www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Dari Kecil Sudah Mimpi Masuk Timnas

Samsul Arif (foto:sidiq)

SAYA ragu mau menyapa Samsul Arif. Selain sudah lama tak bertemu, statusnya kini sudah sangat mentereng, pemain Timnas Indonesia.
 Jadi, saat berlatih kali pertama di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada 12 Juni 2014, saya tak mau atau tak berani untuk menyapa. Nah, keesokan harinya, saat  latihan pagi dipindahkan ke Stadion Gelora Delta, yang juga berada di Sidoarjo, saya pun memberanikan menyapanya.
 ‘’Masih ingat saya Sul?’ tanya saya.
 Jawaban tak terduga muncul dari pemain yang kini membela Arema Cronus di pentas Indonesia Super League (ISL) tersebut. Ternyata, lelaki 29 tahun tersebut tak lupa.
 ‘’Jelas ingat dong. Nggak akan pernah lupa,’’ jelas Samsul.
 Ya, kenal Samsul saat dia belum seperti sekarang ini. Kami pulang bersama-sama dari Jakarta usai acara penobatan dirinya menjadi pencetak gol terbanyak (stop scorer) Copa Indonesia 2008.
Pemuda asli Bojonegoro tersebut mencetak delapan gol dalam kompetisi yang diikuti oleh klub dari semua divisi di pentas sepak bola Indonesia tersebut. Dari Bandara Internasional Juanda, saya mengantar Samsul dan kiper Syaifudin, yang saat itu terpilih menjadi kiper terbaik Copa Indonesia. Nah, setelah itu, saya tak pernah bersua dengan Samsul. Hanya, setiap aktivitasnya yang terpantau media saya ikuti.
 Setelah perjumpaan itu, dia pun tak ragu lagi berstegur sapa dan bercerita.
  ‘’Saya masuk Persibo Bojonegoro 2005 dari seleksi antarkecamatan. Saya mewakili Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, yang berada di wilayah Bojonegoro Barat,’’ ucap Samsul.
 Saat itu, terang dia, Laskar Anglingdharma, julukan Persibo, dipoles pelatih asal Gresik Sanusi Rahman. Dalam seleksi tersebut, Samsul mampu memikat mantan arsitek tim Petrokimia Gresik tersebut.
 Pengalaman membela Persikaba Blora, Jawa Tengah, di musim sebelumnya membuat  dia punya nilai plus dibandingkan pemain-pemain lokal lain.
 Bersama Persibo, Samsul bermain selama lima musim. Bersama tim dengan kostum kebangaan Oranye itu, dia merasakan membela tim nasional. Tercatat Samsul pernah membela timnas U-21 dan U-23.
 Tawaran dari tim tetangga, Persela Lamongan, pada musim 2009-2010 membuat dia tak bisa menolak. Godaan bermain di ISL jadi tantangan bagi lelaki dengan tinggi 166 sentimeter tersebut.
 Sayang, di Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, karir Samsul redup. Dia bermain tak segarang bayangan di Persibo.
 ‘’Saya lambat adaptasi. Ini dikarenakan sata berangkat dari level bawah,’’ ungkap Samsul.
 Jeblok bersama Persela membuat dia pun kembali ke Persibo. Untung, tim lamana itu mau menerima dengan tangan terbuka.
 Dus musim bersama Persibo sudah cukup bagi Samsul untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Uniknya, Persela yang saat itu ditangani Subangkit kembali menawari bergabung.
 Seakan tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, musim 2012-2013, Samsul tampil bersinar bersama Persela. Selama 30 kali penampilan, 13 kali, Samsul menjebol gawang lawan.  Imbasnya, Arema Cronus pun kepincut mengikat Samsul pada musim 2014.
 ‘’Bangga bisa bergabung dengan Arema Cronus karena Arema merupakan klub besar dan punya tradisi yang bagus,’’ jelas Samsul.
 Bersama Singo Edan, julukan Arema, Samsul pun semakin menakutkan di depan gawang lawan. Hanya, dia tak punya ambisi menjadi top scorer (pencetak gol terbanyak).
 ‘’Arema juara sudah menjadi berkah yang luar biasa,’’  papar dia.
 Jalan ke timnas pun semakin terbuka lebar. Kini, namanya masuk pun masuk dalam daftar skuad merah putih yang dipersiapkan menghadapi Piala AFF 2014.
 Tapi, siapa sangka, sebenarnya, sejak  kecil, Samsul sudah punya ambisi membela timnas. ”Dari kecil sudah suka membayangkan masuk timnas. Akhirnya, impian itu menjadi kenyataan,’’ pungkas Samsul. (*)
Read More

Penerus Agung Setyabudi dari Solo

Anindito (foto;sidiq)

DULU badannya kecil. Bahkan, bisa dikatakan kerempeng.
 Namun, saat menguasai bola, Anindito Wahyu Erminarno, susah dibendung. Hanya permainan kasar yang membuat dia berhenti karena terkapar.
 Saat masuk Persis Solo di musim 2009, badannya tetap tak berubah. Hanya, visinya di lapangan semakin matang.
 Tak salah kalau pelatih Laskar Sambernyawa, julukan Persis, saat itu, Eduard Tjong mempercayainya menjadi pemain utama (starter). Anindito pun membalasnya dengan permainan gemilang.
 Saat datang ke Sidoarjo, Jawa Timur, untuk menjalani seleksi di Mitra Kutai Kartanegara (Kukar), badannya pun tetap sama. Awalnya, dia hanya sebagai pelapis.
 Tapi, lambat laun, pelatih Naga Mekes, julukan Mitra Kukar, saat itu Mustaqim mulai memberikan kepercayaan kepadanya. Anindito pun menjawabnya dengan baik.
 Di musim 2009-2010, bocah Semanggi, Solo, tersebut mengemas enam gol bagi Mitra Kukar. Saat tongkat pelatih berganti ke Benny Dollo, posisi Anindito tidak tergantikan.
 Dipoles Bendol, sapaan karib Benny Dollo, dia semakin garang. Sebagai penyerang lokal, dia termasuk produktif.
 Buluk, sapaan karib Anindito, ,melesakkan delapan gol. Hasilnya, Mitra Kukar pun promosi ke Indonesia Super League (ISL) pada musim 2011-2012.
 Saat Bendol hengkang ke Persija, Buluk pun diajak. Sayang, penampilannya di Macan Kemayoran tak seperti di Mitra Kukar. Dari 27 penampilan, dia hanya mampu menyumbang satu gol.
 Sempat menjadi andalan di awal musim, Anindito gagal tampil konsisten. Di paro putaran II, dia menjadi penghangat bangku cadangan.
 Ini yang membuat dia memilih kembali ke Mitra Kukar. Namun, jodohnya memang di tim asal Kalimantan Timur tersebut.
 Pada Juni 2014, Anindito dipanggil mengikuti seleksi Timnas Senior Proyeksi Piala AFF 2014. Dia menemani rekan-rekannya seperti Zulkifli Syukur dan Zulham  Zamrun yang lebih dulu berseragam garuda di dada.
 Selain itu, Anindito juga mengisi kekosongan pemain asal Solo yang membela timnas. Sejak era Agung Setyabudi berakhir pada 2004, tidak ada lagi pemain Kota Bengawan, julukan Solo, yang dipercaya mengisi skuad senior. (*)

