www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Ke Surabaya, Selalu Sempatkan Makan Rawon

NGULING: Jacksen saat makan rawon
SURABAYA tak akan pernah lepas dari kehidupan seorang Jacksen F. Tiago. Di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, dia memperoleh segalanya dari sepak bola. Gelar juara, pencetak gol terbanyak, dan juga masyarakat yang akan selalu menghormatinya.
 Bersama Green Force, julukan Persebaya, saat menjadi pemain, dia mengangkat trofi juara di musim 1996-1997. Satu hal yang belum dirasakannya saat membela dua klub sebelumnya, Petrokimia Putra Gresik di musim 1994-1995 dan PSM Makassar setahun kemudian. Bahkan, di musim itu juga, Jacksen menjadi pencetak gol terbanyak.
 Setelah itu, dia sempat berkelana ke beberapa klub di luar Indonesia seperti Guangzhou Matsunichi (Tiongkok) dan Geylang United serta Home United (keduanya klub Singapura). Jacksen pun mengakhiri karirnya sebagai pemain di Petrokimia Putra pada 2001.
 Namun, di Surabaya juga, bapak tiga anak itu memulai karir sebagai pelatih. Kedekatannya dengan M. Barmen membuat Jacksen dipercaya menangani Assyabaab, klub internal Persebaya, sekarang Askot PSSI Surabaya, selama 2002-2003. Di tangannya, klub pujaan masyarakat Ampel itu menjadi juara Kelas Utama Persebaya.
 Dari sinilah kegemilangan dan tangan dingin lelaki kelahiran Rio de Janeiro, Brasil, 28 Mei tersebut dimulai. Pada 2003-2004, Jacksen mendapat kepercayaan besar menangani Persebaya. Klub pujaan Bonekmania tersebut dibawanya kembali ke Divisi Utama pada 2003 dan menjadi juara Divisi Utama setahun kemudian.
 Lama dan bergulat dengan masyarakat Surabaya membuat dia pun tahu dengan boso Suroboyo. Yang menariknya, sampai sekang, Jacksen kesengsem dengan rawon. Dalam wikipedia, rawon disebutkan merupakan makanan sup daging dengan bumbu khas kluwek yang membuat kuahnya menjadi hitam.
 Saat  dia menangani tim luar Surabaya seperti Persita Tangerang, Persiter Ternate, dan Persipura, Jacksen selalu menyempatkan makan rawon. Itu tidak dilakukan sendiri.
 ‘’Saya suka sekali dengan rawon. Kalau kumpul dengan teman-teman, makannya tambah enak karena bisa tertawa-tawa,’’ ujar Jacksen.
 Rumah makan rawon Nguling di kawasan Sepanjang, Sidoarjo, sering menjadi tujuan utamanya. Rawon daging yang dipadukan dengan telor asin, habis disantapnya.
 Hanya sayang, minuan bersoda kesukaannya tidak ada di warung tersebut. Sebagai gantinya, dia pun memesan minuman berasa buah.
 ‘’Lega sekali bisa makan rawon daging. Saya juga membungkus untuk di makan nanti di rumah,’’ ujar Jacksen.
 Sebelum pulang, dia pun menyempatkan waktu berfoto bersama rekan-rekannnya yang berasal dari berbagai profesi mulai penjahit sepatu hingga mahasiswa. (*)
 
Read More

Bekas Mes Arseto Itu Sudah Semakin Tertutup

LEBAT:Pintu samping masuk Mes Kadipolo
GEDUNG tua itu mulai tertutup warung-warung di depannya. Bahkan, ada pagar seng yang membuat orang tak bisa masuk.
Semua itu merusak keindahan bangunan yang lebih dikenal sebagai Rumah Sakit Kadipolo. Bangunan yang berada di Jalan Dr Radjiman, Solo, tersebut kali terakhir menjadi mes dari klub legendaris, Arseto Solo.
Bukan hanya tidur, penggawa klub milik keluarga rezim Orde Baru itu juga berlatih di tempat itu. Sebuah lapangan berukuran sekitar 80x90 meter menjadi tempat para pemain bayaran Arseto memeras keringat dan menjalankan instruksi pelatih.
Sekarang, lapangan itu pun masih ada. Hanya, sudah tak terawat seperti saat masih dipakai Arseto.
Jika dulu hamparan rumput hijau bak permadani, kini warnanya sudah berubah menjadi cokelat dan banyak kerikil-kerikil.
Sementara, saat penulis mencoba lewat pintu masuk samping bangunan, banyak tanaman-tanaman liar. Apalagi, saat itu, penulis menyambanginya pada malam hari.
Rumah Sakit Kadipolo atau Mes Arseto ini terlihat seram dan menakutkan. Ini semakin menambah cerita mistis tempat yang dulunya milik pihak Keraton Surakarta itu.
"Dulu, sering terdengar suara anak-anak bermain. Atau juga ada suara kereta dorong yang membawa pasien," kenang Harto Ruslan, mantan pemain yang juga pernah menjadi asisten pelatih Arseto.
Itu, lanjut dia, selalu terjadi pada para penghuni mes. Bahkan, salah satu pemain muda menjelang Arseto bubar pada 1998, Dwi Adi Nugrahanta, punya kisah yang tak kalah menyeramkan. Saat dia mengenang kejadian itu, bulu kuduknya pun berdiri.
"Saya sudah sering dengar cerita-cerita itu, jadi saya pun takut kalau keluar malam," ungkap lelaki berposisi kiper yang akrab disapa Badut itu.
Nah, pada suatu malam, dia pun ingin mandi. Namun, untuk menutup ketakutannya, pintu kamar mandi dibiarkan terbuka.
" Tapi, saat gosok gigi, ada tangan yang memegangi pinggang saya. Saya pun tak berani menoleh dan langsung lari," terang lelaki yang hanya membela Arseto selama dua musim 1997-1998 itu.
Mes Arseto pun pernah menjadi tempat pengambilan gambar acara televisi yang berisikan tempat-tempat yang dianggap dihuni makhluk halus. Ini seolah mempertegas bahwa bangunan itu memang angker. (*)
Read More

Gaji Tersendat, Pilih Jualan Ikan

DAGANG: Dwi Adi ''Badut" Nugrahanta


POSTURNYA tak banyak berubah. Hanya ada sedikit lemak dan kulitnya agak menghitam.
Memang, sosok ini belum pernah mendapat kepercayaan masuk tim nasional Indonesia. Namun,selama hampir 16 tahun, dia tercatat sebagai salah satu kiper yang berlaga di kancah sepak bola Indonesia.
Dia adalah Dwi Adi Nugrahanta. Lelaki kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, pada  1978  ini hampir selalu berlaga di level atas kompetisi sepak bola di tanah air.
"Saya masuk Arseto pada 1997. Jadi hanya dua musim membela klub itu," jelas kiper yang akrab disapa Badut itu.
Dia, jelasnya, direkrut dari klub internal Persis Solo, ASMI. Nama klub itu juga merupakan tempat Dwi menuntut ilmu.
Setelah Arseto bubar pada 1998, petualangan kakak kiper PSIS Semarang Catur itu dimulai. Persijap Jepara dibelanya sejak 1998.
"Hampir lima musim saya bergabung di Persijap. Setelah itu, 2005-2007, saya ke PSS Sleman," papar Dwi.
Persibo Bojonegoro menjadi klub di luar Jawa Timur pertama yang diperkuatnya. Pada 2009, Dwi punya pengalaman memperkuat tim luar Jawa, Persih Tembilahan.
"Pada 2010-2011, saya kembali ke Solo dengan menjadi kiper Persis di ajang IPL (Indonesian Premier League)."
Menjelang akhir karir,Dwi Adi kembali ke Laskar Angling Dharma,julukan Persibo. Karena gaji yang terbayar, dia pun akhirnya memutuskan pensiun.
"Saya lebih baik bisnis jual ikan segar aja. Pendapatannya pasti buat anak dan istri," ungkap lelaki yang kini mempunyai tiga anak perempuan itu. (*)

Read More

Lepas Kangen dengan Pasar Klewer dan Tengkleng

KENANGAN: Lulut Kistono di depan mall di Solo (foto:sidiq)

SOLO menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Lulut Kistono.  Lelaki kelahiran 1968 itu memulai karir profesionalnya bersama klub legendaris dari Kota Bengawan,julukan Solo, Arseto, pada 1987.
 Di kota itu pula, Lulut juga mendapat ijazah SMA. Di Arseto pula, lelaki yang juga biasa disapa Doyok itu merasakan manisnya menjadi juara Galatama.
Kini, Lulut pun datang ke Solo. Dia pun tak membuang kesempatan selama berada di kota yang juga dikenal dengan kerajinan batiknya itu.
Bersama sang anak, Fio, bapak tiga anak itu melepaskan rindu dengan suasana kota yang pusatnya dibelah rel kereta api itu.
"Banyak kenangan di Solo. Sehari mungkin nggak akan selesai untuk menelusuri.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    tempat tempat kenangan," jelas dia.
Pasar Klewer menjadi tujuan pertama Lulut. Dia juga datang bersama dua anak asuhnya di PS Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, Dedi Sutanto (kiper) dan pemain depan Rico Simanjuntak. Setelah itu, mereka  menuju ke Tengkleng Pak Manto.
Makanan olahan kambing khas Solo itu menjadi lampiasan Lulut yang lama tak memakannya. Setelah perut kenyang, lelaki yang dikenal bermain keras saat aktif sebagai pemain tersebut mengunjungi toko sepatu dan apparel olahraga di depan sebuah mall baru.
"Mall itu dulunya kan rumah sakit. Sudah banyak yang berubah dengan Solo," papar Lulut.
Dia masih berharap bisa datang lebih lama ke Solo. Baginya, Solo sudah mengubahnya dari pemain muda yang masih polos dari Surabaya menjadi pemain yang disegani di pentas sepak bola nasional. (*)

