www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Minggu, 06 Januari 2013

Ibnu Grahan, Tak Setegang Dulu Lagi

RILEKS: Ibnu Grahan (sumber: sidiq prasetyo)

KEMBALI dipercaya menangani tim yang penah dipoles bukan hal mudah. Apalagi, sebelumnya, sosok tersebut dianggap gagal.
 Kalau pun ada, tak banyak arsitek tim yang mengalaminya. Namun, di Persebaya Surabaya, hal tersebut ada.
 Ya, sosok tersebut adalah Ibnu Grahan. Pada Indonesian Super League (IPL) 2013, dia akan menjadi nakhoda tim pujaan suporter Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Padahal, pria kelahiran 1967 itu dicap gagal mengantarkan Persebaya meraih prestasi pada 2008.
 Ini membuat dia terpaksa diganti di tengah jalan. Untung, hal tersebut tak membuat patah semangat.
 Pengalamannya menangani tim-tim di luar Surabaya kembali membuatnya percaya diri. Setelah tak lagi memoles Green Force, Ibnu tercatat pernah menjadi arsitek tim KSB (Kabupaten Sumbawa Barat) hingga Persela Lamongan U-21. Bahkan, di KSB, dia memulainya dari bawah saat tim tersebut baru memulai untuk ikut kompetisi resmi di bawah PSSI.
 Hingga akhirnya, panggilan sebagai asisten pelatih hingga kini menjadi pelatih kepala pun datang menghampiri.
 ‘’Dulu, saya begitu tegang. Semua kejadian dilakukan saya pikir serius,’’ kata Ibnu saat ditemui di Surabaya pada akhir Desember 2012.
 Ini, lanjutnya, membuat dia malah merasa terbebani. Imbasnya, ayah tiga anak tersebut tak bisa leluasa mengeluarkan semua ilmu yang dimiliki.
 Namun, sekarang, Ibnu sudah berubah. Dia tak lagi tegang saat membawa timnya menggelar uji coba jelang laga IPL 2013 dimulai.
 ‘’Rileks saja kuncinya,’’ lanjutnya.
 Selain itu, semakin banyaknya ilmu yang didapat juga mampu mengubah cara melatih. Kini, Ibnu sudah memegang lisensi pelatih A AFC (Federasi Sepak Bola Asia).
 ‘’Saya juga sudah tahu psikologi menangani tim. Urusan sepak bola hanya di lapangan, jangan dibawa ke rumah. Itu akan membuat kacau semuanya,’’ terang lelaki yang juga pernah menjadi kapten Persebaya tersebut.
 Ternyata, resep itu diperolehnya dari sosok pelatih senior, M. Basri. Mantan pelatih nasional tersebut selalu rileks dan enjoy dalam menangani tim. ‘’Kalau atau menang dinikmati saja. Buktinya, sampai sekarang Pak Basri sehat terus,’’ ungkap Ibnu.
 Harus diakui, beban sebagai pelatih cukup berat. Apalagi, dia dipercaya menangani tim sebesar Persebaya Surabaya. Selain itu, setelah Jacksen F. Tiago pada era Liga Indonesia, Green Force, julukan Persebaya, sudah tak pernah lagi mengangkat trofi juara.
 Kini, harapan tersebut kembali diberikan ke pundak Ibnu. Ini wajar karena kini di timnya bertabur pemain bintang dari kiper hingga penyerang.
 Di kiper, Persebaya yang berlaga di kompetisi Indonesia Premier League (IPL) memiliki Endra Prasetyo, di belakang ada sosok senior Erol Iba. Bahkan, di tengah, mereka disokong trio mungil dengan teknik jempolan, yakni Taufiq, Rendi Irwan, serta superstar Andik Vermansah.
 Di depan, Ibnu punya andalan Fernando Soler asal Argentina yang musim lalu 13 kali menjebol gawang lawan.
 ‘’Saya tetap akan berusaha. Yang jelas, saya tak akan mau gagal lagi.’’. (*) 

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com