Tentang Buluk
Nama Asli: Anindito Wahyu Erminarno
Lahir: Solo, 13 April 1988
Posisi: Penyerang
Karir
Junior:
2003-2004: Persiharjo Sukoharjo
2004-2005: Persika Karanganyar

Senior
2005-2006: Persika Karanganyar
2006-2007: Persis  U-23
2007-2009: Persis Solo
2009-2012: Mitra Kukar
2012-2013:Persija Jakarta
2014-..: Mitra Kukar
Read More

Dari Voli Bisa Jadi Kiper Utama Persebaya

RIONO: Tinggi 160 cm (foto:sidiq)

JORGE Campos pernah menjadi buah bibir. Dengan tinggi yang kurang ideal untuk menjadi kiper, dia dipercaya membela gawang Meksiko di ajang internasional. Kurun waktunya pun tak sebentar, 13 tahun, mulai dari 1991 hingga 2004.
 Campos disebut-sebut sebagai kiper utama terpendek. Namun, anggapan itu terbantahkan.
 Di Indonesia ada kipernya yang jauh lebih pendek dari Campos. Siapa dia? Riono. Dia merupakan kiper utama Persebaya Surabaya di awal decade 1990-an.
 ‘’Tinggi saya 160 sentimeter. Orang kalau nggak tahu dan kenal, pasti nggak percaya kalau saya kiper. Apalagi, menjadi kiper sekelas Persebaya,’’ kata Riono saat ditemui di sela-sela melatih Tim Pra-PON Jatim 2016.
 Dia mengawal gawang Green Force, julukan Persebaya, pada 1992-1995. Selama itu pula, lelaki kelahiran 1971 tersebut tak tergantikan.
 ‘’Baru pada 1996, saya pindah ke Persedikab Kabupaten Kediri. Setelah itu, saya main di kompetisi internal karena pekerjaan di PDAM Surabaya,’’ tambah Riono.
 Sebenarnya, tambah dia, sepak bola bukan cabang olahraga yang kali pertama digeluti. Selain sepak bola, bola voli menjadi olahraga utama lelaki yang berasal dari klub Indonesia Muda (IM) tersebut.
 ‘’Di voli, posisi saya spiker. Meski saya kecil, lompatan saya bisa melebihi net,’’ ungkap Riono.
 Dasar bola voli itulah yang membuat Riono tak mengalami kesulitan menjadi kiper. Prinsip melompat dan menangkap bola di cabor voli sukses diterapkannya di sepak bola.
 Kini,di usianya yang sudah memasuki 43 tahun, nama Riono kembali mengemuka. Dia dipercaya memoles kiper yang akan mengawang Jatim untuk bisa lolos ke PON 2016.
 Ketangguhannya dan keberaniannya di bawah mistar diharapkan bisa ditularkan kepada kiper-kiper muda provinsi paling timur Pulau Jawa itu. (*)


Read More

Pelatih Nasional pun Cium Tangan

HAFAL: Sopir bus timnas Irwan (foto:sidiq)

BUS Timnas Indonesia terlihat gagah. Dengan warna putih dikombinasi merah, bus tersebut mampu menampung hingga 40-an penumpang.
 Tentu, butuh orang yang berpostur besar untuk mengemudikannya. Namun, jangan salah sangka, ternyata pengemudi bus Pasukan Garuda, julukan timnas Indonesia, di luar bayangan. Tingginya tak sampai 160 sentimeter dan posturnya juga kecil.
‘’Nama saya Irwan. Saya yang membawa bus ini dari Sekretariatan PSSI di Senayan, Jakarta, ‘’ terang dia.
  Bahkan, pekerjannya sebagai sopir bus timnas tersebut sudah dilakukannya sejak 1980-an. Dia memulai dari sopir bus PSSI Garuda 1.
 ‘’Awalnya, saya bekerja di Mas Sigit (Harjojudanto, putra mantan Presiden RI Soeharto yang juga pengurus PSSI kala itu). Saya jadi sopir beliau dan juga mobil-mobil kantor Mas Sigit,’’ ungkap lelaki yang usianya sudah kepala enam tersebut.
 Dia kemudian disuruh membawa bus khusus buat PSSI Garuda. Kebetulan, Sigit merupakan bos proyek tim yang ditangani pelatih Brasil Barbatana.
‘’Saya mengikutinya hingga 1989. Setelah Garuda I bubar, saya disuruh tetap di Garuda tapi yang II,’’ tambah Irwan.
 Dia pun bersama tim tersebut hingga 1991 atau saat PSSI berlaga di Pra Olimpiade. Sayang, perjalanan Agung Setyabudi dkk gagal melaju hingga ke Barcelona, hotst Olimpiade 1992.
‘’Akhirnya, saya pegang bus timnas, bukan hanya untuk Garuda,’’ papar lelaki asal Bukittinggi, Sumatera Barat, tersebut.
 Pada 1991 itu pula, dia ikut merasakan manisnya Indonesia menjadi juara SEA Games 1991 yang dilaksanakan di Manila, Filipina. Hasil itu sampai sekarang belum pernah bisa diulangi.
 Namun, di era Nurdin Halid pada 2005, dia sempat memutuskan pensiun sebagai sopir bus timnas. Irwan memilih kembali ke kantor Sigit di Jakarta.
 ‘’Nah, pada 2010 lalu, saya kembali lagi jadi sopir bus timnas. Pak Tri (Goestroro, Sekjen PSSI saat itu) meminta saya kembali,’’ kenang bapak enam anak tersebut.
 Selama hampir 30 tahun menjadi  sopir timnas, dia hampir mengenal penumpangnya. Bahkan, para pemain yang kini telah beralih menjadi pelatih pun tetap menghormatinya.
 ‘’Saat Nil (Maizar) jadi pelatih nasional, kali pertama bertemu dia mencium tangan saya. Semua orang langsung kaget melihatnya,’’ ungkap Irwan.
 Menurutnya, Nil sangat akrab dengan dirinya sejak di PSSI Garuda II. Kebetulan, keduanya sama-sama berasal dari Ranah Minang, julukan Sumetara Barat.
 ‘’Dia sudah seperti anak sendiri. Semua pemain nasional yang saya sopiri, baik semua,’’ lanjutnya.
 Dari menjadi sopir bus timnas, dia mampu mengentas keenam anaknya. Bahkan, salah satunya pernah menjadi wartawan di DPR RI.
 ‘’Sebenarnya, saya sudah pensiun. Tapi, kalau timnas masih membutuhkan, saya tak bisa menolak,’’ pungkas dia. (*)
Read More