Read More

Si Codet yang Tak Kenal Kompromi

ANAK ASUH: Untung Sudrajat (kiri) bersama tim SD Bratan 1

SEBUAH luka di pipi membuat dia dipanggil Codet. Goresan itu didapat gara-gara sikap bengalnya saat masih muda.
Bahkan, di alis, juga ada bekas sayatan. "Kalau ini karena kena sikut Mono," kata lelaki bernama Untung Sudrajat saat bertemu penulis usai mendampingi anak asuhnya di SD Bratan 1, Solo, di sebuah lapangan kampung di Kota Bengawan, julukan Solo, pada Sabtu siang (27/9).
Mono yang dimaksud adalah Firman Sukmono, pemain PSIS Semarang. Semua luka itu didapat Untung saat membela Arseto Solo, klub dengan basic profesional milik keluarga anak mantan Presiden Soeharto, Sigit Harjojudanto yang bubar pada 1998.
Ya, Arseto merupakan klub yang membesarkan nama Untung di era Liga Indonesia. Di klub berjuluk Elang Biru itu pula, dia mempunyai bekal menjadi pesepak bola yang disegani di Solo dan Jawa Tengah.
"Saya membela Arseto sejak Liga Indonesia di mulai. Saya diambil dari Diklat Arseto," kenang lelaki kelahiran 1974 itu.
Untung bisa menembus Diklat Arseto setelah terpantai dari turnamen usia dini antarklub Solo. Dia direkrut dari klub PPP (tapi klub ini tak ada hubungan dengan partai politik yang berlogo Ka'bah).
"Cita-cita saya memang ingin bisa bermain di Arseto. Sebagai warga Solo, siapa yang tidak bangga bisa menjadi pemain Arseto," ujar Untung.
Luka yang dialami di pipi dan alis juga menjadi bukti kebengelan lelaki yang kini dikaruniai dua putri itu. Ini tak jauh beda ketika di lapangan.
Sebagai gelandang bertahan, Untung dikenal sebagai pekerja di lapangan yang tak segan mematikan playmaker-playmaker di lapangan.
Dia juga mempunyai tugas mematikan aliran serangan lawan sebelum berusaha masuk zona penalti Arseto. Sayang, di saat prestasi dan namanya terangkat, Arseto bubar pada 1998 saat situasi politik Indonesia tengah genting.
"Sangat sedih ketika Arseto dinyatakan bubar," terang Untung sambil pandangannya menerawang jauh seperti mengingat kejadian yang tak diinginkannya itu terjadi.
Namun, dengan label Arseto, tak susah baginya mendapat klub baru. Banyak klub yang memintanya bergabung.
Namun, Untung akhirnya menjatuhkan pilihannya ke PSIS Semarang. Bersama klub Mahesa Jenar itu, Codet merasakan jatuh bangun.
"Menang, kalah, degradasi, dan uang banyak pernah saya rasakan di PSIS. Di klub itu, saya lima tahun di sana hingga 2003," papar Untung.
Tawaran di Persela Lamongan pada 2003 membuat Untung pun meninggalkan. PSIS. Sayang, masalah internal membuat dia batal bergabung dengan tim pesisir utara Pulau Jawa yang masuk provinsi Jawa Timur itu.
"Saya datang atas rekomendasi Hamdani Lubis sebagai pelatih. Saat dia gagal di Piala Gubernur dan diganti Riono Asnan, saya ikut mundur," ungkap dia.
Meski, tambah Untung, dia tak punya masalah dengan Riono. Hanya, lelaki yang besar di kawasan Banyuanyar itu tak cocok dengan pola latihan Riono.
"Saya membela Persekaba Badung. Semusim di sana," ujarnya.
Panggilan membela klub kampung halamannya yang mulai menanjak, Persis Solo, tak kuasa ditolak. Musim 2004-2005, menjadi tahun manisnya.
"Dua tahun, saya mengangkat Persis promosi ke Divisi 1 dan Divisi Utama. Pelatihnya  Hartono (Ruslan) dan Hanafi," lanjut Untung.
Namun, saat Suharno, yang kini menukangi Arema Cronus, datang, Untung dipinggirkan. Dia pun membela Pesik Kendal. Setelah itu, tawaran Persekaba Blora di musim 2008 pun sempat menghampiri.
"Hanya, cedera membuat saya memilih mengundurkan diri," jelas Untung.
Di sisa karirnya, Persebi Boyolali sempat memakai tenaganya. Di klub yang berbatasan dengan Solo itu pula, Untung akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu.
Dia pun mulai menekuni bidang di luar sepak bola. Terjun sebagai pemborong bangunan pun dirambah.
"Sejakj 2009-2011, saya mengerjakan banyak proyek di Solo dan sekitarnya. Bahkan, sampai juga di Bantul, Jogjakarta," tambah Untung.
Namun, di bidang itu pula, Untung kehilangan banyak uang. Ini membuat dia pun memilih kembali ke sepak bola.
"Hanya, saya bukan lagi sebagai pemain tapi sebagai pelatih. Yang saya tangani pun bukan pemain senior tapi anak-anak," kata Untung.
Bersama rekannya di Arseto, Ansar Ahmad, Untung menangani Solo United. Dengan tangan dinginnya, klub yang berlatih di Lapangan Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, itu pun menjadi klub yang disegani di Jawa Tengah.
"Saya ingin melahirkan pesepak bola bagus dari Solo United," pungkas Untung. (*)

Sekilas tentang si Codet
Nama Lengkap; Untung Sudrajat
Usia; 40 tahun
Posisi semasa pemain; Gelandang bertahan
Klub yang dibela
1991; PPP Solo
1993; Diklat Arseto
1994-1998: Arseto Solo
1998-2003; PSIS Semarang
2004; Persekaba Badung
2005-2006; Persis Solo
2007-2008: Pesik Kendal
2009:Persebi Boyolali

Tim yang ditangani
2011-..: Solo United
Read More

Bukan Dibayar untuk Dipinjam Lisensinya

MONCER: Hartono Ruslan (foto:sidiq)

SRIWIJAYA FC menjadi juara Indonesia Super League (ISL) musim 2011-2012. Orang pun lebih mengenal Kashartadi sebagai pelatihnya.
 Namun, sebenarnya bukan dia yang duduk sebagai arsitek kepala tim. Ya, Hartono Ruslan-lah yang tercatat sebagai pelatih kepala tim asal Palembang, Sumatera Selatan.
 ‘’Memang, sayalah pelatih kepalanya dan Kashartadi sebagai asisten kepala. Namun, itu bukan masalah bagi saya,’’ jelas Hartono saat ditemui di rumahnya di kawasan Banyuanyar, Banjarsari, Solo, pada Sabtu malam (19/9).
 Dia pun merasa tak dilangkahi oleh Kashartadi, Dia selalu konsultasi dengana saya dalam setiap membuat program latihan,’’ terang lelaki yang kini berusia 54 tahun tersebut.
 Selain itu, si Kijang, julukan Kashartadi saat masih aktif sebagai pemain juga bukan orang asing baginya. Lelaki yang menjadi bagian dari timnas Indonesia saat meraih emas cabang olahraga sepak bola SEA Games 1991 itu pernah ditangani Hartono saat membela Arseto Solo 1992-1994 dan 1997-1998.
 Status sebagai pelatih kepala namun lebih banyak berada di belakang layar bukan kali pertama dilakoni Hartono. Sebelumnya, dia melalukannya di Persela Lamongan dan Perseman Manokwari.
 Di dua klub itu, Hartono berpartner dengan Djoko Susilo. Pertama di Persela Lamongan pada 2009 serta Perseman setahun berikutnya.
 Di Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, tim pesisir utara Pulau Jawa itu mampu diselamatkann dari degradasi. Sayang, capaian itu belum mampu memikat manajemen Persela mengikat kembali Djoko.
 Di bumi Papua bersama Perseman, Hartono dan Djoko membuat Perseman bisa berada di papan atas. Namun,  itu belum membuat manajemen puas.
 Menjelang akhir kompetisi, Djoko diberhentikan. Hartono pun sempat mendapat tawaran untuk menjadi pelatih kepala menggantikan sahabatnya itu.
 ‘’Namun, saya pilih ikut mundur. Saya yang mengajak Djoko, jadi saat Djoko diputus kontrak, saya memilih mundur sebagai solidaritas,’’ ucap Hartono.
 Di saat menganggur, Kashartadi mendatangi rumahnya pada 2011. Hartono diajak berduet dengannya di Sriwijaya FC. Duet ini mampu meracik strategi yang membuat klub itu mengangkat trofi terhormat.
 Sayang, setahun kemudian, Kashartadi diberhentikan di tengah jalan. Lagi-lagi, Hartono menunjukan kesetiaannya. Dia menolak menangani sendiri Sriwijaya.
 Pada musim 2014, kejadian serupa terulang. Kali ini, Aris Budi Sulistyo yang datang kepadanya.
 Hartono diminta Aris menemaninya menangani Persik Kediri, Jawa Timur. Lisensi yang dimiliki lelaki asal Malang, Jawa Timur,  itu mendapat landasan utama.
 Lisensi Aris belum bisa untuk menempatkan dirinya menjadi pelatih kepala. Hanya, dibandingkan di Persela, Perseman, dan Sriwijaya, kondisinya berbeda.
 ‘’Saya nggak pernah diajak diskusi bareng membuat program. Aris jalan sendiri dan saya di lapangan ya melihat saja,’’ ungkap Hartono.
 Di tangan Aris, Macan Putih, julukan Persik, babak belur. Mereka tak pernah menang dalam beberapa pertandingan. Imbasnya, mantan bek Mataram Indocement, Arseto Solo, dan Arema Malang serta Persik itu pun dipecat.
 ‘’Namun, yang dipecat hanya Aris dan pelatih kiper Sukrian. Saya tak ikut Aris karena saya memang tak pernah diajak membuat program. Kalau saya dilibatkan, saya pasti juga ikut mundur,’’ ujar Hartono.
 Apalagi, salah satu pengurus Persik mendatangi Hartono. Dia meminta agar lelaki yang juga beberapa kali membela Liga Selection itu menularkan ilmu.
 ‘’Pengurus itu bilang, saya dibayar bukan untuk dipinjam lisensinya. Tapi, saya dibayar untuk melatih,’’ papar dia.
 Statemen itu pun membuat Hartono tertantang. Akhirnya, dia bersama dua asisten, Musikan dan Dwi Prio Utomo, duduk satu meja untuk membahas program menyelamatkan Persik dari degradasi.
‘’Saya tetap di belakang.Namun, program saya yang membuatkan,’’ terang Hartono.
 Hasilnya, luar biasa. Persik mampu memetik kemenangan, bukan hanya di kandang tapi juga tandang. Imbasnya, hingga akhir musim, Macan Putih tetap berada di ISL. (*)

Read More

Kembali Moncer di Klub Pinjaman

TAJAM: Safee  Sali bersama fans di Sidoarjo (foto:sidiq)

SAFEE Sali baru saja menjalani latihan bersama Timnas Malaysia di Gelora Delta Sidoarjo pada Sabtu petang WIB (13/9). Dia pun tampak berjalam tergesa-gesa untuk keluar lapangan.
 Namun, langkahnya terhenti saat penulis memanggil namanya dan menyebut kata Arema. Safee pun langsung berhenti dan membalas uluran tangan.
 ‘’Saya tidak bisa ke Malang karena baru saja datang. Tapi, tadi sempat ketemu teman-teman setelah latihan timnas Indonesia,’’ ujar Safee.
 Ini merupakan kali pertama lelaki 30 tahun tersebut datang ke Indonesia. Padahal, pada 2011,  Negeri Jamrud Khatulistiwa, julukan Indonesia, bukan negeri yang asing baginya.
 Pada musim 2011-2012, Safee tercatat sebagai penggawa klub Pelita Jaya Karawang. Dia menjadi pemain Malaysia pertama yang merumput di kompetisi sepak bola Indonesia.
 Pelita Jaya tertarik memakai Safee setelah setahun sebelumnya dia bermain gemilang bersama Timnas Malaysia di ajang Piala AFF. Selain sukses mengantarkan negaranya menjadi juara event sepak bola bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut untuk kali pertama, lelaki dengan tinggi 173 sentimeter tersebut juga menjadi pencetak gol terbanyak (top scorer) dengan koleksi lima biji.
 Sayang, Arema, yang menjadi klubnya, tak pernah memakai tenaganya. Sejak 2012-2013, Safee dipinjamkan ke klub Malaysia Daruk Takzim. Bergabungnya dia dengan klub asal Johor tersebut juga mengundang kontroversi. Alasannya, sebelumnya, dia sudah menyatakan bergabung dengan Selangor.
 Kontribusi Safee di Daruk Takzim sangat besar.Klub yang berdiri 1972 itu diantarkannya menjadi juara Malaysia Super Leagua (kasta tertinggi kompetisi sepak bola Malaysia). Ini pula yang membawa Safee kembali dipercaya masuk timnas negerinya. (*)

Sekilas tentang Safee Sali
Nama lengkap: Mohd Safee bin Mohd Sali
Usia: 30 tahun
Lahir: Selangor,28 Januari 1984
Posisi: striker

Klub yang dibela
2003-2005:Kuala Lumpur FA
2003: Melaka TMFC (pinjam)
2005-2006:Sarawak FA
2006-2011: Selangor FA
2011-2012: Pelita Jaya
2012: Pelita Jaya
2013-..: Darul Takzim FC (pinjam)
Read More

Dollah Salleh Kembali Tebar Ancaman


RAMAH: Dollah Saleh(foto:sidiq)

