www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 08 Juli 2014

Rasakan Manisnya Semua Gelar

AWET: Maura Helly (foto: sidiq)

TAK banyak pemain yang bisa merasakan banyak gelar.  Apalagi, itu dicapai di berbagai event.
 Tapi, itu mampu dilakukan oleh seorang Maura Helly. Lelaki yang kini berusia 55 tersebut mampu menjadi juara Galatama, Perserikatan, dan kejuaraan antarklub.
 ‘’Namun, kali pertama saya juara bersama PON Lampung pada 1981. Saya ke sana setelah gagal membawa Persebaya Junior juara Piala Suratin,’’ terang Helly, sapaan karib Maura Helly.
 Namun, kegagalan itu tak membuatnya patah semangat. Didikan militer dari sang ayah ikut menempa semangat dan kemampuan lelaki yang mempunyai darah Nusa Tenggara Timur tersebut.
 Kembali ke klub asalnya, PS Angkatan Darat (PSAD), dia tetap berlatih rutin. Tak jarang, Helly menambah porsi latiahan sendiri.
 Nah, kebetulan, ketika Jaka Utama,klub Galatama asal Lampung, mencari lawan buat persiapan melawan Niac Mitra, PSAD yang dipilih. Pada pertandingan itu, terang Helly, dirinya bermain bagus.
 ‘’Pelatih Jacob (Sihasale) yang menangangi Jaka Utama tertarik. Nah, kebetulan pas diajak teman, ketemu dan saya ditawari gabung,’’ kenang Helly.
 Sejak 1980 itu, dirinya memutuskan sepak bola sebagai bagian dari hidup ke depan.  Setelah Jaka Utama, tawaran dari klub raksasa saat itu,Yanita Utama Bogor menghampiri.
 ‘’Yanita klub yang dihuni pemain-pemain papan atas Indonesia. Ada Herry Kiswanto, Rudy Keltjes, dan Joko Malis,’’ ungkap lelaki yang kini tinggal di kawasan Rungkut Asri Tengah, Surabaya, tersebut.
 Namun, lanjutnya, dia tak gentar. Dia menjadi salah satu kepercayaan dari pelatih asing asal Belanda yang menangani klub asal Kota Hujan, julukan Bogor, Wiel Coever.
 ‘’Saya banyak belajar dari Coever. Dia dekat dan perhatian dengan pemain,’’ tutur Helly.
 Bersama Yanita, bapak dua anak tersebut menjadi juara dua  musim 1983/1984 dan 1984/1985.  Ini membuat Yanita pun mewakili Indonesia di kejuaraan antarklub ASEAN.
 ‘’Namun, di final, kami kalah dari Bangkok Bank, Thailand,’’ ujar Helly.
 Saat Yanita bubar dan boyongan ke Kramayudha Tiga Berlian, dia sempat tertarik ikut ke Palembang, Sumatera Selatan, home klub itu. Namun, ketika berada di Kota Empek-Empek, ternyata tak sesuai harapan. Hanya, saat wawancara yang dilakukan pada Selasa malam (8/7/2014), dia tidak menerangkan dengan pasti apa yang membuat dia enggan bergabung dengan Kramayudha.
 ‘’Saya pilih ke Surabaya dan menerima tawaran Persebaya. Sejak itu, saya menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Persebaya,’’ tambah lelaki yang beristri wanita berdarah Solo, Jawa Tengah, ini.
 Di Green Force, julukannya, dia merasakan jatuh bangun. Kegagalan dirasakannya pada Kompetisi Divisi Utama musim 1986/1987.
 Gol semata wayang Syafiul Amri menghancurkan harapan publik  Kota Pahlawan. Namun, setahun kemudian, barulah Helly merasakan manisnya gelar juara perserikatan.
 Pada tahun 1988 juga,Helly sukses mengantarkan klubnya, Suryanaga, menjadi juara nasional. Di final, mereka mengalahkan klub tangguh, Bina Taruna, Jakarta Timur.
 Saat susah pun dilaluinya di awal 1990-an. Masuknya talenta-talenta muda membuat  Helly banyak diragukan kemampuannya.
 ‘’Ada pelatih yang bilang, saya sudah tak layak karena usia dan sudah terjun sebagai pelatih. Tapi, saya bisa membuktikan bahwa seorang Maura Helly masih bisa memberikan yang terbaik bagi Persebaya,’’ tegas pemain yang bisa bermain di stopper dan gelandang bertahan.
 Menjelang akhir karir sebagai pemain, Helly punya kenangan yang sangat indah. Sang adik, Ashari  Betekeneng. Menjadi tandemnya di Persebaya. Mereka sama sama bermain sebagai pemain belakang.
 ‘’Sayang, saya tak merasakan kompetisi Liga Indonesia. Pelatih tak mau memakai saya, nggak tahu kenapa. Padahal, masih banyak yang bilang, saya masih mampu,’’ jelasnya.
 Setelah tak lagi bermain di Persebaya, suami dari salah satu petinggi di Bank Jatim itu memilih melanjutkan karirnya di lapangan hijau sebagai pelatih. Meski, saat masih sebagai pemain, profesi itu sudah dirangkap.
  ‘’Banyak pemain-pemain yang saya tangani kemudian menjadi pemain terkenal. Ada Halil, Uston Nawawi, dan juga kiper Agung Prasetyo. Bangga rasanya mereka menjadi pemain professional,’’ papar Helly.
 Saat ini, setelah tak berkecimpung aktif di sepak bola, kesibukannya adalah bekerja di PDAM. Pekerjaan ini ditekuni sejak 1991 saat dia masih berseragam Persebaya.
 Dari  sepak bola, Helly mengaku mendapat semuanya. Ketenaran hingga pekerjaan membuat dia tenang mengisi hari-hari tuanya. (*)


0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com