Pensiun, Belajar Melatih dari SSB

Anang Maruf (foto:sidiq)

BIASANYA, Anang Maruf selalu mendapat instruksi dari pinggir lapangan. Namun, beda saat dia berada di Stadion Brawijaya, Surabaya, pada Kamis waktu setempat (19/6).
 ‘Saya belajar dari pelatih. SSB SFC (Surabaya Football Club) menjadi tim yang saya latih,’’ katanya.
 Ini, tambah dia, juga menjadi akhir karirnya sebagai pesepak bola. Sebelumnya, sudah dua puluhan tahun Anang malang melintas di pentas sepak bola Indonesia.
 ‘’Saya sudah tidak muda lagi, 38, tahun. Cak Ibnu (Grahan, pembina SFC) menyarankan agar saya mulai belajar jadi pelatih,’’ terang Anang.
 Dia pun tak mempermasalahkan jika awal karirnya sebagai pelatih harus dimulai dari ajang SSB. Bahkan, Anang menganggap dari SSB lah sebenarnya pijakan menjadi pesepak bola dimulai.
 ‘’Apalagi, saya dapat banyak ilmu karena banyak pelatih yang menangani saya. Semuanya akan saya berikan kepada anak-anak ini,’’ ungkap Anang yang mendampingi SFC dalam HUT SSI Arsenal, Surabaya, tersebut.
 Memang harus diakui, para pelatih yang menanganinya rata-rata punya kemampuan istimewa. Hanya, ilmu yang diperolehnya paling berkesan saat berada di PSSI Primavera, Italia. Apalagi, sosok arsitek tim yang memolesnya tak main-main, Sven-Goran Eriksson. Lelaki asal Swedia itu memoles Anang karena dia juga menukangi induk PSSI Primavera, Sampdoria, Italia.
 ‘’Dia benar-benar menekankan pentingnya dasar sepak bola. Setiap hari latihan umpan (passing) tanpa ada latihan fisik yang berat,’’ ungkap Anang.
 Ya, dari PSSI Primavera itu namanya melambung. Dia direkrut dari seleksi hasil pantauan Piala Soeratin.
 Setelah pulang dari Negeri Pizza, julukan Italia, Anang bergabung dengan klub kota kelahirannya, Persebaya Surabaya pada 1994.
 Bersama Green Force, Anang merasakan manisnya menjadi juara Divisi Utama (saat itu kasta tertinggi sepak bola Indonesia) pada 1997.  Saat di Persija, Anang pun mengangkat trofi yang sama pada 2002.
 ‘’Pada 2004, bersama lagi dengan Persebaya, saya menjadi juara. Alhamdulillah, tiga kali menjadi juara Liga Indonesia,’’ lanjut lelaki yang suka mengenakan topi kalau di luar lapangan tersebut.
 Tetesan keringat Anang pun juga pernah keluar bersama Timnas Indonesia. Sejak 1995 hingga 2003, posisinya di bek kanan seakan tak tergantikan.
 ‘’Saya serahkan saja ke Ismed Sofyan. Sekalian regenerasi di bek kanan,’’ ungkapnya sambil tersenyum. (*)

Sekilas Anang Maruf
Usia sekarang: 38 tahun
Lahir: Surabaya, 28 Mei 1976
Tinggi: 1,73 meter
Posisi: Bek kanan

Klub yang dibela
1994-1999: Persebaya Surabaya
1999-2002: Persija Jakarta
2003: Deltras Sidoarjo
2004-2010: Persebaya Surabaya
2010-2011: Deltras Sidoarjo
2011-2012: Petrokimia Putra
2012-2013: PS Mojokerto Putra
2014: Surabaya Muda
Read More

Selalu Teringat Kegagalan Penalti 1997

USIA: Uston Nawawi (foto:sidiq)

DAHAGA emas Indonesia di ajang SEA Games seharusnya tak perlu sepanjang ini.  Merah putih sudah mampu menembus final pesta olahraga dua tahunan itu pada 1997. Kebetulan, SEA Games dilaksanakan di Jakarta.
Sayang, pertandingan pemungkas di Stadion Senayan Jakarta (kini Stadion Utama Gelora Bung Karno), Indonesia kalah adu penalti dari Thailand.  Uston Nawawi pun tak akan pernah melupakan kejadian itu.
 Ini petikan wawancara saat penulis mendatangi rumah Uston di kawasan Taman Pinang, Sidoarjo, Jawa Timur. (wawancara dilakukan di rumah dan sebuah warung penjual soto daging yang tak jauh dari rumahnya).

Pagi Uston?
-Pagi juga. Akhirnya ketemu juga rumah saya  ha ha ha (kata Uston sambil tertawa). Tidak susah kan mencari rumah saya. Tapi, ini rumah mertua. Namun, rumah saya nggak jauh dari sini.

Bisa cerita sedikit tentang karir sepak bola Anda?
-Saya memulai dari SSB Dolog di Surabaya. Karir mulai naik setelah membela tim pelajar Surabaya. Dari situ, saya mendapat kepercayaan mengikuti seleksi PSSI Barreti di Jakarta. Selain saya, dari Jawa Timur yang dipanggil Charis Yulianto dan kiper Agung Prasetyo. Hanya, dalam seleksi terakhir, Agung  melakukan blunder saat menangkap bola. Jadi, dia gagal berangkat ke Italia.

Bagaimana dengan di Italia?
-Bersama dengan PSSI Baretti saya banyak belajar soal disiplin dan mengatur pola makanan. Sampai sekarang, saya masih saya laksanakan. Sayang, kami tak bisa lama di Italia

Setelah itu?
 -Saya pulang dan mengikuti seleksi PON Jatim. Karena usia yang masih sangat muda (18 tahun), saya kecoret. Namun, saya memperoleh hikmah. Saya diterima di Persebaya Surabaya dan menjadi pemain muda bersama Bejo Sugiantoro di tengah-tengah senior.

Persebaya menjadi klub yang Anda banggakan?
-Bersama Persebaya, saya memperoleh segalanya. Nama besar dan kesempatan masuk timnas senior. Bersama Persebaya juga, saya merasakan menjadi juara Liga Indonesia.

Tentang Timnas Indonesia, Anda punya kenangan?
-Banyak. Tapi,yang paling pahit ya final SEA Games 1997 di Jakarta.