SOSOK Dollah Salleh sangat ramah. Dia tak langsung bersedia diajak berbicara penulis meski baru kali bertemu.
 Itu terjadi saat tim yang kini ditanganinya, Tim Nasional Malaysia, tengah menjajal lapangan Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur. Harimau Malaya, julukan Timnas Malaysia, berada di Kota Udang untuk menghadapi Timnas Indonesan dalam laga persahabatan internasional pada Minggu (14/9).
 ‘’Saya baru menangani tim ini. Belum ada hitungan bulan,’’ kata Dollah.
 Namun, dia tak mempersoalkan. Baginya, menangani timnas negaranya merupakan sebuah amanah.
 ‘’Sasarannya memang Piala AFF. Saya hanya melatih, hasilnya tergantung para pemain di lapangan,’’ jelas Dollah.
Dollah sendiri pernah jadi momok bagi sepak bola Indonesia. Bermain sebagai striker, dia sering membuat kalang-kabut pertahanan Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, di era 1980-1990-an.
 Duetnya bersama Zainal Abidin Hasan sangat menakutkan. Mereka pun mampu mengantarkan Malaysia meraih emas dalam SEA Games 1989. Selama sembilan tahun membela negerinya di pentas internasional, lelaki kelahiran 23 Oktober 1963 itu sudah mengemas 48 gol dari 97 pertandingan.
 Di level lokal, gelar juara sudah bukan hal yang asing bagi Dollah. Klub-klub yang pernah dibelanya selalu meraih posisi terhormat.Johor pernah dibawanya menjadi Piala Malaysia pada 1985 dan Charity Shield setahun kemudian.
 Saat hijrah ke Selangor, klub itu mampu diantarkan menjadi pemenang Liga Malaysia dua tahun beruntun 1989 dan 1990. Begitu juga dengan Pahang yang naik ke posisi terhormat dalam Malaysia Premier League I 1992 dan Liga Malaysia 1995.
 Saat memutuskan menjadi pelatih, sukses tetap mengiringi Dollah. Tangan dinginnya membawa MPPJ untuk kali pertama menjadi juara Piala Malaysia untuk kali pertama pada 2003.Setahun kemudian, dua gelar dia sumbangkan bagi klubnya itu di ajang Charity Shield dan Liga Malaysia.
 Ini membuat klub-klub besar Malaysia pun tergiur mengontraknya. Namun, Selangor yang beruntung mendapatkan tanda tangan Dollah pada 2005. Dia dikontrak selama dua tahun.
 Pada tahun pertamanya, Dollah langsung membawa klub barunya memenangi tiga trofi yakni Liga Malaysia, Piala FA, dan Piala Malaysia.
Dia juga mengatasi dahaga gelar Pahang yang selama 21 tahun belum pernah lagi memenangi gelar Piala Malaysia pada 2013 setelah setahun sebelumnya memenangi Malaysia Premier League.  Pada 2014, Dollah mengangkat PDRM menjadi juara Premier League dan promosi ke Super League.
 Capaian-capaian itulah yang membuat Asosiasi Sepak Bola Malaysia mengontraknya selama dua tahun mulai 2014 ini. (*)

Read More

Lebih Pilih Kelola Lapangan Futsal

PENGELOLA: Dwi Santo saat di lapangan futsal (foto:sidiq)
DARI belakang, penulis sempat pangling. Setelah menoleh ke belakang, wajah itu sudah tak asing lagi.
Dia adalah Dwi Santo Putra. Lelaki 36 tahun ini juga akrab disapa Sinyo.
Kini, dia sudah meninggalkan hiruk pikuk lapangan besar. Padahal, sejak kecil, rumput hijau sudah digeluti.
"Sekarang, saya juga sibuk di lapangan hijau. Tapi ini lapangan futsal," jelas bapak satu anak ini.
Dunia futsal, tambah Sinyo, mulai digelutinya sejak 2011. Itu setelah dia dipercaya mengurusi lapangan futsal yang satu lokasi dengan SPBU Buduran, Sidoarjo.
Kali terakhir, dia tercatat membela Persikubar Kutai Barat, Kalimantan Timur. Hasilnya, Persikubar mampu lolos ke Divisi Utama.
Perjalanan Sinyo sebagai pesepak bola dimulai dari klub Indonesia Muda, Surabaya. Dari klub itu juga, dia bisa masuk Persebaya Junior pada 1997.
"Setelah itu, saya diambil Gelora Dewata yang bermarkas di Denpasar, Bali. Saya direkomendasikan Rusdy Bahalwan (pelatih Persebaya) ke Pak Mislan (pemilik Gelora Dewata)," ungkap Sinyo.
Dari Gelora Dewata pula, dia bisa menembus persaingan masuk tim PON Jawa Timur. Sinyo menjadi salah satu penggawa yang sukses membawa tim provinsi paling timur Pulau Jawa itu meraih emas PON 2000 yang dilaksanakan di kandang sendiri.
Bersama Gelora Dewata juga yang membuat dia kenal dengan dedengkot sepak bola Vigit Waluyo. Sepanjang karirnya, dia selalu bergabung denganm klub yang ditangani lelaki putra Mislan tersebut.
Dari Gelora Dewata dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta hingga menjadi Deltraa, Sinyo selalu menjadi bagian. Kiprahnya di klub berjuluk The Lobster itu pun terhenti pada 2005.
"Setelah itu, saya berpindah-pindah klub. Mulai dari Persegi Gianyar, Persewangi, PSIR Rembang, Mojokerto Putra, Barito Putera, hingga Persikubar," ungkap Sinyo.
Meski klub yang dibelanya bukan klub-klub besar namun dia boleh berbangga. Hampir semuanya mampu menjadi juara.
"Setiap tim yang saya bela kalau nggak juara ya promosi ke level di atasnya. Bahkan, ada yang mulai dari Divisi 3," papar dia.
Sebenarnya, setelah memutuskan pensiun pada 2011, dia masih diajak Vigit. Hanya, dia menyadari usianya sudah tak muda lagi.
"Bahkan, tahun ini Bos (Sinyo kalau memanggil Vigit) kembali menawari main," ujar Sinyo.
Namun, kesibukannya mengelola lapangan futsal yang membuat tetap bersikukuh pensiun dari sepak bola. Apalagi, kini lapangan futsal yang dikelolanya bertambah.
"Ada satu lagi di dekat ITS (Institut Teknologi Surabaya). Awalnya sepi tapi sekarang saya sudah kewalahan karena ramai," pungkas Sinyo. (*)

Sekilas tentang Sinyo
Nama Lengkap; Dwi Santo Putro
Usia; 36 tahun
Posisi saat main: Gelandang bertahan/stopper
Klub Asal; Indonesia Muda Surabaya

Klub yang pernah dibela; Indonesia Muda, Persebaya Surabaya, Gelora Dewata, Gelora Putra Delta, Persegi Gianyar, Persewangi Banyuwangi, PSIR Rembang, Barito Putera, Persikubar Kutai Barat
Read More

Bejo-Anang Duet Lagi

Owner SFC Ibnu Grahan (tiga dari kanan) bersama jajaran pelatih
BEJO Sugiantoro dan Anang Maruf ada di Lapangan Mulyorejo, Surabaya. Mereka pun melakukan passing-passing yang akurat.
Namun, kedunya bukan tengah bermain bola. Seperti di era 1990-an dan 2000-an di era kejayaannya saat mengantarkan Persebaya menjadi tim yang disegani di kancah sepak bola nasional.
Bejo dan Anang tengah melatih anak-anak usia belasan tahun yang tergabung dalam Surabaya Football Club (SFC). Diharapkan, sepak bola teknik tinggi yang dimiliki keduanya bisa ditransferkan ke anak asuhnya.
"Anang yang minta duet dengan Bejo. Alasannya, mereka sudah kompak dan pernah bawa Persebaya juara," kata Ibnu Grahan, pemilik SFC.
Hanya, dibandingkan Bejo, Anang belum punya lisensi kepelatihan. Sementara Bejo, yang disebut-sebut sebagai libero terbaik sepanjang masa Indonesia, sudah mengantongi lisensi B.
Selain Bejo dan Anang, di kursi pelatih SFC juga ada mantan gelandang Persebaya, PSIS Semarang, dan Persibo Bojonegoro, Fachrudin. Dia dipercaya sebagai koordinator pelatih.
Ada juga nama stopper Persebaya Jefri Prasetyo. Sama halnya dengan Anang,lelaki yang juga pernah menjadi palang pintu Persis Solo itu belum memiliki lisensi. Masih ada juga Margono. Mantan bek Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS) itu memoles klub Divisi Utama Kabupaten Sumbawa Barat.
Lapangan Mulyorejo sendiri, tambah Ibnu masih dalam proses perbaikan. Namun, dia bangga ternyata itu tak mengurangi animo pemain-pemain muda untuk menyerap ilmu dari pelatih yang dulu pernah merajai di masanya sebagai pemain itu. (*)

Staff Pelatih SFC
Fachrudin (mantan pemain Persebaya)

Bejo Sugiantoro (mantan pemain nasional)

Anang Maruf (mantan pemain nasional)

Jefri Prasetyo (mantan pemain Persebaya)

Margono (mantan pemain ASGSY

Budi (mantan kiper Persekap)

Toha (staff Persebaya)

//
Read More

Bantu Pemkab Sidoarjo saat Tak Dapat Klub

ANAK: Ari Kurniawan bersama tiga buah hati (foto:sidiq)

FAREL, Arshavin, dan Aisha. Ketiganya merupakan buah hati kiper senior Ari Kurniawan.
Menariknya, ketiganya lahir saat dengan status yang berbeda dalam perjalanan karir kiper kelahiran Mojokerto, Jawa Tmur, 37 tahun silam itu.
"Farel lahir saat saya membela Persekabpas Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur) dan  Arshavin di Deltras, Sidoarjo (Jawa Timur)," kata Ari.
Aisha? Anak satu-satunya perempuan hasil pernikahan Ari dengan  Ineke Dwi  itu lahir saat dia tak punya klub alias menganggur.Aisha lahir pada 18 Juli 2014.  Meski, sebenarnya, pada musim  2014, Ari sempat digadang gadang mengawal gawang Persida Sidoarjo, Jawa Timur.  Namun, di detik-detik akhir, posisi Ari digantikan kiper lain.
Pindah dari satu klub ke klub lain memang bukan hal yang asing bagi Ari. Dalam perjalanan karirnya, dia pernah membela Gelora Dewata yang berevolusi namanya menjadi Gelora Putra Delta (GPD) hingga Deltras.
Persekaba Kabupaten Badung, Bali, pun pernah memakai tenaganya. Begitu juga dengan Persekabpas. Bahkan, dia nyaris bergabung dengan Mitra Kukar (Kutai Kartanegara), Kalimantan Timur. Sebelumnya akhirnya Ari lebih memilih bergabung dengan Laskar Sakera, julukan Persekabpas.
"Tetapi, sekarang saya sudah nggak laku. Kalah sama kiper-kiper muda," ucap Ari sambil tertawa.
Untung, saat tak punya klub yang memakai tenaganya sebagai kiper, dia punya aktivitas lain. Dia dipercaya mengerjakan pameran-pameran yang diikuti Pemkab Sidoarjo. Sudah beberapa kali Ari dipercaya oleh pemerintahan Kota Udang,julukan Sidoarjo.
Bahkan, dalam waktu dekat, Ari mengerjakan kegiatan Pemkab Sidoarjo yang akan melakukan pameran di Jogjakarta. (*)

 
Sekilas Tentang Ari Kurniawan
Nama Lengkap; Ari Kurniawan Sarwoto
Usia: 37 tahun
Posisi:  Kiper
Nama istri:  Ineke Dwi Setyawati

Anak:
Alfarrel Mahendra Lazzuardi
Arshavin Diandra Syathirbaihaqi
Aisha Cassandra Jasmine

Klub yang pernah dibela:
1997-2000:  Gelora Dewata Bali
2000-2002: Persekaba Badung Bali
 2003-2006: Deltras Sidoarjo
2007-2009: Persekabpas Kab Pasuruan
2009-2010: Deltras Sidoarjo
2010-2012: Persiram Raja Ampat
2013: Deltras

Read More

Ludruk, Sepak Bola Putri, dan Srimulat

KOMPLET: Marem Trisnani (foto:sidiq)

