www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Tak Pernah Lupa dengan Barmen

Jacksen (kanan), Abdul Muis, M. Barmen, M. Jamil, dan Rizal.

JACKSEN F. Tiago sudah menjadi pelatih papan atas Indonesia. Namun, dia tak pernah lupa dengan masa lalunya saat memulai karir menjadi arsitek tim.
 Setelah pensiun pada 2001, setahun kemudian, Jacksen dipercaya menangani Assyabaab, klub internal Persebaya Surabaya. Klub binaan M. Barmen tersebut sukses diantarkan lelaki asal Brasil yang kini berusia 46 tahun tersebut  menjadi juara.
 Setelah itu, karirnya sebagai pelatih tak kalah menterengnya dibandingkan saat jadi pemain. Saat jadi pemain, bapak tiga anak tersebut mampu membawa Persebaya Surabaya menjadi juara Liga Indonesia 1996/1997 juara. Gelar itu dilengkapi dengan menjadi top scorer (pencetak gol terbanyak).
Namun, ketika menjadi pelatih, Green Force, julukan Persebaya, juga mampu diantarkannya mengoleksi trofi Liga Indonesia di musim 2003 dan 2004. Bedanya, di musim 2003, Persebaya juara Divisi I dan kembali ke Divisi Utama yang saat itu masih menjadi kasta tertinggi di orbit sepak bola tanah air. Setahun kemudian, barulah tim pujaan Bonekmania tersebut menjadi juara Divisi Utama.
 Kesuksesan itu diulangi di Persipura Jayapura.Tak tanggung-tanggung, tiga kali Mutiara Hitam dipolesnya menjadi juara Indonesia Super League (ISL) yakni pada 2008/2009, 2010-2011, dan 2012/2013. Selain itu, Persipura juga naik ke podium terhormat dalam Community Shield 2009 serta Inter Island 2011.
 Nah, semua gelimang gelar itu tetap membuat Jacksen sadar. Semua itu dimulainya dari Assyabaab.
 ‘’Hampir setiap ke Surabaya, saya pasti ke rumah Pak Barmen. Apalagi, ini masih suasana Lebaran,’’ kata Jacksen saat bertemu di rumah Barmen di kawasan Ampel, Surabaya.
 Menariknya, karena masih suasana Lebaran, Jacksen pun mengenakan pakaian koko warna putih. Meski agak sesak, namun lelaki yang juga sempat menangani Persitara Jakarta Utara tersebut seperti warga Ampel yang mayoritas muslim.
 Pertemuan Jacksen dan Barmen pun berlangsung lama. Selain penulis, ada juga mantan wartawan M. Jamil. Selain itu, hadir pula wartawan senior Abdul Muis bersama putra dan kerabatnya. Hanya, mereka pulang lebih dulu karena ada keperluan.
 Setelah pertemuan, Jacksen pamit untuk berkemas-kemas di Bandara Juanda. Sorenya dia harus terbang ke Jayapura untuk kembali ke rutinitasnya menangani Boaz Solossa dkk. (*)

Read More

Sabar Menangani Pesepak Bola Putri

Muhammad Ikhsan (foto: sidiq)

