www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kamis, 10 Januari 2013

Mat Halil, Setia di Kampung Halaman

BERTAHAN LAMA: Mat Halil (foto: sidiq)
DAFTAR pemain legenda di Persebaya Surabaya sangat panjang.  Nama Yusuf Ekodono, Mursyid Effendi, dan Bejo Sugiantoro layak dimasukkan.
 Tapi, ada satu nama lagi yang tak boleh dihapus. Siapa? Mat Halil. Kok bisa? Ya, kesetiaan pemain yang biasa beroperasi di sisi lapangan tersebut layak dapat acungan jempol.
 Sejak 1999, pemain kelahiran 1979 tersebut tak pernah berpindah klub. Beda dengan Yusuf, Mursyid, dan Bejo. Yusuf setelah keluar dari Green Force, dia berpindah-pindah klub. PSM Makassar, Persitara Jakarta Utara, Gelora Dewata, hingga Persijap Jepara pernah dibelanya.
 Sedang Mursyid nyaris sempurna. Sayang, menjelang pensiun, dia hengkang ke Persiku Kudus. Padahal, setelah membela klub dari Kota Kretek, julukan Kudus, dia tak lagi mengolah si kulit bundar sebagai pemain.
 Untuk Bejo, karena kecewa, dia pun meninggalkan tim pujaan warga Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Meski, sebelumnya, pada 2002, dia sempat tergoda rayuan klub kaya raya saat itu, PSPS Pekanbaru. Setelah itu, dia kembali ke Persebaya hingga 2009. Mitra Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi pelabuhan karirnya. Setelah itu, dia membela Deltras Sidoarjo dan kini di Persidafon Dafonsoro.
 ‘’Kalau saya, sejak 1999 ya di Persebaya. Meski, tawaran sempat datang bertubi-tubi,’’ tegas Halil usai berlatih di Lapangan Bungurasih (8/1).
 Dia mengaku membela Persebaya sudah menjadi impiannya sejak kecil. Sehingga, dia merasa berat meninggalkan klub berlogo Suro dan Boyo itu.
 ‘”Setelah membela Persebaya Junior, saya magang di senior. Untung, saya bisa masuk di posisi inti,’’ ucapnya.
 Posisi bek sayap menjadi tempat yang susah diotak-atik. Meski, setiap musim, pemain silih berganti ke klub yang lama bermarkas di Gelora 10 Nopember itu.
 Di Persebaya, lanjut Halil, dia pernah merasakan suka dan duka. Suka, tambah dia, saat Persebaya mampu menjadi juara Liga Indonesia saat ditangani Jacksen F. Tiago pada 2005. ‘’Sedihnya ya tentu saat degradasi. Dua kali saya merasakannya pada 2002 dan 2006,’’ kenang Halil.  Untung, Persebaya bisa kembali ke habitanya, yakni level tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia. 
 Selama membela Persebaya, pada 2002, Halil sempat mempunyai pengalaman yang menarik. Dia diplot sebagai penyerang. Hasilnya? ‘Saya langsung cetak gol di Gelora 10 Nopember,’’ terang dia.
 Dia berani menjadi penyerang karena sebagai pemain, lelaki kelahiran 1979 tersebut punya kelebihan dalam kecepatan. Jadi, saat ada tawaran pelatih Persebaya saat itu, Rusdi Bahalwan. Dia tak menolaknya.
 ‘’Yang penting bisa berbuat bagi Persebaya. Sayang, saat itu, Persebaya degradasi.’’
 Sampai kini, dia pun tak punya pikiran hengkang ke klub lain. Apalagi, saat ini, usianya sudah tak muda lagi.
 Nah, menjelang akhir karirnya, Halil pun mulai belajar melatih. Kini, dia sudah mengantongi lisensi C kepelatihan. ‘’Saya berharap ilmu yang saya peroleh selama menjadi pemain bisa dipadukan dengan ilmu kepelatihan. Semoga akan lahir pesepak bola-pesepak bola yang bisa melanjutkan karir saya,’’ tambah dia.
 Ada hal lain yang menarik dari sosok pemain yang sukses membawa Jawa Timur meraih emas pada PON 2000 itu. Apa? Sekarang, Halil tercatat sebagai pemilik klub anggota internal Persebaya El Faza. Di klub itu, Halil membina ratusan talenta-talenta muda potensial. (*)


Siapa Mat Halil?
-Lelaki ini lahir 1978 dan kini masih aktif di Persebaya yang berlaga di kompetisi Indonesian Super League
-Kini, posisinya bukan lagi wing back tapi gelandang sayap. Ini didasarkan nalurinya yang tinggi dalam menyerang dibandingkan bertahan.
-Sejak 1999, dia belum pernah hengkang ke klub lain meski pernah beberapa kali dirayu hengkang.
-Pernah merasakan jadi penyerang saat Persebaya ditangani Rusdy Bahalwan pada 2002.
- Kini jadi bapak dua anak dan punya klub sepak bola El Faza yang berlaga di kompetisi internal Persebaya Surabaya.


0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com