www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 21 Januari 2013

Si Kumis, Sang Jagal Masa Lalu

MASA KINI: Lulut Kistono (foto: sidiq)
PERUTNYA mulai membuncit. Tapi, kumis yang melintang tetap membuat wajahnya terlihat sangar meski usianya sudah menginak 45 tahun. Sesangar permainannya di lapangan hijau saat masih aktif sebagai pemain.
 Ya, dialah Lulut Kistono. Dia termasuk pemain belakang yang dikenal garang dan tak kenal kompromi.
 Imbasnya, dia pun pernah terkena skorsing dari PSSI pada Kompetisi Galatama 1993/1994. Gara-garanya, dia memukul penyerang Arema Singgih Pitono.
 ‘”Saat itu, saya membela Mitra Surabaya. Saya emosi karena Singgih menyikut saya,’’ kata Lulut saat ditemui di kediamannya di kawasan Bogangin, Surabaya, pada Minggu (20/1).
 Padahal, dia sudah menegur Singgih dengan baik-baik. Apalagi, keduanya berkawan di Arema.
 ‘’Dia tak peduli dengan teguran saya, ya langsung saja saya pukul,’’ kenang Lulut sambil tersenyum.
 Gara-gara skorsing itu, Lulut kena hukuman dua tahun. Vonis itu tentu saja membuat asap dapurnya tak bisa mengepul.
 ‘’Saya langsung ke Jakarta untuk menemui ketua umum PSSI saat itu Azwar Anas untuk merinta keringanan. Akhirnya, saya kena 1 tahun saja dan musim berikutnya sudah bermain lagi,’’ jelas bapak tiga anak tersebut.
 Ya, sejak remaja Lulut memang dikenal dengan permainan kerasnya. Gagal  memperkuat PSSI Garuda II karena kelebihan usia, Lulut pun bergabung dengan Arseto pada 1987. ‘Saya diajak om Solekan (mantan pelatih timnas dan Arseto). Saat itu, saya juga masih sekolah,’’ terangnya.
 Di klub asal Kota Bengawan, julukan Solo, itu Lulut bertahan hingga 1992. Di klub yang bermarkas di Stadion Sriwedari itu, dia dipasang sebagai bek kanan.
 Beruntung, dia Arseto dia mempunyai senior-senior yang selalu membimbingnya. Nama-nama Hartono Ruslan, Eduard Tjong, ataupun juga penyerang legendaris Ricky Yacobi mengarahkannya menjadi pesepak bola profesional. Selain itu, beberapa pemain seangkatannya seperti Sudirman dan Imron Assad menimbulkan kompetisi positif di tim.
 ‘’Banyak yang saya dapat dari Arseto. Itu membentuk mental saya di lapangan,’’ ungkapnya.
 Selama di Arseto, Lulut pun merasakan membela Indonesia berlaga di ajang Piala Raja (King Cup) di Bangkok, Thailand. Dia bergabung bersama para pemain terbaik Galatama di era tersebut.
 Selain itu, dia juga membela Arseto dalam beberapa kali pertandingan persahabatan melawan tim mancanegara. Sayang, kebersamaan Lulut dengan Arseto  hanya bertahan  selama tiga tahun.
 ”Datangnya para pemain Garuda II membuat saya pindah dari Arseto,’’ terangnya.
  Setelah dari Arseto, beberapa klub pun mulai disinggahi Lulut. Mulai dari Barito Putra, Arema, PSIS Semarang, Mitra Surabaya, hingga Putra Samarinda. Namun, dari semua klub itu, dia tak pernah membawa timnya juara.
 Hingga akhirnya Lulut pun pensiun pada awal 2000-an dan mulai menekuni profesi sebagai pelatih. Barito Putra, Persikubar Kutai Barat, KSB (Kabupaten Sumbawa Barat), dan Deltras Sidoarjo pernah ditangan.
 Di sela-sela menangani tim luar Surabaya, Lulut masih menyempatkan berbagi ilmu di klub asalnya, Indonesia Muda (IM), klub anggota internal Pengcab PSSI Surabaya. Dia berharap dari polesannya akan lahir penerus-penerusnya yang bersinar di lapangan hijau. Tentu, mainnya nggak sekeras Lulut. (*)


Biodata
Nama        : Lulut Kistono
Lahir    : Surabaya, 26 Maret 1968
Alamat        : JL. Bogangin IIA / 14A Surabaya

Karir Pemain    :
1987-1992: Arseto Solo
1992-1995: Arema Malang
1996-1997: Barito Putera
1998-199: Mitra Surabaya
2000-2001: Persisam Putera Samarinda
Karir Pelatih    :
2002-3003: Sampit
2003-2004: Persikubar Kutai Barat
2004-2005: Barito Putera Banjarmasin
2005-2007: Persiko Kota Baru (Lolos Divisi I)
2007-2009: Persikubar Kutai Barat (promosi Divisi I)
2009-2010: Mitra Kukar Kutai Kartanegara (bertahan di Divisi Utama)
2010-2011: KSB (Kabupaten Sumbawa Barat)
2012: Deltras

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com