di tengah jalan, penataan kompetisi pun tak jauh beda dari sebelumnya. Dari jadwal yang sering berubah hingga minimnya nilai positif dari tengah lapangan.
Tapi, itu sudah cukup menjadi senjata untuk melengserkan Nurdin. Namun, di tengah jalan, kubu yang semula sukses mendudukkan Djohar pun berbalik arah. Banyak dari mereka yang menyebarang ke kubu yang dulunya mendukung Nurdin.
Ontran-ontran ini pun berlanjut ke tim nasional Indonesia. PSSI di bawah nakhoda Djohar melarang pemain yang berlaga di kompetisi di luar Indonesia Premier League (IPL, yang dulu LPI) membela Indonesia di kancah internasional. Nama-nama yang sudah familer seperti Markis Haris Maulana, M. Robby, M. Nasuha, Ahmad Bustomi bahkan Bambang Pamungkas pun tak ada lagi.
Dengan materi pemain dari IPL, Indonesia dipermalukan tuan rumah Bahrain dengan 10 gol tanpa balas dalam pertandingan Pra Piala Dunia Grup E. Ini menjadi aib sepak bola tanah air karena belum pernah Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, dijebol lawan sebanyak itu. Memang, selama diperkuat para pemain yang berlaga di ISL, Indonesia juga belum pernah memetik kemenangan. Namun, mereka belum pernah kalah sebanyak itu dalam asatu pertandingan.
Setelah itu, harapan akan [restasi sempat mencuat ketika timnas U-21 menembus Piala Hassanal Bolkiah di Brunei Darussalam. Sayang, di final, tim yang dikapteni pemain Persebaya Andik Vermansyah dipermalukan tuan rumah dua gol tanpa balas. Padahal, sebelumnya, Indonesia tak pernah kalah dari negeri yang berada di Pulau Kalimantan itu.
Harus diakui, bagaimanapun, ontran-ontran di kepengurusan dan dualisme sistem kompetisi tetap memberikan dampak bagi bagi pemain serta prestasi timnas.
Padahal, masyarakat sudah lama menantikan lahirnya prestasi. Bukan hanya mengenang kejayaan masa lalu. Setiap saat pasti disebut Indonesia pernah berlaga di Olimpiade Melbourne 1956 dan bisa menahan tim tangguh Uni Soviet dengan kiper legendarisnya Lev Yashin. Atau juga nyarisnya lolosnya Indonesia ke olimpiade sebelum akhirnya kalah adu penalti dari Korea Utara di Jakarta pada 1976.
Sudah? Belum. Masih ada masa lalu yang selalu diungkit. Indonesia pernah menjadi raksasa sepak bola Asia Tenggara. Namun, kali terakhir, Indonesia Raya berkumandang pada SEA Games 1991 di Filipina.
Kini, mungkin, masyarakat berdebar. Tapi, bukan prestasi, namun sanksi dari FIFA (federasi Sepak Bola Internasional) terkait dualisme kepengurusan. Meski, sebenarnya, sanksi itu akan mematikan sepak bola dan prestasi Indonesia. Kalau sanksi itu bisa menyatukan perbedaan dan membawa maju sepak bola kita, apa salahnya. (*)




*Tulisan ini pernah dimuat di harian Jawa Pos pada 20 Maret 2011
Read More

Ibnu Grahan, Tak Setegang Dulu Lagi

RILEKS: Ibnu Grahan (sumber: sidiq prasetyo)

KEMBALI dipercaya menangani tim yang penah dipoles bukan hal mudah. Apalagi, sebelumnya, sosok tersebut dianggap gagal.
 Kalau pun ada, tak banyak arsitek tim yang mengalaminya. Namun, di Persebaya Surabaya, hal tersebut ada.
 Ya, sosok tersebut adalah Ibnu Grahan. Pada Indonesian Super League (IPL) 2013, dia akan menjadi nakhoda tim pujaan suporter Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Padahal, pria kelahiran 1967 itu dicap gagal mengantarkan Persebaya meraih prestasi pada 2008.
 Ini membuat dia terpaksa diganti di tengah jalan. Untung, hal tersebut tak membuat patah semangat.
 Pengalamannya menangani tim-tim di luar Surabaya kembali membuatnya percaya diri. Setelah tak lagi memoles Green Force, Ibnu tercatat pernah menjadi arsitek tim KSB (Kabupaten Sumbawa Barat) hingga Persela Lamongan U-21. Bahkan, di KSB, dia memulainya dari bawah saat tim tersebut baru memulai untuk ikut kompetisi resmi di bawah PSSI.
 Hingga akhirnya, panggilan sebagai asisten pelatih hingga kini menjadi pelatih kepala pun datang menghampiri.
 ‘’Dulu, saya begitu tegang. Semua kejadian dilakukan saya pikir serius,’’ kata Ibnu saat ditemui di Surabaya pada akhir Desember 2012.
 Ini, lanjutnya, membuat dia malah merasa terbebani. Imbasnya, ayah tiga anak tersebut tak bisa leluasa mengeluarkan semua ilmu yang dimiliki.
 Namun, sekarang, Ibnu sudah berubah. Dia tak lagi tegang saat membawa timnya menggelar uji coba jelang laga IPL 2013 dimulai.
 ‘’Rileks saja kuncinya,’’ lanjutnya.
 Selain itu, semakin banyaknya ilmu yang didapat juga mampu mengubah cara melatih. Kini, Ibnu sudah memegang lisensi pelatih A AFC (Federasi Sepak Bola Asia).
 ‘’Saya juga sudah tahu psikologi menangani tim. Urusan sepak bola hanya di lapangan, jangan dibawa ke rumah. Itu akan membuat kacau semuanya,’’ terang lelaki yang juga pernah menjadi kapten Persebaya tersebut.
 Ternyata, resep itu diperolehnya dari sosok pelatih senior, M. Basri. Mantan pelatih nasional tersebut selalu rileks dan enjoy dalam menangani tim. ‘’Kalau atau menang dinikmati saja. Buktinya, sampai sekarang Pak Basri sehat terus,’’ ungkap Ibnu.
 Harus diakui, beban sebagai pelatih cukup berat. Apalagi, dia dipercaya menangani tim sebesar Persebaya Surabaya. Selain itu, setelah Jacksen F. Tiago pada era Liga Indonesia, Green Force, julukan Persebaya, sudah tak pernah lagi mengangkat trofi juara.
 Kini, harapan tersebut kembali diberikan ke pundak Ibnu. Ini wajar karena kini di timnya bertabur pemain bintang dari kiper hingga penyerang.
 Di kiper, Persebaya yang berlaga di kompetisi Indonesia Premier League (IPL) memiliki Endra Prasetyo, di belakang ada sosok senior Erol Iba. Bahkan, di tengah, mereka disokong trio mungil dengan teknik jempolan, yakni Taufiq, Rendi Irwan, serta superstar Andik Vermansah.
 Di depan, Ibnu punya andalan Fernando Soler asal Argentina yang musim lalu 13 kali menjebol gawang lawan.
 ‘’Saya tetap akan berusaha. Yang jelas, saya tak akan mau gagal lagi.’’. (*) 
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com