APA hubungannya ludruk dan sepak bola. Jawabannya tentu tidak ada.
Kalau ludruk di bawa ke lapangan hijau, sepak bola bakal sudah bisa ditebak ceritanya sebelum pertandingan. Sebaliknya, kalau sepak bola di bawa ke atas panggung, tak ada tawa di sela-sela cerita.
Tapi, semua itu mampu dipadukan dengan baik oleh Marem Trisnani. Perempuan yang usianya sudah 44 tahun tersebut sejak 1990 sudah sukses menekuni ludruk dan sepak bola.
Semua itu tak lepas dari darah yang mengalir dari bapaknya. Lelaki asal Balongbendo, Sidoarjo, tersebut merupakan pesepak bola tersohor di kampung halamannya.
"Hanya saat itu belum ada Persida. Jadi bapak jadi pesepak bola kampung," terang Marem, perempuan yang kini menjadi asisten pelatih Persida Putri itu.
  Seringnya melihat ayahnya bermain sepak bola pun membuat Marem muda kepincut. Dia pun rela meninggalkan olahraga awalnya, atletik, untuk menekuni bola sepak.
"Saya harus ke Tambaksari, Surabaya, untuk bergabung dengan Putri  Gelora. Di klub itu, kemampuan saya terasah," ungkap Marem.
Semula, posisi yang ditempatinya adalah penyerang. Namun, seiring usia yang terus bertambah, Marem berubah-ubah posisi.
"Dari penyerang ke gelandang, akhirnya menjadi libero. Sampai sekarang kalau main, saya jadi libero," tambah Marem.
Marem pun hengkang ke kota kelahirannya ketika dibentuk Delta Putri Sidoarjo (Deltris). Bersama klub itu, dia merasakan mewakili Jatim pada 2003.
"Bahkan, seleksi tim nasional sempat saya ikuti pada 2005. Saya tak dimasukan karena usia saya sudah tak muda lagi,35," tambah Marem.
Dari sepak bola putri pula, dia menjadi pegawai di Pemkab Sidoarjoa. Sayang, meski sudah bekerja sejak 2004, statusnya tak pernah beranjak  dari honorer.
Namun, itu tak membuat ibu dua putri, wastyratu Indra Nili Wijaya dan Hanggareksa Indra Nili Wijaya, itu patah semangat. Dia selalu rajin ke tempatnya bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga.
Setelah bertugas di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, kini Marem berkantor di GOR Bulu Tangkis Sulaksana. Hanya, kesibukannya di sepak bola tetap tak bisa ditinggalkan.
Bedanya, kini, statusnya sebagai asisten pelatih mendampingi Muhammad Ikhsan di Persida Putri.
Hanya, sesekali dia meninggalkan kedua statusnya sebagai karyawan Pemkab Sidoarjo dan asisten pelatih Persida Putri. Ke mana? "Ngelawak bersama rombongan Srimulat Surabaya. Bayarannya jauh lebih besar dibandingkan jadi asisten pelatih atau pegawai ," tambahnya sambil tertawa.
Aktivitas melawak itu pun telah membawanya berkeliling ke berbagai kota di Pulau Jawa. Bahkan, Sulawesi dan Kalimantan telah disinggahi.
"Semua itu tetap dari sepak bola," pungkasnya. (*)

Read More

Dua Kali Rasakan Turun dari ISL

BETAH:Yono Karpono di Mes Deltras (foto:sidiq)

PELATIH kepala boleh datang dan pergi dari Deltras Sidoarjo. Namun, posisi Yono Karpono sebagai asisten pelatih kiper nyaris tak tergoyahkan.
"Sejak 2003, saya sudah menjadi asisten pelatih di era Rudy Keltjes," kata Yono saat ditemui di Mes Deltras.
  Dia mendapat kepercayaan menjadi asisten pelatih kiper karena karirnya memang lebih banyak dihabiskan di bawah mistar. Diajak palang pintu tangguh Hamid Asnan, dia bergabung dengan Assyabaab, Surabaya, pada 1981 saat usianya masih 18 tahun.
Namun, Assyabaab juga tak sembarangan menerima. Klub binaan M. Barmen itu sudah pun tak sembarangan menerima pemain.
"Mereka sudah tahu main saya saat bertemu dalam ajang tarkam di Krian, Sidoarjo. Saya dan Hamid mampu merepotkan Assyabaab yang banyak diisi pemain-pemain Persebaya," jelas Yono.
Dia pun langsung masuk tim Persebaya Surabaya Junior dan tampil di ajang Piala Soeratin. Sayang, selama di klub asal Ampel itu, dia tak pernah mencicipi Persebaya Senior atau pun Assyabaab Salim Group yang berlaga di Galatama.
Setelah 13 tahun di Assyabaab, pada 1996, dia pun pindah ke Putra Surabaya milik Hartono Purnomosidi. Di klub itu pula, Yono memulai karirnya sebagai pelatih.
"Pada 2001 dan 2003, saya menjadi pelatih Persekabpas Kabupaten Pasuruan. Setelah itu, baru saya ke Deltras karena ajakan Keltjes," ungkap lelaki yang bekerja di Puskesmas Porong karena keahliannya bermain bola itu.
Tawaran Deltras pun tak kuasa ditolak. Mulailah Yono menghabiskan waktu-waktunya di The Lobster, julukan Deltras. Hanya di era Deltras dipegang Vigit Waluyo, periode 2008-2010, Yono tak bergabung.
"Pada 2011 hingga sekarang, baru saya kembali ke Deltras," ungkap Yono.
  Di tim pujaan Deltamania itu, Yono dua kali merasakan pahitnya degradasi yakni pada 2008 dan 2012. Namun, itu tak membuat dia jera memoles para kiper Deltras. (*)
Read More

Berkunjung ke Tempat Latihan QPR

HIJAU: Tempat latihan QPR di London (foto:sidiq)


DAPAT tawaran menyaksikan latihan klub English Premier? Hmm, siapa   bisa  menolak.
Memang, yang akan disaksikan bukan klub raksasa seperti duo Manchester, United dan City. Atau pun duo London, Arsenal dan Chelsea. Klub yang akan  saya tonton latihannya adalah Queens Park Rangers (QPR).
Namun, tawaran itu datang langsung dari pemilik klub yang musim ini baru kembali ke EPL itu, Tony Fernandes, saat bersua usai acara penghargaan kepada AirAsia dari Sky Trax di London pada 16 Juli  2014. AirAsia mendapat penghargaan sebagai Maskapai Paling Hemat di Dunia.
Hanya, saya tak bisa langsung datang ke tempat latihan (training ground) QPR yang berada di dekat Bandara Heathrow. Saya yang datang ke London bersama Manager Communication Audrey P dan teman wartawan media online  Nala akhirnya mendapat jadwal berkunjung pada Jumat (19/7). Ternyata tak susah mencari tempat latihan QPR.
Taksi yang membawa kami langsung sampai ke tempat yang masuk kawasan Harlington itu. Saat masuk kami langsung dibawa ke media centre karena sebentar lagi pelatih Harry Redknapp akan memberi waktu tanya jawab kepada media yang kebetulan juga mengadakan kegiatan serupa dengan kami.
Dari ruangan media, saya bisa melihat hamparan empat lapangan yang hijau terawat. Bangunan tempat ruang media itu juga terdapat ruang makan.
Nah, di ruang makan itu ada sosok yang cukup terkenal yakni Rio Ferdinand. Kebetulan, pagi itu merupakan hari pertama dia berlatih bersama klub yang mempunyai seragam kebesaran putih bergaris biru. Sehari sebelumnya, Ferdinand menandatangani kontrak bergabung QPR setelah sebelumnya 12 tahun membela Manchester United.
Usai sesi tanya jawab dengan Redknapp, para jurnalis pun dibawa ke lapangan dan diberi waktu hanya 15 menit untuk mengambil gambar. Redknapp tak turun ke lapangan karena jadwal melatihnya sore.
Namun, 15 menit menjadi sebuah moment yang akan diingat. Dalam latihan itu juga terlihat mantan pemain nasional Inggris Robert Green (kiper) dan sayap lincah Shawn-Wright Philip.
Meski tak bisa foto bersama mereka, namun menyaksikan latihan QPR  langsung menambah pengalaman setelah pada 2008 saya juga hadir ke tempat latihan (training ground) raksasa Bundesliga Jerman Bayern Munchen. (*)

Read More

Momong Cucu dan Urus Masjid

Imam Supardi (foto: sidiq)

ANDA tahu Imam Supardi? Bagi penggila bola di Gresik, Jawa Timur, nama tersebut sangat familiar.
Di era 1990-an hingga 2000-an, Imam selalu melekat dengan klub sepak bola Petrokimia Putra Gresik. Jabatan sebagai manajer pun lama disandang lelali yang kini berusia 57 tahun tersebut.
Sempat merasakan pahitnya pada Liga Indonesia I pada 1994, Imam mencapai kejayaan paa 2002. Kebo Giras dibawanya menjadi juara.
Pada 1994, Petro, begitu Petrokimia Putra Gresik disebut, sebagai juara tanpa mahkota. Gol penyerang asingnya asal Brasil Jacksen F.Tiago dianulir. Maung Bandung,julukan Persib, pun akhirnya menjadi juara lewat gol Sutiono Lamso pada menit ke-76.
Namun, delapan tahun kemudian, Petro akhirnya merasakan manisnya menjadi pemenang Liga Indonesia. Pada pertandingan yang dilaksanakan 8 Juli 2002 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada  tim yang saat itu dipoles Sergei Dubrovin asal Moldova itu menang 2-1 atas Persita Tangerang.
 Petro sempat tertinggal lebih dulu melalui Ilham Jayakesuma pada menit pertama. Tapi, di babak kedua, Petro mampu menyamakan kedudukan melalui pemain asingnya asal Liberia Samuel Chebli di menit ke-76.  Pemain Kamerun Yao Eloi menjadi penentu Petro menjadi juara lewat golnya di masa injury time.
 Nama Imam pun ikut melesat. Namun, setahun kemudian, perjalanan tim dengan warna khas kuning  itu merosot drastis.
 Petro harus rela turun ke Divisi 1. Namun, Imam juga pula yang mengangkat Petro yang sudah berganti nama menjadi Persegres ke ISL (Indonesia Super League) pada musim 2011. Saat ini, ISL menjadi level tertinggi di pentas sepak bola Indonesia.
"Saya dimintai tolong Bupati Sambari untuk membantu Persegres," kata Imam saat ditemui di rumahnya pada 9  Agustus 2014.
 Saat menjadi manajer Persegres, dia sudah pensiun sebagai karyawan Petrokimia Gresik yang menjadi induk Petrokimia Putra. Selain itu, Persegres merupakan reinkarnasi dari Petrokimia Putra.
 Petro sempat mundur dari sepak bola profesional pada 2006. Namun, warga Kota Pudak, julukan Gresik, tak terima. Hingga akhirnya, Petro Putra berubah menjadi Gresik United sebelum berganti lagi menjadi Persegres.
"Habis itu saya sudah tak aktif lagi. Tiap bertemu Sambari, dia selalu bilang tolong Pak Imam dibantu," tambah Imam yang juga pernah menjadi manajer klub internal Persebaya, Suryanaga, itu.
Namun, ucapan orang nomor satu di jajaran Pemkab Gresik itu tak pernah direalisasikan dengan surat resmi. Kini, aktivitasnya hanya momong cucu dan mengurus masjid yang tak jauh dari rumahnya yang berada di kawasan Jalan Kartini Gresik. (*)

Read More

Ketemu Pemilik Klub Premier League

KAYA: Tony Fernades (foto: sidiq)

PERGI ke London, Inggris, tak pernah terbayangkan. Meski ke Eropa, sudah dua kali saya lakukan. Yakni saat meliput Piala Eropa 2008 yang hampir 40 hari serta tugas ke Assen, Belanda, pada 2011.
 Sebenarnya, saya datang ke negeri yang terkenal dengan jam raksasa, Big Ben, tersebut untuk menghadiri acara maskapai penerbangan AirAsia yang memperoleh penghargaan sebagai Maskapai dengan Biaya Terhemat dari Skytrax. Namun, di sela-sela acara tersebut, saya punya bisa bertemu dengan pemilik AirAsia Tony Fernandes di Farnborough, London, pada 16 Juli 2014.
 Saya pun punya kesempatan melakukan wawancara dengan lelaki asal Malaysia yang memperoleh gelar kebangsaan dari negaranya tersebut.
Dalam hati, saya memuji bagaimana dia membangun kerajaan bisnisnya. Salah satunya, Tony mempunyai saham mayoritas di klub yang sekarang berlaga di English Premier League, Queens Park Rangers. Tony pun juga punya strategi yang membuat QPR tak perlu menghambur-hamburkan uang kepada klub dengan kostum kebesaran garis-garis tersebut.
''Musim ini, bertahan sudah bagus. Persaingan EPL sangat ketat,'' terang Tony.
 Dia pun optimistis target tersebut bakal terealisasi. Apalagi, QPR ditangani ditangani sosok manajer senior di kancah EPL Harry Redknapp.
 ''Saya percaya betul sama Harry. Dia sosok yang pengalaman,'' ungkap Tony.
 Selain itu, materi tim yang pernah datang ke Surabaya dalam tur Asianya dua tahun lalu tersebut juga disokong materi pemain yang bukan kelas ayam sayur. Di bawah mistar ada kiper timmas Brasil Julio Cesar dan mantan penjaga gawang timnas Inggris Robert Green. Di lini belakang, kehadiran pemain senior yang lama malang melintang di klub raksasa Manchester United, Rio Ferdinand, sangat membantu QPR musim ini dari serangan bergelombang lawan.
 Di tengah, kecepatan Shaun Wright-Phillips bakal membuat lawan tak boleh lengah. Belum lagi di lini depan, QPR punya dua penyerang maut, Bobby Zamora dan Charlie Austin.
Meski tak begitu lama, namun bertemu dan berbincang dengan Tony sungguh sangat berkesan. Selain itu, penulis pun mendapat undangan mengikuti sesi latihan QPR pada Jumat (18/7/2014). Ini setelah penulis ingin datang ke training camp klub tersebut.
 Tony pun dengan antusias mengizinkan datang. Lelaki yang juga tinggal di London tersebut pun meminta stafnya untuk mengurus keperluan kami datang ke tempat latihan klubnya yang lokasinya tak jauh dari Bandara Heathrow, London.   (*)

Read More

Tak Pernah Lupa dengan Barmen

Jacksen (kanan), Abdul Muis, M. Barmen, M. Jamil, dan Rizal.