Kenapa Uston?
 Saya jadi penendang yang gagal. Kalau nggak salah penendang keempat. Usia saya masih sangat muda. (Uston kelahiran 1997). Saya ditunjuk menjadi penendang karena banyak pemain-pemain senior yang tidak berani. Aji Santoso (kini pelatih Timnas U-23), bilang ke saya, Ayo Ton, kamu  pasti  bisa.

Bagaimana setelah kegagalan menembak  itu?
-Saya nggak bisa tidur. Bukan hanya semalam itu. Kalau ingat memang menyakitkan. Saya memang juga pernah gagal melakukan eksekusi penalti. Namun, kegagalan di SEA Games 1997 memang jauh beda.

Usia Anda sudah tak muda lagi. Kapan mau pensiun?
-Belum tahu. Saya masih ingin main. Tahun depan pun masih ingin main bola. Kalau untuk di ISL memang sudah berat. Kalau Divisi Utama saya yakin masih mampu

Belum mau jadi pelatih?
-Keinginan sih ada. Saya juga sudah punya lisensi yakni C Nasional. Mungkin sebagai awal, saya jadi asisten pelatih dulu sambil main. (*)

Read More

Jadi Pelatih di Negeri Jiran

Kurnia Sandy (foto:sidiq)

SEORANG tengah berbincang dengan Edi Harto, pelatih kiper Timnas Indonesia Proyeksi Piala AFF 2014. Tampaknya,pertemuan di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat (13/6) tersebut menjadi reuni bagi keduanya.
Dia ternyata Kurnia Sandy. Lelaki ini pernah menjadi pengawa gawang yang tak tergantikan di timnas Indonesia di akhir era 1990-an.
 ‘’Tempat tinggal saya sekarang di Sidoarjo, dekat jalan tol. Perumahan Mutiara Regency,’’ kata Sandy, sapaan karib Kurnia Sandy.
 Dia sudah menetap di Kota Udang, julukan Sidoarjo, sejak empat tahun lalu. Saat itu, dia membela Mitra Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Hanya, kebetulan, Naga Mekes, julukan Mitra Kukar,menggelar latihan di Sidoarjo.
 ‘’Saya dan istri sudah bosan dengan suasana Jakarta. Di Sidoarjo lebih tenang,’’ terang lelaki yang pernah membela tim Serie A Italia, Sampdoria, tersebut.
 Saat ini, Sandy berada di Kota Udang, julukan Sidoarjo, karena tengah liburan. Ya, sejak dua tahun lalu, lelaki asli Semarang tersebut menjadi pelatih di Frend  Malaysia.
 ‘’Saya jadi pelatih di Malaysia. Pekan depan sudah balik lagi ke sana,’’ ungkap Sandy.
 Di tangannya, dia melatih para pesepak bola dari Indonesia dan Malaysia. Diharapkan, dari Frend bakal lahir pesepak bola bagus yang bisa mengangkat nama negaranya masing-masing di negara asalnya. (*)

Sekilas Kurnia Sandy
Panggilan: Sandy
Lahir: Semarang, 24 Agustus 1975
Tinggi: 1,78 meter

Karir:
Timnas: 1995-1998
Klub:
1994-1995: Pelita Jaya
1996-1997: Sampdoria
1997-2000:Pelita Jaya
2001: Persikabo Kabupaten Bogor
2002: PSM Makassar
2003-2006: Arema Indonesia
2007: Persik Kediri
2008-2009: Persebaya Surabaya
2009-2010: Mitra Kukar
Read More

Beda Karakter saat di Luar Lapangan

TIMNAS: Hariono (kiri) (foto: sidiq)

RAMBUTNYA gondrong.Sorot matanya tajam. Lelaki ini pun bermain keras saat di lapangan hijau. Dia tak akan membiarkan pemain lawan menusuk ke jantung pertahanan klub yang dibelanya.
 Namun, sosok sangarnya itu berubah saat di luar lapangan. Tutur katanya pelan dan sopan.
 Ya, dialah Hariono. Pemuda asal Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut merupakan gelandang bertahan sekaligus destroyer Persib Bandung dan juga tim nasional Indonesia saat  ini.
 Penulis secara kebetulan bertemu dengan Hariono saat berkunjung ke rumah mantan pemain Deltras, Miftahul Huda. Hariono singgah ke kawasan Sedati karena ingin melepas kangen dengan seniornya saat di The Lobster, julukan Deltras.
 Penampilannyan pun sangat sederhana. Dia mengenakan celana ¾ dan kaos kasual.
 ‘’Saya liburan pulang  ke rumah di Sukodono dan saya juga mendapat panggilan latihan timnas yang kebetulan  tengah pemusatan latihan di Sidoarjo,’’ kata Hariono kepada pinggir lapangan.
 Ya, Hariono memang asli Kota Udang, julukan Sidoarjo. Dia pun memulai karirnya di kota yang berbatasan langsung dengan kota nomor dua di Indonesia, Surabaya,tersebut.
 Hariono mulai mengenap sepak bola dengan bergabung klub internal Persebaya, Indomaret. Kebetulan,lokasi latihan tidak jauh dari rumahnya.
 Dari Indomaret pula, dia bisa membela Persida Sidoarjo. Nah, saat di Laskar Jenggolo, julukan Persida, dia bisa menembus skuad Deltras, pada musim 2006.
 ‘’Saya dua musim di Deltras. Musim 2006/2007 dan 2007.2008,’’ tambah Hariono.
 Semula, lelaki yang kini berusia 29 tahun tersebut hanya berstatus magang. Namun, kemuannya yang keras akhirnya meluluhkan hati pelatih Deltras saat itu, Jaya Hartono, untuk menempatkannya sebagai gelandang bertahan.  Sebelumnya, Hariono berposisi di bek kiri.
 ‘’Setelah Mas Jaya  ke Persib Bandung,saya diajak  ke sana. Sejak 2008 sampai sekarang, saya di Persib,’’ tambah Hariono.
 Dari Maung Bandung, julukan Persib, dia mulai merasakan bisa membela Indonesia melalui pintu  timnas. Meski, untuk itu, Hariono harus bersaing keras dengan pemain-pemain senior seperti Ponaryo Astaman.
 Hanya, ada sesuatu yang mengganjal bagi dia. ‘’Saya kalau pas ada kejuaraan sering cedera. Moga aja tahun ini bisa membela Indonesia di ajang AFF,’’ pungkasnya. (*)

Read More

Mulai Tekuni Bisnis Jualan Sepatu

BERKEMBANG: Miftahul Huda di depan toko (foto: sidiq)