TAK gampang bergelut di dunia sepak bola putri. Apalagi, dia seorang lelaki.
 Namun, Muhammad Ikhsan sudah melakoninya selama 12 tahun. Atau tepatnya sejak 2002.
 "Kali pertama, saya menangani Deltris. Saya dapat tawaran menangani tim itu oleh seorang anggota dewan," kata Ikhsan kepada pinggirlapangan.
 Awalnya, perjalanannya menangani tim asal Sidoarjo tersebut juga tak mulus.  Tantangan dari keluarga begitu besar.
 "Saya sempat ribut dengan istri. Sebagai perempuan, dia cemburu kalau saya dekat dengan perempuan lain," kenang lelaki 50 tahun tersebut.
 Untuk meyakinkan istri, Ikhsan pun mengajak sang istri ke lapangan untuk melihat dirinya melatih para perempuan-perempuan perkasa itu.
 "Istri akhirnya malah mendukung. Dia malah sering membelikan makanan atau minuman buat para pemain," tambah Ikhsan.
 Di tangan Ikhsan, Deltris menjadi tim disegani. Sayang, di tengah jalan, mereka harus berhenti.
 "Kami sempat bingung, ke mana akan berinduk. Untung, Persida mengerti dan mau membina sepak bola putri," jelas lelaki yang bekerja di Jasa Marga juga dari sepak bola itu.
 Ternyata, tuah Ikhsan di Deltris berlanjut di Persida Putri. Dua tahun terakhir, 2012 dan 2013, Marem Kris dkk mampu menjadi yang terkuat di Jatim di ajang Piala Bude Karwo (istri Gubernur Jatim Soekarwo yang akrab disapa Pakde Karwo).
 Tahun ini, Ikhsan pun kembali dipercaya memoles Persida Putri. Namun, suara sumbang kembali santer terdengar.
 Dia pun sempat berbesar hati dengan merelakan posisinya diisi orang lain. Namun, tak ada satupun yang bisa.
"Penolakannya sama dengan saya dulu.Istri mereka melarang," ungkap Ikhsan.
Akhirnya, amanah itu dikembalikan ke dia. Kini, Ikhsan pun bertekad memberikan prestasi kepada Persida Putri.
Dalam menangani tim putri, Ikhsan termasuk sabar. Dia tak pernah memarahi pemainnya.
 "Saya pakai prinsip perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Jadi kalau dikerasin bisa patah.Saya harus sabar menghadapi mereka," jelas Ikhsan tentang kiatnya dalam menangani pesepak bola putri. (*)
Read More

Dari Sekolah-Sekolah hingga Turnamen Futsal

Persida Putri di Lapangan Ental Sewu (foto;sidiq)

LAPANGAN Ental Sewu, Sidoarjo, tampak beda dua hari terakhir (12-13 Juli 2014). Di sana, terdapat banyak perempuan memakai sepatu bola.
 Ternyata, mereka merupakan para pemain Persida Putri. Tim tersebut tengah mempersiapkan diri menghadapi Kejuaraan Nasional Sepak Bola Putri yang akan dilaksanakan di Jakarta pada Agustus mendatang.
 ‘’Kami baru mengumpulkan para pemain-pemain di sini. Kami melakukan peremajaan tim juga,’’ kata M. Ikhsan, pelatih Persida Putri.
 Ya, di antara wajah-wajah Persida Putri mayoritas muka-muka baru. Usianya pun masih masuk dalam kategori belasan.
 ‘’Pemain-pemain yang senior banyak yang tidak kami pakai. Aturannya nanti pemain putri yang tampil di kejurnas usianya harus di bawah 25 tahun,’’ jelas Ikhsan.
 Untuk itu,dia pun harus rela mencari para pemain dari seantero Sidoarjo. Mulai dari sekolah hingga kejuaraan-kejuaraan futsal yang digelar di Kota Udang, julukan Sidoarjo.
 ‘’Tapi, sampai saat ini, pemain kami tetap masih kurang. Sambil jalan, kami juga membenahi kelemahan yang masih ada di tim,’’ ungkap lelaki yang juga pernah menjadi asisten pelatih kiper Persida tersebut.
 Nah, dalam menghadapi kejurnas nanti, mereka juga telah menggelar uji coba. Hanya, lawan yang  dihadapi bukan sesama tim putri.
 Anak asuh Ikhsan tersebut mengukur kemampuannya melawan tim SSB dengan usia 10-12 tahun. Sebuah SSB di Ental Sewu menjadi lawan perdananya pada Minggu (13/7).
‘’Lawannya memang anak-anak. Kalau lawan laki-laki yang senior, tentu bukan tandingan,’’ papar Ikhsan. (*)

Tahukah tentang Persida Putri:
-Dulunya bernama Deltris (Deltras Putri Sidoarjo). Tim ini lahir pada 2003.
-Dengan nama Persida Putri, pendanaan tim masuk dalam anggaran Askab PSSI Sidoarjo
-Dua kali menjadi juara Piala Bude Karwo (2012 dan 2013)