JACKSEN F. Tiago sudah menjadi pelatih papan atas Indonesia. Namun, dia tak pernah lupa dengan masa lalunya saat memulai karir menjadi arsitek tim.
 Setelah pensiun pada 2001, setahun kemudian, Jacksen dipercaya menangani Assyabaab, klub internal Persebaya Surabaya. Klub binaan M. Barmen tersebut sukses diantarkan lelaki asal Brasil yang kini berusia 46 tahun tersebut  menjadi juara.
 Setelah itu, karirnya sebagai pelatih tak kalah menterengnya dibandingkan saat jadi pemain. Saat jadi pemain, bapak tiga anak tersebut mampu membawa Persebaya Surabaya menjadi juara Liga Indonesia 1996/1997 juara. Gelar itu dilengkapi dengan menjadi top scorer (pencetak gol terbanyak).
Namun, ketika menjadi pelatih, Green Force, julukan Persebaya, juga mampu diantarkannya mengoleksi trofi Liga Indonesia di musim 2003 dan 2004. Bedanya, di musim 2003, Persebaya juara Divisi I dan kembali ke Divisi Utama yang saat itu masih menjadi kasta tertinggi di orbit sepak bola tanah air. Setahun kemudian, barulah tim pujaan Bonekmania tersebut menjadi juara Divisi Utama.
 Kesuksesan itu diulangi di Persipura Jayapura.Tak tanggung-tanggung, tiga kali Mutiara Hitam dipolesnya menjadi juara Indonesia Super League (ISL) yakni pada 2008/2009, 2010-2011, dan 2012/2013. Selain itu, Persipura juga naik ke podium terhormat dalam Community Shield 2009 serta Inter Island 2011.
 Nah, semua gelimang gelar itu tetap membuat Jacksen sadar. Semua itu dimulainya dari Assyabaab.
 ‘’Hampir setiap ke Surabaya, saya pasti ke rumah Pak Barmen. Apalagi, ini masih suasana Lebaran,’’ kata Jacksen saat bertemu di rumah Barmen di kawasan Ampel, Surabaya.
 Menariknya, karena masih suasana Lebaran, Jacksen pun mengenakan pakaian koko warna putih. Meski agak sesak, namun lelaki yang juga sempat menangani Persitara Jakarta Utara tersebut seperti warga Ampel yang mayoritas muslim.
 Pertemuan Jacksen dan Barmen pun berlangsung lama. Selain penulis, ada juga mantan wartawan M. Jamil. Selain itu, hadir pula wartawan senior Abdul Muis bersama putra dan kerabatnya. Hanya, mereka pulang lebih dulu karena ada keperluan.
 Setelah pertemuan, Jacksen pamit untuk berkemas-kemas di Bandara Juanda. Sorenya dia harus terbang ke Jayapura untuk kembali ke rutinitasnya menangani Boaz Solossa dkk. (*)

Read More

Sabar Menangani Pesepak Bola Putri

Muhammad Ikhsan (foto: sidiq)

TAK gampang bergelut di dunia sepak bola putri. Apalagi, dia seorang lelaki.
 Namun, Muhammad Ikhsan sudah melakoninya selama 12 tahun. Atau tepatnya sejak 2002.
 "Kali pertama, saya menangani Deltris. Saya dapat tawaran menangani tim itu oleh seorang anggota dewan," kata Ikhsan kepada pinggirlapangan.
 Awalnya, perjalanannya menangani tim asal Sidoarjo tersebut juga tak mulus.  Tantangan dari keluarga begitu besar.
 "Saya sempat ribut dengan istri. Sebagai perempuan, dia cemburu kalau saya dekat dengan perempuan lain," kenang lelaki 50 tahun tersebut.
 Untuk meyakinkan istri, Ikhsan pun mengajak sang istri ke lapangan untuk melihat dirinya melatih para perempuan-perempuan perkasa itu.
 "Istri akhirnya malah mendukung. Dia malah sering membelikan makanan atau minuman buat para pemain," tambah Ikhsan.
 Di tangan Ikhsan, Deltris menjadi tim disegani. Sayang, di tengah jalan, mereka harus berhenti.
 "Kami sempat bingung, ke mana akan berinduk. Untung, Persida mengerti dan mau membina sepak bola putri," jelas lelaki yang bekerja di Jasa Marga juga dari sepak bola itu.
 Ternyata, tuah Ikhsan di Deltris berlanjut di Persida Putri. Dua tahun terakhir, 2012 dan 2013, Marem Kris dkk mampu menjadi yang terkuat di Jatim di ajang Piala Bude Karwo (istri Gubernur Jatim Soekarwo yang akrab disapa Pakde Karwo).
 Tahun ini, Ikhsan pun kembali dipercaya memoles Persida Putri. Namun, suara sumbang kembali santer terdengar.
 Dia pun sempat berbesar hati dengan merelakan posisinya diisi orang lain. Namun, tak ada satupun yang bisa.
"Penolakannya sama dengan saya dulu.Istri mereka melarang," ungkap Ikhsan.
Akhirnya, amanah itu dikembalikan ke dia. Kini, Ikhsan pun bertekad memberikan prestasi kepada Persida Putri.
Dalam menangani tim putri, Ikhsan termasuk sabar. Dia tak pernah memarahi pemainnya.
 "Saya pakai prinsip perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Jadi kalau dikerasin bisa patah.Saya harus sabar menghadapi mereka," jelas Ikhsan tentang kiatnya dalam menangani pesepak bola putri. (*)
Read More

Dari Sekolah-Sekolah hingga Turnamen Futsal

Persida Putri di Lapangan Ental Sewu (foto;sidiq)

LAPANGAN Ental Sewu, Sidoarjo, tampak beda dua hari terakhir (12-13 Juli 2014). Di sana, terdapat banyak perempuan memakai sepatu bola.
 Ternyata, mereka merupakan para pemain Persida Putri. Tim tersebut tengah mempersiapkan diri menghadapi Kejuaraan Nasional Sepak Bola Putri yang akan dilaksanakan di Jakarta pada Agustus mendatang.
 ‘’Kami baru mengumpulkan para pemain-pemain di sini. Kami melakukan peremajaan tim juga,’’ kata M. Ikhsan, pelatih Persida Putri.
 Ya, di antara wajah-wajah Persida Putri mayoritas muka-muka baru. Usianya pun masih masuk dalam kategori belasan.
 ‘’Pemain-pemain yang senior banyak yang tidak kami pakai. Aturannya nanti pemain putri yang tampil di kejurnas usianya harus di bawah 25 tahun,’’ jelas Ikhsan.
 Untuk itu,dia pun harus rela mencari para pemain dari seantero Sidoarjo. Mulai dari sekolah hingga kejuaraan-kejuaraan futsal yang digelar di Kota Udang, julukan Sidoarjo.
 ‘’Tapi, sampai saat ini, pemain kami tetap masih kurang. Sambil jalan, kami juga membenahi kelemahan yang masih ada di tim,’’ ungkap lelaki yang juga pernah menjadi asisten pelatih kiper Persida tersebut.
 Nah, dalam menghadapi kejurnas nanti, mereka juga telah menggelar uji coba. Hanya, lawan yang  dihadapi bukan sesama tim putri.
 Anak asuh Ikhsan tersebut mengukur kemampuannya melawan tim SSB dengan usia 10-12 tahun. Sebuah SSB di Ental Sewu menjadi lawan perdananya pada Minggu (13/7).
‘’Lawannya memang anak-anak. Kalau lawan laki-laki yang senior, tentu bukan tandingan,’’ papar Ikhsan. (*)

Tahukah tentang Persida Putri:
-Dulunya bernama Deltris (Deltras Putri Sidoarjo). Tim ini lahir pada 2003.
-Dengan nama Persida Putri, pendanaan tim masuk dalam anggaran Askab PSSI Sidoarjo
-Dua kali menjadi juara Piala Bude Karwo (2012 dan 2013)

Read More

Nikmati Suasana Piala Dunia di Rumah Sendiri

Jacksen F. Tiago (dua dari kiri) bersama jurnalis Indonesia

KEKALAHAN Brasil di semifinal Piala Dunia 2014 sangat menyakitkan pendukungnya. Apalagi, kekalahan tersebut dengan skor telak 1-7 dan terjadi di kandang sendiri di babak semifinal.
 ‘’’Felipao (sapaan karib pelatih Brasil Felipe Scolari) bilang terjadi black out missal ,’’ kelakar Jacksen F. Tiago, mantan pelatih nasional Indonesia yang lagi pulang ke kampung halamannya di Brasil.
 Meski berada di rumah sendiri, dia mengaku tak pernah sekalipun datang ke stadion. Hari-harinya dihabiskan nonton Piala Dunia di rumah bersama rekan-rekannya.
 ‘’Kami selalu nonton bersama teman-teman  sambil makan Churrasco, koget samba, dan minum,’’ ungkap Jacksen.
 Dia mengakui kepulangannya ke Negeri Samba, julukan Brasil, juga dalam rangka menikmati suasana Piala Dunia 2014. Untuk itu, sementara waktu, Jacksen pun melupakan Persipura Jayapura, tim yang ditanganinya dan dibawanya menjadi juara Indonesia Super League (ISL).
 Hanya, akhir Juli ini, lelaki yang juga sukses mengantarkan Persebaya Surabaya  menjadi juara baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih itu bakal kembali ke Papua. Tantangan berat sudah menanti Jacksen.
 Jacksen merupakan salah satu sosok pemain dan pelatih asing yang mereguk sukses di Indonesia. Datang sejak Liga Indonesia 1994-1995, dia membawa Petrokimia Putra menjadi runner-up Liga Indonesia I yang merupakan konsep menggabungkan kompetisi galatama dan perserikatan.
 Jacksen baru bisa juara bersama Persebaya Surabaya pada musim 1996-1997  setelah setahun sebelumnya juga menduduki posisi II dengan kostum PSM Makassar.  Setelah lama malang melintang di berbagai klun, Jacksen mengakhirinya sebagai pemain bersama Petrokimia Putra Gresik.
 Karirnya sebagai pelatih juga tak kalah moncer. Ayah Mattheus dan Ayub ini mengantarkan Persebaya menjadi juara pada 2007.  Ini membuat banyak klub pun berebut meminang.
 Akhirnya, Persipura Jayapura dua kali dibawa menjadi juara Indonesia Super League (ISL) musim 2008-2009, 2010-2011, dan 2012-2013.  (*)

Read More

Rasakan Manisnya Semua Gelar

AWET: Maura Helly (foto: sidiq)