TAK  banyak pemain bisa seperti Mitahul Huda. Dengan usia 41 tahun, Huda, begitu dia akrab disapa, dia masih berlaga di ajang kompetisi sepak bola di bawah naungan PSSI.
 ‘’Sekarang, saya main Liga Nusantara membela Jombang Putra,’’ kata Huda saat dijumpai di kediamannya di kawasan Sedati, Sidoarjo.
 Sebenarnya, untuk berlaga di level Divisi Utama pun, dia masih sanggup. Buktinya, beberapa tawaran main di kasta kedua sepak bola Indonesia sempat menghampiri.
Hanya, karena tempatnya yang jauh, dengan berat hati dia menolak.  Apalagi, saat ini, dia punya kesibukan baru.
 Apa itu? Bapak dua anak ini punya toko sepatu bola dan kaos olahraga.
 ‘’Sejak musim lalu berakhir, saya buka toko ini. Untuk isi waktu dan juga menambah pemasukan,’’ terang pemain yang seangkatan dengan almarhum gelandang Persebaya dan Timnas Indonesia Eri Irianto di Persida Junior tersebut.
 Musim lalu, Huda membela Perseba Bangkalan di ajang Divisi Utama. Bahkan, dia memperoleh kepercayaan mengemban amanah menjadi kapten.
 Awalnya, dia hanya mempunyai satu etalase yang berada di dalam rumah. Isinya sepatu-sepatu produk yang lagi digandrungi para pesepak bola.
 ‘’Yang harganya terjangkau. Kualitas tetap yang utama,’’ papar lelaki yang namanya mulai melambung setelah bergabung Arema Malang tersebut.
 Lama kelamaan, pembelinya terus bertambah. Ini membuat Huda harus mencari tempat lagu guna meletkkan etalasenya.
 ‘’Saya bilang ke istri, bagaimana kalau garasi mobil yang kosong dijadikan toko? Istri setuju hingga sekarang akhirnya tetap di sini,’’ papar pemain yang membela Deltras di musim 2003-2005 dan 2006-2008 itu.
 Untuk mengembangkan toko sepatu dan kaos olahraganya, Huda pun rela melego mobil Honda CRV nya. Hasilnya, barang di toko yang berada di Talon itu semakin komplet.
 Namun, itu semua tetap tak membuatnya lupa menjaga kondisi. Wajar kalau posisi di bek kanan di Jombang  pun tak tergoyahkan seperti di klub-klub sebelumnya.
 Selain Persida, Arema, Deltras,dan Perseba Bangkalan,  Huda tercatat pernah berkostum Persiba Balikpapan, PKT Bontang, dan Persebaya. Meski masih aktif sebagai pemain, Huda juga menekuni bidang kepelatihan.
 ‘’Saya ada lisensi C. Untuk sementara, jadi pelatih klub lokal sini aja,’’ pungkas bapak dua anak tersebut. (*)


Read More

Tak Lagi Gondrong, Kini Cinta Fotografi

DUNIA BARU: Isdianto dengan kamera miliknya (foto:sidiq)

RAMBUTNYA sudah tak gondrong lagi. Sisiran rapi terlihat pada Isdianto saat ditemui di rumahnya di sebuah perumahan elite di Kecamatan Taman, Sidoarjo.
 Rumah mewah bercat putih serta dua sepeda motor, dan sebuah mobil mini bus terpampang di depan rumahnya itu. Sejak 2007, Isdianto sudah tinggal di rumah tersebut bersama istri dan seorang anaknya.
 ‘’Saya beli saat membela Persijap Jepara. Ini hasil dari bermain bola juga,’’ kata Is, sapaan karib Isdianto.
 Di saat masa jayanya, penampilan lelaki kelahiran November 1978 itu selalu menarik perhatian. Dengan rambut sebahu, Is selalu tampil agresif di lapangan.
 Lelaki asal Banyuwangi, Jawa Timur, ini kuat dalam bertahan dan cepat dalam menyerang. Tak heran, banyak klub yang mengharapkan tenaga dan kemampuan Is di lapangan.
 ‘’Saya memulai karir di Gelora Dewata, Bali. Masuknya pun tak menyangka karena diajak Misnadi (penyerang Gelora Dewata yang kini menjadi pelatih Tim Divisi I Jember United),’’ kata Is mengisahkan perjalanan karirnya.
 Kejadian tersebut terjadi pada 1999 atau saat usianya masih 21 tahun. Is tak kuasa menolak karena di tim kampung halamannya, Persewangi Banyuwangi, dia tak pernah  direkrut.
 ‘’Kebetulan saat itu di Gelora Dewata juga banyak pemain muda seperti Jefri (Dwi Hadi), Ucok (Agustiar Batubara), Agung (Prasetyo), dan Anton (Pribadi). Jadi, saya punya banyak teman yang sama-sama tengah mencari nama di sepak bola,’’ ungkap Is yang kini dikarunai dua anak tersebut.
 Setelah di Gelora Dewata dan kemudian berganti nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD) dari 1999-2002, setelah pindah ke Sidoarjo, Jawa Timur, dari Bali, Is pun melanglang ke Arema (2003-2004), Persijap Jepara (2007-2010), dan Persisam Samarinda (2011-2013). Pada masa jeda, 2005-2006, dia istirahat total dari kompetisi.
 ‘’Saya mengalami cedera dan ingin benar-benar pulih saat tampil di kompetisi. Saat itu, saya cedera usai membawa Arema juara Divisi I Liga Indonesia,’’ kenang Is.
 Meski lama bergulat di olahraga bola sepak, namun Is punya hobi yang tak berhubungan erat dengan olahraga yang ditekuni. Apa itu? ‘’Saya hobi fotografi. Sejak di Jepara, saya mulai belajar dan beli kamera untuk memotret,’’ ungkap Is.
  Nah, di  Samarinda, hobinya semakin tersalurkan. Is mempunyai komunitas pecinta fotografi di Kota Pesut tersebut.
 ‘’Jumlahnya tak banyak karena memang saya batasi. Hanya ada 30 orang,’’ lanjut dia.
 Hobinya memotret itu disalurkan saat dia tak lagi menjalani aktivitas di lapangan hijau. Usai berlatih atau libur latihan, Is dan komunitasnya langsung hunting.
 ‘’Salurkan yang positif. Daripada lari ke hal-hal yang negatif lebih baik tenteng kamera dan mencari objek foto,’’ tambah Is.
 Kini, di Sidoarjo, dia tetap tak bisa meninggalkan hobinya itu. Bahkan, di Kota Udang, julukan Sidoarjo, Is kembali mempunyai komunitas yang sama.
 ‘’Kita saling belajar dan mengasah kemampuan dalam mengambil foto,’’ pungkas lelaki yang musim ini nyaris bergabung dengan Deltras Sidoarjo itu. (*)
Read More

Timnas Senior Sambangi Sidoarjo

KEPERCAYAAN: Stadion Jenggolo, Sidoarjo (foto: sidiq)

