www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rabu, 18 Juni 2014

Selalu Teringat Kegagalan Penalti 1997

USIA: Uston Nawawi (foto:sidiq)

DAHAGA emas Indonesia di ajang SEA Games seharusnya tak perlu sepanjang ini.  Merah putih sudah mampu menembus final pesta olahraga dua tahunan itu pada 1997. Kebetulan, SEA Games dilaksanakan di Jakarta.
Sayang, pertandingan pemungkas di Stadion Senayan Jakarta (kini Stadion Utama Gelora Bung Karno), Indonesia kalah adu penalti dari Thailand.  Uston Nawawi pun tak akan pernah melupakan kejadian itu.
 Ini petikan wawancara saat penulis mendatangi rumah Uston di kawasan Taman Pinang, Sidoarjo, Jawa Timur. (wawancara dilakukan di rumah dan sebuah warung penjual soto daging yang tak jauh dari rumahnya).

Pagi Uston?
-Pagi juga. Akhirnya ketemu juga rumah saya  ha ha ha (kata Uston sambil tertawa). Tidak susah kan mencari rumah saya. Tapi, ini rumah mertua. Namun, rumah saya nggak jauh dari sini.

Bisa cerita sedikit tentang karir sepak bola Anda?
-Saya memulai dari SSB Dolog di Surabaya. Karir mulai naik setelah membela tim pelajar Surabaya. Dari situ, saya mendapat kepercayaan mengikuti seleksi PSSI Barreti di Jakarta. Selain saya, dari Jawa Timur yang dipanggil Charis Yulianto dan kiper Agung Prasetyo. Hanya, dalam seleksi terakhir, Agung  melakukan blunder saat menangkap bola. Jadi, dia gagal berangkat ke Italia.

Bagaimana dengan di Italia?
-Bersama dengan PSSI Baretti saya banyak belajar soal disiplin dan mengatur pola makanan. Sampai sekarang, saya masih saya laksanakan. Sayang, kami tak bisa lama di Italia

Setelah itu?
 -Saya pulang dan mengikuti seleksi PON Jatim. Karena usia yang masih sangat muda (18 tahun), saya kecoret. Namun, saya memperoleh hikmah. Saya diterima di Persebaya Surabaya dan menjadi pemain muda bersama Bejo Sugiantoro di tengah-tengah senior.

Persebaya menjadi klub yang Anda banggakan?
-Bersama Persebaya, saya memperoleh segalanya. Nama besar dan kesempatan masuk timnas senior. Bersama Persebaya juga, saya merasakan menjadi juara Liga Indonesia.

Tentang Timnas Indonesia, Anda punya kenangan?
-Banyak. Tapi,yang paling pahit ya final SEA Games 1997 di Jakarta.

Kenapa Uston?
 Saya jadi penendang yang gagal. Kalau nggak salah penendang keempat. Usia saya masih sangat muda. (Uston kelahiran 1997). Saya ditunjuk menjadi penendang karena banyak pemain-pemain senior yang tidak berani. Aji Santoso (kini pelatih Timnas U-23), bilang ke saya, Ayo Ton, kamu  pasti  bisa.

Bagaimana setelah kegagalan menembak  itu?
-Saya nggak bisa tidur. Bukan hanya semalam itu. Kalau ingat memang menyakitkan. Saya memang juga pernah gagal melakukan eksekusi penalti. Namun, kegagalan di SEA Games 1997 memang jauh beda.

Usia Anda sudah tak muda lagi. Kapan mau pensiun?
-Belum tahu. Saya masih ingin main. Tahun depan pun masih ingin main bola. Kalau untuk di ISL memang sudah berat. Kalau Divisi Utama saya yakin masih mampu

Belum mau jadi pelatih?
-Keinginan sih ada. Saya juga sudah punya lisensi yakni C Nasional. Mungkin sebagai awal, saya jadi asisten pelatih dulu sambil main. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com