TAK banyak pemain yang bisa merasakan banyak gelar.  Apalagi, itu dicapai di berbagai event.
 Tapi, itu mampu dilakukan oleh seorang Maura Helly. Lelaki yang kini berusia 55 tersebut mampu menjadi juara Galatama, Perserikatan, dan kejuaraan antarklub.
 ‘’Namun, kali pertama saya juara bersama PON Lampung pada 1981. Saya ke sana setelah gagal membawa Persebaya Junior juara Piala Suratin,’’ terang Helly, sapaan karib Maura Helly.
 Namun, kegagalan itu tak membuatnya patah semangat. Didikan militer dari sang ayah ikut menempa semangat dan kemampuan lelaki yang mempunyai darah Nusa Tenggara Timur tersebut.
 Kembali ke klub asalnya, PS Angkatan Darat (PSAD), dia tetap berlatih rutin. Tak jarang, Helly menambah porsi latiahan sendiri.
 Nah, kebetulan, ketika Jaka Utama,klub Galatama asal Lampung, mencari lawan buat persiapan melawan Niac Mitra, PSAD yang dipilih. Pada pertandingan itu, terang Helly, dirinya bermain bagus.
 ‘’Pelatih Jacob (Sihasale) yang menangangi Jaka Utama tertarik. Nah, kebetulan pas diajak teman, ketemu dan saya ditawari gabung,’’ kenang Helly.
 Sejak 1980 itu, dirinya memutuskan sepak bola sebagai bagian dari hidup ke depan.  Setelah Jaka Utama, tawaran dari klub raksasa saat itu,Yanita Utama Bogor menghampiri.
 ‘’Yanita klub yang dihuni pemain-pemain papan atas Indonesia. Ada Herry Kiswanto, Rudy Keltjes, dan Joko Malis,’’ ungkap lelaki yang kini tinggal di kawasan Rungkut Asri Tengah, Surabaya, tersebut.
 Namun, lanjutnya, dia tak gentar. Dia menjadi salah satu kepercayaan dari pelatih asing asal Belanda yang menangani klub asal Kota Hujan, julukan Bogor, Wiel Coever.
 ‘’Saya banyak belajar dari Coever. Dia dekat dan perhatian dengan pemain,’’ tutur Helly.
 Bersama Yanita, bapak dua anak tersebut menjadi juara dua  musim 1983/1984 dan 1984/1985.  Ini membuat Yanita pun mewakili Indonesia di kejuaraan antarklub ASEAN.
 ‘’Namun, di final, kami kalah dari Bangkok Bank, Thailand,’’ ujar Helly.
 Saat Yanita bubar dan boyongan ke Kramayudha Tiga Berlian, dia sempat tertarik ikut ke Palembang, Sumatera Selatan, home klub itu. Namun, ketika berada di Kota Empek-Empek, ternyata tak sesuai harapan. Hanya, saat wawancara yang dilakukan pada Selasa malam (8/7/2014), dia tidak menerangkan dengan pasti apa yang membuat dia enggan bergabung dengan Kramayudha.
 ‘’Saya pilih ke Surabaya dan menerima tawaran Persebaya. Sejak itu, saya menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Persebaya,’’ tambah lelaki yang beristri wanita berdarah Solo, Jawa Tengah, ini.
 Di Green Force, julukannya, dia merasakan jatuh bangun. Kegagalan dirasakannya pada Kompetisi Divisi Utama musim 1986/1987.
 Gol semata wayang Syafiul Amri menghancurkan harapan publik  Kota Pahlawan. Namun, setahun kemudian, barulah Helly merasakan manisnya gelar juara perserikatan.
 Pada tahun 1988 juga,Helly sukses mengantarkan klubnya, Suryanaga, menjadi juara nasional. Di final, mereka mengalahkan klub tangguh, Bina Taruna, Jakarta Timur.
 Saat susah pun dilaluinya di awal 1990-an. Masuknya talenta-talenta muda membuat  Helly banyak diragukan kemampuannya.
 ‘’Ada pelatih yang bilang, saya sudah tak layak karena usia dan sudah terjun sebagai pelatih. Tapi, saya bisa membuktikan bahwa seorang Maura Helly masih bisa memberikan yang terbaik bagi Persebaya,’’ tegas pemain yang bisa bermain di stopper dan gelandang bertahan.
 Menjelang akhir karir sebagai pemain, Helly punya kenangan yang sangat indah. Sang adik, Ashari  Betekeneng. Menjadi tandemnya di Persebaya. Mereka sama sama bermain sebagai pemain belakang.
 ‘’Sayang, saya tak merasakan kompetisi Liga Indonesia. Pelatih tak mau memakai saya, nggak tahu kenapa. Padahal, masih banyak yang bilang, saya masih mampu,’’ jelasnya.
 Setelah tak lagi bermain di Persebaya, suami dari salah satu petinggi di Bank Jatim itu memilih melanjutkan karirnya di lapangan hijau sebagai pelatih. Meski, saat masih sebagai pemain, profesi itu sudah dirangkap.
  ‘’Banyak pemain-pemain yang saya tangani kemudian menjadi pemain terkenal. Ada Halil, Uston Nawawi, dan juga kiper Agung Prasetyo. Bangga rasanya mereka menjadi pemain professional,’’ papar Helly.
 Saat ini, setelah tak berkecimpung aktif di sepak bola, kesibukannya adalah bekerja di PDAM. Pekerjaan ini ditekuni sejak 1991 saat dia masih berseragam Persebaya.
 Dari  sepak bola, Helly mengaku mendapat semuanya. Ketenaran hingga pekerjaan membuat dia tenang mengisi hari-hari tuanya. (*)


Read More

Sudah Ada Wajah Bule di Timnas sejak era 1980-an

Benny (kanan) bersama Aji, Mustaqim, dan Alhadad (foto:sidiq)

MULAI 2010, banyak naturalisasi yang dilakukan PSSI. Wajah bule dengan kulit bersih sudah tidak asing di Timnas Indonesia.
 Nama-nama seperti Rafael Maitimo ataupun Diego Michels pun memakai kaos dengan lambang garuda di dada. Meski, mereka hidup dan besar di Belanda.
 Namun, sebenarnya di era 1980-an dan pertengahan 1990-an sudah ada  wajah bule di kancah sepak bola tanah air. Siapa? Bennyamin van  Breukelen atau yang akrab disapa Benny Van Breukelen.
 ‘’Saya asli warga Indonesia. Hanya, Papi berdarah Belanda dengan nama  Hainz Marinus van Breukelen,’’ terang lelaki kelahiran 4 Mei 1963.
 Benny memulai karirnya di PSMS Medan Junior. Bersama tim asal ibu kota Sumatera Utara tersebut, Benny merasakan menjadi juara  Piala Suratin 1980. Saat itu, dia bersaing dengan Eddy Harto yang kelak sampai senior menjadi kawan sekaligus rivalnya dalam membela gawang merah putih.
 ‘’Setelah itu, saya berpindah ke klub Tunas Inti Jakarta pada 1981-1983. Saya dua kali membela Tunas Inti saat kembali ke klub itu pada 1987-1989,’’ terang Benny yang kebetulan bertemu dengan penulis bersama rombongan Timnas U-23 di Jakarta.
 Dia pun pernah direkrut PSSI Garuda I pada 1984. Lelaki yang kini tinggal di kawasan Tebet Dalam, Jakarta, itu bersaing dengan Hermansyah.
 Setelah itu,  Benny menjadi rebutan klub-klub, khususnya Galatama. Ketangguhannya di bawah mistar ikut mengantarkan Niac Mitra Surabaya dan Arseto Solo menjadi juara.
 Tim legendaris Kota Pahlawan, julukan Surabaya, diantarnya naik ke podium terhormat pada musim 1987-1988 dan Elang Biru, julukan Arseto Solo menjadi yang terbaik pada musim 1991-1992.
 ‘’Saya bangga bisa membela dua klub yang berbeda bisa menjadi juara Galatama. Bukan hal yang mudah untuk meraihnya di tengah kerasnya persaingan,’’ ucap Benny yang juga sering dipanggil Londo (Belanda) oleh rekan-rekannya tersebut.
 Hanya, kesempatan untuk menjadi bagian skuad merah putih ketika menjadi juara SEA Games 1991 kandas.Dia dianggap kalah bersaing dengan Eddy Harto dan Erick Ibrahim.
 ‘’Padahal, sejak awal, saya sudah mengikuti seleksi. Mungkin belum rezeki,’’ kenang lelaki yang pernah tinggal di dekat Lapangan Desa Makamhaji, Sukoharjo (kota yang berbatasan dengan Solo) tersebut.
 Bagi Benny, Solo juga menjadi kota yang tak akan pernah lepas dari memorinya. Selain juara, dia juga kembali lagi ke Kota Bengawan setelah pindah ke Persija Jakarta pada 1994-1995 dan Persijatim Jakarta Timur pada 1996.
 ‘’Saya membela yang kedua di musim 1997 hingga Arseto Solo bubar. Setelah itu, saya pun memutuskan pensiun sebagai kiper,’’ ucap dia.
 Di tim yang bermarkas di kawasan Kadipolo itu pula, Benny mulai merintis sebagai pelatih. Selain bermain, dia juga menjadi asisten pelatih di Arseto.
 ‘’Saya jadi asistennya Tumpak Sihite. Setelah itu, saya ke Belanda  tiga bulan di klub PSV Eindhoven,’’ papar Benny.
 Di klub itu pula, pada 1989, dia bisa bertemu dengan kerabatnya yang menjadi kiper papan atas dunia,Hans van Breukelen. Dengan kiper yang membawa Negeri Kincir Angin, julukan Belanda, itu menjadi juara Piala Eropa 2008.
 ‘’Waktu itu, timnas Indonesia tengah melakukan TC di Belanda. Saya dibawa tante ke tempat Hans di PSV,’’ ungkap Benny.
  Dengan ilmu dari Belanda pula, kini dia berharap bisa mencatak kiper tangguh, bukan hanya di level klub tapi juga timnas. (*)

Sekilas tentang Benny van Breukelen
Nama Asli: Benyamin van Breukelen
Posisi: Penjaga gawang
Lahir: Medan 4 Mei 1963

Karir Pemain:
1980:  PSMS Medan Junior
1981-1983: Tunas Inti Jakarta
1983: PSSI Garuda I
1984: Tempo Utama Bandung
1985-1986: Tunas Inti Jakarta
1987-1989: Niac Mitra Surabaya
1989-1994: Arseto Solo
1994-1995: Persija Jakarta
1996: Persijatim Jakarta Timur
1997-1998: Arseto Solo

Karir Pelatih
2001-2005: PSPS Pekanbaru
2005-2006: PS Dumai
2006-2007: Persiba Bantul
2007: Persiku Kudus
2008: Timnas U-19
2008-2009: Arema ISL
2010-2014:Persiba Bantul
2014-..: Timnas U-23
Read More

Tak hanya Ingin Lolos Penyisihan Grup

Sebagian Timnas U-23 bersama asisten Mustaqim. (foto: sidiq)

TIMNAS U-23 tengah serius menata kekuatan. Mereka bakal berlaga dalam Asian Games 2014 yang dilaksanakan di Incheon, Korea Selatan, pada 18 September-4 Oktober mendatang.
 ‘’Kami kan ditarget lolos babak penyisihan. Tentu, kami ingin mencapai itu,’’ kata Pelatih Kepala Timnas U-23 Aji Santoso saat bertemu dengan penulis di Jakarta.
 Namun, dia tak ingin jika anak asuhnya hanya puas lolos dari jeratan pertandingan grup. Apalagi, saat ini, Bayu Gatra dkk belum mengetahui siapa calon lawan yang dihadapi di penyisihan grup.
 ‘’Belum tahu siapa yang mesti kita waspadai. Yang jelas, saat ini, saya hanya konsentrasi membentuk tim yang tangguh ke Asian Games nanti,’’ terang Aji.
 Nah, salah satu  yang dilakukannya adalah membentuk karakter tim dengan berbagai pertandingan uji coba.  Rencananya, mulai 14-26 Juli, Timnas U-23 akan digembleng di Italia.Berbagai tim Serie A sudah menjadi lawan uji coba.
 ‘’Semoga dari Italia, mental anak-anak semakin matang,’’ harap Aji.
 Kiprah Indonesia dalam Asian Games sendiri kurang terlalu bagus. Capaian tertinggi adalah menembus babak semifinal pada Asian Games 1986 yang kebetulan juga dilaksanakan  di salah satu kota Korea Selatan, Seoul. (*)

Jadwal  Timnas U-23  di Italia
1.AS Roma vs Indonesia U-23 akan digelar di Stadio Centro d"Italia pada 18 Juli 2014. Laga ini disiarkan langsung oleh MNCTV pada pukul 22:30 WIB.

2. SS Lazio vs Indonesia U-23 akan digelar di Auronzo di Cadore pada 20 Juli 2014. Laga ini disiarkan langsung oleh MNCTV pada pukul 22:00 WIB.

3. Cagliari vs Indonesia U-23 akan digelar di Sappada Field pada 23 Juli 2014. Laga ini disiarkan langsung oleh MNCTV pada pukul 22:00 WIB.