TIMNAS Senior bakal singgah di Sidoarjo. Mulai 12-26 Juni 2014, anak asuh Alfred Riedl tersebut bakal menjalani latihan di Kota Udang, julukan Sidoarjo.
 ‘’Kami sudah menerima suratnya bahwa Timnas Senior  akan berlatih di Sidoarjo. Yang mengirim pengurus Pengprov PSSI Jatim Koeshandoko,’’kata Ibnu Hambal, Sekretaris PSSI Sidoarjo.
 Hanya, dia belum tahu tempat menginap skuad yang dipersiapkan menghadapi Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) tersebut. Namun, Ibnu memperkirakan Made Wirawan dkk bakal bakal menginap di Sun Hotel, salah satu hotel mewah di Sidoarjo.
 ‘’Kalau lapangannya sih yang dipakai Stadion Jenggolo dan Stadion Gelora Delta. Hanya, jamnya beda,’’ lanjut Ibnu.
 Pagi, tambah dia, penggawa Garuda akan digembleng di Jenggolo dan sorenya ke Stadion Delta. Imbasnya, semua jadwal latihan di kedua stadion tersebut harus mengalah.
‘’ Harus mengalah buat kepentingan nasional,’’ ucap dia.
 Piala AFF sendiri akan dilaksanakan di Singapura dan Vietnam 22 November – 20 Desember 2014. Indonesia belum pernah menjuarai Piala AFF. Kesempatan sempat terbuka pada 2011 lalu. Sayang, dalam final yang memakai sistem home and away, ambisi Pasukan Garuda dihempaskan Malaysia dengan argregat gol.
 Selain Timnas Senior, rencananya, Agustus 2014, Timnas U-19 juga bakal berlatih di Sidoarjo. (*)

Pemain yang TC di Sidoarjo

Kiper: I Made Wirawan (Persib), Dian Agus Prasetyo (Mitra Kukar), Kurnia Meiga Hermansyah (Arema Cronus)

Bek: Zulkifli Syukur (Mitra Kukar), Supardi Nasir Bujang (Persib), Achmad Jufriyanto (Persib), Muhamad Roby (Pusam), Fachruddin Wahyudi Aryanto (P-MU), Ricardo Salampessy (Persebaya), Rizki Rizaldi Pora (Barito Putera), Ruben Karel Sanadi (Persipura)

Tengah: Imanuel Wanggai (Persipura), Ahmad Bustomi (Arema), Hendro Siswanto (Arema), Hariono (Persib), Gerald Pangkali (Persipura), Firman Utina (Persib), Steven Anderson Imbiri (Persiram), Dedi Hartono (Barito Putera), Zulham Malik Zamrun (Mitra Kukar)

Depan: Tantan (Persib), Cristian Gonzales (Arema), Samsul Arif Munip (Arema), Boaz Solossa (Persipura)

Read More

Masih Bisa Imbangi Veteran Bintang Dunia



Bejo Sugiantoro (kanan) dan Fabio Cannavaro

 SIAPA yang tak bangga bisa bermain dengan pemain dunia. Pemain sekelas Bejo Sugiantoro pun mengakuinya.
 Itu dialaminya saat membela Indonesia All Star melawan Football Legend di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Sabtu malam (7/6). Bejo tampil menghadapi pemain-pemain yang tak mungkin dihadapinya saat di era kejayaan libero asal Surabaya tersebut di era 1990-an hingga awal 2000-an.
 Dia harus menghadapi Robbie Fowler yang menjadi andalan Inggris, Rivaldo asal Brasil yang pernah menjadi pemain terbaik dunia, dan juga Luis Figo, salah satu legenda asal Portugal.
 ‘’Senang banget bisa bermain dengan mereka. Meski sudah tak muda lagi, tekniknya masih luar biasa,’’ kata Bejo kepada pinggir lapangan.
 Dia pun dipercaya bermain penuh selama 2x45 menit. Meski sudah tak muda lagi, 37, namun skillnya di atas lapangan belum hilang. Bejo beberapa kali menunjukan skill tingginya di atas para pemain veteran dunia.
 Setelah pertandingan, dia pun tak membuang kesempatan juga. Bejo berfoto dengan pemain belakang yang sukses membawa Italia menjadi juara Piala Dunia 2006, Fabio Cannavaro.
 ‘’Saya ingin foto saya dengan Cannavaro untuk menginspirasi pemain-pemain muda,’’ ucap Bejo.
 Dia tampil membela Indonesia All Star atas ajakan Kurniawan Dwi Julianto. Mereka yang tampil beberapa di antaranya merupakan mantan skuad PSSI Primavera dan Baretti yang pernah digembleng di Italia di era 1990-an.
 Sayang, di antara nama-nama tersebut tidak ada nama Uston Nawawi dan Haryanto ‘’Tommy’’ Prasetyo. Keduanya merupakan mantan bintang lapangan tengah Indonesia yang dibesarkan oleh PSSI Baretti.
 ‘’Namanya diajukan ke EO (event organizer). Merekalah yang menentukan bisa masuk atau tidak,’’ ungkap Bejo, yang kini tinggal di Taman, Sidoarjo, itu.
 Bejo merupakan satu dari dua libero terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Satu pemain lagi adalah seniornya, Herry Kiswanto.
 Sejak usia belasan, Bejo sudah mengenakan seragam Persebaya Surabaya. Berbagai gelar sudah direngkuhnya bersama Green Force, julukan Persebaya. Di masa jayanya, dia sempat hengkang ke PSPS Pekanbaru.
 Namun, setelah itu, Bejo kembali ke Persebaya. Barulah di akhir karir, bapak empat anak ini meninggalkan tim pujaan Bonekmania untuk membela Persidafon Dafonsoro, Papua, kemudian PSMP Mojokerto, dan kini di Persida Sidoarjo. (*)

Susunan pemain:
Indonesia All Star: 1-Hendro Kartiko; 2-Leo Saputra, 33-Alex Pulalo, 4-Charis Yulianto (22-Gendut Doni), 5-Bejo Sugiantoro, 7-Widodo C Putro, 99-Francis Wewengkang, 10-Kurniawan Dwi Yulianto, 11-Bima Sakti, 12-Gusnedi Adang, 16-Imran Nahumarury (9-Indriyanto 18), 20-Bambang Pamungkas

Football Legend: 1-Francesco Toldo, 13-Alesandro Nesta, 23-Marco Materazzi, 27-Mikael Silvestre, 4-Patrice Vieira, 6-Hidetoshi Nakata, 7-Luis Figo, 19-Gianluca Zambrotta, 10-Rui Costa, 11-Rivaldo, 21-Nuno Gomez (9-Robbie Fowler)