Read More

Nikmati Suasana Piala Dunia di Rumah Sendiri

Jacksen F. Tiago (dua dari kiri) bersama jurnalis Indonesia

KEKALAHAN Brasil di semifinal Piala Dunia 2014 sangat menyakitkan pendukungnya. Apalagi, kekalahan tersebut dengan skor telak 1-7 dan terjadi di kandang sendiri di babak semifinal.
 ‘’’Felipao (sapaan karib pelatih Brasil Felipe Scolari) bilang terjadi black out missal ,’’ kelakar Jacksen F. Tiago, mantan pelatih nasional Indonesia yang lagi pulang ke kampung halamannya di Brasil.
 Meski berada di rumah sendiri, dia mengaku tak pernah sekalipun datang ke stadion. Hari-harinya dihabiskan nonton Piala Dunia di rumah bersama rekan-rekannya.
 ‘’Kami selalu nonton bersama teman-teman  sambil makan Churrasco, koget samba, dan minum,’’ ungkap Jacksen.
 Dia mengakui kepulangannya ke Negeri Samba, julukan Brasil, juga dalam rangka menikmati suasana Piala Dunia 2014. Untuk itu, sementara waktu, Jacksen pun melupakan Persipura Jayapura, tim yang ditanganinya dan dibawanya menjadi juara Indonesia Super League (ISL).
 Hanya, akhir Juli ini, lelaki yang juga sukses mengantarkan Persebaya Surabaya  menjadi juara baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih itu bakal kembali ke Papua. Tantangan berat sudah menanti Jacksen.
 Jacksen merupakan salah satu sosok pemain dan pelatih asing yang mereguk sukses di Indonesia. Datang sejak Liga Indonesia 1994-1995, dia membawa Petrokimia Putra menjadi runner-up Liga Indonesia I yang merupakan konsep menggabungkan kompetisi galatama dan perserikatan.
 Jacksen baru bisa juara bersama Persebaya Surabaya pada musim 1996-1997  setelah setahun sebelumnya juga menduduki posisi II dengan kostum PSM Makassar.  Setelah lama malang melintang di berbagai klun, Jacksen mengakhirinya sebagai pemain bersama Petrokimia Putra Gresik.
 Karirnya sebagai pelatih juga tak kalah moncer. Ayah Mattheus dan Ayub ini mengantarkan Persebaya menjadi juara pada 2007.  Ini membuat banyak klub pun berebut meminang.
 Akhirnya, Persipura Jayapura dua kali dibawa menjadi juara Indonesia Super League (ISL) musim 2008-2009, 2010-2011, dan 2012-2013.  (*)

Read More

Rasakan Manisnya Semua Gelar

AWET: Maura Helly (foto: sidiq)