Read More

Dulu Tangkap Bola, Kini Tangkap Uang

Zaky Alhadad (foto;sidiq)

SUARANYA nyaring. Intonasinya pun jelas.
 Dia pun mampu membuat audience pun yakin. Padahal, sebelumnya, Zaky Alhadad bukanlah seorang mubaliq ataupun juga bisnisman.
 ‘’Dulunya, saya seorang kiper. Saya pernah membela Persib Bandung Junior dan PSIS Semarang,’’ kata Zaky saat ditemui di Surabaya pada Kamis malam (3/7/2017).
 Dari posturnya, memang tak salah kalau lelaki 27 tahun tersebut pernah berkostum Mahesa Jenior di pentas Divisi Utama. Zaky mempunyai tinggi 192 sentimeter.
 ‘’Saya di PSIS pada musim 2008. Saat itu, saya satu tim dengan Gaston Castano (penyerang Argentina yang mencuat karena berpacaran dengan artis Julia Perez dan kini membela Pelita Bandung Raya),’’ ungkap Zaky.
 Namun, di tim asal ibu kota Jawa Tengah tersebut, dia hanya bertahan semusim. Persaingan dengan kiper senior Agus Murod dan Basuki membuat dia gagal bertahan lama.
 Lama menghilang dari hingar bingar sepak bola nasional, Zaky muncul dengan sosok lain.
‘’Sejak dua tahun lalu, saya menggeluti bisnis. Saya diajak adik yang lebih dulu sukses,’’ ungkap Zaky.
 Dari bisnis yang ditekuni,  dia punya penghasilan puluhan hingga ratusan juta rupiah. Mobil dan rumah mewah pun sudah menjadi miliknya. Harga mobil dan rumahnya pun menembus miliaran rupiah.
 ‘’Saya juga nggak menyangka bisa sukses seperti ini. Meyakinkan orang bukan pekerjaan mudah,’’ lanjut kiper yang juga pernah masuk program IFA tersebut.
 Dia mengaku pernah berkeringat saat memaparkan bisnisnya kepada tiga orang. Padahal, saat masih aktif sebagai kiper, Zaky tak keder meski ditonton puluhan ribu orang.
‘Setelah mendapat pelatihan, saya akhirnya biasa juga. Berhadapan dengan berapa orang pun, tak lagi minder,’’ ungkap dia. (*)

Read More

Saat Belum Gajian Tertolong Bisnis Laundry

BISNIS: Ucok dengan cucian (foto;sidiq)

BEBERAPA kali penulis membuat janjian dengan Agustiar ‘Batubara. Namun, selama itu pula, janjian tersebut urung terlaksana.
 Dari penulis yang kebetulan ada pekerjaan hingga Ucok sendiri yang mengajak anak-aanaknya jalan-jalan.
Bagi penulis, lelaki kelahiran 20 Agustus 1978 tersebut bukan orang asing. Sejak 2001, penulis sudah sering berjumpa dan bermain ke rumah Ucok yang saat itu masih tinggal di Pondok Jati, Sidoarjo.
 Akhirnya, pada Kamis (3/7/2014), penulis pun berangkat ke rumah Ucok yang sekarang ditempati di kawasan Wonokitri, Surabaya.
 Dengan petunjuk terbaru yang diberikan, perlahan sepeda motor yang penulis naiki mencari rumah pemain yang sukses mengantarkan Jawa Timur meraih emas cabang olahraga sepak bola pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 tersebut. Akhirnya, ketemu juga dengan rumah yang di depannya bertuliskan ‘’Laundry Sakinah’’.
 Dengan memakai sarung dan baju gamis, Ucok keluar dari rumah dan mempersilahkan masuk.
 Rumah Ucok memang sudah berubah. Mobil jenis minibus yang biasanya diparkir di depan rumahnya, sudah tak ada.
 ‘’Saya jual untuk mengembangkan bisnis laundry. Daripada jarang ke pakai, mending dijual saja,’’ terang Ucok.
 Ternyata, sejak 2013, bapak dua anak ini serius menekuni bisnis cuci dan setrika baju tersebut. Tepatnya, sejak Mei tahun lalu.
 ‘’Tahun lalu, saya menganggur karena tidak dapat klub. Saya dan istri pun mulai memikirkan bisnis apa yang cocok,’’ ucap suami Kurnia Meidiana tersebut.
 Akhirnya, mereka pun meminta saran kepada orang tua. Ibu Ucok menyarankan agar anaknya terjun ke bisnis laundry yang punya prospek.
 ‘’Dua bulan awal masih sepi. Tapi, saya dan istri tidak mau menyerah,’’ ungkap pemain yang juga sukses mengantarkan Barito Putera promosi ke ISL pada musim 2012 tersebut.
 Berbagai strategi pun disusun. Mulai dari penyebar brosur hingga layanan anatarjemput cucian dilakukan.
 Ternyata, kiat ini mulai membuahkan hasil. Pelanggan pun semakin hari semakin bertambah.
 ‘’Sekarang, sehari bisa 100 kilo. Kalau ramai bisa 200 hingga 300 kilo,’’ papar ayah Nadya Sukma Batubara dan Naufal Afzal Batubara tersebut.
 Ternyata, dari bisnis laundry tersebut menjadi penopang kehidupan lelaki 36 tahun tersebut. Apalagi, di klubnya sekarang, Persipur Purwodadi, dia dua bulan tidak gajian.
 ‘’Alhamdulillah, laundry nya ramai. Nggak kebayang dulu kalau gak ada laundry saat tidak gajian di Persipur,’’ lanjut Ucok yang juga menjadi kapten saat Gresik United menembus ISL 2011.
 Persipura merupakan klub kesekian baginya. Berawal dari Putra Gelora, klub anggota internal Persebaya Surabaya, Ucok direkrut Gelora Dewata pada 1998. Kedua klub tersebut sama-sama menjadi milik H Mislan. Hanya, sebelum itu, meski sebentar, Ucok pernah menghiasi skuad Persebaya Surabaya pada 1997-1998.
 Saat Gelora Dewata pindah ke Sidoarjo pada 2000 dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD) dan Delta Putra Sidoarjo (Deltras), Ucok tetap menjadi pilar utama di belakang hingga musim 2004.
 Namun, ajakan Jaya Hartono ke Persiba Balikpapan, membuat Ucok pun meninggalkan Deltras pada 2005. Selama semusim di Kota Minyak, julukan Balikpapan, dia kembali ke The Lobster, julukan Deltras. Saat itu, dia juga diajak Jaya kembali.
 Namun, setelah itu, Ucok berpindah-pindah ke satu klub ke klub lain. Pelita Jaya, Persela Lamongan, dan Gresik United, dan Barito Putera menjadi pelabuhan karirnya.Di antara semua itu, dia mengukir sukses dengan mengantarkan Gresik United dan Barito Putera promosi ke ISL.
 Di saat usia yang bertambah uzur dan bisnis Laundry yang berkembang, Ucok belum memutuskan kapan pensiun. Meski sebenarnya, jalan menjadi pelatih juga mulai dirintis.  Dengan lisensi C Nasional, Ucok dipercaya menangani sebuah tim kesatuan Angkatan Darat yang tidak jauh dari rumahnya.
 ‘’Saya bersyukur dengan apa yang saya alami sekarang,’’ pungkas Ucok. (*)

Sekilas tentang
Nama: Agustiar ‘’Ucok’’ Batubara
Lahir: 20 Agustus 1978
Istri: Kurnia Meidiana
Anak: Nadya Sukma Batubara dan Naufal Afzal Batubara
Tinggal: Surabaya

Karir:
1994-1996: Persebaya Junior
1997-1998: Persebaya
1998-2004: Gelora Dewata, GPD, Deltras
2004-2005: Persiba Balikpapan
2006-2007: Deltras
2007-2008: Pelita Jaya
2008-2009: Persela Lamongan
2009-2010: Pelita Jaya
2010-2011: Gresik United
2011-2012: Barito Putra
2014-: Persipur Purwodadi
Read More

Dari Kecil Sudah Mimpi Masuk Timnas

Samsul Arif (foto:sidiq)

SAYA ragu mau menyapa Samsul Arif. Selain sudah lama tak bertemu, statusnya kini sudah sangat mentereng, pemain Timnas Indonesia.
 Jadi, saat berlatih kali pertama di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada 12 Juni 2014, saya tak mau atau tak berani untuk menyapa. Nah, keesokan harinya, saat  latihan pagi dipindahkan ke Stadion Gelora Delta, yang juga berada di Sidoarjo, saya pun memberanikan menyapanya.
 ‘’Masih ingat saya Sul?’ tanya saya.
 Jawaban tak terduga muncul dari pemain yang kini membela Arema Cronus di pentas Indonesia Super League (ISL) tersebut. Ternyata, lelaki 29 tahun tersebut tak lupa.
 ‘’Jelas ingat dong. Nggak akan pernah lupa,’’ jelas Samsul.
 Ya, kenal Samsul saat dia belum seperti sekarang ini. Kami pulang bersama-sama dari Jakarta usai acara penobatan dirinya menjadi pencetak gol terbanyak (stop scorer) Copa Indonesia 2008.
Pemuda asli Bojonegoro tersebut mencetak delapan gol dalam kompetisi yang diikuti oleh klub dari semua divisi di pentas sepak bola Indonesia tersebut. Dari Bandara Internasional Juanda, saya mengantar Samsul dan kiper Syaifudin, yang saat itu terpilih menjadi kiper terbaik Copa Indonesia. Nah, setelah itu, saya tak pernah bersua dengan Samsul. Hanya, setiap aktivitasnya yang terpantau media saya ikuti.
 Setelah perjumpaan itu, dia pun tak ragu lagi berstegur sapa dan bercerita.
  ‘’Saya masuk Persibo Bojonegoro 2005 dari seleksi antarkecamatan. Saya mewakili Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, yang berada di wilayah Bojonegoro Barat,’’ ucap Samsul.
 Saat itu, terang dia, Laskar Anglingdharma, julukan Persibo, dipoles pelatih asal Gresik Sanusi Rahman. Dalam seleksi tersebut, Samsul mampu memikat mantan arsitek tim Petrokimia Gresik tersebut.
 Pengalaman membela Persikaba Blora, Jawa Tengah, di musim sebelumnya membuat  dia punya nilai plus dibandingkan pemain-pemain lokal lain.
 Bersama Persibo, Samsul bermain selama lima musim. Bersama tim dengan kostum kebangaan Oranye itu, dia merasakan membela tim nasional. Tercatat Samsul pernah membela timnas U-21 dan U-23.
 Tawaran dari tim tetangga, Persela Lamongan, pada musim 2009-2010 membuat dia tak bisa menolak. Godaan bermain di ISL jadi tantangan bagi lelaki dengan tinggi 166 sentimeter tersebut.
 Sayang, di Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, karir Samsul redup. Dia bermain tak segarang bayangan di Persibo.
 ‘’Saya lambat adaptasi. Ini dikarenakan sata berangkat dari level bawah,’’ ungkap Samsul.
 Jeblok bersama Persela membuat dia pun kembali ke Persibo. Untung, tim lamana itu mau menerima dengan tangan terbuka.
 Dus musim bersama Persibo sudah cukup bagi Samsul untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Uniknya, Persela yang saat itu ditangani Subangkit kembali menawari bergabung.
 Seakan tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, musim 2012-2013, Samsul tampil bersinar bersama Persela. Selama 30 kali penampilan, 13 kali, Samsul menjebol gawang lawan.  Imbasnya, Arema Cronus pun kepincut mengikat Samsul pada musim 2014.
 ‘’Bangga bisa bergabung dengan Arema Cronus karena Arema merupakan klub besar dan punya tradisi yang bagus,’’ jelas Samsul.
 Bersama Singo Edan, julukan Arema, Samsul pun semakin menakutkan di depan gawang lawan. Hanya, dia tak punya ambisi menjadi top scorer (pencetak gol terbanyak).
 ‘’Arema juara sudah menjadi berkah yang luar biasa,’’  papar dia.
 Jalan ke timnas pun semakin terbuka lebar. Kini, namanya masuk pun masuk dalam daftar skuad merah putih yang dipersiapkan menghadapi Piala AFF 2014.
 Tapi, siapa sangka, sebenarnya, sejak  kecil, Samsul sudah punya ambisi membela timnas. ”Dari kecil sudah suka membayangkan masuk timnas. Akhirnya, impian itu menjadi kenyataan,’’ pungkas Samsul. (*)
Read More

Penerus Agung Setyabudi dari Solo

Anindito (foto;sidiq)