Read More

Ada Indonesia di Liga Brasil

SKILL TINGGI: Kevin de Oliveira

BRASIL memang dikenal kiblat sepak bola dunia. Tak salah rasanya jika ada pemain Indonesia yang menimpa ilmu di Negeri Samba, julukan Brasil. Dia adalah Kevin de Oliveira.
 ‘’Anak saya sudah hampir satu tahun di Brasil. Dia bergabung dengan Goiania FC,’’ kata Gomes de Oliveira, sang ayah.
 Kebetulan, tambah dia, ibunya juga tinggal di Kota Goiania. Selain itu, klub tersebut juga merupakan klub asal Gomes sebelum dia bermain di kancah sepak bola Indonesia.
 ‘’Jadi, Kevin tinggal di rumah mama saya atau neneknya. Namun, semua program makan, klub yang mengatur,’’ ungkap Gomes yang memulai karirnya di Indonesia bersama dengan Mitra Surabaya tersebut.
Ini, tambah dia, membuat postur Kevin tumbuh dengan baik.Kali terakhir, dari data yang diterima Gomes, pemain yang pernah menima ilmu di klub internal Persebaya Surabaya, PS Mahasiswa, tersebut mempunyai tinggi 180 sentimeter.
Padahal, saat ini, Kevin masih berusia 16 tahun. Ini membuat putra Gomes dengan istrinya, Chris Sintya, tersebut masih berlaga di level kelompok umur.
 ‘’Waktu datang, Kevin main di bek kiri. Karena skill yang dimilikinya bagus, pelatih memindahkannya menjadi gelandang,’’ ungkap lelaki 52 tahun tersebut.
 Dia dan istrinya pun tak akan mengekang Kevin. Jika beralih menjadi warga negara Brasil demi kemajuan karirnya, mereka mengizinkan.
 ‘’Siapa tahu dia main di klub besar Brasil dan menjadi pemain nasional di sana. Kami selaku orang tua hanya bisa mendukung,’’ ungkap Gomes.
   Begitu juga jika ingin kembali ke Indonesia. Menjadi pesepakbola pun bukan paksaan dari Gomes dan istrinya.
 ‘’Dia sendiri yang ingin menjadi pemain sepak bola. Brasil memang menjadi pilihan yang tepat baginya untuk menuntut ilmu bola,’’ ungkap lelaki yang kini menjadi pelatih Persiram Raja Ampat di kancah Indonesia Super League (ISL).
 Selain Kevin, pasangan Gomes-Chris Sintya juga dikaruniai putra Lorenzo Gomes de Oliveira. (*)

Read More

Persebaya Tetap yang Berkesan

RUMAH: Muzaky dengan foto saat di Persebaya (foto: sidiq)

LINI tengah Persebaya Surabaya selalu melahirkan pemain bintang. Ada Budi Yohanes, Ibnu Grahan, (alm) Eri Irianto, Uston Nawawi, Taufik, dan terakhir Andik Vermansyah.
 Tapi, ingat, di era pertengahan ada juga nama Muzaky. Pada masanya, 1992-1996, posisinya tak tergantikan.
 ‘’Kadang, saya bermain sebagai gelandang bertahan. Namun, sering juga dimainkan sebagai gelandang serang,’’ kata Muzaki saat ditemui di rumahnya, Kenongo, Tulangan, Sidoarjo, pada Jumat siang (6/6).
 Dia pernah bertandem dengan Ibnu serta Uston Nawawi muda yang tengah masuk untuk menjadi bintang Green Force, julukan Persebaya.
 “Empat musim yang sangat berkesan. Saya bermain di era akhir kompetisi perserikatan dan awal-awal Liga Indonesia,’’ tambah Muzaki.
 Di tim pujaan warga Kota Pahlawan, julukan Surabaya, mendapat tambahan ilmu dari Misbach, Nino Sutrisno, hingga pelatih asing asal Bulgaria Alexander Kostov.
 Setelah tak lagi di Persebaya, pada 1997, Muzaky sempat berkostum ke klub sekota, Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS). Di klub tersebut, Muzaky hanya bertahan semusim.
 ‘’ Setelah itu, saya pensiun dan tak main di Liga Indonesia. Banyak tawaran termasuk Arema, tapi saya tolak,’’ kenang dia.
 Alasannya, pekerjannya sebagai PNS Kota Surabaya di PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) tak bisa ditinggalkan. Dia lebih senang bermain membela klub asalnya, Putra Gelora, di kompetisi internal Persebaya.
 Dunia kepelatihan pun mulai ditekuni. Putra Gelora pun pernah ditangani. ‘’Persida juga pernah. Namun, paling sukses ya membawa Deltras U-18 juara di Singapura,’’ lanjut bapak dua anak tersebut.
 Kini, di usia yang sudah tak muda lagi, 47, tahun, tenaga dan pikiran Muzaky dipakai klub daerah asalnya, Deltras. Selain itu, dia juga membina anak-anak di Tulangan. SSB Sinar Harapan pernah dibawanya ke masa keemasan dan banyak anak asuhnya yang mengikuti jejaknya bermain di Liga Indonesia.
 Salah satunya Khodari Amir. Dia pernah melanglang ke berbagai klub mulai Mitra Surabaya hingga Deltras dan Mitra Kutai Kartanegara (Kukar). (*)

Sekilas Muzaky
Nama: Muzaky
Usia: 47 Tahun
Status: Bapak 2 Anak
Klub saat Jadi Pemain: Putra Gelora, Persebaya, ASGS
Klub saat Jadi Pelatih: Putra Gelora, Persida, Deltras U-18, Deltras Senior

Read More

Kelezatan Rawon dari sang Kiper

PERSIAPAN: Agung Prasetyo di depan stan (foto: sidiq)