TAK banyak pemain yang bisa merasakan banyak gelar.  Apalagi, itu dicapai di berbagai event.
 Tapi, itu mampu dilakukan oleh seorang Maura Helly. Lelaki yang kini berusia 55 tersebut mampu menjadi juara Galatama, Perserikatan, dan kejuaraan antarklub.
 ‘’Namun, kali pertama saya juara bersama PON Lampung pada 1981. Saya ke sana setelah gagal membawa Persebaya Junior juara Piala Suratin,’’ terang Helly, sapaan karib Maura Helly.
 Namun, kegagalan itu tak membuatnya patah semangat. Didikan militer dari sang ayah ikut menempa semangat dan kemampuan lelaki yang mempunyai darah Nusa Tenggara Timur tersebut.
 Kembali ke klub asalnya, PS Angkatan Darat (PSAD), dia tetap berlatih rutin. Tak jarang, Helly menambah porsi latiahan sendiri.
 Nah, kebetulan, ketika Jaka Utama,klub Galatama asal Lampung, mencari lawan buat persiapan melawan Niac Mitra, PSAD yang dipilih. Pada pertandingan itu, terang Helly, dirinya bermain bagus.
 ‘’Pelatih Jacob (Sihasale) yang menangangi Jaka Utama tertarik. Nah, kebetulan pas diajak teman, ketemu dan saya ditawari gabung,’’ kenang Helly.
 Sejak 1980 itu, dirinya memutuskan sepak bola sebagai bagian dari hidup ke depan.  Setelah Jaka Utama, tawaran dari klub raksasa saat itu,Yanita Utama Bogor menghampiri.
 ‘’Yanita klub yang dihuni pemain-pemain papan atas Indonesia. Ada Herry Kiswanto, Rudy Keltjes, dan Joko Malis,’’ ungkap lelaki yang kini tinggal di kawasan Rungkut Asri Tengah, Surabaya, tersebut.
 Namun, lanjutnya, dia tak gentar. Dia menjadi salah satu kepercayaan dari pelatih asing asal Belanda yang menangani klub asal Kota Hujan, julukan Bogor, Wiel Coever.
 ‘’Saya banyak belajar dari Coever. Dia dekat dan perhatian dengan pemain,’’ tutur Helly.
 Bersama Yanita, bapak dua anak tersebut menjadi juara dua  musim 1983/1984 dan 1984/1985.  Ini membuat Yanita pun mewakili Indonesia di kejuaraan antarklub ASEAN.
 ‘’Namun, di final, kami kalah dari Bangkok Bank, Thailand,’’ ujar Helly.
 Saat Yanita bubar dan boyongan ke Kramayudha Tiga Berlian, dia sempat tertarik ikut ke Palembang, Sumatera Selatan, home klub itu. Namun, ketika berada di Kota Empek-Empek, ternyata tak sesuai harapan. Hanya, saat wawancara yang dilakukan pada Selasa malam (8/7/2014), dia tidak menerangkan dengan pasti apa yang membuat dia enggan bergabung dengan Kramayudha.
 ‘’Saya pilih ke Surabaya dan menerima tawaran Persebaya. Sejak itu, saya menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Persebaya,’’ tambah lelaki yang beristri wanita berdarah Solo, Jawa Tengah, ini.
 Di Green Force, julukannya, dia merasakan jatuh bangun. Kegagalan dirasakannya pada Kompetisi Divisi Utama musim 1986/1987.
 Gol semata wayang Syafiul Amri menghancurkan harapan publik  Kota Pahlawan. Namun, setahun kemudian, barulah Helly merasakan manisnya gelar juara perserikatan.
 Pada tahun 1988 juga,Helly sukses mengantarkan klubnya, Suryanaga, menjadi juara nasional. Di final, mereka mengalahkan klub tangguh, Bina Taruna, Jakarta Timur.
 Saat susah pun dilaluinya di awal 1990-an. Masuknya talenta-talenta muda membuat  Helly banyak diragukan kemampuannya.
 ‘’Ada pelatih yang bilang, saya sudah tak layak karena usia dan sudah terjun sebagai pelatih. Tapi, saya bisa membuktikan bahwa seorang Maura Helly masih bisa memberikan yang terbaik bagi Persebaya,’’ tegas pemain yang bisa bermain di stopper dan gelandang bertahan.
 Menjelang akhir karir sebagai pemain, Helly punya kenangan yang sangat indah. Sang adik, Ashari  Betekeneng. Menjadi tandemnya di Persebaya. Mereka sama sama bermain sebagai pemain belakang.
 ‘’Sayang, saya tak merasakan kompetisi Liga Indonesia. Pelatih tak mau memakai saya, nggak tahu kenapa. Padahal, masih banyak yang bilang, saya masih mampu,’’ jelasnya.
 Setelah tak lagi bermain di Persebaya, suami dari salah satu petinggi di Bank Jatim itu memilih melanjutkan karirnya di lapangan hijau sebagai pelatih. Meski, saat masih sebagai pemain, profesi itu sudah dirangkap.
  ‘’Banyak pemain-pemain yang saya tangani kemudian menjadi pemain terkenal. Ada Halil, Uston Nawawi, dan juga kiper Agung Prasetyo. Bangga rasanya mereka menjadi pemain professional,’’ papar Helly.
 Saat ini, setelah tak berkecimpung aktif di sepak bola, kesibukannya adalah bekerja di PDAM. Pekerjaan ini ditekuni sejak 1991 saat dia masih berseragam Persebaya.
 Dari  sepak bola, Helly mengaku mendapat semuanya. Ketenaran hingga pekerjaan membuat dia tenang mengisi hari-hari tuanya. (*)


