www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 15 Januari 2013

Kidal Maut Pahlawan Indonesia Raih Emas SEA Games 1991

SUKSES: Hanafing (foto; sidiq)
CARI pemain kidal di Indonesia bukan pekerjaan mudah. Itu disebabkan kebiasaan pemain Negeri Jamrud Khatulistiwa yang mengefektifkan kaki kanan.
 Tapi, Hanafing di luar kebiasaan. Dengan mengandalkan kaki kirinya, dia lama malang melintang di kancah sepak bola Indonesia. Bahkan, selama sembilan tahun, kaki kirinya mampu mengantarkan lelaki kelahiran 1963 tersebut menjadi penggawa Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia.
 ‘’Dari kecil, saya memang menendang dengan kaki kiri,’’ terang Hanafing sat ditemui Selasa (15/1).
 Ya, kaki kiri Hanafing sangat ditakuti. Bukan hanya lihai dipakai mengecoh lawan, tapi kaki kirinya itu juga bisa dipakai melepaskan tendangan yang sangat keras dan umpan yang terukur.
 ‘’Banyak gol yang lahir dari tendangan kaki kiri ini,’’ terangnya sambil memegang kaki yang melambungkan namanya itu.
 Ya, karir Hanafing dimulai dari kampung halamannya, Makassar. Sejak usia 18 tahun, dia sudah memperkuat Pasukan Ramang, julukan PSM.
 ‘’Hanya masih di level junior,’’ kenangnya.
 Penampilannya di sisi lapangan bagian kiri membuat ayah dua anak tersebut sempat mengecap pendidikan di Diklat Ragunan, Jakarta. Di tempat tersebut, kemampuannya semakin terasah.
 ‘’Banyak ilmu yang saya peroleh di Ragunan. Saya merupakan angkatan awal di sana,’’ ucap Hanafing.
 Setelah lulus Ragunan, Hanafing tak perlu susah-susah mencari klub. Dia bergabung dengan klub legendaris asal Surabaya yang dibina A. Wenas, Niac Mitra.
 Bersama klub yang mempunyai kostum kebesaran hijau-hijau, sinar Hanafing  semakin terang. Ini juga didukung usianya yang semakin matang. Dia pun sukses mengantarkan Niac Mitra juara Galatama pada musim 1987-1987.
 Kebahagian Hanafing semakin lengkap dengan kepercayaan membela timnas pada SEA Games 1989 di Kuala Lumpur, Malaysia, dan 1991 di Manila, Filipina. Sayang, dalam dua keikutsertaannya itu, Hanafing hanya sekali mengantarkan Indonesia meraih emas pada 1991.
 ‘’Pada 1989, kita kalah dari Singapura pada babak semifinal. Golnya terjadi pada menit terakhir,’’ kenangnya.
 Untung,  kegagalan itu terbalas dua tahun kemudian. Dengan materi yang tak banyak berubah, Pasukan Garuda meraih emas dengan menundukkan  Thailand di final melalui drama adu penalti. ‘’Salah satu penendangnya ya saya. Tembakan saya tak bisa ditahan kiper Thailand,’’ ungkap Hanafing.
 Sampai sekarang, dia masih bangga dengan capaian di Manila. Alasannya, emas tersebut merupakan emas  penentu Indonesia menjadi juara umum. Selain itu, sampai sekarang, Indonesia juga belum juga berhasil menggapai emas di cabang olahraga bergengsi tersebut.
 Hanafing membela Niac Mitra hingga klub tersebut bergenti menjadi Mitra pada 1995. Setelah itu, dia hengkeng ke Persegres Gresik. ‘’Setelah itu, saya pensiun sebagai pemain dan konsentrasi sebagai pelatih,’’ lanjut dia.
 Selama akhir karirnya di Mitra dan Persegres, sebenarnya Hanafing juga sudah merangkap sebagai asisten pelatih. Setelah total sebagai pelatih, tiga tahun dia dipercaya menjadi arsitek tim Popda Jawa Timur (Jatim).
 ‘’Tiga tahun menjadi runner-up terus,’’ tambahnya sambil terkekeh.
 Pada 1999, akhirnya Hanafing mendapat kepercayaan menangani Persid Jember. Dua tahun sudah cukup baginya membawa Macan Sangar, julukan Persid, menembus Divisi I.
 ‘’Setelah itu, saya ke Mojokerto Putra dan juga membawanya ke Divisi I. Habis itu, Persiku meminang saya,’’ jelasnya.
 Hasilnya? Persiku pun diangkatnya ke Divisi I juga.. Ini membuat dia mendapat julukan pelatih spesialias mengangkat tim ke Divisi I. Tim legendaris perserikatan PSM Makassar juga pernah memakai jasa dan tenaga Hanafing selama tiga tahun.  Kali terakhir, dia menangani PSIM Jogjakarta.
 “Saya juga konsentrasi menjadi instruktur FIFA,’’ ungkapnya. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com