DULU badannya kecil. Bahkan, bisa dikatakan kerempeng.
 Namun, saat menguasai bola, Anindito Wahyu Erminarno, susah dibendung. Hanya permainan kasar yang membuat dia berhenti karena terkapar.
 Saat masuk Persis Solo di musim 2009, badannya tetap tak berubah. Hanya, visinya di lapangan semakin matang.
 Tak salah kalau pelatih Laskar Sambernyawa, julukan Persis, saat itu, Eduard Tjong mempercayainya menjadi pemain utama (starter). Anindito pun membalasnya dengan permainan gemilang.
 Saat datang ke Sidoarjo, Jawa Timur, untuk menjalani seleksi di Mitra Kutai Kartanegara (Kukar), badannya pun tetap sama. Awalnya, dia hanya sebagai pelapis.
 Tapi, lambat laun, pelatih Naga Mekes, julukan Mitra Kukar, saat itu Mustaqim mulai memberikan kepercayaan kepadanya. Anindito pun menjawabnya dengan baik.
 Di musim 2009-2010, bocah Semanggi, Solo, tersebut mengemas enam gol bagi Mitra Kukar. Saat tongkat pelatih berganti ke Benny Dollo, posisi Anindito tidak tergantikan.
 Dipoles Bendol, sapaan karib Benny Dollo, dia semakin garang. Sebagai penyerang lokal, dia termasuk produktif.
 Buluk, sapaan karib Anindito, ,melesakkan delapan gol. Hasilnya, Mitra Kukar pun promosi ke Indonesia Super League (ISL) pada musim 2011-2012.
 Saat Bendol hengkang ke Persija, Buluk pun diajak. Sayang, penampilannya di Macan Kemayoran tak seperti di Mitra Kukar. Dari 27 penampilan, dia hanya mampu menyumbang satu gol.
 Sempat menjadi andalan di awal musim, Anindito gagal tampil konsisten. Di paro putaran II, dia menjadi penghangat bangku cadangan.
 Ini yang membuat dia memilih kembali ke Mitra Kukar. Namun, jodohnya memang di tim asal Kalimantan Timur tersebut.
 Pada Juni 2014, Anindito dipanggil mengikuti seleksi Timnas Senior Proyeksi Piala AFF 2014. Dia menemani rekan-rekannya seperti Zulkifli Syukur dan Zulham  Zamrun yang lebih dulu berseragam garuda di dada.
 Selain itu, Anindito juga mengisi kekosongan pemain asal Solo yang membela timnas. Sejak era Agung Setyabudi berakhir pada 2004, tidak ada lagi pemain Kota Bengawan, julukan Solo, yang dipercaya mengisi skuad senior. (*)

Tentang Buluk
Nama Asli: Anindito Wahyu Erminarno
Lahir: Solo, 13 April 1988
Posisi: Penyerang
Karir
Junior:
2003-2004: Persiharjo Sukoharjo
2004-2005: Persika Karanganyar

Senior
2005-2006: Persika Karanganyar
2006-2007: Persis  U-23
2007-2009: Persis Solo
2009-2012: Mitra Kukar
2012-2013:Persija Jakarta
2014-..: Mitra Kukar
Read More

Dari Voli Bisa Jadi Kiper Utama Persebaya

RIONO: Tinggi 160 cm (foto:sidiq)

JORGE Campos pernah menjadi buah bibir. Dengan tinggi yang kurang ideal untuk menjadi kiper, dia dipercaya membela gawang Meksiko di ajang internasional. Kurun waktunya pun tak sebentar, 13 tahun, mulai dari 1991 hingga 2004.
 Campos disebut-sebut sebagai kiper utama terpendek. Namun, anggapan itu terbantahkan.
 Di Indonesia ada kipernya yang jauh lebih pendek dari Campos. Siapa dia? Riono. Dia merupakan kiper utama Persebaya Surabaya di awal decade 1990-an.
 ‘’Tinggi saya 160 sentimeter. Orang kalau nggak tahu dan kenal, pasti nggak percaya kalau saya kiper. Apalagi, menjadi kiper sekelas Persebaya,’’ kata Riono saat ditemui di sela-sela melatih Tim Pra-PON Jatim 2016.
 Dia mengawal gawang Green Force, julukan Persebaya, pada 1992-1995. Selama itu pula, lelaki kelahiran 1971 tersebut tak tergantikan.
 ‘’Baru pada 1996, saya pindah ke Persedikab Kabupaten Kediri. Setelah itu, saya main di kompetisi internal karena pekerjaan di PDAM Surabaya,’’ tambah Riono.
 Sebenarnya, tambah dia, sepak bola bukan cabang olahraga yang kali pertama digeluti. Selain sepak bola, bola voli menjadi olahraga utama lelaki yang berasal dari klub Indonesia Muda (IM) tersebut.
 ‘’Di voli, posisi saya spiker. Meski saya kecil, lompatan saya bisa melebihi net,’’ ungkap Riono.
 Dasar bola voli itulah yang membuat Riono tak mengalami kesulitan menjadi kiper. Prinsip melompat dan menangkap bola di cabor voli sukses diterapkannya di sepak bola.
 Kini,di usianya yang sudah memasuki 43 tahun, nama Riono kembali mengemuka. Dia dipercaya memoles kiper yang akan mengawang Jatim untuk bisa lolos ke PON 2016.
 Ketangguhannya dan keberaniannya di bawah mistar diharapkan bisa ditularkan kepada kiper-kiper muda provinsi paling timur Pulau Jawa itu. (*)


Read More

Pelatih Nasional pun Cium Tangan

HAFAL: Sopir bus timnas Irwan (foto:sidiq)

BUS Timnas Indonesia terlihat gagah. Dengan warna putih dikombinasi merah, bus tersebut mampu menampung hingga 40-an penumpang.
 Tentu, butuh orang yang berpostur besar untuk mengemudikannya. Namun, jangan salah sangka, ternyata pengemudi bus Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, di luar bayangan. Tingginya tak sampai 160 sentimeter dan posturnya juga kecil.
‘’Nama saya Irwan. Saya yang membawa bus ini dari Sekretariatan PSSI di Senayan, Jakarta, ‘’ terang dia.
  Bahkan, pekerjannya sebagai sopir bus timnas tersebut sudah dilakukannya sejak 1980-an. Dia memulai dari sopir bus PSSI Garuda 1.
 ‘’Awalnya, saya bekerja di Mas Sigit (Harjojudanto, putra mantan Presiden RI Soeharto yang juga pengurus PSSI kala itu). Saya jadi sopir beliau dan juga mobil-mobil kantor Mas Sigit,’’ ungkap lelaki yang usianya sudah kepala enam tersebut.
 Dia kemudian disuruh membawa bus khusus buat PSSI Garuda. Kebetulan, Sigit merupakan bos proyek tim yang ditangani pelatih Brasil Barbatana.
‘’Saya mengikutinya hingga 1989. Setelah Garuda I bubar, saya disuruh tetap di Garuda tapi yang II,’’ tambah Irwan.
 Dia pun bersama tim tersebut hingga 1991 atau saat PSSI berlaga di Pra Olimpiade. Sayang, perjalanan Agung Setyabudi dkk gagal melaju hingga ke Barcelona, hotst Olimpiade 1992.
‘’Akhirnya, saya pegang bus timnas, bukan hanya untuk Garuda,’’ papar lelaki asal Bukittinggi, Sumatera Barat, tersebut.
 Pada 1991 itu pula, dia ikut merasakan manisnya Indonesia menjadi juara SEA Games 1991 yang dilaksanakan di Manila, Filipina. Hasil itu sampai sekarang belum pernah bisa diulangi.
 Namun, di era Nurdin Halid pada 2005, dia sempat memutuskan pensiun sebagai sopir bus timnas. Irwan memilih kembali ke kantor Sigit di Jakarta.
 ‘’Nah, pada 2010 lalu, saya kembali lagi jadi sopir bus timnas. Pak Tri (Goestroro, Sekjen PSSI saat itu) meminta saya kembali,’’ kenang bapak enam anak tersebut.
 Selama hampir 30 tahun menjadi  sopir timnas, dia hampir mengenal penumpangnya. Bahkan, para pemain yang kini telah beralih menjadi pelatih pun tetap menghormatinya.
 ‘’Saat Nil (Maizar) jadi pelatih nasional, kali pertama bertemu dia mencium tangan saya. Semua orang langsung kaget melihatnya,’’ ungkap Irwan.
 Menurutnya, Nil sangat akrab dengan dirinya sejak di PSSI Garuda II. Kebetulan, keduanya sama-sama berasal dari Ranah Minang, julukan Sumetara Barat.
 ‘’Dia sudah seperti anak sendiri. Semua pemain nasional yang saya sopiri, baik semua,’’ lanjutnya.
 Dari menjadi sopir bus timnas, dia mampu mengentas keenam anaknya. Bahkan, salah satunya pernah menjadi wartawan di DPR RI.
 ‘’Sebenarnya, saya sudah pensiun. Tapi, kalau timnas masih membutuhkan, saya tak bisa menolak,’’ pungkas dia. (*)
Read More

Pensiun, Belajar Melatih dari SSB

Anang Maruf (foto:sidiq)

BIASANYA, Anang Maruf selalu mendapat instruksi dari pinggir lapangan. Namun, beda saat dia berada di Stadion Brawijaya, Surabaya, pada Kamis waktu setempat (19/6).
 ‘Saya belajar dari pelatih. SSB SFC (Surabaya Football Club) menjadi tim yang saya latih,’’ katanya.
 Ini, tambah dia, juga menjadi akhir karirnya sebagai pesepak bola. Sebelumnya, sudah dua puluhan tahun Anang malang melintas di pentas sepak bola Indonesia.
 ‘’Saya sudah tidak muda lagi, 38, tahun. Cak Ibnu (Grahan, pembina SFC) menyarankan agar saya mulai belajar jadi pelatih,’’ terang Anang.
 Dia pun tak mempermasalahkan jika awal karirnya sebagai pelatih harus dimulai dari ajang SSB. Bahkan, Anang menganggap dari SSB lah sebenarnya pijakan menjadi pesepak bola dimulai.
 ‘’Apalagi, saya dapat banyak ilmu karena banyak pelatih yang menangani saya. Semuanya akan saya berikan kepada anak-anak ini,’’ ungkap Anang yang mendampingi SFC dalam HUT SSI Arsenal, Surabaya, tersebut.
 Memang harus diakui, para pelatih yang menanganinya rata-rata punya kemampuan istimewa. Hanya, ilmu yang diperolehnya paling berkesan saat berada di PSSI Primavera, Italia. Apalagi, sosok arsitek tim yang memolesnya tak main-main, Sven-Goran Eriksson. Lelaki asal Swedia itu memoles Anang karena dia juga menukangi induk PSSI Primavera, Sampdoria, Italia.
 ‘’Dia benar-benar menekankan pentingnya dasar sepak bola. Setiap hari latihan umpan (passing) tanpa ada latihan fisik yang berat,’’ ungkap Anang.
 Ya, dari PSSI Primavera itu namanya melambung. Dia direkrut dari seleksi hasil pantauan Piala Soeratin.
 Setelah pulang dari Negeri Pizza, julukan Italia, Anang bergabung dengan klub kota kelahirannya, Persebaya Surabaya pada 1994.
 Bersama Green Force, Anang merasakan manisnya menjadi juara Divisi Utama (saat itu kasta tertinggi sepak bola Indonesia) pada 1997.  Saat di Persija, Anang pun mengangkat trofi yang sama pada 2002.
 ‘’Pada 2004, bersama lagi dengan Persebaya, saya menjadi juara. Alhamdulillah, tiga kali menjadi juara Liga Indonesia,’’ lanjut lelaki yang suka mengenakan topi kalau di luar lapangan tersebut.
 Tetesan keringat Anang pun juga pernah keluar bersama Timnas Indonesia. Sejak 1995 hingga 2003, posisinya di bek kanan seakan tak tergantikan.
 ‘’Saya serahkan saja ke Ismed Sofyan. Sekalian regenerasi di bek kanan,’’ ungkapnya sambil tersenyum. (*)

Sekilas Anang Maruf
Usia sekarang: 38 tahun
Lahir: Surabaya, 28 Mei 1976
Tinggi: 1,73 meter
Posisi: Bek kanan

Klub yang dibela
1994-1999: Persebaya Surabaya
1999-2002: Persija Jakarta
2003: Deltras Sidoarjo
2004-2010: Persebaya Surabaya
2010-2011: Deltras Sidoarjo
2011-2012: Petrokimia Putra
2012-2013: PS Mojokerto Putra
2014: Surabaya Muda
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com