Read More

Sudah Ada Wajah Bule di Timnas sejak era 1980-an

Benny (kanan) bersama Aji, Mustaqim, dan Alhadad (foto:sidiq)

MULAI 2010, banyak naturalisasi yang dilakukan PSSI. Wajah bule dengan kulit bersih sudah tidak asing di Timnas Indonesia.
 Nama-nama seperti Rafael Maitimo ataupun Diego Michels pun memakai kaos dengan lambang garuda di dada. Meski, mereka hidup dan besar di Belanda.
 Namun, sebenarnya di era 1980-an dan pertengahan 1990-an sudah ada  wajah bule di kancah sepak bola tanah air. Siapa? Bennyamin van  Breukelen atau yang akrab disapa Benny Van Breukelen.
 ‘’Saya asli warga Indonesia. Hanya, Papi berdarah Belanda dengan nama  Hainz Marinus van Breukelen,’’ terang lelaki kelahiran 4 Mei 1963.
 Benny memulai karirnya di PSMS Medan Junior. Bersama tim asal ibu kota Sumatera Utara tersebut, Benny merasakan menjadi juara  Piala Suratin 1980. Saat itu, dia bersaing dengan Eddy Harto yang kelak sampai senior menjadi kawan sekaligus rivalnya dalam membela gawang merah putih.
 ‘’Setelah itu, saya berpindah ke klub Tunas Inti Jakarta pada 1981-1983. Saya dua kali membela Tunas Inti saat kembali ke klub itu pada 1987-1989,’’ terang Benny yang kebetulan bertemu dengan penulis bersama rombongan Timnas U-23 di Jakarta.
 Dia pun pernah direkrut PSSI Garuda I pada 1984. Lelaki yang kini tinggal di kawasan Tebet Dalam, Jakarta, itu bersaing dengan Hermansyah.
 Setelah itu,  Benny menjadi rebutan klub-klub, khususnya Galatama. Ketangguhannya di bawah mistar ikut mengantarkan Niac Mitra Surabaya dan Arseto Solo menjadi juara.
 Tim legendaris Kota Pahlawan, julukan Surabaya, diantarnya naik ke podium terhormat pada musim 1987-1988 dan Elang Biru, julukan Arseto Solo menjadi yang terbaik pada musim 1991-1992.
 ‘’Saya bangga bisa membela dua klub yang berbeda bisa menjadi juara Galatama. Bukan hal yang mudah untuk meraihnya di tengah kerasnya persaingan,’’ ucap Benny yang juga sering dipanggil Londo (Belanda) oleh rekan-rekannya tersebut.
 Hanya, kesempatan untuk menjadi bagian skuad merah putih ketika menjadi juara SEA Games 1991 kandas.Dia dianggap kalah bersaing dengan Eddy Harto dan Erick Ibrahim.
 ‘’Padahal, sejak awal, saya sudah mengikuti seleksi. Mungkin belum rezeki,’’ kenang lelaki yang pernah tinggal di dekat Lapangan Desa Makamhaji, Sukoharjo (kota yang berbatasan dengan Solo) tersebut.
 Bagi Benny, Solo juga menjadi kota yang tak akan pernah lepas dari memorinya. Selain juara, dia juga kembali lagi ke Kota Bengawan setelah pindah ke Persija Jakarta pada 1994-1995 dan Persijatim Jakarta Timur pada 1996.
 ‘’Saya membela yang kedua di musim 1997 hingga Arseto Solo bubar. Setelah itu, saya pun memutuskan pensiun sebagai kiper,’’ ucap dia.
 Di tim yang bermarkas di kawasan Kadipolo itu pula, Benny mulai merintis sebagai pelatih. Selain bermain, dia juga menjadi asisten pelatih di Arseto.
 ‘’Saya jadi asistennya Tumpak Sihite. Setelah itu, saya ke Belanda  tiga bulan di klub PSV Eindhoven,’’ papar Benny.
 Di klub itu pula, pada 1989, dia bisa bertemu dengan kerabatnya yang menjadi kiper papan atas dunia,Hans van Breukelen. Dengan kiper yang membawa Negeri Kincir Angin, julukan Belanda, itu menjadi juara Piala Eropa 2008.
 ‘’Waktu itu, timnas Indonesia tengah melakukan TC di Belanda. Saya dibawa tante ke tempat Hans di PSV,’’ ungkap Benny.
  Dengan ilmu dari Belanda pula, kini dia berharap bisa mencatak kiper tangguh, bukan hanya di level klub tapi juga timnas. (*)