AWALNYA, saya tak percaya kalau Agung Prasetyo menekuni bisnis kuliner. Namun, teman yang kali pertama memberitahukan aktivitas kiper senior itu begitu ngotot bahwa apa yang disampaikannya benar.
 Saya pun penasaran. Ini dikarenakan selama kenal dengan lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut tak pernah bercerita bakal terjun ke dunia kuliner. Bahkan, Agung pernah bercerita, suatu saat dia ingin terjun di bisnis pakaian.
 Saat itu, saya pun langsung mencari stan Agung menjajakan kulinernya. Ternyata tak susah mencarinya alamat yang diberikan teman tempat kiper yang sukses mengantarkan Jatim meraih emas PON 2000 itu menjajakan makanan.
 Dari Pasar Wage, Kecamatan Taman,Sidoarjo, stan Agung berjarak kurang lebih 300 meter. Nama stannya, Rawon Agung.
 Kali pertama, saya pun ragu-ragu masuk. Namun, akhirnya saya pun memberanikan diri untuk melihat dari dekat. Barulah saya yakin bahwa kiper yang sempat masuk dalam jajaran penjaga gawang papan atas Indonesia tersebut menekuni bisnis kuliner.
 Setelah itu, saya nyaris tak pernah kebagian rawon yang dijual bapak tiga anak tersebut. Setiap ke sana, di atas pukul 22.00 WIB, selalu habis.
 Nah, pada Kamis malam (5/6/2014), saya datang ke Rawon Agung. Hanya, ketika itu, saya mengontak Agung menanyakan apakah rawonnya masih. Ini saya lakukan agar kejadian rawon habis tak kembali terulang.
 ‘’Di atas jam 10 malam, rawon sudah habis. Alhamdulillah, masyarakat sekitar sini cocok dengan menu yang saya jual,’’ kata Agung.
 Dia menambahkan, dunia kuliner sebenarnya sudah dia tekuni setahun terakhir. Itu dilakukannya setelah mantan kiper Persis Solo tersebut tak diperpanjang kontraknya oleh Persegres Gresik.
 ‘’Saya jualan penyetan dulu. Tempatnya sebelah barat dari sini,’’ jelas Agung sambil menunjuk tempat yang kali pertama dia menekuni bisnis kuliner.
 Tempat yang jaraknya tak kurang 100 meter dari SD Wage itu kini berubah menjadi warung kopi. Dagangan penyetan, lanjut Agung, berjalan tak sesuai harapan.
 ‘’Sebenarnya, tidak sepi hanya lambat perkembangannya,’’ tambah Agung.
 Dia akhirnya banting setir dengan menjual rawon dan pecel. Lokasi stannya pun pindah. Ternyata, lokasi baru tersebut ikut mendongkrak penjualan.
 ‘’Dulu jalan depan stan ini rusak. Setelah diperbaiki, saya pun memutuskan pindah ke sini. Apalagi, kawasan ini memang tempatnya orang berjualan makanan,’’ ungkap lelaki yang juga pernah membela dua tim Kalimantan, Persisam Samarinda dan Mitra Kutai Kartanegara (Kukar), tersebut.
 Kini, seiring rawon dan pecelnya laris manis, sehari Agung menghabiskan 12 kilogram beras setiap hari. Kondisi ini pun membuat dia ingin membuka cabang di tempat yang jauh dari Wage.
 Meski dunia baru sudah bisa memberikan guyuran rupiah, Agung tetap masih ingin jatuh bangun di lapangan hijau. Hanya, dengan bertambah usia, dia mengaku satu atau dua tahun ke depan bakal menjadi akhir karirnya di bawah mistar. (*)
Read More

Uston Masih Haus Prestasi

Uston Nawawi (foto:sidiq)
DI era akhir era 1990-an dan 2000-an, tempat di lini tengah menjadi milik Uston Nawawi. Lelaki asal Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut mampu menjawab kepercayaan tersebut dengan baik.
 Umpannya terukur dan tembakan jarah jauhnya acap kali membuahkan gol. Tak heran kalau klub sebesar Persebaya Surabaya pun  tak pernah mau melepaskannya. Uston berseragam Green Force, julukan Persebaya, dari 1995-2002. 
 Memang, dia sempat hengkang ke PSPS Pekanbaru. Rayuan rupiah yang menjanjikan membuat Uston sempat berpaling.
 Namun, Uston hanya bertahan satu musim. Musim 2004, pemain binaan SSB Dolog, Surabaya, ini kembali ke Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Namun, karena ada ketidakcocokan dengan salah satu petinggi Persebaya, Uston pun akhirnya berkelana dari satu klub ke klub yang lain.Persisam Samarinda, Persidafon Dafonsoro, dan Persegres merupakan klub-klub yang pernah dibela Arek Sukodono, nama salah satu kecamatan du Sidoarjo, tersebut.
Pada 2014 ini, Uston pun pulang kampung. Lekaki yang usianya sudah 37 tahun tersebut membela Persida Sidoarjo yang baru saja promosi ke Divisi Utama.
 Tanggungjawabnya di Laskar Jenggolo, julukan Persida, juga tak enteng. Dia dipercaya menjadi kapten.
 ‘’Namun, saya nggak tahu musim depan ke mana. Saya masih ingin main bola sampai sudah tak kuat lagi,’’ kata Uston.
 Hanya, dia ingin klub yang dibelanya nanti punya ambisi tinggi. Di kala usia senja, Uston masih ingin merasakan manisnya prestasi.
 Saat indah tersebut pernah dirasakannya di Persebaya dengan menjadi juara Divisi Utama musim 1996-1997 dan 2004 serta juara Divisi I musim 2006. Dia juga pernah mengantarkan Pusam menjadi juara Divisi I 2008-2009. (*)


Read More

Sudah Kantongi Lisensi Pelatih FA Singapura


MAMPU: Wasiyatul Akmal (foto: sidiq)
PAGI itu, para pemain Deltras Sidoarjo tengah berlatih di Stadion Jenggolo. Tak biasanya, anak asuh Riono Asnan tersebut berpeluh keringat di stadion tertua di Kota Udang,julukan Sidoarjo, tersebut.
 Ini dilakukan karena Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, tengah dijajal oleh lawan Persida, rival sekota Deltras. Otomatis, penggawa The Lobster, julukan Deltras, tak bisa memakai lapangan di sana.
 Nah, ketika latihan usai, penulis melihat salah seorang pemain dengan inisal WA di dada. Dengan kaos gelap, dia menenteng sepatu yang baru saja dipakai.
 Ternyata, pemain tersebut adalah Wasiyatul Akhmal. Pemain ini sudah lama malang melintang di pentas sepak bola. Klub-klub besar pernah dibela lelaki yang kini berusia 34 tahun tersebut.
 Namanya mulai terangkat bersama Persija Jakarta. Kemudian, Akmal, begitu Wasyiyatul sering disapa, melanglang ke PSM Makassar, PSS Sleman, Mitra Kukar, hingga Perseman Manokwari.
 ‘’Saya nggak digaji di Perseman. Begitu ada tawaran ke Deltras di putaran II yang saya terima,’’ kata Akmal.
 Dia pun mengakui karirnya di lapangan hijau bakal tak lama lagi. Untuk itu, lelaki asal Betawi itu pun sudah menyiapkan diri guna menopang masa depannya.
 ‘’Saya sudah mengikuti kursus kepelatihan. Bukan di Indonesia tapi di Singapura dengan pengawasan langsung dari FA (Asosiasi Sepak Bola) Singapura,’’ lanjut Akmal.
 Hanya, dia belum memastikan kapan lisensinya bakal dipakai. Saat ini, konsentrasinya hanya ingin bermain sebaik mungkin guna mendongkrak posisi The Lobster yang masih terpaku sebagai juru kunci Grup 6 Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia musim 2014. (*)

Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com