Sekilas tentang Benny van Breukelen
Nama Asli: Benyamin van Breukelen
Posisi: Penjaga gawang
Lahir: Medan 4 Mei 1963

Karir Pemain:
1980:  PSMS Medan Junior
1981-1983: Tunas Inti Jakarta
1983: PSSI Garuda I
1984: Tempo Utama Bandung
1985-1986: Tunas Inti Jakarta
1987-1989: Niac Mitra Surabaya
1989-1994: Arseto Solo
1994-1995: Persija Jakarta
1996: Persijatim Jakarta Timur
1997-1998: Arseto Solo

Karir Pelatih
2001-2005: PSPS Pekanbaru
2005-2006: PS Dumai
2006-2007: Persiba Bantul
2007: Persiku Kudus
2008: Timnas U-19
2008-2009: Arema ISL
2010-2014:Persiba Bantul
2014-..: Timnas U-23
Read More

Tak hanya Ingin Lolos Penyisihan Grup

Sebagian Timnas U-23 bersama asisten Mustaqim. (foto: sidiq)

TIMNAS U-23 tengah serius menata kekuatan. Mereka bakal berlaga dalam Asian Games 2014 yang dilaksanakan di Incheon, Korea Selatan, pada 18 September-4 Oktober mendatang.
 ‘’Kami kan ditarget lolos babak penyisihan. Tentu, kami ingin mencapai itu,’’ kata Pelatih Kepala Timnas U-23 Aji Santoso saat bertemu dengan penulis di Jakarta.
 Namun, dia tak ingin jika anak asuhnya hanya puas lolos dari jeratan pertandingan grup. Apalagi, saat ini, Bayu Gatra dkk belum mengetahui siapa calon lawan yang dihadapi di penyisihan grup.
 ‘’Belum tahu siapa yang mesti kita waspadai. Yang jelas, saat ini, saya hanya konsentrasi membentuk tim yang tangguh ke Asian Games nanti,’’ terang Aji.
 Nah, salah satu  yang dilakukannya adalah membentuk karakter tim dengan berbagai pertandingan uji coba.  Rencananya, mulai 14-26 Juli, Timnas U-23 akan digembleng di Italia.Berbagai tim Serie A sudah menjadi lawan uji coba.
 ‘’Semoga dari Italia, mental anak-anak semakin matang,’’ harap Aji.
 Kiprah Indonesia dalam Asian Games sendiri kurang terlalu bagus. Capaian tertinggi adalah menembus babak semifinal pada Asian Games 1986 yang kebetulan juga dilaksanakan  di salah satu kota Korea Selatan, Seoul. (*)

Jadwal  Timnas U-23  di Italia
1.AS Roma vs Indonesia U-23 akan digelar di Stadio Centro d"Italia pada 18 Juli 2014. Laga ini disiarkan langsung oleh MNCTV pada pukul 22:30 WIB.

2. SS Lazio vs Indonesia U-23 akan digelar di Auronzo di Cadore pada 20 Juli 2014. Laga ini disiarkan langsung oleh MNCTV pada pukul 22:00 WIB.

3. Cagliari vs Indonesia U-23 akan digelar di Sappada Field pada 23 Juli 2014. Laga ini disiarkan langsung oleh MNCTV pada pukul 22:00 WIB.



Read More

Dulu Tangkap Bola, Kini Tangkap Uang

Zaky Alhadad (foto;sidiq)

SUARANYA nyaring. Intonasinya pun jelas.
 Dia pun mampu membuat audience pun yakin. Padahal, sebelumnya, Zaky Alhadad bukanlah seorang mubaliq ataupun juga bisnisman.
 ‘’Dulunya, saya seorang kiper. Saya pernah membela Persib Bandung Junior dan PSIS Semarang,’’ kata Zaky saat ditemui di Surabaya pada Kamis malam (3/7/2017).
 Dari posturnya, memang tak salah kalau lelaki 27 tahun tersebut pernah berkostum Mahesa Jenior di pentas Divisi Utama. Zaky mempunyai tinggi 192 sentimeter.
 ‘’Saya di PSIS pada musim 2008. Saat itu, saya satu tim dengan Gaston Castano (penyerang Argentina yang mencuat karena berpacaran dengan artis Julia Perez dan kini membela Pelita Bandung Raya),’’ ungkap Zaky.
 Namun, di tim asal ibu kota Jawa Tengah tersebut, dia hanya bertahan semusim. Persaingan dengan kiper senior Agus Murod dan Basuki membuat dia gagal bertahan lama.
 Lama menghilang dari hingar bingar sepak bola nasional, Zaky muncul dengan sosok lain.
‘’Sejak dua tahun lalu, saya menggeluti bisnis. Saya diajak adik yang lebih dulu sukses,’’ ungkap Zaky.
 Dari bisnis yang ditekuni,  dia punya penghasilan puluhan hingga ratusan juta rupiah. Mobil dan rumah mewah pun sudah menjadi miliknya. Harga mobil dan rumahnya pun menembus miliaran rupiah.
 ‘’Saya juga nggak menyangka bisa sukses seperti ini. Meyakinkan orang bukan pekerjaan mudah,’’ lanjut kiper yang juga pernah masuk program IFA tersebut.
 Dia mengaku pernah berkeringat saat memaparkan bisnisnya kepada tiga orang. Padahal, saat masih aktif sebagai kiper, Zaky tak keder meski ditonton puluhan ribu orang.
‘Setelah mendapat pelatihan, saya akhirnya biasa juga. Berhadapan dengan berapa orang pun, tak lagi minder,’’ ungkap dia. (*)

Read More

Saat Belum Gajian Tertolong Bisnis Laundry

BISNIS: Ucok dengan cucian (foto;sidiq)

BEBERAPA kali penulis membuat janjian dengan Agustiar ‘Batubara. Namun, selama itu pula, janjian tersebut urung terlaksana.
 Dari penulis yang kebetulan ada pekerjaan hingga Ucok sendiri yang mengajak anak-aanaknya jalan-jalan.
Bagi penulis, lelaki kelahiran 20 Agustus 1978 tersebut bukan orang asing. Sejak 2001, penulis sudah sering berjumpa dan bermain ke rumah Ucok yang saat itu masih tinggal di Pondok Jati, Sidoarjo.
 Akhirnya, pada Kamis (3/7/2014), penulis pun berangkat ke rumah Ucok yang sekarang ditempati di kawasan Wonokitri, Surabaya.
 Dengan petunjuk terbaru yang diberikan, perlahan sepeda motor yang penulis naiki mencari rumah pemain yang sukses mengantarkan Jawa Timur meraih emas cabang olahraga sepak bola pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 tersebut. Akhirnya, ketemu juga dengan rumah yang di depannya bertuliskan ‘’Laundry Sakinah’’.
 Dengan memakai sarung dan baju gamis, Ucok keluar dari rumah dan mempersilahkan masuk.
 Rumah Ucok memang sudah berubah. Mobil jenis minibus yang biasanya diparkir di depan rumahnya, sudah tak ada.
 ‘’Saya jual untuk mengembangkan bisnis laundry. Daripada jarang ke pakai, mending dijual saja,’’ terang Ucok.
 Ternyata, sejak 2013, bapak dua anak ini serius menekuni bisnis cuci dan setrika baju tersebut. Tepatnya, sejak Mei tahun lalu.
 ‘’Tahun lalu, saya menganggur karena tidak dapat klub. Saya dan istri pun mulai memikirkan bisnis apa yang cocok,’’ ucap suami Kurnia Meidiana tersebut.
 Akhirnya, mereka pun meminta saran kepada orang tua. Ibu Ucok menyarankan agar anaknya terjun ke bisnis laundry yang punya prospek.
 ‘’Dua bulan awal masih sepi. Tapi, saya dan istri tidak mau menyerah,’’ ungkap pemain yang juga sukses mengantarkan Barito Putera promosi ke ISL pada musim 2012 tersebut.
 Berbagai strategi pun disusun. Mulai dari penyebar brosur hingga layanan anatarjemput cucian dilakukan.
 Ternyata, kiat ini mulai membuahkan hasil. Pelanggan pun semakin hari semakin bertambah.
 ‘’Sekarang, sehari bisa 100 kilo. Kalau ramai bisa 200 hingga 300 kilo,’’ papar ayah Nadya Sukma Batubara dan Naufal Afzal Batubara tersebut.
 Ternyata, dari bisnis laundry tersebut menjadi penopang kehidupan lelaki 36 tahun tersebut. Apalagi, di klubnya sekarang, Persipur Purwodadi, dia dua bulan tidak gajian.
 ‘’Alhamdulillah, laundry nya ramai. Nggak kebayang dulu kalau gak ada laundry saat tidak gajian di Persipur,’’ lanjut Ucok yang juga menjadi kapten saat Gresik United menembus ISL 2011.
 Persipura merupakan klub kesekian baginya. Berawal dari Putra Gelora, klub anggota internal Persebaya Surabaya, Ucok direkrut Gelora Dewata pada 1998. Kedua klub tersebut sama-sama menjadi milik H Mislan. Hanya, sebelum itu, meski sebentar, Ucok pernah menghiasi skuad Persebaya Surabaya pada 1997-1998.
 Saat Gelora Dewata pindah ke Sidoarjo pada 2000 dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD) dan Delta Putra Sidoarjo (Deltras), Ucok tetap menjadi pilar utama di belakang hingga musim 2004.
 Namun, ajakan Jaya Hartono ke Persiba Balikpapan, membuat Ucok pun meninggalkan Deltras pada 2005. Selama semusim di Kota Minyak, julukan Balikpapan, dia kembali ke The Lobster, julukan Deltras. Saat itu, dia juga diajak Jaya kembali.
 Namun, setelah itu, Ucok berpindah-pindah ke satu klub ke klub lain. Pelita Jaya, Persela Lamongan, dan Gresik United, dan Barito Putera menjadi pelabuhan karirnya.Di antara semua itu, dia mengukir sukses dengan mengantarkan Gresik United dan Barito Putera promosi ke ISL.
 Di saat usia yang bertambah uzur dan bisnis Laundry yang berkembang, Ucok belum memutuskan kapan pensiun. Meski sebenarnya, jalan menjadi pelatih juga mulai dirintis.  Dengan lisensi C Nasional, Ucok dipercaya menangani sebuah tim kesatuan Angkatan Darat yang tidak jauh dari rumahnya.
 ‘’Saya bersyukur dengan apa yang saya alami sekarang,’’ pungkas Ucok. (*)

Sekilas tentang
Nama: Agustiar ‘’Ucok’’ Batubara
Lahir: 20 Agustus 1978
Istri: Kurnia Meidiana
Anak: Nadya Sukma Batubara dan Naufal Afzal Batubara
Tinggal: Surabaya

Karir:
1994-1996: Persebaya Junior
1997-1998: Persebaya
1998-2004: Gelora Dewata, GPD, Deltras
2004-2005: Persiba Balikpapan
2006-2007: Deltras
2007-2008: Pelita Jaya
2008-2009: Persela Lamongan
2009-2010: Pelita Jaya
2010-2011: Gresik United
2011-2012: Barito Putra
2014-: Persipur Purwodadi
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com